Beranda KOLOM Sastra

Kado dari Tengah Laut

286
Cerpen Naratif oleh Zaidan Akbar

SEBENARNYA Robi sudah berusaha menolak permintaan Pak Darsono yang tak lain adalah seorang pimpinan redaksi di sebuah stasiun televisi swasta dimana tempat Robi bekerja, namun Pak Darsono tetap bersikeras agar Robi dapat meliput kehidupan para nelayan yang akan ditayangkan dalam salah satu program acara televisi mereka yang berjudul ‘ SANG PENAKLUK’. Program ini direncanakan akan tayang pada bulan depan.

Bagi Robi, dirinya sudah begitu nyaman dengan divisinya yang sekarang. Selama ini Robi ditugaskan sebagai peliput kegiatan-kegiatan protokoler para pejabat, artis dan tokoh-tokoh nasional lainnya secara eksklusif. Akan tetapi kali ini pak Darsono menugaskan Robi untuk meliput kehidupan orang-orang pinggiran termasuk kehidupan para nelayan.

Tentunya tugas yang diemban Robi  kali ini memang tidak sesuai dengan kehendak hati Robi sendiri, apalagi Robi dikenal dengan pribadi yang perfeksionis dan ia tidak mau bersentuhan dengan kehidupan di perkampungan kumuh.

Tapi saat ini Robi tak punya pilihan lain. Robi terpaksa melakukan peliputan itu sebab semuanya demi konten stasiun televisi tempat ia bekerja yang kini mulai turun ratingnya dan juga hal itu sudah menjadi perintah atasannya, jadi apa boleh buat.

Sebagai jurnalis, Robi memang dikenal dengan pribadi yang sombong, wataknya yang angkuh dan Robi juga dikenal dengan pemuda yang hobi berpoya-poya, mabuk-mabukan dan bahkan tak jarang Robi suka menghabiskan uang di tempat prostitusi.

Hati Robi kian gundah dalam menghadapi misi yang ia emban dari  pekerjaannya itu, nah karena hal itu pula Robi sejenak ingin pulang ke kampung halamannya yakni Rantauprapat, Labuhanbatu. Lagi pula memang Robi belum pernah pulang dalam kurun lima tahun ini karena alasan pekerjaan yang super sibuk di perantauan yakni di kota Jakarta.

Sesampainya di Rantauprapat, tanah kelahirannya itu yang juga ibukota Kabupaten Labuhanbatu, Robi berencana menenangkan diri.

Berselang beberapa hari Robi bertemu dengan sahabatnya dulu yaitu dan kala itu Robi menyampaikan kegelisahannya tentang misi yang tengah ia emban.

“Menurutku, kau harus profesional dalam bekerja, jika itu sudah menjadi tugasmu maka lakukanlah,” ujar Erwin kepada Robi.

“Atau bila memang kau tak sanggup, ya resign aja, gampang kan?” lanjut Erwin lagi.

“Di Jakarta sulit cari kerjaan, Win! lagi pula aku sudah susah payah membangun karirku dalam lima tahun ini, masa aku resign begitu saja,” jawab Robi

“Jadi kau maunya gimana?” tanya Erwin pada Robi.

“Ya…, mau gimana lagi, aku berencana akan meliput kehidupan nelayan di daerah Belawan,” ujar Robi seraya meneguhkan hatinya.

“Oh ya…Rob! kalau kau memang ingin meliput kehidupan nelayan, mengapa kau tak meliput kehidupan nelayan di Sei Berombang saja, lebih dekat dari sini dan lagi pula kehidupan nelayan dimana-mana sama aja kan? dan jika kau mau aku punya kenalan seorang nelayan di sana,” ucap Erwin menjelaskan.

Akhirnya Robi menyetujui usulan Erwin tersebut. Lalu dua hari kemudian setelah itu Robi dan Erwin berangkat ke Sei Berombang, sebuah kawasan pesisir di pantai timur Kabupaten Labuhanbatu.

Setibanya di Sei Berombang, Erwin memperkenalkan Robi dengan laki-laki yang bernama Yahya. Merupakan seorang nelayan tradisional. Pria tersebut berusia empat puluh dua tahun. Ia seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya saat melahirkan Imran putra semata wayangnya pada tiga belas tahun yang lalu.

Pada Awalnya Yahya menolak untuk diliput. Yahya tak mau aktivitasnya sebagai nelayan malah menjadi tontonan. Yahya menyarankan agar Erwin dan Robi mencari orang lain saja, namun setelah Erwin mengajak Yahya berbicara berdua saja dan Erwin berusaha memberikan penjelasan pada Yahya dan akhirnya Yahya setuju.

Dalam pembicaraan empat mata itu, Erwin juga membeberkan karakter dan kebiasaan buruk Robi pada Yahya dan Erwin berharap agar Yahya dapat memakluminya dan kemudian Yahya mengangguk sebagai tanda Yahya berusaha memahami maksud Erwin itu.

Mulai hari itu Robi tinggal di rumah Yahya hingga sebulan kedepannya dan sampai semua peliputan selesai.

Kini Robi bagian dari kehidupan Yahya dan anaknya Imran. Segala aktivitas dan kegiatan Yahya yang pergi melaut selalu diliput oleh Robi dengan kameranya itu.

Robi kerap menunjukkan sifat aslinya pada Yahya dan Imran. Meski dalam satu rumah Robi ingin tidur terpisah dari Yahya dan Imran hingga kamar tidur Yahya dan Imran menjadi kamar pribadi Robi dan akhirnya Yahya dan Imran terpaksa tidur di luar kamar. Robi juga tidur di kasur yang sengaja ia beli untuk kebutuhan dirinya.

Selain itu Robi tak ingin makan dari masakan Yahya, akan tetapi Robi membeli makanan sendiri dari luar. Robi sering keluar malam dengan pemuda lainnya untuk mabuk-mabukan hingga ia kerap pulang pagi. Robi selalu berpesan pada Yahya dan Imran bahwa jangan pernah berani menyentuh barang-barang Robi, apalagi kameranya. Sekarang yang terjadi Robi malah berbuat sesuka hatinya di rumah Yahya dan malah tak jarang Imran disuruh-suruh oleh Robi untuk beli ini beli itu, kali terlambat sedikit Robi marah-marah

Walaupun demikian perangai Robi di rumah mereka nun Yahya dan Imran tetap baik pada Robi hingga Robi tampak semakin meraja lela.

Disamping itu Robi tetap menjalankan tugasnya meliput seluruh kegiatan Yahya sebagai nelayan walaupun sesekali tampak Robi berkata kasar pada Yahya.

Bahkan Pernah suatu ketika Robi memarahi Imran yang tengah membacakan ayat suci Alquran selepas shalat subuh dengan alasan Robi merasa kebisingan dengan suara Imran yang mengaji itu karena mengganggu tidurnya.

Sudah satu Minggu Robi tinggal bersama Yahya dan Erwin datang mengunjungi Robi. Terkadang Erwin memberi masukan pada Robi agar dapat merubah sifat buruknya apalagi kepada Yahya dan Imran.

“Rob! perbaikilah perangaimu itu!” cetus Erwin
“Maksudnya?” Robi bertanya

Erwin menghela napas panjang saat mendengar pertanyaan Robi.

“Maksudku, kau harus merubah sikapmu, ku dengar dari orang sini kau suka minum-minuman keras dan bahkan minuman itu kau bawa pulang ke rumah, apa kau tak bisa menghargai Yahya,” papar Erwin menjelaskan.

“Kulihat pak Yahya tak keberatan,” ujar Robi membela diri.
“Yahya dan anaknya itu orang-orang yang religius Rob! kau harus faham” imbuh Erwin lagi.

“Sudahlah Win! nanti jika mereka merasa terganggu, mereka juga akan bicara sendiri, ya kan?” ucap Robi kepada Erwin.

Erwin hanya geleng-geleng melihat betapa keras kepalanya Robi, sahabatnya itu.

Sedangkan pada malam yang lainnya, saat itu rembulan bersinar terang. Sejuta bintang tampak bertabur menghiasi sang malam. Terlihat Yahya yang ditemani Imran sedang menjalin jaringnya. Yahya menyulam satu persatu jaring-jaring yang koyak itu.

“Ayah! aku ingin bicara pada ayah,” ungkap Imran memulai pembicaraan.
“Ada apa nak?” sahut Yahya sambil meneruskan pekerjaannya itu.

“Imran ingin sekali punya sepeda Yah! supaya Imran tidak lagi berjalan kaki ke sekolah, teman-teman Imran semua sudah punya sepeda, hanya Imran saja yang belum punya.” bocah tiga belas tahun itu mencurahkan keinginan hatinya pada sang Ayah.

Yahya menatap anaknya itu dan sambil mengelus rambut Imran seraya berkata dengan suara yang sedikit serak.

“Imran! sabar ya nak! nanti juga Imran pasti punya sepeda, kalau sekarang ayah belum punya uang, hasil melaut lagi paceklik, tapi ayah janji nanti ayah pasti membelikan Imran sepeda.” Begitulah Yahya menenangkan anaknya. Akhirnya ayah dan anak itu saling berpelukan.

Rupanya pembicaraan antara Ayah dan anak itu dilihat dan didengar langsung oleh Robi. Meski Robi tak menghiraukan semua itu karena Robi beranggapan wajar dan biasa seorang anak meminta sesuatu pada ayahnya.

Namun ada satu hal yang membuat sepasang mata Robi sedikit berlinang yaitu kemesraan antara Ayah dan anak yang Robi lihat itu membuat ia rindu pada sosok Ayahnya, Ayah yang sepanjang hidupnya selalu ia rindu. Bagaimana tidak, Robi tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sebab ayah Robi meninggal saat Robi masih berada dalam kandungan.

Hari demi hari kian cepat berlalu, namun sikap Robi tak jua kunjung berubah, namun bagi Yahya dan Imran, mereka tetap sabar menghadapi Robi yang gemar membawa minuman keras ke rumah  ia mabuk-mabukan dan kerap kali Imran melihat Robi memakai narkoba di dalam kamarnya.

Pada suatu ketika Robi terserang demam. Hal ini disebabkan pada malamnya Robi basah kuyup kehujanan seusai Robi pulang larut malam dari kebiasaannya yang minum-minuman keras di lapo ( kedai ) tuak.

Robi demam selama empat hari dan selama itu pula Imran yang merawat Robi. Imran memasak bubur buat Robi dan bocah laki-laki itu juga harus bolak balik ke apotik untuk membeli obat untuk Robi bahkan saat malam ketika panas badan Robi begitu tinggi, Imran berlari menjemput dokter untuk Robi. Imran terus merawat Robi hingga sembuh.

Ternyata apa yang terjadi ini membuat hubungan antara Robi dan Imran menjadi lebih mencair. Semakin lama kedekatan mereka semakin hangat saja. Robi dan Imran begitu akrab bahkan begitu juga hubungan antara Robi dan Yahya sehingga ketiganya tampak seperti keluarga.

Sering terlihat Robi dan Imran saling melontar canda. Mereka bergurau dan juga saling tertawa. Kini Robi sudah jarang mabuk-mabukan meskipun kebiasaan buruknya itu belum sepenuhnya ia tinggalkan namun semua itu sudah jauh berkurang.

Sekarang Robi , Imran dan Yahya tidak lagi tidur terpisah mereka bertiga kadang tidur di kamar Robi dan terkadang ketiganya tidur di luar ruangan. Robi sering merekam video saat Imran dan teman-temannya mandi di sungai.

Robi selalu melihat Yahya dan Imran sholat berjamaah namun untuk urusan sholat, Robi belum tergerak hatinya untuk melaksanakan itu walau Yahya sering mengajaknya.

Hampir sebulan Robi tinggal di Sei Berombang, itu berarti tugasnya sebentar lagi akan berakhir. Yahya memutuskan ingin melaut selama lima hari lima malam. Hal ini biasa dilakukan para nelayan di Sei Berombang jika pulang hari tidak memadai dan nelayan biasa menyebut kegiatan bermalam di laut itu dengan istilah ‘membagan laut.’

Dalam kegiatan ‘membagan laut’ ini, Robi juga ikut sebagai peliputannya yang terakhir sebelum video dokumenter ini Robi serahkan kepada pihak redaksi.

Yahya sibuk mempersiapkan jaring dan perahunya. Yahya tampak bersemangat karena jika nanti hasilnya lumayan besar dan cukup, Yahya berniat ingin membelikan Imran anaknya itu sebuah sepeda baru.

Disamping kesibukan Yahya, Robi juga sedang mempersiapkan kameranya sebagai alat kerjanya hingga akhirnya mereka berangkat ke lautan luas Selat Malaka. Mereka ditemani oleh Buyung yang juga merupakan anak buah perahu yang selama ini bersama Yahya. Akhirnya Yahya, Buyung dan Robi berangkat tepat pukul empat dini hari saat air sedang pasang.

Robi merekam setiap peristiwa yang terjadi selama perjalanan mereka. Robi juga merekam aktivitas di dalam perahu, bagaimana Yahya dan buyung melepas jaring untuk menangkap ikan.

Batangan es yang sudah dipersiapkan mulai di pecah agar ikan yang didapat tetap dingin sebelum dijual kepada pengepul.

Hasil hari ini mereka jual ke Wilayah Tanjung Balai. Yahya menyempatkan diri naik ke pelabuhan untuk berbelanja sekedar keperluan dan setelah itu mereka kembali melaut ke lautan lepas sehingga pemandangan hamparan laut yang begitu luas tampak bagai tak bertepi.

Hingga malam pun tiba, suasana laut tampak tenang. Malam yang begitu indah, sunyi sekali malam itu hanya terdengar hembusan napas beberapa pasang lumba-lumba seakan turut menari di bawah pancaran sinar bulan purnama.

Sementara  Yahya sedang melaksanakan sholat isya. Yahya sholat dengan posisi duduk di atas perahu kecil yang sedang berdansa diayunkan ombak-ombak kecil akibat tertiup angin.

Sedangkan Robi tertegun melihat Yahya yang selalu menyempatkan waktu untuk menyembah Sang Pencipta. Begitu taatnya Yahya melaksanakan perintah agamanya dan Robi menyaksikan itu.

Seusai sholat, Yahya menghampiri. Robi yang sedang menyalakan api rokoknya dan Yahya pun berkata.

“Robi, kamu tidak sholat?”

Robi hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Yahya itu.

“Aku sudah lama tidak pernah sholat lagi pak,” ujar Robi
“Kenapa?” tanya Yahya
“Entahlah pak! hati ini rasanya berat untuk melakukan sholat” ucap Robi

“Robi, sholat itu adalah solusi terbaik dari setiap permasalahan manusia, sholat dapat membuat hati seorang memahami persoalan hidup, dengan sholat hati akan menjadi damai, tenteram karena dalam sholat itu ada kebahagiaan.” Yahya mencoba menasehati Robi.

“Ibarat seekor burung akan merasa bahagia bila ia dapat terbang di udara, juga ikan-ikan yang akan terus bahagia bila masih bisa berenang di dalam air, nah.. lalu manusia baru bisa merasakan bahagia bila ia hidup dalam ajaran agama,” timpal Yahya.

“Kalau kekayaan yang dimiliki atau kesuksesan yang telah diraih, semua itu hanya sekedar membuat manusia memperoleh kepuasan dalam batinnya meskipun kepuasan itu tak ada yang sempurna, namun jika manusia hidup dalam agama dan mengabdikan diri pada Tuhan,. maka Tuhan akan menjaga hati kita, Tuhan akan memberikan kekuatan dalam menghadapi segala hal, kita dibuat faham akan tujuan hidup dengan menanamkan rasa syukur dan sabar di hati kita sehingga apapun yang sudah menjadi kehendak Tuhan kita dapat menerimanya dengan ikhlas dan di situlah sebenarnya letak kebahagiaan yang sempurna itu.” Yahya menjelaskan apa yang ia tahu pada Robi.

“Oh ya Robi! ia ada kado untuk ulang tahun Imran tolong simpan ya! soalnya dua hari lagi Imran ulang tahun dan aku takut akan basah terkena air jika ku simpan di saku celanaku,” pinta Yahya.

Robi langsung memasukkan kado kecil yang terbuat dari kotak kayu itu ke dalam sakunya dan kemudian Robi mengeluarkan kamera dari dalam tasnya.

“Baiklah Rob! aku lanjutkan kerja dulu,” ucap Yahya sembari menepuk bahu Robi.

Robi mengangguk dan dalam hatinya terselip rasa kagum yang begitu dalam pada Yahya yang seperti Robi ketahui. Meskipun Yahya dan keluarganya hidup ala kadarnya namun Yahya tak pernah mengeluh dalam hidupnya.

Kemudian Robi kembali merekam aktivitas Yahya dan Buyung yang sedang menarik jaring dengan cekatan dan tampaknya banyak ikan yang terdapat dalam jaring itu.

Namun tiba-tiba…
Angin mulai berhembus kencang, gumpalan awan hitam mulai berduyun, langit seketika gelap dan bintang yang semula tampak kini tak terlihat lagi, hujan pun turun dan lama kelamaan semakin deras, kilatan petir makin terlihat jelas dan gemuruhnya yang berdentum kuat sahut-sahutan. Suara gledek tersebut mulai membuat nyali Robi menciut. Angin semakin kencang, hujan semakin lebat dan ombak-ombak pun semakin membumbung, perahu semakin tak terkendali.

Terlihat badai dari arah barat semakin mendekati perahu, mereka panik, suasana semakin mencekam dan suara petir menggelegar bertambah kuat, badai puting beliung itu mendekap perahu mereka , batang kemudi patah di lantak angin kencang, kipas mesin perahu copot lenyap dan membuat kondisi semakin memburuk.

Di tengah derasnya hujan dan badai Yahya berkata.
“Tenang, tenang Robi! pakai baju pelampung ini.” Yahya mengulurkan baju pelampung yang satu-satunya mereka miliki di perahu itu.

“Lalu bagaimana dengan pak Yahya?” tanya Robi dengan wajahnya yang pucat ketakutan.

Kemudian datang ombak yang besar menghempas kuat badan perahu hingga bilah papan itu terlepas dari pakunya dan air terus saja masuk berhamburan deras ke perahu kecil mereka membuat dasar haluan perahu patah dan Buyung pun terpelanting terkena terjangan angin.

Buyung…! Buyung…! jerit Yahya
“Selamatkan dirimu Robi, kita akan karam” ucap Yahya dengan panik.

Tak lama perahu mereka pun karam di lautan luas dengan arus air yang begitu deras, namun tangan kiri Robi masih dapat meraih tiang perahu yang belum seutuhnya tenggelam.

Robi sempat menggenggam tangan Yahya dan Yahya berujar.
“Berusahalah agar tetap hidup Robi, jangan hiraukan aku lepaskanlah tangganmu, arus ini deras dan jika kau hidup titip Imran.”

Robi menangis sejadi-jadinya. Ia terisak-isak, air matanya terus mengalir dengan melihat Yahya yang semakin hanyut terbawa arus deras hingga Yahya tak terlihat lagi sesaat setelah Robi melepaskan tangannya.

Badai telah berlalu, perahu pun sudah karam dan tak kelihatan lagi bangkainya sedangkan Yahya dan Buyung menghilang tak tahu kemana.

Sudah empat hari empat malam Robi terombang- ambing di lautan luas. Robi hanyut terhempas ombak sampai entah kemana ombak itu menghempasnya bahkan Robi pun tak lagi mengetahuinya. Napasnya terengah-engah bagai orang terkena asma. Badannya mulai lemas karena tak ada makanan yang masuk ke perutnya kecuali hanya air laut yang asin, suaranya selain serak memanggil pertolongan namun tak ada yang mendengarnya.

Malam-malam yang Robi lalui di tengah lautan diselimuti rasa takut yang sangat dalam hatinya. Belum lagi ancaman dari ikan buas yang kapan saja siap menyantapnya dan beberapa pasang lumba-lumba tetap setia mengelilinginya siang dan malam.Belum lagi suhu air laut yang dingin di malam hari mbuat Robi menggigil hingga ia terbatuk-batuk.

Sepanjang hari batinnya selalu berdoa agar Tuhan menyelamatkan dirinya dari penderitaan yang sedang  Robi alami sekarang ini.

Pada hari ke enam Robi sepertinya Robi tidak kuat lagi dan ditambah pula kakinya yang terasa pedas karena ikan-ikan kecil yang memakan kulitnya sedikit demi sedikit hingga menembus celana yang ia pakai.

Mata Robi yang sedikit mengabur melihat lampu perahu dan Robi melambaikan tangannya dengan lunglai dan Robi pun pingsan. Ternyata Tim SAR berhasil menemukan Robi dalam pencarian yang akhirnya Robi dibawa ke wilayah Belawan dan langsung dimasukkan ke rumah sakit untuk segera mendapat perawatan.

Selama sebulan Robi dirawat di rumah sakit sampai akhirnya Robi pun sembuh. Selama dalam masa penyembuhan Robi sering melaksanakan sholat lima waktu meskipun dalam keadaan duduk diatas ranjang pesakitan. Robi selalu teringat kata-kata Yahya bahwa sholat adalah kunci ke bagian-bagian yang sebenarnya.

Sementara itu seorang perawat mengembalikan sebuah kado yang ditemukan di dalam saku celana Robi dan Robi akhirnya teringat akan Imran. Sedangkan berita yang Robi dengar Yahya dan buyung diduga telah meninggal dunia namun jasad keduanya tidak bisa ditemukan hingga kini.

Kini kondisi Robi sudah benar-benar pulih. Robi kembali ke Jakarta dan langsung menemui pimpinan redaksinya yaitu pak Darsono. Robi melaporkan bahwa tak ada satu keping video pun yang ia bawa karena kameranya juga ikut tenggelam ke dasar lautan.

“Sebenarnya aku bahagia mendengar kau selamat dari kecelakaan itu, tapi apa boleh buat karena tidak ada liputan darimu untuk kita tayangkan untuk program Minggu depan dan mengingat banyaknya biaya yang sudah digelontorkan oleh produser untuk acara ini, maka direksi program mengambil kesimpulan untuk memecatmu dari pekerjaan ini,” ucap Pak Darsono sambil dengan santai menyantap makan siangnya dari sebuah nasi kotak.

“Dan pekerjaan ini diambil alih oleh orang lain yang telah meliput kegiatan mahasiswa yang mendaki gunung Simeru, maaf Rob! aku tak bisa berbuat apa-apa, ini sudah keputusan Direksi Program demi rating stasiun televisi ini,” tambah Pak Darsono lagi.

Kata-kata Pak Darsono sungguh membuat Robi terpukul dan berpikir sebenarnya perusahan tempat ia bekerja adalah kumpulan orang orang yang tidak punya hati nurani.

Pun demikian, Robi mencoba untuk bersabar dan berkata.
“Apa tidak bisa dipertimbangkan pak? karena apa yang terjadi padaku adalah musibah,” sahut Robi

Pak Darsono hanya diam saja dan terus melanjutkan makan siangnya dan juga itu tandanya tidak ada pilihan bagi Robi kecuali keluar dari pekerjaan sebagai wartawan stasiun televisi swasta itu, artinya Robi sudah di PHK.

“Oh ya Robi , ini pesangonmu dan tolong kau keluar sekalian kau buang sisa makanan ini ke tong sampah,” ujar pak Darsono sembari memberi amplop coklat berisi uang sekaligus kota nasi dengan seekor ikan yang belum habis dimakan oleh pak Darsono.

Robi mengantongi amplop tersebut   dan cukup lama pula ia memandangi seekor ikan goreng yang tak dimakan oleh pak Darsono itu. Lalu Robi mengambil ikan tersebut kemudian Robi memakannya hingga tinggal tulang yang tersisa.

“Apa-apaan kau ini Robi? apa kau sudah gila? sisa orang kau makan,” kecam pak Darsono dengan keras.

“Bapak tahu, demi seekor ikan ini ada nyawa yang ditaruhkan, ada istri yang ditinggalkan dan ada anak-anak yang menunggu ayahnya pulang padahal ketika sang ayah pergi belum tentu ia akan kembali, dibalik seekor ikan ini ada cerita duka, ada air mata, ada kisah pertarungan antara hidup dan mati, ada harapan yang digantungkan.”

“Bapak tahu, berapa harga keringat pejuang-pejuang penangkap ikan itu? hanya dua puluh ribu, lima puluh ribu dan sering tidak lebih dari seratus ribu, nilai yang cukup kecil untuk mengisi kantong kita namun sangat berarti buat mereka yang terus bekerja sebagai nelayan tradisional yang sebenarnya pekerjaan itu tak pernah mereka pilih, tapi alam telah memilih mereka, ya… mereka yang hidup berkat kasihan ombak.”

“Seharusnya kita bisa lebih menghargai perjuangan mereka, kita tidak mubajir dan menyia-nyiakan ikan yang mereka tangkap, ikan ini adalah bukti kalau mereka sebetulnya adalah seorang pemberani.” Robi menyampaikan semua ini dengan air mata yang berlinang di sepasang kelopaknya.

Sementara itu pak Darsono hanya diam dengan mulut ternganga mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulut Robi dan sepertinya pak Darsono tak menyangka Robi bisa sedewasa itu dan bukan seperti Robi yang ia kenal  dulu.

Sedangkan Robi pergi begitu saja meninggalkan ruangan pak Darsono sambil menyeka dan menyapu air matanya dengan lengan baju kemejanya.

Kemudian Robi datang ke Sei Berombang untuk menemui Imran dan memberikan kado ulang tahun titipan Yahya meskipun terlambat. Kado dengan kotak kayu yang indah dan setelah dibuka isinya adalah sebuah replika sepeda mainan kecil yang masih terselip harga sepeda mainan itu sebesar dua puluh tiga ribu rupiah.

Meski yang Imran pinta pada ayahnya adalah sepeda sungguhan, namun isi kado berupa sepeda mainan itu cukup membuatnya bahagia sebab dapat benda itu mengingat Imran pada ayahnya yang  sangat ia cintai dan setidaknya ia tahu bahwa berapa ayahnya begitu menyayangi nya.

“Imran, dengarkan aku! kau bukan lagi orang lain bagiku, aku akan bertanggungjawab untuk memperjuangkan kebahagiaanmu, aku akan menyekolahkan mu hingga kau menggapai cita-cita mu.”

“Imran! kau tak sendirian, anggap aku seperti kakak kandungmu sendiri, kita akan hidup bersama, percayalah, ikutlah denganku!” ucap Robi sembari mengusap rambut bocah berusia empat belas tahun itu. Mata Robi yang basah terendam duka akhirnya berpelukan bersama Imran dengan tangisan yang terisak-isak.

Lalu Robi memboyong Imran ke Jakarta. Akhirnya pun Robi diterima bekerja di sebuah perusahan tekstil hingga Robi melamar seorang gadis untuk ia jadikan istrinya dan Robi masih tinggal bersama mereka yang akhirnya mendapat gelar sarjana.

Sepuluh tahun telah berlalu. Sekarang Robi bukan lagi seperti yang dulu. Kini Robi telah menjelma menjadi pria yang religius dan juga taat agamanya. Robi tak pernah meniggalkan sholat bahkan Robi selalu menyempatkan waktu untuk sholat walau sesibuk apapun ia.

Tampaknya bukan hanya Imran yang mendapatkan kado dari tengah lautan tapi juga Robi yang mendapatkan kado terindah dari tengah lautan yakni pengalamannya semalam terombang-ambing selama enam hari enam malam itu telah menyadarkan relung hari seorang Robi bahwa Tuhan benar-benar ada dan itu nyata dan Robi juga tak menyangka bahwa ia akan selamat dalam peristiwa tragis itu, ternyata tiada yang mustahil bagi Tuhan pencipta alam semesta.

Robi sering teringat akan Yahya yang Robi anggap bagai suluh di waktu gelap, Yahya adalah orang yang mengenalkannya pada Tuhan. Yahya adalah orang yang akan selalu ia kenang sepanjang hidupnya oleh sebab itu Robi kerap menangis di atas sajadahnya saat mendoakan Yahya.

Meski Yahya sudah tiada namun bagi Robi Yahya ada di dalam penggalan ingatannya dan Robi merasa menjadi orang yang sangat beruntung karena pernah bertemu Yahya.

©SINKAP.info | Penulis: Zaidan Akbar

Facebook Comments