Beranda KOLOM Sastra Bunga Gugur Terlalu Pagi

Bunga Gugur Terlalu Pagi

136
Cerpen Naratif ditulis oleh: Zaidan Akbar - Foto: Istimewa

SASTRA, Sinkap.info Tidak ada yang berubah dari suana langit dalam setiap jejak perjalanan yang dilalui oleh Anwar. Perjalanan yang cukup melelahkan untuk kembali ke kampung halaman tercinta. Sore itu Anwar menyeberang sungai dengan menaiki angkutan perahu dalam mencapai daratan desa kecil di mana ia dilahirkan. Itu satu-satunya jalan yang harus Anwar tempuh untuk sampai ke kampung halamannya.

Berpadu dengan suara bising mesin perahu, angin yang bertiup ramah dan gelombang kecil yang begitu manja menyentuh haluan, membuat nuansa perjalanan Anwar di perairan itu terasa lebih eksotik.

Anwar memperhatikan hamparan air ciptaan Tuhan itu dengan seksama. Di sela-sela perhatiannya, Anwar menatap tajam kesibukan para nelayan di atas sebuah perahu kecil. Mereka itu adalah orang-orang yang hidup berkat kasihan ombak, termasuk ayah Anwar yang dulu semasa hidupnya juga seorang nelayan. Namun kini sosok yang ia panggil Ayah itu telah pergi untuk selama-lamanya dan meninggalkan dua orang yang dicintai yaitu Anwar dan ibu Anwar.

Siapakah Anwar?
Anwar merupakan seorang pemuda delapan belas tahun yang dengan prestasinya telah berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu Universitas Islam di Ibukota Provinsi. Anwar diberi kesempatan untuk mencicipi pendidikan kampus. Padahal, anak semata wayang ini hanya punya kehidupan sederhana bersama ibunya yang hanya seorang buruh cuci di desa itu.

Nama lengkap Anwar sama persis dengan penyair idolanya yaitu Chairil Anwar dan hobinya juga sama seperti idolanya. Anwar suka menulis puisi.

Ini baru tahun pertama Anwar kuliah. Belum genap dua semester yang dijalani oleh Anwar usai tahun lalu Anwar lulus SMA di desanya.

Cukup mengagumkan memang, setelah Anwar bergabung dengan Forum Literasi Kampus. Puisi-puisi Anwar tenyata layak tayang di berbagai media massa dan media online. Sebut saja beberapa puisi Anwar yang digandrungi pencinta sajak yang pernah dimuat di media. Antara lain yang berjudul:
1. Pucatnya Inai Sang Pengantin Melayu
2. Doa Dalam Kecupan Petir
3. Nelayan Bersiul Pada Duka
4. Pesan Cinta Dari Tengah Lautan
5. Bulan Tak Pernah Marah.

Selain lima judul puisi di atas, banyak puisi yang sudah ditulis oleh Anwar sebagai karya pemikirannya sendiri. Kemarin Anwar baru mengirim satu puisi lagi ke situs literasi langganannya. Tapi puisi itu belum tayang sampai saat ini. Mungkin masih dalam daftar tunggu sebab banyaknya berita deadline yang harus dimuat terlebih dahulu.

Dari tulisan-tulisan yang tayang itu tentu Anwar mendapatkan upah sebagai jasa tulisnya. Meski tak seberapa namun dapatlah sedikit meringankan beban dan biaya dirinya di perkuliahan. Setidaknya sekedar uang jajan bisa ia peroleh dari situ.

Untuk menambah pemasukan, Anwar kadang juga ikut membantu temannya yang berjualan jus buah di pinggir jalan dan pekerjaan ini Anwar lakoni di saat senggang aktifitas kuliahnya.

Anwar cukup sadar diri untuk tidak berharap banyak pada kiriman dari ibunya yang hanya tinggal sendirian saja di desa. Kehidupan keluarga Anwar yang pas-pasan memaksa Anwar harus bertarung keras demi kelanjutan pendidikannya. Begitulah perjuangan Anwar di rantau orang dalam menggapai cita-cita.

Tiba-tiba lamunan Anwar tersentak di tengah keriuhan suara orang-orang di perahu itu. Tak terasa, perahu yang ditumpangi Anwar sudah merapat ke bibir pelabuhan. Itu tandanya perjalanan telah sampai dan penumpang mestilah turun dari perahu.

Tak jauh dari pelabuhan tempat Anwar berdiri, tampak seorang pemuda yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Ternyata itu adalah teman karib Anwar. Namanya Sulung. Sebenarnya nama pemuda Itu Muhammad Yusuf, karena Yusuf adalah putra tertua di keluarganya, maka orang-orang memanggilnya dengan Sulung. Begitu pula Anwar yang juga memanggilnya dengan nama Sulung.

Pemuda yang disebut Sulung itu sudah siap dengan sepeda motornya yang sengaja menjemput Anwar. Kemudian Anwar menghampiri sulung dengan berjalan kaki.

Sesampainya di dekat Sulung, Anwar masih tetap berdiri dengan menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu.

“Anwar, apa yang sedang kau cari?”
cetus sulung sambil memperhatikan gelagat Anwar.

“Oh Aku tahu, kau sedang mencari Wardah bukan?” tanya sulung dengan tersenyum. Lalu Anwar tak menjawab pertanyaan Sulung itu.

“Wardah dan keluarganya sudah pindah, rumah mereka sekarang di gang nanas dekat Kantor Kepala Desa,” lanjut Sulung.

“Apa Wardah tak pernah cerita padamu, walau dari telpon?” Tanya Sulung lagi.
Sekali lagi Anwar tak berkata apa-apa, ia hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa sebenarnya ia memang tak tahu.

“Sudahlah, buruan naik, ibumu sudah menunggumu Anwar” kata Sulung

Kemudian Anwar naik ke boncengan Sulung dan merekapun meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan mereka terus saja berkelakar, tertawa bersama mengenang sesuatu yang lucu, yang mungkin pernah mereka lalui bersama sebagai seorang sahabat.

Tak lama kemudian, sampailah ke rumah Anwar yaitu sebuah rumah tua yang menjadi satu-satunya peninggalan ayahnya.

Setelah mengucapkan salam, Anwar masuk ke rumah dan disambut oleh sang ibunda tercinta dengan memeluk Anwar sembari menciumi pipi kiri dan kanannya. Maklumlah namanya juga anak satu-satunya. Mungkin dengan itu sang ibunda dapat melepaskan rasa rindu kepada anaknya itu yang belum pernah pulang dalam setahun ini.

Di dalam rumah, Anwar bercerita banyak kepada ibunya. Anwar juga bercerita tentang puisi-puisinya yang diterbitkan beberapa media, tentu saja ibunya terkagum-kagum mendengar cerita anaknya itu.

Anwar memang tipe pemuda yang humoris, periang dan bersifat terbuka. Sesekali tampak Anwar bergurau bersama ibunya. Canda tawa mereka berdua begitu akrab. Ini adalah hubungan antara ibu dan anak yang saling menyayangi.

“Anwar tak bawa apa-apa Bu,” kata Anwar sambil mengeluarkan kantong keresek plastik kecil berwarna hitam dari ranselnya.

Sang ibu dengan perlahan membuka ikatan kantong keresek itu dan dilihatnya ternyata ada beberapa buah duku di dalamnya. Buah yang menjadi kesukaan sang ibu.

“Mandilah sana, Anwar!” suruh ibunya “istirahat dulu, kau masih capek kan?”

“Ya Bu,” jawab Anwar.

Tiba-tiba terdengar suara lembut yang mengucapkan salam dari teras rumah. Lalu ibu Anwar mendekati teras rumahnya dan melihat seorang remaja putri yang masih belia datang ke rumahnya. Remaja itu berparas cantik, putih, hidungnya mancung dan mengenakan jilbab berwarna pink serta baju panjang yang tertutup ala perempuan muslimah.
Remaja putri itu menenteng sebuah rantang di tangan kanannya.

“Eh ternyata nak Wardah, mari masuk!” ajak ibu Anwar kepada Wardah.

Wardah hanya tersenyum dan segera masuk untuk mengikuti ajakan ibu Anwar sambil memberikan rantang yang dipegangnya itu.

“Apa ini nak wardah?” tanya ibu Anwar berbasa-basi.

“Di dalamnya ada gulai sayur gori Bu, untuk nanti berbuka puasa?” jawab Wardah.

“Setiap hari kau bawakan ibu makanan berbuka puasa, apa orangtuamu tak marah, nak?”

“Tidak Bu,” malah ibuku yang menyuruh aku mengantarkan makanan kemari setiap hari, katanya untuk Bu Fatimah ( Nama Ibu Anwar )” Wardah tersenyum menyampaikan itu.

“Bilang pada ibumu, Makasih” kata ibu Anwar pada Wardah sang gadis remaja yang jelita itu.

Kemudian tak lama, Anwar datang diantara ibunya dan Wardah setelah keluar dari kamar seusai sholat Ashar. Anwar memakai sarung, berbaju koko, berpeci dan memegang Handphone di tangannya.

MENARIK DIBACA:  Rumah Kita Jendela Bambu

“Wardah apa kabar,” Anwar memulai percakapan
“Baik War!, kau sendiri gimana?”
“Yah… seperti yang kau lihat, sehat Wal Afiat” ucap Anwar sambil tertawa.

Sebenarnya entah apa hubungan Anwar dan Wardah. Keduanya seperti memendam sebuah rasa antara satu dan lainya. Tapi tak pernah ada ungkapan perasan itu.
Kedekatan mereka selama ini hanya sebatas sahabat.

Wardah adalah adik kelas Anwar di SMA. Anwar lebih senior satu tahun dari Wardah yang baru lulus SMA tahun ini.

Wardah memang dari tadi menatap Anwar saja. Namun Anwar pura-pura tak tahu gelagat Wardah itu dan ia berusaha seperti tidak menggubrisnya sedangkan ibu Fatimah hanya memandangi mereka berdua.

Kemudian suara dering kecil terdengar dari handphone-nya lalu Wardah melihat ada satu pesan masuk melalui ponselnya dan itu pesan dari orang yang ada di hadapannya yang tak lain adalah Anwar. Pesan singkat itu bertuliskan:

“Hai bunga Arab, mengapa menatapku begitu,? rindu ya? entar puasamu batal, he he he”

Anwar selalu menjuluki Wardah dengan sebutan “Bunga Arab” karena bahasa Arab Wardah jika diterjemahkan artinya “Bunga Mawar” mungkin itu barangkali alasan Anwar.

Membaca pesan singkat dari Anwar malah membuat Wardah tersenyum kecil. Kemudian tak lama Wardah pamit untuk pulang.

Sementara Anwar dan ibunya mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjelang berbuka puasa. Ramadan ini Anwar manfaatkan dengan baik. Anwar menjadi imam dalam setiap sholat-sholat mereka.

Sehabis sholat tarawih bersama sang ibu di rumah, Anwar pergi ke mesjid untuk bertemu teman-temannya di sana.

Anwar yang dulu merupakan ketua remaja mesjid An-Nur bersama teman-temannya melakukan diskusi kecil untuk merencanakan program kegiatan dalam mengisi bulan ramadhan.

Anwar dan teman-temannya kali ini berfokus pada kegiatan peduli sosial. Kalau mengacu pada tahun lalu, Anwar dan teman-teman sudah melaksanakan sebuah program apa yang mereka sebut dengan istilah ‘Subata’. Istilah ini mereka artikan dengan ‘Istirahat’. Kegitan ini di tahun lalu mendapat apresiasi dari Pemerintahan Desa.

Bentuk kegiatan Subata ini semacam Pesantren kilat ala remaja mesjid yang menjadikan mesjid sebagai tempat paling nyaman bagi anak-anak usia sekolah.

Di mesjid anak-anak tersebut diajarkan Sholat dan akhlak serta pengetahuan agama. Kemudian setelah program seminggu itu berakhir diadakan pula perlombaan santri Subata yang hadiahnya hanya kecil-kecilan, berupa buku tulis, peralatan sekolah dan yang paling besar untuk pemenang lomba sepasang Baju Koko bagi putra dan mukena untuk putri.

Beranjak dari suksesnya kegiatan itu , Kepala Desa mempercayakan Program-program fositif lainya kepada Anwar dan rekan-rekan, yang penting bermanfaat bagi orang banyak.

Anwar memang dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan berbuat tanpa pamrih di desanya, terutama untuk anak-anak. Biasanya sewaktu Anwar masih menetap di desa, ia sering mengabdikan diri sebagai guru di madrasah MDTA sore hari tanpa harus digaji.

Sekolah agama MDTA yang diselenggarakan pada sore hari di perkampungan kecil ini di kelola oleh Haji Ilyas yang tak lain adalah Ayahnya Wardah.

Haji Ilyas begitu gemar dengan perilaku Anwar. Pemuda yang periang dan suka bicara ini, selain cerdas juga fanatik terhadap agamanya, sholatnya tak pernah ia tinggalkan.

Pernah suatu saat, Anwar dan rekan remaja mesjidnya secara resmi bermohon kepada Pemerintah Kecamatan agar meninjau kembali harga gas LPG di Kecamatan itu. Harga yang dinilai cukup tinggi hingga menyulitkan kehidupan orang-orang yang tidak mampu.

Dengan dorongan berbagai belah pihak akhirnya para pengusaha setuju menurunkan harga LPG itu dengan sewajarnya.

Sejak itu orang-orang mulai mengenal Anwar. Ia sangat disukai meski ketika itu ia masih siswa yang duduk di bangku SMA.

Anwar termasuk pemuda belia yang dikagumi di desa kecil ini. Kebiasaannya selama bulan ramadhan, Anwar selalu menghabiskan waktu di mesjid An-Nur. Ia diskusi bersama teman-temannya dan Anwar gemar melakukan kegiatan agama berbasis mesjid.

Ini Hari kedua Anwar di kampung halamannya setelah kembali. Dari diskusinya bersama teman-teman, sulit untuk menemukan tema kegiatan untuk Ramadan ini.

Selain wabah covid-19 yang belum mereda, ramadhan kali ini terjadi pembatasan pada kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Namun tak lama kemudian, timbul di pikiran Anwar sebuah ide. Ide itu berupa kegiatan sosial yang Anwar sebut dengan istilah “Wardatul A’mal” yang artinya ” Bunga Harapan”

Menurut Anwar kegiatan ini semacam aktivitas berbagi dengan anak-anak yatim. Anwar dan teman-teman setuju bahwa sumber dana berasal dari sumbangan ikhlas bersama dan setelah dikumpulkan baru dibelikan sembako dan diberikan bagi keluarga yang di dalamnya terdapat anak yatim.

Mengetahui rencana Anwar dan teman-teman, Kepala Desa turut membantu dan juga sebagian donatur di desa itu. Orang-orang yang rizkinya berlebih tak lupa pula ikut serta termasuk Haji Ilyas. Meskipun tidak semua orang kaya di kampung itu sependapat dengan usulan ini.

Di sisi lain, Anwar tak punya apapun untuk dibagikan selain sedikit tabungannya yang ia simpankan pada ibunya. Setelah ia berbincang-bincang dengan sang ibu, Akhirnya ibunya menyetujui maksud Anwar dan memberikan uang itu kepada Anwar.

Anwar juga sedih mengambil lagi uang tabungannya dari sang ibu, karena dengan uang itu, Anwar sebelumnya bermaksud ingin membelikan ibunya sajadah baru dan pakaian muslimah untuk lebaran ini.

Tapi Anwar tak terlalu khawatir sebab masih ada honor jasa tulis dari puisinya yang belum terbit yang kemarin ia kirimkan ke situs literasi dan itu pasti ia dapatkan. Pimpinan Redaksi telah berjanji untuk itu. Uang yang Anwar peroleh nanti dirasa cukup untuk menggantikan pembeli sajadah dan pakaian muslimah untuk ibunya.

Setelah semua sumbangan terkumpul dan dibelikan sembako, maka esok pagi Anwar dan teman-teman melakukan kegiatan sosial dengan membagikan sembako-sembako yang terdiri dari sekarung beras, satu kotak mie Instan dan sepaket telor ayam untuk satu keluarga yang di rumahnya terdapat anak yatim.

Kegiatan Anwar ini di bagi menjadi empat tim dan menyebar sampai ke desa sebelah. Mereka mendatangi dari rumah ke rumah guna membagikan sembako-sembako itu.
Kegiatan ini yang mulai dari pagi bahkan telah selesai sebelum Ashar.

Sesudah Anwar melaksanakan Sholat Ashar di mesjid An-Nur, Anwar langsung berjalan kaki berniat untuk pulang.

Tiba-tiba di tengah jalan, Anwar bertemu dengan Wardah. Kebetulan Wardah berada di sebuah bengkel untuk memperbaiki sepeda motornya yang mogok.

Seperti biasa Wardah hanya meninggalkan sepeda motornya di bengkel itu mengingat hari sudah terlalu sore jika ditunggu, maka Wardah memutuskan untuk pulang saja.

Melihat itu Anwar menghampiri Wardah dan mereka pulang bersama-sama berjalan kaki.

Sepanjang perjalanan Anwar dan Wardah bercakap-cakap

“Bagaimana kegiatan hari ini, Anwar” tanya Wardah.

“Sukses dan teman-teman juga sukses” sahut Anwar.

“Aku kagum padamu Anwar”

“Ah Wardah, kau bisa saja, yang penting kita bisa berbagi” kata Anwar
“Saling membantu itu, seharusnya sudah jadi tradisi kita, karna apa yang kita peroleh saat ini, semuanya hanya titipan Tuhan”

MENARIK DIBACA:  Azan yang Tergantikan

“Iya pak ustadz” sambut Wardah berkelakar.
Anwar pun tersenyum kecil

“Oh ya, kau ini mau jadi ustadz atau penyair sih Anwar?” tanya Wardah dengan serius.

“Entahlah, aku tidak tahu” jawab Anwar

Kemudian keduanya terdiam sejenak. Untuk mencairkan suasana, Anwar memulai percakapan itu.

“Hei Bunga Arab…!” panggil Anwar pada Wardah. Lalu Wardah menoleh Anwar sambil tersenyum.

“Kau tahu, aku ingin sekali jadi orang sukses.” “Jika nanti aku sudah sukses, aku ingin mendirikan sekolah gratis, agar anak-anak kurang mampu di desa ini bisa terbantu pendidikannya dan dapat meraih cita-cita mereka” ucap Anwar menjelaskan keinginannya itu.

“Sungguh mulia hati pemuda yang kukagumi ini” kata Wardah dalam hati.

Sejenak sesampainya di simpang tiga, perjalanan mereka terpisah karena arah rumah mereka yang berlainan. Kemudian Wardah pamit dan begitu pula Anwar.

Tak lama setelah Anwar sampai di rumah, beduk berbuka pun terdengar. Sebagaimana biasa Anwar berbuka puasa beserta ibunya. Mereka Sholat Bersama dan akhirnya sholat tarawih di rumah berasama-sama.

Malam itu Anwar merebahkan tubuh di ranjang kayu tempat tidurnya. di kamar dan di ranjang kecil itulah pemuda ini membangun mimpi-mimpi besarnya.

Dinding-dinding di kamar itu menjadi saksi bisu tentang cita-cita Anwar yang kerap menjadi igauan tidurnya. Oleh karna itu Anwar tanpa henti ingin mencapai mimpinya yang selama ini ia perjuangkan.

Di sela-sela rasa lelahnya, Anwar terpikir tentang puisinya yang belum dimuat media literasi itu sampai kini. Padahal puisi itu seharusnya tayang pada 24 April 2020 sebagai persembahan Peringatan Hari Puisi Nasional.

“Hari ini sudah tanggal dua puluh enam dan besok dua puluh tujuh, kapan lagi dimuatnya” pikir Anwar sambil mencoba menghubungi Tim Redaksi via handphone yang sejak kemarin tak bisa dihubungi, Anwar terus mencobanya, namun tetap tidak bisa juga.

“Jika puisi tidak dimuat juga, berarti tak ada pemasukanku, lalu bagaimana aku membelikan ibu sajadah baru dan pakaian muslimah untuk lebaran ini.” Kegelisahan Anwar mulai terlihat sampai rasa letih membawanya tertidur dalam lelap.

Keesokan harinya Tanggal 27 April 2020, hari kelima Anwar di kampungnya. Hari itu keanggunan fajar yang mulai menampakkan diri membuat Anwar terbangun dari tidurnya, Anwar kebingungan sekali sebab kali ini ia tak terbangun makan sahur. Anwar cepat-cepat berwudhu, ia Sholat Subuh meski sebenarnya Waktu subuh sudah berlalu. Tapi Anwar tetap melaksanakannya dan Anwar tetap berpuasa walaupun pada dini hari tadi ia tidak makan sahur.

Ibu Anwar juga tak terbangun makan sahur. Entah apa yang membuat mereka tidur terlalu pulas malam ini.

Menjelang Zhuhur, Anwar segera ke mesjid. Hari ini mesjid terlihat agak sepi. Beberapa teman-teman Anwar pergi melaut, termasuk Sulung yang biasa menemaninya.

Kali ini Anwar hanya bersama Julpan, teman Anwar yang satu ini bertubuh gemuk dan bongsor. Sedangkan Pak Dahlan yang merupakan marbot mesjid itu tidak hadir lantaran sakit. Sampai waktu sholat Zhuhur, Anwar yang menjadi imam. Pemuda belia ini mengimami makmum yang tak cukup satu shaff penuh.

Seusai Sholat semua orang pulang kecuali Anwar dan Julpan yang saling bertukar cerita di situ.

Anwar bercerita kegundahan hatinya tentang sesuatu yang hendak ia belikan untuk ibunya berupa sajadah dan pakaian muslimah untuk lebaran. Sedangkan Uang yang ia harapkan terutama dari penerbitan puisinya yang sampai sekarang belum terbit juga. Biasanya Anwar memperoleh sedikit jasa tulis dari semua itu.

Tiba-tiba Julpan seperti teringat sesuatu.

“Oh ya Anwar, aku hampir lupa, tadi anak Pak Dahlan datang dan memberikan lampu-lampu ini untuk dipasang di Mihrab, lampu-lampu itu tadi malam rusak, soalnya jika lampu tidak dipasang, sholat terawih nanti malam akan gelap” kata Julpan pada Anwar.

“Tempat pemasangan lampu-lampu itu terlalu tinggi,” lanjut Julpan sambil menunjukkan posisi dimana lampu-lampu itu akan dipasang.

“Baiklah, biar aku yang pasang lampu-lampu itu,” tegas Anwar.

Kemudian Anwar mengambil tangga dari sudut mesjid serta menggesernya. Lalu Anwar menaiki tangga itu hingga di puncaknya.

Sesaat Anwar sedang memasang lampu-lampu itu, tiba-tiba terjadi konsleting listrik berarus pendek. Lalu sebentar itu juga Anwar tersengat aliran listrik. Anwar terperanjat dan akhirnya jatuh dari ketinggian langit-langit mihrab yang begitu menjulang. Kepala bagian belakang Anwar terhempas ke lantai mesjid hingga berdarah. Pendarahan juga keluar dari telinga dan hidung Anwar.

Dengan terkejut, Julpan yang berdiri di situ menjerit histeris minta tolong dan memanggil orang-orang dengan secepat yang ia bisa.

Sedangkan Anwar masih terkapar mengerang kesakitan sambil menyebut nama Allah berkali kali dan hanya Nama Allah yang keluar dari mulutnya dengan suara tersendat-sendat.

Kemudian dengan cepat orang-orang yang datang langsung menggotong Anwar dan melarikannya ke puskesmas. Namun di tengah perjalanan Anwar sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Akhirnya mayat Anwar dibawa ke rumahnya. Ibu Anwar pingsan mendengar kecelakaan yang menimpa anak semata wayangnya itu. Ibu setengah tua ini merasa terpukul sekali.

Sebangun dari pingsannya, ibu Anwar berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk. Tapi ternyata semuanya adalah sebuah kenyataan.

Kini mayat yang terbujur itu terus ditatap oleh ibunya yang hanya bersandar pada dinding kamar yang berlapis terpal koyak saja. Begitulah kondisi rumah Anwar.

Orang-orang bergantian melayat Anwar. Pemuda belia yang baru berumur delapan belas tahun. Pemuda yang pandai menulis syair-syair puisi itu kini hanya tinggal kenangan.

Ibu Anwar yang hanya bersandar saja dari tadi, hatinya berkata:

“Dulu sewaktu ayahmu pergi, aku berpikir bahwa aku kehilangan kemudi dalam hidupku. Namun senyum kecilmu anakku, membuat aku menghapus seluruh air mata yang sudah ku kucurkan saat itu, mata kecilmu ketika itu menyadarkan aku untuk tetap tegar, kuat dan terus berjuang merawat dan membesarkanmu dengan penuh kasih dan sayang.”

“Kini gilaran anakku yang pergi, teganya kalian berdua meninggalkan aku sendiri,sebatang kara di dunia ini, pada siapa lagi aku akan menegarkan harapanku.”

“Anakku, setahun yang lalu dirimu pergi kuliah keluar daerah. Ketika itu orang-orang mencibirku, apakah aku mampu sedangkan beginilah hidup kita. Saat kau di sana, maka aku di sini belajar menahan rasa rinduku padamu. Namun sekarang, engkau pergi lagi. Kepergian yang tak mungkin akan kembali. Baru Lima hari kita bersama dalam ramadhan ini dan setelah itu untuk selamanya aku tak akan pernah lagi melihatmu. Aku tak tahu, apakah aku masih bisa belajar menahan rasa rindu itu untuk kali ini.”

“Tenang anakku, cepat atau lambat ibu akan menyusulmu, biar kita bisa saling melepas rindu.”

Kata-kata itu tak bersuara, tapi ia tertulis dalam batin ibu yang luka itu.

Ratapan batin ibu Fatimah yaitu ibunya Anwar tak terdengar oleh siapapun. Tak lama datanglah Wardah sambil menagis tersedu-sedu memeluk ibu Fatimah hingga keduanya terendam dalam air mata yang penuh duka.

Sedangkan jasad Anwar dimakamkan keesokan harinya pada waktu pagi.

SINKAP.info | Penulis: Zaidan Akbar
Facebook Comments