Beranda KOLOM Sastra Mahkamah Tanpa Hati

Mahkamah Tanpa Hati

80
Cerpen Naratif ditulis oleh Zaidan Akbar

SASTRA, Sinkap.info – Sejenak Rasyid termenung seorang diri. Ia menatap langit-langit rumahnya yang hanya terbuat dari rajutan daun rumbia. Sekilas ingatan Rasyid menyeretnya ke memori masa lalu.

Tampak begitu jelas ketika masa kecil Rasyid bersama sang adik, yakni Ardan yang penuh kepahitan hidup. Bagaimana tidak, Rasyid dan adiknya sudah menjadi yatim piatu sejak mereka masih bocah.

Hidup tanpa orang tua membuat Rasyid begitu menyayangi adiknya. Rasyid kecil dulu selalu berjuang, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari buat mereka berdua tapi juga Rasyid terus berusaha keras agar dapat menyekolahkan adiknya itu.

Pengorbanan demi pengorbanan telah Rasyid lakukan supaya Ardan, sang adik terus dapat melanjutkan sekolahnya bahkan hingga Ardan berhasil mendapatkan gelar sarjana hukum.

Kini Ardan telah sukses. Dengan pendidikan yang terus Ardan lanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi telah membaawa Ardan kepada posisi sekarang yang berhasil ia raih. Kini Ardan dipercaya sebagai seorang hakim di sebuah pengadilan tinggi.

Sedangkan Rasyid masih bergulat dalam lamunannya. Kisah-kisah yang ia lalui bersama Ardan tentunya penuh dengan rintangan hidup. memang tidak mudah bagi Rasyid dan Ardan menjalani hidup tanpa adanya kedua orang tua.

Benak Rasyid kerap dirasuki rasa rindu yang tebal pada Ardan, adik satu-satunya itu yang begitu ia sayangi. Pertemuan terakhir mereka adalah ketika Rasyid menolak bantuan yang ditawarkan Ardan kala itu.

Tiba-tiba saja suara Faridah yang menyapa lembut Rasyid terdengar jelas dan membuyarkan lamunan Rasyid. Rasyid sontak menoleh Faridah yang tak lain adalah istrinya sendiri. Faridah datang mendekati Rasyid.

“Pak! apa yang bapak pikirkan?” cetus Faridah dengan pertanyaannya.

“Tidak ada buk!” jawab Rasyid dengan singkat

Faridah tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, sebab Faridah tahu betul perangai Rasyid yang apabila Rasyid mulai melamun sendiri itu tandanya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Rasyid saat ini.

Sementara itu seketika Rasyid menghela napas panjang dan berkata.

“Buk! kira-kira bagaimana kabarnya Ardan sekarang ya?” ucap Rasyid bertanya

“Bapak merindukan Ardan?” tanya Faridah balik pada suaminya.

Rasyid hanya diam dan menundukkan kepalanya.

“Bagaimana kalau Bapak berkunjung saja ke rumah Ardan?

Rasyid menggelengkan kepalanya untuk merespon pertanyaan istrinya itu.

Sekali lagi Faridah hanya tersenyum kecil melihat suaminya itu, mungkin Rasyid punya alasan tersendiri mengapa Rasyid tak menerima saran Faridah.

Malam yang larut membuat sepasang suami istri itu tenggelam dalam sungutan jangkrik yang terus mendendangkan kesunyian. Perbincangan Rasyid dan Farida pun berhenti sampai di situ saja karena sudah saatnya mereka istirahat.

Apa yang sebenarnya terjadi antara Rasyid dan Ardan?
Sebenarnya kedua kakak beradik ini tidaklah bersiteru, namun pada akhir pertemuan mereka, Ardan begitu kesal pada kakaknya.

Ardan selalu menawarkan bantuan kepada Rasyid, sang kakak. Bantuan itu seperti modal usaha agar Rasyid tidak lagi hidup seperti sekarang ini, namun beberapa kali Ardan menawarkan sesuatu tapi Rasyid kerap menolaknya dan akhirnya Ardan merasa kesal karena Ardan merasa Rasyid tak menghargai niat baik Ardan itu.

Sebenarnya Ardan tak tega melihat kehidupan sang kakak yang hanya pas-pasan. Ardan ingin nasib Rasyid berubah. Namun bukan Rasyid namanya jika ia begitu saja menerima bantuan siapapun juga meskipun itu hanya dari adiknya sendiri.

Rasyid sehari-hari berprofesi sebagai nakhoda perahu penumpang. Biasanya orang-orang akan melewati sungai yang terbentang ketika ingin bepergian. Sebagai masyarakat pesisir, ini adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh jika warga untuk keluar masuk desa kecil itu.

Pekerjaan yang Rasyid lakoni ini sudah lama sekali ia geluti bahkan sejak Rasyid masih remaja dan dengan pekerjaan ini pula dulu Rasyid mampu membantu pendidikan adiknya hingga di bangku kuliah. Kini profesi yang sama juga Rasyid memenuhi kebutuhan sehari-hari istri dan kedua anaknya.

Pagi yang indah kini datang juga. Matahari tampak gagah di singgasananya. Orang-orang bergegas dengan berbagai aktifitas hidup yang mereka jalani tak terkecil Rasyid.

“Hari ini aku kesiangan,” bisik Rasyid dalam benaknya sendiri.

Rupanya setelah sholat subuh tadi Rasyid tak bisa melawan rasa kantuknya hingga tanpa sadar Rasyid pun tertidur tepat di atas sajadahnya.

Rasyid terus bergegas dan melanjutkan langkah kakinya dengan cepat untuk sampai di pelabuhan penyeberangan.

Tak lama Rasyid berjalan kaki, sampailah ia ke pelabuhan itu dan di sana Pak Salman yang merupakan pemilik perahu tumpangan tempat Rasyid bekerja nampak geram sekali atas keterlambatan Rasyid.

“Rasyid, Rasyid!” ucap Pak Salman sambil menggelengkan kepalanya

“Jam berapa sekarang? kenapa kau terlambat? ada apa? biasanya kau tidak begini” Pak Salman mencerca Rasyid dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ia jawab.

“Sekarang kau pulanglah! untuk hari ini tugasmu telah digantikan oleh Herman, kebetulan Herman sedang tak melaut” tegas Pak Salman lagi.

Rasyid meminta maaf atas kesalahannya itu dan Pak Salman terlihat hanya mengangguk-angguk saja sebagai tanda bahwa Pak Salman juga telah memaafkan Rasyid.

Tak ada yang bisa Rasyid kemukakan sebagai alasan terhadap kesalahan yang telah ia buat, namun yang pasti Rasyid kini pulang ke rumah dengan tangan hampa. Itu artinya tak ada penghasilan Rasyid untuk hari ini.

Sampai di rumah, Faridah terkejut melihat suaminya sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang murung.

“Pak! Bapak kok balik lagi?” tanya Faridah begitu herannya.

Rasyid tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Rasyid tampak lesu dan langsung duduk bersandar di teras rumah mereka sembari menahan kekecewaannya.

Rasa kecewa Rasyid memang kentara sebab ia tahu hari ini tak ada sesuatu apapun di rumah mereka yang dapat dimasak untuk jadi makanan hari ini.

Beras sudah kandas, uang belanja telah pula habis. Biasanya Faridah berhutang dulu di kios Buk Marwah menjelang suaminya pulang di sore hari baru hutang itu ia bayar, tapi hari ini berbeda karena Rasyid tidak bekerja dan tak punya penghasilan.

Sementara Faridah hanya menatap suaminya yang sedang kalut dalam renungan itu. Faridah mulai faham apa yang terjadi.

Dalam pikiran Rasyid terlintas wajah kedua anaknya yang sebentar lagi akan pulang sekolah. Apa yang akan mereka makan? hati Rasyid terus bertanya-tanya dalam gumamnya.

Tak lama kemudian terdengar suara kedua bocah mengucapkan salam. Mereka adalah buah cinta antara Rasyid dan Faridah. Ya! mereka adalah Agus dan Irfan. Kedua bocah yang selalu menjadi energi bagi kebahagiaan Rasyid dan istrinya.

Faridah pun menghampiri kedua anaknya itu. salam hormat kedua bocah itu tampak begitu tulus ketika mereka mencium tangan ibunya.

Agus kini merupakan siswa kelas Delapan SMP sedangkan Irfan masih kelas lima SD, namun harapan dan masa depan mereka bergantung di pundak Rasyid yang kerap menginginkan anaknya untuk terus melanjutkan pendidikan agar dapat menjadi orang-orang sukses di kemudian hari. Tentu untuk ini Rasyid bersedia berkorban demi sekolah anak-anaknya, Tak ubahnya seperti yang pernah Rasyid lakukan dulu saat ia terus gigih dalam memperjuangkan pendidikan adiknya Ardan.

“Ibu, aku lapar!” ujar Irfan yang masih polos dengan mengelus perutnya

mendengar itu, air mata Faridah mulai tergenang di kelopaknya.

“Iya, Iya, sebentar lagi ibu masak, nak! sahut Faridah dengan suara sedikit serak karena menahan tangisnya.

Sementara tatapan Rasyid lekat dan mulai berair saat melihat anaknya yang mengeluh lapar itu. Rasyid menghela nafas panjang lalu Faridah melirik Rasyid yang dari tadi diam dan tak berkata sepatah kata pun juga.

Setelah itu Rasyid berdiri dan seketika ia keluar dari rumahnya. Tanpa berucap apapun Rasyid melangkahkan kakinya untuk pergi sejenak .

Faridah cukup memahami kondisi keluarganya dan ia mengerti betul apa yang akan terjadi jika satu hari saja Rasyid tak bekerja.

Untuk menenangkan kedua buah hatinya, Faridah mendekati anak-anaknya dan berkata.

“Nak! Hari ini ayahmu tak bekerja, kita tak punya uang untuk beli makanan, minum air putih saja ya!” ucap Faridah merayu anaknya.

Entah mengerti atau tidak namun kedua bocah itu menganggukkan kepala dan Faridah langsung mengusap rambut keduanya dengan sepasang mata yang sejak tadi berkaca-kaca.

Detik-detik berjalan dan berlalu hingga siang berubah menjadi sore, namun Rasyid tak jua kembali. Di rumah mereka Faridah terlihat was-was karena suaminya itu tak nampak batang hidungnya sejak tadi siang. Faridah dan kedua anaknya, Agus dan Irfan masih saja berjuang melawan rasa lapar mereka sampai malam pun datang menjelma.

Ini adalah malam yang begitu dingin. Di luar sisa-sisa hujan yang senja tadi turun telah meninggalkan gerimis-gerimis kecil yang tak jua kunjung reda, sedangkan Rasyid pergi entah kemana dan belum pulang hingga kini.

MENARIK DIBACA:  Gadis Kecil Dari Tempat Pengasingan

Sementara Faridah melihat kedua putranya terus gelisah. Agus dan Irfan tak bisa tidur karena laparnya perut mereka yang tak berisi dari tadi siang. Faridah tak ke habisan akal, Ia mulai membacakan dongeng dari buku yang ada di dalam tas Irfan hingga lambat laun kedua bocah lapar itupun tertidur jua dalam pelukan ibu mereka.

Lalu Faridah memandangi kedua bocah yang tidur dalam lelap itu. Ternyata sekuat-kuatnya hati seorang ibu akhirnya menangis juga saat melihat anaknya diterpa derita seperti ini. Butir demi butir air mata mengalir berjatuhan di pipi Faridah.

Tak lama suara Rasyid ucapan salam terdengar dari luar. Faridah bergegas membukakan pintu. Ternyata sang suami yang ditunggu telah pulang dengan menenteng tiga bungkus nasi goreng dalam sebuah tak kresek.

Sebelum masuk ke dalam rumah, Rasyid langsung berucap.

“Agus dan Irfan mana Buk?”

“Mereka sudah tidur Pak,” jawab Faridah lembut

Lalu Rasyid masuk ke rumah dan terus menyibak tirai tidur kedua putranya itu. Agus maupun Irfan telah tidur pulas dengan mimpi-mimpi mereka.

Melihat kedua buah hatinya yang terlelap itu, mata Rasyid mulai basah berair. Tangisan Rasyid mungkin tak terdengar tapi hatinya pilu sekali menyaksikan anak-anaknya tertidur dalam keadaan perut kosong karena seharian belum ada yang dimakan.

“Dari mana saja Pak? Aku dan anak-anak khawatir,” ucap Faridah pada suaminya

“Aku tak tega melihat Agus dan Irfan tak makan seharian, aku mendatangi Pak Salman di pelabuhan, aku berharap dapat pinjaman buk!” jawab Rasyid menjelaskan.

“Lalu …?” tanya Faridah dengan penasaran

Kemudian Rasyid menatap istrinya yang bertanya itu seraya berujar.

“Aku tak mendapatkan apapun dari Pak Salman.

“Untung tadi aku bertemu Herman yang menggantikan pekerjaanku hari ini, dia membagi penghasilannya padaku dan aku membelikan beberapa bulus nasi goreng ini,” tegas Rasyid lagi dengan genangan air matanya.

Faridah menghela napas panjang dan ia berkata.

“Sudahlah Pak! Bapak makanlah dulu.”

Rasyid menggeleng kemudian berucap.

“Kau makanlah bu, aku tak selera.”

“Kalau begitu nasi goreng ini ibu simpan saja, kita makan besok saja bersama anak-anak kita, ya kan pak?” ujar Faridah.

Rasyid menganggukkan kepalanya sebagai respon terhadap tanggapan istrinya itu.

Faridah pun tersenyum kecil dan tak lama mereka pun istirahat karena malam sudah begitu larut.

Keesokan harinya Rasyid bangun pada subuh sekali. Sebagai seorang muslim Rasyid melaksanakan sholat subuh sebagaimana yang selalu ia lakukan.

Pajar mulai menampakkan diri meskipun baru sedikit di atas ufuk. Rasyid tak ingin terlambat seperti kemarin. Pagi-pagi sekali Rasyid bergegas ke pelabuhan dan hari ini Rasyid harus dengan semangat menjalani pekerjaannya itu yakni sebagai nakhoda kapal kayu penumpang.

Hari demi hari terus ia lakoni pekerjaan itu dan kondisi keuangan keluarga Rasyid pun mulai kembali normal.

Di suatu malam, entah mengapa Rasyid kembali menatap fhoto masa kecilnya bersama Ardan sang adik. Rasyid meraih fhoto itu yang selama ini tergantung di dinding anyaman bambu rumahnya.

Sebenarnya batin Rasyid sangat merindu adiknya itu, Ardan yang selalu ia perjuangkan dulu hingga kini telah sukses menjadi seorang hakim. Di sela kerinduannya terselip rasa bangga yang dalam.

Sementara dari jauh Faridah memperhatikan kelakuan suaminya itu. Betapa Faridah sangat tahu sungguh Rasyid menyayangi Ardan, sayang sekali dan rasa itu tak pernah berubah sampai hari ini.

Faridah hanya membiarkan Rasyid menikmati kerinduannya pada Ardan . Faridah tak ingin menggangunya.

Rasyid masih saja menatap fhoto yang dipegangnya itu. namun ketika Rasyid sedang asyik dengan kenangan masa lalunya, tiba-tiba Agus datang menghampiri sang ayah.

“Ayah rindu paman ya?” tanya Agus.

Rasyid melempar senyum pada Agus untuk menjawab pertanyaan itu.

Rasyid menarik tangan anaknya untuk duduk di sampingnya.

“Nak! ayah rindu sekali pada pamanmu,” ungkap Rasyid dengan terus menatap fhoto kecil mereka itu

“Ayah ingat betul waktu itu, ketika pamanmu masih kecil, ia pernah sakit demam, ayah sangat khawatir sekali, ayah panik

“Pada saat itu di luar hujan turun dengan lebat dan ayah juga tak punya uang kala itu, namun ayah tetap pergi ke apotik, ayah menangis tersedu-sedu sepanjang perjalanan.

“Ayah berlutut dan bermohon pada pemilik apotik agar diberi obat demam untuk pamanmu dan pemilik apotik itu memberinya.

“Lalu ayah pulang dengan menghapus air mata di sela hujan yang begitu lebat. Semuanya ayah lakukan agar pamanmu dapat sembuh dari demamnya.” Rasyid menceritakan sepenggal kisah masa kecilnya bersama Ardan kepada anaknya.

“Jika ayah rindu, mengapa ayah tak datang saja ke rumah paman?” tanya Agus pada sang ayah

“Apa ayah malu karena hidup kita miskin?” tanya Agus lagi

“Tidak!” jawab Rasyid singkat

“Atau paman sudah tak peduli pada Ayah?” Agus kembali bertanya

Rasyid hanya menggeleng dan sejenak Rasyid menarik napas panjang kemudian ia langsung berucap.

“Sudah lah! sana pergi tidur, ini sudah jauh malam”

“Iya ayah,” sahut Agus.

Namun Agus belum berdiri dari tempat duduknya seperti ada yang ingin ia tanyakan lagi pada ayahnya.

“Apa lagi, nak?” tanya Rasyid pada anaknya

“Ayah, besok kan hari Minggu, Agus libur, apa boleh Agus ikut bersama ayah naik perahu?” pinta Agus.

“Untuk apa kau ikut? ayah kan bekerja,” ujar Rasyid sambil mengusap kepala anaknya itu

“Sekedar berjalan-jalan Yah, lagi pula aku ingin besok seharian bersama ayah, boleh ya yah, boleh ya,” Agus bermohon merayu sang ayah

Rasyid mengangguk sambil tersenyum sebagai tanda bahwa Rasyid bersedia mengabulkan permintaan anaknya.

Besok yang di tunggu ternyata telah datang. Agus menyambutnya dengan riang. Agus bersiap-siap pada pagi harinya. Hari ini Agus akan bersama Ayahnya satu harian penuh. Ini adalah kesempatan langka bagi Agus meskipun hanya sekedar naik perahu mengikuti ayahnya bekerja.

Singkat cerita, mereka pun berangkat dengan hati yang bahagia terutama Agus. Rasyid menggandeng tangan anaknya dan menaikkannya ke Parahu kayu itu.

Hari ini penumpang memang tak banyak, hanya sebelas orang saja, namun hati Rasyid cukup senang karena ia merasa Agus bahagia ikut bersamanya.

Perahu kayu berpenumpang itu mulai melaju menjauhi pelabuhan. Agus mulai menikmati perjalanannya dengan memperhatikan hamparan sungai yang begitu luas.

Suara mesin perahu memang terdengar bising di telinga, namun semua itu berpadu dengan segumpal bahagia di hati Agus.

Kondisi air sungai yang surut di muara selat Malaka ini membuat air cukup deras, entah kenapa langit tiba-tiba mendung, gerimis mulai turun namun tak lama gerimis berubah menjadi hujan yang lebat.

langit yang semula cerah langsung berubah dengan kilatan petir dan menciptakan suara gemuruh yang bersahutan. Suasana terasa mencekam. Rasa was-was mulai menghantui penumpang tak terkecuali Agus.

Tiba-tiba mesin perahu seketika mati dan balok besar di muara menghantam keras dinding haluan perahu hingga papan badan perahu itu pecah, sontak saja air menderu masuk melalui pecahan itu.

Perahu mulai sarat dengan air, angin yang kencang dan gelombang ombak yang besar membuat perahu tiba-tiba terbalik dan tenggelam di tengah sungai muara selat yang luas.

Pekikan penumpang riuh diantara suara lebatnya hujan, petir dan gemuruh. Di sela itu terdengar pula suara bocah memanggil ayah dengan suara yang keras bersama tangisanku.

Rasyid berhasil memdapatkan sebuah jirigen dan sempat pula meraih tangan Agus yang sedang menangis itu, namun derasnya air membuat Agus terbawa arus bersama teriakan perih yang memanggil ayah itu dan seketika Agus menghilang.

Begitu cepat peristiwa itu terjadi hingga tak lama beberapa perahu nelayan menolong mereka.

Rupanya malang tak dapat ditolak. kecelakaan itu memakan korban dan menewaskan sembilan orang termasuk Agus yang juga anak kandung Rasyid sendiri sedangkan Rasyid dan tiga penumpang lainnya berhasil diselamatkan.

Pada sore harinya mayat-mayat mereka pun ditemukan oleh tim pencari. Keluarga para korban begitu sedih sekali dan juga hal yang sama terasa di batin Rasyid.

Korban-korban dikuburkan berjejer di pemakaman umum dan kampung kecil di pesisir itu kini sedang berduka.

Sementara Faridah sebagai seorang ibu sangat terpukul sekali bahkan Faridah sempat pingsang histeris setelah ia mendengar kabar duka itu.

Tiga hari telah berlalu, luka di keluarga korban tentu belum lagi sembuh. Tiba-tiba empat orang polisi datang ke rumah Rasyid dan memboyongnya ke tahanan karena dalam kejadian tersebut Rasyid lah tersangkanya sebab dinilai lalai hingga menghilangkan nyawa orang lain.

MENARIK DIBACA:  Azan yang Tergantikan

Santer kabar Rasyid yang ditahan itu terdengar ke telinga Ardan. Tentu kesedihan di hati Ardan pun tak bisa ia tutupi. Seorang hakim yang tegas dan jujur. begitulah orang-orang mengenal Ardan selama ini.

Sementara itu keluarga Rasyid tak pernah merasa tenang. Faridah dan Irfan sering dicemooh keluarga korban lainnya yang menganggap Rasyid adalah penyebab mereka kehilangan orang yang mereka sayangi, padahal Agus yang juga anak kandung Faridah juga ikut tewas dalam kejadian itu.

Sebulan kemudian kasus Rasyid naik ke pengadilan. Dalam persidangan yang di gelar ternyata Ardan berperan sebagai hakimnya.

Rasyid yang duduk di bangku terdakwa dan rasyid terus menundukkan kepalanya. Sedangkan dalam hati Ardan, terbersit rasa sangat kasihan pada nasib yang menimpa kakak tercintanya itu.

Jaksa penuntut umum terus membeberkan hal-hal yang menunjukkan Rasyid bersalah. Fakta-fakta persidangan mengungkap kelalaian Rasyid seperti Rasyid tak memeriksa terlebih dahulu mesin perahu yang ia kemudikan itu sampai-sampai Rasyid lalai karena tak memprediksi cuaca yang mungkin buruk dan dapat menjadi kendala saat bekerja.

Kadang Ardan tak kuasa menahan ini semua, namun sebagai seorang hakim Ardan cukup pandai menyembunyikan perasaannya itu.

Sidang diskors dan dilanjutkan minggu depan. Sedangkan Rasyid hanya tertunduk dan sekedar menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Rasa penyesalan yang dalam terus mengusik batin Rasyid hingga ia kehilangan Agus anak sulungnya itu.

Pada suatu malam Ardan tampak murung. Photo masa kecil antara Ardan dan Rasyid juga ia tatap. Tiba-tiba air mata Ardan mengalir begitu saja.

Kenangan masa lalunya bersama sang kakak membuat Ardan larut dengan mata yang basah.

Melihat ini Rosa yang juga istri Ardan ikut bersedih. Rosa mencoba menenangkan hati suaminya itu dengan mengusap-usap punggung Ardan, suaminya.

“Apa yang harus kuputuskan buk?” cetus Ardan dengan pertanyaannya pada sang istri.

“Apa kata hatimu Pak?” Rosa bertanya balik pada suaminya.

“Ini cukup berat, semua yang ku dapatkan hari ini adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan bang Rasyid,” ucap Ardan menjelaskan.

Rosa hanya terdiam mendengar itu.

“Aku sangat menyayangi bang Rasyid, aku rindu padanya, tapi aku tak ingin bertemu dia dalam keadaan seperti ini, aku tak kuat,” tambah Ardan lagi.

Hari berganti dan tibalah dimana Ardan harus membacakan putusannya pada persidangan Rasyid.

Semua orang menunggu putusan yang penting itu. Suasana yang hening tergambar di ruang sidang itu dan Ardan mulai membaca putusannya serta berucap.

“Saudara Ahmad Rasyid bahwa dalam ketentuan Pasal 359 KUHP diatur mengenai perbuatan yang mengakibatkan orang mati karena salahnya yaitu,

“Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

“Oleh karena itu setelah meneliti bukti dan mendengarkan keterangan para saksi maka majelis hakim memutuskan bahwa saudara Ahmad Rasyid terbukti bersalah secara hukum dengan sah dan meyakinkan serta dihukum dengan pidana penjara tiga tahun.”

Putusan telah dibacakan seketika palu hakim diketuk oleh Ardan dan seketika itu pula, Ardan berdiri dan berbalik badan untuk menyapu air matanya yang terus mengalir. Ardan mencoba menyeka air mata itu namun terus saja mengalir.

Ardan menatap kakaknya yang masih tertunduk di kursi terdakwa itu. Sejenak Ardan terbayang pengorbanan kakaknya yang mengasuh, merawat serta menyekolahkan Ardan.

Bayangan masa lalu itu seperti film lama yang diputar ulang di pikiran Ardan. Ardan teringat saat dirinya kecil Rasyid kecil pula yang menyuapinya, Rasyid rela putus sekolah dan bekerja asalkan Ardan dapat melanjutkan pendidikannya.

Dulu saat Ardan kecil sakit maka Rasyid rela berhujan-hujanan untuk membelikan obat buat Ardan. Rasyid selalu membawa makan untuk Ardan kecil setelah Rasyid pulang bekerja. Rasyid berkata ia tak lapar namun perutnya berbunyi dan keroncongan.

Semua itu agar makanan yang Rasyid bawa dimakan oleh Ardan adiknya. Rasyid kerap hanya makan sisa-sisa dari apa yang telah dimakan Ardan. Begitulah Rasyid berkorban untuk Ardan sebab sejak kecil keduanya telah ditinggal mati kedua orangtua mereka.

Di luar ruang sidang terlihat Faridah dan Irfan sedang menangis terisak-isak. Ardan coba menghampiri mereka, namun Faridah membawa anaknya menjauhi Ardan. Nampaknya Faridah begitu kecewa atas putusan Ardan itu.

Pernah sekali Ardan dan Rosa istrinya berkunjung ke rumah Kakak iparnya itu. Ardan mencoba membantu kehidupan keluarga Rasyid, sebab sejak Rasyid di penjara keuangan keluarga Rasyid makin terpuruk bahkan kini untuk kehidupan sehari-hari, Faridah terpaksa bekerja sebagai pembelah Ikan di sebuah gudang pengasinan olahan ikan.

Niat baik Ardan bersama Rosa di sambut dingin oleh Faridah dan tentunya Faridah menolak mentah-mentah bantuan yang di berikan oleh Ardan itu. Rasa kecewa Faridah membuat ia begitu membenci Ardan.

“Kau tak punya hati Ardan,” cerca Faridah pada Ardan.

“Apa kau tak bisa membantunya? dia itu kakakmu!” ucap Faridah lagi dengan nada tinggi.

“Apa yang harus kulakukan kak?” tanya Ardan pada Faridah.

“Memang dasar hatimu tidak ada lagi buat kakakmu,” ucap Faridah dengan ketus.

“Hatiku akan selalu ada buat bang Rasyid, akan selalu ada untuk selamanya, rasa sayangku tak pernah hilang padanya, tapi apa kakak tahu bahwa keadilan itu memang tak pernah punya hati,” kata Ardan.

“Aku selalu memikirkannya, putusan yang ku buat adalah sesuatu yang berat menghimpit batinku, namun aku bisa apa? Aku hanya budak keadilan, maaf kak jika kakak kecewa dengan apa yang ku putuskan pada bang Rasyid, aku permisi,” Ardan menarik tangan Rosa, istrinya untuk beranjak keluar dari rumah Faridah.

Waktu terus berjalan sudah satu tahun Rasyid di penjara. Sementara Faridah dan Irfan, nasib hidup mereka semakin memburuk. Faridah yang tiap hari bekerja keras membuat kesehatannya terganggu.

Faridah rupanya kini kondisinya sakit-sakitan hingga suatu hari Faridah menemui ajalnya setelah penyakit semakin parah dan akhirnya Faridah meninggal dunia.

Sementara untuk mengasuh Irfan, Ardan dan Rosa mengambil alih atas hak itu sebab Ardan dan Rosa setelah lama menikah ternyata belum juga di karuniai seorang anakpun.

Suatu saat terjadi kerusuhan di lapas dimana Rasyid ditahan. Perselisihan antara beberapa napi dan sipir penjara menjadi penyebab kerusuhan itu. Para napi baku hantam dengan sipir di lembaga pemasyarakatan itu.

Bentrok pun tak dapat terelakkan lagi bahkan Rasyid yang tak ikut-ikutan dalam hal itu turut menjadi korban dan meregang nyawa saat peristiwa yang naas itu terjadi.

Rasyid dimakamkan dan bersama napi-napi lainnya yang menjadi korban. Ardan begitu terpukul dengan hal ini. Barang barang Rasyid dikembalikan dan di antaranya ada sepucuk surat buat Irfan.

“[Irfan anakku, jangan pernah membenci pamanmu, sebab apa yang ia lakukan adalah bagian dari tugasnya.

“[Irfan, Meskipun saat ini kau belum mengerti tapi suatu saat jika ada orang yang bicara bahwa pamanmu tidak punya hati, mereka salah! hatinya selalu ada buat ayah, hanya saja pamanmu itu lebih cinta pada sumpah dan janji yang pernah ia ucapkan pada negara.

“[Anakku! setelah kematian Agus, kakakmu dan juga disusul oleh ibumu, Ayah berharap jaga dirimu baik-baik, jika nanti sesuatu terjadi pada ayah jangan pernah salahkan pamanmu.

“[sayangku selalu buat mu, Irfan anakku.”

Surat ini dibaca oleh Ardan dan Irfan bersama-bersama. Air mata keduanya tenggelam dalam tangisan yang memilukan. Langsung saja Ardan memeluk Irfan erat-erat. Dalam hatinya Ardan bergumam.

“Bang Rasyid! aku akan menjaga Irfan sebagai pengganti dirimu, akan ku perjuangkan pendidikannya, sekarang Irfan telah menjadi anakku,”

Lama waktu telah berlalu bahkan dua belas tahun sejak kematian Rasyid. Irfan selama ini menjadi seorang anak bagi pasangan Ardan dan Rosa. Mereka menyayangi Irfan dengan segenap jiwa dan raga mereka. Hari ini Irfan akan di wisuda menjadi seorang sarjana hukum. Irfan juga bercita-cita ingin menjadi seperti Ardan yakni seorang hakim jujur, tegas dan cinta akan keadilan.

Mahkamah memang tidak punya hati namun hati nurani dalam diri Ardan akan terus hidup dalam batinnya khusunya buat Rasyid, seorang kakak yang ia cintai dan yang akan selalu abadi dalam hati Ardan selamanya.

#cerita_ini_hanya_fiktif_belaka
#apakah_keadilan_memang_tak_punya_hati

SINKAP.info | Laporan: Fs
Facebook Comments