Beranda KOLOM Sastra

Tangisan Diantara Hujan

159
Cerpen Naratif ditulis oleh Zaidan Akbar

SASTRA, Sinkap.infoSebenarnya Aldi tidak suka dengan keputusan Ayahnya yang menikah lagi. Aldi seperti tersayat hatinya saat melihat sang ayah pergi seusai bertengkar dengan Ibunya. Anak laki-laki berusia sebelas tahun itu menyaksikan setiap langkah sang Ayah yang pergi meninggalkan ia dan ibunya.

Sang Ayah lebih memilih tinggal bersama istri mudanya dibanding bersama Aldi hingga kejadian ini membuat Ibunya Aldi didekap rasa kecewa dan kepedihan yang begitu mendalam.

Akibat perlakuan suami, Ibunya Aldi sering tertindas kesedihan sampai-sampai kesehatannya menjadi terganggu dan dua tahun setelah itu akhirnya sang Ibunda menghembuskan napas terakhir.

Bagi Aldi meninggalnya sang Ibunda cukup meluluhlantakkan jiwanya. Badai kesedihan di benak Aldi menyisakan segumpal dendam terhadap Ayahnya dan juga sang Ibu tirinya. Cukup belia buat Aldi untuk mendendam, tapi nyatanya itulah sepenggal ingatan Aldi yang membuat kalbunya kerap bergejolak.

Sang Ayah pernah mengajak Aldi untuk tinggal bersamanya namun Aldi bersikeras untuk menolak ajakan itu. Aldi lebih memilih untuk hidup sendiri dari pada harus tinggal bersama keluarga baru Ayahnya itu.

Dendam Aldi kian hari kian berkarat bahkan Aldi ingin rasanya menghapus nama Idrus, yakni nama sang Ayah yang ada di belakang namanya. Aldi yang punya nama lengkap Aldi Al Idrus . Begitulah rasa dendam yang bertahta di benak Aldi saat ini.

Di sisi lain, Idrus dan keluarga barunya hidup bahagia di sebuah desa kecil di pedalaman Kalimantan. Idrus berprofesi sebagai petani.
Kebahagiaan Idrus juga ditambah dengan kelahiran bayi yang diberi nama Sholeh Al Idrus. Meskipun bayi itu lahir prematur namun semua itu tak masalah bagi Idrus.

Di sela kebahagiaannya, Idrus kerap menghawatirkan putra sulungnya itu yang tak lain adalah Aldi. Idrus tahu betul bahwa keras kepalanya Aldi adalah buah dari perlakukan Idrus sendiri sehingga Idrus tak bisa memaksa Aldi untuk hidup bersama keluarganya.

Kebahagian Idrus rupanya tak berlangsung lama seminggu setelah kelahiran bayi prematur itu maka istri ke-dua Idrus pun meninggal dunia hingga kini Idrus sendiri lah yang harus merawat bayinya.

Sedangkan di kampung Aldi tinggal. Di desa kecil Sei Berombang, Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara, Aldi hidup sebatang kara. Berbekal kemandirian hidup dan simpati beberapa orang di kampung itu Aldi pun tumbuh menjadi seorang pemuda tanpa didikan sang Ayah.

Dua belas tahun sudah berlalu sejak peristiwa kematian Ibunya itu kini Aldi berusia dua puluh tiga tahun. Namun Aldi menjelma menjadi pemuda yang kurang elok perangainya. Meskipun Aldi berprofesi sebagai nelayan di kampung itu, tapi hasil yang ia dapatkan dari bekerja kerap habis mabuk-mabukan dan kandas di meja judi.

Mungkin kurang didikan ataupun kurangnya perhatian kini Aldi adalah pemuda yang pemabuk dan penjudi. perangainya yang buruk itu adalah buah dari kasarnya perlakuan nasib yang ia terima sejak dulu.

Berbagai kenakalan yang di lakukan oleh Aldi beserta dua sahabatnya yakni Ludin dan Azhar membuat mereka tidak di sukai oleh orang-orang di kampung itu. Kenakalan ketiga pemuda ini sering meresahkan warga.

Namun pun demikian, Aldi dan kedua sahabatnya berjanji bahwa ada satu kejahatan yang mereka haramkan untuk dilakukan yakni mencuri. Jika salah satu dari ketiganya melakukan pencurian maka persahabatan mereka akan berakhir. Ikrar dan janji persahabatan itu mereka ukir di sebuah pohon mangga yang besar yang berdiri tegap di depan rumah Aldi.

Suatu pagi Aldi tak pergi melaut. kondisi air pasang yang tinggi dan cuaca hujan yang terus menerus membuat air di muara sedikit tawar dan jika melaut pun hasilnya juga tak seberapa. Ini biasa terjadi di wilayah Sei Berombang yang sekarang sedang dihantam paceklik.

Aldi kala itu tengah berdiri di depan fhoto almarhum sang Ibunda yang terpajang di dinding rumah. Cukup lama Aldi berdiri, air matanya pun menetes satu persatu membasahi pipinya karena mengenang peristiwa dua belas tahun yang silam.

Tiba-tiba Aldi mendengar ucapan salam dari lelaki dari depan rumahnya. Ucapan salam itu pula telah mebuyarkan lamunan Aldi yang sejak tadi terseret pengalaman pahit di masa lalu.

Aldi bergerak ke pintu depan dan ia melihat ustadz Latif datang bersama seorang bocah berusia empat belas tahun dengan perawakan yang dekil dan seperti nya kondisi bocah itu tidak sempurna, ia nampak berjalan pincang.

“Aldi, ada surat dari Ayahmu yang ia tulis sebelum ia meninggal sebulan yang lalu,” ujar Ustadz Latif memulai pembicaraan.

Aldi tercengang mendengar ucapan Ustadz Latif itu dan ia baru tahu bahwa Ayahnya telah meninggal dunia. Di antara dendam yang ada di benaknya sebenarnya Aldi sangat menyayangi sang Ayah. Hal ini terbukti dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca sambil menerima surat terakhir dari Ayahnya itu.

Aldi membuka surat itu dengan perlahan dan berisi,

[ “Aldi, anakku! Ayah tahu mungkin selama ini kau begitu membenci ayah, kau anggap ayah adalah orang yang tak pernah peduli padamu, tapi sebenarnya Ayah sangat merindukanmu.

[ “Aldi, maafkan Ayah nak! hanya karena maaf mu yang mungkin dapat membuat ayah tenang jika nanti ajal menjemput Ayah.

[ “Aldi! jika nanti Ayah telah tiada, titip Sholeh, jaga dan sayangi ia seperti adik kandungmu sendiri, sebab Sholeh tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain engkau, Aldi.

[“Mohon maaf dari Ayahmu.

Setelah membaca surat, Aldi menoleh ke arah bocah yang cacat dan berperawakan dekil itu. Dendamnya sontak bangkit dan membara setelah ia menatap Sholeh, yang juga adik tirinya.

Pada awalnya Aldi menolak kehadiran Sholeh untuk tinggal bersamanya, namun semuanya demi amanat sang ayah dan ditambah lagi nasehat yang di berikan oleh ustadz Latif akhirnya Aldi menerima Sholeh untuk tinggal bersamanya.

Adapun tujuan Aldi menerima bocah pincang itu adalah untuk melampiaskan dendamnya selama ini dan agar Sholeh juga merasakan pahitnya hidup seperti yang ia rasakan sewaktu dulu dan mulai saat itulah cerita tangisan Sholeh dimulai.

Hari-hari Selanjutnya.

“Sholeh …! Sholeh…!” teriak Aldi memanggil Sholeh.

“Iya bang!” jawab Sholeh sambil berlari terpincang-pincang.

“Apa? sudah berapa kali aku bilang, jangan kau panggil aku Abang, aku bukan Abangmu,” bentak Aldi sambil menjambak rambut Sholeh dan berkata.

“Dengar ya anak cacat …! Aku bukan Abangmu, sekarang kau cuci pakaianku dan masak makanan untukku dan setelah kau bersihkan rumah, sana kau bekerja, paham!” kata Aldi membentak dan menghardik Sholeh.

Sholeh hanya bisa menangis tanpa suara. Wajahnya tampak meringis kesakitan dan Sholeh hanya mengangguk-anggukkan kepalanya

Batin Sholeh selalu tersiksa akibat dari perlakuan kasar yang Sholeh terima dari Aldi. Belum lagi Sholeh harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah yang mesti ia lakukan, seperti mencuci baju, masak, bersih-bersih rumah dan apapun yang selalu diperintahkan oleh Aldi padanya maka bagi Sholeh ia wajib mentaati nya.

Kondisi Sholeh menjadi bahan bully-an bagi orang-orang di sekitarnya. Sholeh sering di perlakukan buruk oleh sebagian orang. Penampilan Sholeh yang hitam dan dekil membuat Sholeh selalu diejek oleh orang-orang.

Sedangkan Aldi kini tak pernah melaut lagi. Aldi hanya memamfaatkan Sholeh untuk bekerja mencari uang. Sehari-hari Sholeh bekerja sebagai bantu-banti di toko Koh Baba dan paruh waktu yang lain Sholeh juga bekerja sebagai pengantar kue untuk warung milik Buk Atik.

MENARIK DIBACA:  Anak Desa Menuntut Janji

Uang hasil Sholeh bekerja menjadi modal yang Aldi untuk dipakai mabuk-mabukan dan berjudi bersama kedua sahabatnya Ludin dan Azhar.

Koh Baba dan Ustadz Latif selalu memberi perhatian yang lebih buat Sholeh yang mereka kenal jujur, baik dan taat agamanya.

Pernah suatu ketika Koh Baba ingin menyekolahkan Sholeh untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terputus di Kalimantan dulu, namun Aldi melarangnya sebab Aldi merasa lebih berhak terhadap hidup Sholeh dan sejak itu tak ada yang berani berniat seperti itu.

Sementara itu bully terhadap diri Sholeh terus berlanjut dari hari ke hari dan yang paling parahnya kedua sahabat Aldi, Ludin dan Azhar sering ikut menyiksa Sholeh bahkan penyiksaan terhadap Sholeh itu dilakukan di hadapan Aldi sendiri. Tampaknya rasa kemanusiaan Aldi telah hilang tertutup kabut dendam yang begitu tebal.

Sadis memang, ketika membuly Sholeh di jadikan bahan bercandaan buat Aldi dan sahabatnya itu. Pernah suatu saat Aldi dan kedua sahabatnya mengguyur Aldi dengan air dingin hingga Sholeh menjadi demam. Tangisan Sholeh tak mampu membuat rasa ibanya terhadap Sholeh yang kerap menangis. Bagi Aldi penderitaan Sholeh ini malah membuat ia puas karena dendamnya terbalas.

Belum lagi ketika Aldi pulang dalam keadaan mabuk maka Sholeh selalu menjadi sasaran amukannya. Tak jarang Saat Aldi pulang dalam keadaan mabuk maka Sholeh pun dipikul dengan rotan hingga tubuhnya memar dan entah apa salahnya. Begitulah penderitaan Sholeh dari hari ke hari.

Namun Sholeh tak pernah sekalipun melawan Aldi bahkan Sholeh selalu berbuat baik kepada kakak tirinya itu. Walaupun setiap Sholeh menerima perlakukan buruk dari Aldi, Sholeh kerap menangis di kamarnya di malam hari apalagi saat hujan deras turun bersama pekatnya malam. Tangisan Sholeh ini tak terdengar oleh Aldi karena derasnya suara guyuran hujan karena Sholeh takut suara tangisan itu mengganggu tidur Aldi.

Sholeh selalu menangis setiap hujan turun di malam hari. Seusai sholat tahajjud nya, Sholeh selalu mendekap fhoto Ayahnya.

Batin Sholeh sering meratap.

“Ayah, kenapa Ayah pergi meninggalkanku?, kenapa Ayah tidak membawaku ikut sekalian? kenapa Ayah? aku tidak sanggup lagi dengan semua ini.

Kata-kata itu terucap dalam hati Sholeh seraya matanya mengandung air bening di kelopaknya yang tak la mengucur di kedua belah pipinya hingga terkadang tidur membawa Sholeh untuk istirahat sejenak dari penderitaan itu.

Di suatu malam yang lain, Sholeh merasa perutnya lapar sekali, sesuai memasak Sholeh ingin makan namun Aldi membuat aturan bahwa Sholeh hanya boleh makan setelah Aldi selesai makan. Sholeh tak berani melanggar aturan itu.

Tiba-tiba Aldi pulang bersama kedua sahabatnya Ludin dan Azhar mereka makan bertiga dengan lahap hingga tak ada lagi nasi yang tersisa dan setelah itu dengan air mata yang menetes Sholeh makan sisa-sisa mereka setelah Aldi dan teman-temannya itu pergi.

Hari-hari yang di lalui Sholeh sangatlah kelam. Tiada teman berbagi hanya Koh Baba dan Ustadz Latif lah yang selalu membuat Sholeh tertawa.

Suatu saat Sholeh mendengar bahwa Aldi, Ludin dan Azhar bercerita tentang sepeda motor. Aldi mengutarakan keinginannya untuk bisa punya sepeda motor sendiri. sebab hanya Aldi yang belum punya sepeda motor sendiri sedangkan Ludin, Azhar dan teman nongkrong lainnya sudah punya
sepeda motor sendiri.

Aldi melihat Sholeh yang menguping pembicaraan mereka maka Aldi dengan marahnya memukul kaki Sholeh dengan rotan sekuat-kuatnya hingga Sholeh berteriak sambil menangis

“Sakit bang Aldi..!, ampun…! maafkan Sholeh Bang…!

Mendengar Sholeh memanggilnya Abang, bukannya berhenti malah Aldi lebih keras menghantamkan cambukannya ke tubuh Sholeh.

Setelah puas menyiksa Sholeh Aldi dan kedua sahabatnya pergi meninggalkan Sholeh sendiri. Tak lama hujan pun turun deras maka Sholeh berlari terpincang-pincang sambil berteriak di tengah derasnya hujan sambil berteriak

“Ayah…! Ayah…! bawa aku pergi Ayah…!

Setelah hujan reda Sholeh pun pergi ke toko Koh Baba untuk bekerja. Kali ini Sholeh semakin giat bekerja. Selain sebagai pengantar kue Sholeh juga bekerja sebagai di door Smeer sepeda motor.

Sudah dua tahun Sholeh tinggal bersama Aldi penderitaan demi penderitaan selalu Sholeh dapati mulai dari buly, perlakukan tak manusiawi dan juga siksaan fisik yang membuat bocah pincang ini sering menangis meratapi nasibnya.

Namun demikian Sholeh selalu sopan pada Aldi. Perlakuannya selalu baik pada Aldi bahkan Sholeh begitu sayang dan menghormati Aldi.

Rasa iba Koh Baba pada Sholeh sering membuat Koh Baba menangis sendiri kadang benak Koh Baba berkata.” Sungguh mulia hati anak ini sampai aku tak bisa membedakan apakah dia ini manusia atau malaikat.”

Pada suatu saat di malam hari ketika Aldi pulang dari mabuk-mabukan, Aldi berjalan sempoyongan dan tiba-tiba sepeda motor melaju kencang hingga Aldi tertabrak dan kakinya terlindas sepeda motor. Aldi pun terkapar di jalan hingga Sholeh menemukan Aldi dan Sholeh meminta pertolongan dari koh Baba sehingga Aldi langsung dibawa dan harus di rawat di rumah sakit.

Akibat kecelakaan itu Aldi banyak kehilangan darah namun karena darah Sholeh cocok untuk Aldi maka Sholeh mendonorkan darahnya buat kakak tirinya itu.

Sedangkan biaya rumah sakit Sholeh punya sedikit uang dan juga dibantu oleh Koh Baba Sampai akhirnya Aldi dibawa pulang dan rawat jalan dirumah. Kondisi Kaki Aldi untuk sementara lumpuh dan akan pulih seiring dengan proses pengobatan.

Selama masa pemulihan, Sholeh la yang merawat Aldi. Sholeh membuatkan bubur untuk Aldi dan berbagai kebutuhan Aldi Sholeh juga yang memenuhinya.

Sudah tiga bulan Aldi lumpuh namun kedua sahabatnya Ludin dan Azhar tak pernah sekalipun menjenguk Aldi dan Aldi pun mulai kesal melihat tingkah kedua sahabatnya itu yang ia nilai tidak setia kawan.

Suatu malam Sholeh menyelimuti Aldi yang terbaring tidur namun tanpa Sholeh sadari sebenarnya Aldi belum lah benar-benar tidur.

Sholeh ke kamar mandi mengambil wudhu dan langsung melaksanakan sholat tahajjud. Dari balik pintu Aldi mendengar Sholeh yang sedang berdoa.

“Ya Allah, ya Tuhanku, ampunilah dosa kedua Ibu Bapakku dan juga Ibunya bang Aldi serta tempatkan lah mereka di tempat yang Engkau ridhoi.

“Ya Allah, sembuhkan lah Bang Aldi, pulihkan lah ia seperti sedia kala, aku ingin selalu menjaga Bang Aldi, limpahkan rahmatMu padanya karena aku tak punya siapa-siapa lagi kecuali dia, titipkanlah pada hati Bang Aldi rasa sayang itu untuk ku meskipun hanya sedikit, uku rindu bibir Bang Aldi memanggil aku dengan sebutan adik, karena aku sungguh sangat menyayangi Bang Aldi

“Ya Tuhan, kabulkanlah permintaanku

“Amin…

Mendengar doa Sholeh itu, sontak air mata Aldi pun mengalir, tetesan air mata itu jatuh dari linangannya tanpa ia sadari. Hati Aldi mulai sedikit lembut, ia menyeka air matanya itu sembari ingin melawan hatinya yang mulai berubah itu.

Keesokan harinya saat pagi sudah datang Sholeh menghampiri Aldi dengan membawakan sarapan buat Aldi dan saat Sholeh ingin beranjak pergi, tiba-tiba Aldi memanggil Sholeh kembali dan berkata.

MENARIK DIBACA:  Setiap Cahaya Menembus Dinding Malam, itulah AKU!

“Sholeh! mari sini kita makan, temani aku sarapan.”

Sholeh sesaat tercengang dan mulutnya ternganga, sebab tak biasanya Aldi berbuat sebaik itu.

“Apakah kau tak mau menemaniku?” tanya Aldi pada Sholeh.

Sholeh pun sedikit tersenyum dan akhirnya kakak beradik itu sarapan berdua.

Dari balik jendela, Aldi pun memperhatikan saat Sholeh sedang menjemur pakaian Aldi. Sesekali Sholeh terdengar bernyanyi sepertinya Sholeh bahagia sekali karena hari ini Aldi memperlakukannya dengan baik. Sholeh tampak girang sekali.

Hati Aldi kembali berkata-kata.

“Sholeh! betapa buruknya perlakuanku padamu selama ini, namun kau tak pernah sedikitpun membenciku, kau tulus merawat ku, seharusnya aku lah menjagamu sesuai amanat Ayah.”

Hati kecil Aldi mulai dihinggapi rasa sesal atas perlakukannya selama ini dan tampak matanya berkaca-kaca saat ia mengenang penyiksaan yang dilakukannya terhadap Sholeh.

Waktu terus berjalan, Aldi dan Sholeh pun mulai akrab. Mereka berdua mulai saling bercanda layaknya saudara meskipun kadang Sholeh sedikit takut pada Aldi dan juga Aldi tak menunjukkan kebaikannya dengan jelas pada Sholeh serta Aldi belum mau memanggil Sholeh dengan sebutan adik sampai pada akhirnya Aldi pun pulih dari sakitnya.

Di Sela-sela keakraban mereka Sholeh mulai mengajak Aldi untuk sholat bersama, mengaji bersama dan berdoa untuk orang tua mereka. Namun panggilan adik yang Sholeh tunggu-tunggu tidak jua terucap dari bibir Aldi hingga kini.

Sementara di kampung itu kini tengah di hebohkan dengan kabar bahwa toko Koh Baba kemalingan dan ada juga beberapa rumah warga yang di masuki maling.

Masyarakat menjadi resah yang hampir setiap malam rumah mereka di masuki oleh maling dan harta warga juga ludes digondol maling.

Warga terus mencari tahu siapa maling yang sering beraksi di kampung itu sementara selama ini tak ada maling bahkan kampung itu biasanya aman dari aksi maling.

Suatu sore Sholeh permisi pulang dari toko Koh Baba karena Sholeh merasa tidak enak badan. Sholeh melewati jalan sepi yang biasa ia tempuh.

Tanpa sengaja Sholeh melihat Ludin dan Azhar tengah bersembunyi dan membagi beberapa uang dan perhiasan. Sepertinya barang-barang itu hasil curian mereka. Sholeh mengendap-endap memperhatikan itu. Ludin dan Azhar menyadari ada orang yang melihat mereka dan akhirnya mereka melihat Sholeh dari kejauhan. Sontak saja kedua pencuri itu mengejar Sholeh namun nasib baik Sholeh ia berhasil bersembunyi dan lolos dari kejaran Ludin dan Azhar hingga akhirnya Sholeh pun pulang.

Karena takut aksi mereka diketahui warga maka Ludin dan Azhar memfitnah bahwa Sholeh la yang telah mencuri dan maling di rumah warga. Ludin dan Azhar membawa beberapa perhiasan sebagai bukti serta mereka mencoba membalikkan fakta bahwa mereka menemukan Sholeh menyimpan barang curiannya di suatu tempat dan mereka tidak berhasil mengejar Sholeh. Tujuan Sholeh mencuri untuk pengobatan Aldi. Begitulah fitnah yang Ludin dan Azhar lancarkan.

Warga pun beramai-ramai mendatangi rumah Sholeh sehingga Aldi pun ikut termakan hasutan dan marah besar pada Sholeh.

Aldi memang membenci pencuri, dengan kemarahannya Aldi langsung mengikat tubuh Sholeh di pohon mangga yang besar di depan rumahnya pada malam itu.

Sholeh hanya merintih dan tak sempat mengatakan pembelaannya. Aldi terus mencambuk kali dan tangan Sholeh yang terikat itu dengan rotan.

“Sholeh! kau hanya memberi malu,”
sergah Aldi sambil ia terus mencambuk kaki Sholeh.

“Jangan Abang, Sholeh tidak mencuri, Sholeh sedang demam bang,” ucap Sholeh dengan tangisnya.

Koh Baba yang juga ada di situ langsung berkata.

“Sudahlah Aldi jangan terus kau pukul adikmu itu, kasihan Sholeh, jika betul pun Sholeh yang mencuri barangku aku ikhlas, hentikan Aldi!

Namun sebagian warga mengatakan bahwa mereka tidak ikhlas barang mereka dicuri apapun alasannya.

Aldi terus mencambuk kaki dan tangan Sholeh yang terikat itu hingga Aldi lelah sendiri bersama rasa kecewanya terhadap Sholeh.

Tak ada yang dapat Sholeh katakan. Sholeh hanya menangis dan malam pun larut namun Sholeh masih terikat di pohon itu.

Hujan pun turun dengan derasnya sementara Sholeh masih menangis di antara derasnya suara hujan. Tangisan Sholeh itu tak terdengar oleh telinga Aldi yang ketiduran pada malam itu.

Sholeh yang semula demam ditambah dera cambuk rotan ke tubuhnya dan juga hujan yang deras mengguyur Sholeh sampai Sholeh memanggil bang Aldi lama kelamaan suara parau bocah Lima belas tahun itu semakin kecil dan akhirnya hilang tak terdengar lagi.

Pukul empat subuh hujan tak reda. Aldi terbangun dari tidurnya karena suara petir yang begitu kuat.

“Adikku…!” teriak Aldi.

“Sholeh …! Sholeh…!” teriak Aldi lagi sambil berlari keluar menuju pohon besar dimana Sholah ia ikat.

Badan Sholeh terasa dingin, bibirnya biru. Lalu Aldi melepaskan ikatannya dan segera menggendong adiknya ke rumah ustadz Latif dan setelah di periksa lalu ustadz Latif berkata.

“Innalilahi wa innailaihi rojiun”

dan itu tandanya bahwa Sholeh telah tiada dan pergi untuk selama-lamanya.

Lalu Aldi meratap dengan tangisnya dan menampar-nampar pipi Sholeh seraya berujar.

“Sholeh! adikku!, adikku sayang, jangan pergi adikku, jangan tinggalkan Abangmu ini, aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain engkau”

“Bangun Sholeh!, bangun…! baru sebentar aku merasa punya saudara, bangun kataku, bangun!”

“Sholeh …! Sholeh…!” teriak Aldi sambil memeluk jasad adiknya yang tak bernyawa itu dan Aldi pun tenggelam dalam tangisan dan penyesalan.

Besok harinya mayat Sholeh dimakamkan. Hujan turun, deras sekali seperti alam pun ikut bersedih. Aldi menangis tak henti saat hujan membasahinya di depan sepasang nisan pusara Sholeh.

Sedangkan malam harinya Ludin dan Azhar tertangkap basah sedang melakukan aksi pencurian dan kali ini disertai dengan pembunuhan karena saat beraksi mereka ketahuan dan paling sadisnya adalah korban pembunuhan itu adalah ustadz Latif.

Akhirnya Ludin dan Azhar ditangkap polisi dan harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan mereka sehingga membuat mereka mendekam untuk waktu yang lama.

Sedangkan Aldi sempat ditanyai polisi perihal kematian Sholeh namun ia dibebaskan karena tidak terbukti ada niat dari Aldi untuk membunuh Sholeh.

Seminggu kemudian Koh Baba membawakan sepeda motor baru untuk Aldi. Koh Baba bilang semasa hidupnya Sholeh menyisihkan gajinya untuk ia tabung yang tujuannya ingin membelikan Aldi sepeda motor baru seperti yang Aldi impikan selama ini.

Aldi langsung teringat bahwa ia pernah menghukum Sholeh karena menguping pembicaraannya saat itu. Bayangan yang menambah penyesalannya. Aldi tak sanggup lagi untuk menyembunyikan kesedihannya air matanya terus mengalir seperti aliran anak sungai yang tiada henti.

Dari Sholeh saudara tirinya itu, Aldi dapat pelajaran yang berharga bahwa dendam apapun alasannya akan melahirkan sesuatu bencana. baginya Sholeh ada guru terbaik dalam hidup Aldi.

Selama ini Aldi ternyata salah. Adapun dendam yang ia nyalakan dalam hatinya seharusnya bukan Sholeh yang harus bertanggungjawab karena Sholeh bukan bagian dari orang yang harus ia benci.

Kini Aldi menjadi pemuda yang lebih baik, berusia dua puluh delapan tahun baru Sholeh mengerti bahwa jika masih ada dendam dalam diri kita maka selama itu kita tak akan pernah menemukan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Facebook Comments