Guru Inspiratif dari Daerah 3T Asal Meranti Raih Prestasi

Panggilan hati menjadi modal utama meskipun melewati medan yang jauh dan penuh tantangan

Pendidikan, SOROTAN3452 Dilihat

MERANTI, SINKAP.infoSosok profesi seorang guru tidak dapat dipungkiri sudah banyak menghasilkan profesi lainnya seperti menteri, profesor, dokter, insinyur bahkan sebagai Kepala daerah dan anggota perwakilan rakyat. Sebagaiman sepenggal lirik lagu berjudul “Oemar Bakri” yang dipopulerkan penyanyi Virgiawan Listanto atau dikenal dengan nama Iwan Fals.

Lagu “Oemar Bakrie” dirilis pada tahun 1981 silam. Begitu populer lantaran dianggap cocok dengan pesan anti kemapanan dan memperjuangkan rakyat kecil. Kondisi saat itu, kesejahteraan guru masih sangat minim, berbeda dengan kondisi sekarang. Kini gaji PPPK guru diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 98 Tahun 2020. Untuk golongan terendah, yakni Golongan I: Rp 1.794-900 – Rp 2.686.200.

Sementara untuk golongan tertinggi, yakni Golongan XVII: Rp 4.132.200 – Rp 6.786.500. PP ini berlaku di seluruh pelosok Indonesia. Termasuk bagi guru yang mengabdi di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T).

Seperti yang kini dijalani guru SMA pulau terluar di Riau bernama Normayanti. Ia merupakan guru PPPK dengan golongan IX. Meski bekerja di tengah gelapnya fasilitas dan infrastruktur, namun memiliki semangat kerja yang luar biasa.

“Saya lulus PPPK 2022 lalu. Penempatan di SMA Negeri 3 Rangsang  Pesisir sejak September,” ucap Norma dikutip dari Media Center Riau, Senin (05/02/2024).

Meski mengajar di daerah pulau terluar, alumni Universitas Riau tahun 2007 itu tetap semangat memberikan pendidikan terbaik untuk murid-murid SMA Negeri 3 Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Sebelumnya, Normayanti sempat menjadi guru honor selama 12 tahun di SMA Negeri 1 Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti. Ia kemudian dinyatakan lolos sebagai guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan ditempatkan di SMA Negeri 3 Desa Tanjung Kedabu, Rangsang Pesisir.

Normayanti menerima SK PPPK bersama 119 rekan seprofesinya. Mereka terdiri dari tenaga pendidik SMA/SMK/SLB di lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. Penyerahan SK diserahkan langsung oleh Gubernur Riau di SMA 1 Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, pada Rabu (30/8/2023) lalu.

Panggilan hati menjadi modal utama perempuan berusia 34 tahun ini, untuk mengabdikan diri sebagai pendidik. Ia harus menempuh perjalanan 2,5 jam dari Tebing Tinggi untuk sampai di sekolah. Bukan hanya persoalan waktu tempuh, ibu yang memiliki dua buah hati ini harus melewati selat untuk sampai di Desa Peranggas. Alat transportasi yang ia gunakan yakni kempang atau perahu kayu bermotor.

“Untuk sampai ke sekolah, harus berangkat dari ibu kota kabupaten menyeberangi selat. Berangkat pakai kempang atau perahu yang biasa dipakai masyarakat Rangsang menuju kabupaten, itu 30 menit ke Desa Peranggas,” kata Normayanti.

Setiba di dermaga, Normayanti harus lanjut kembali ke Desa Tanjung Kedabu. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke lokasi dengan lewat jalan rusak, becek yang penuh tantangan. Ia melihat persoalan infrastruktur di daerah tersebut sangat minim. Tak hanya jalan rusak, penerangan, dan internet juga menjadi persoalan kemajuan di daerah tersebut.

Khusus pendidikan, Normayanti melihat motivasi peserta didik masih rendah. Terutama dengan metode pembelajaran yang kurang inovatif karena keterbatasan infrastruktur.

“Salah satu solusi yang saya lakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan model project based learning (PjBL). Model ini dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menampilkan keterampilan tertentu dan motivasi peserta dengan melibatkannya dalam pembelajaran,” sebutnya.

Medan yang jauh dan penuh tantangan membuat istri Panji Nugraha memutuskan untuk tinggal di Pulau Rangsang. Saat akhir pekan, barulah kembali ke Tebing Tinggi menemui suami dan anaknya.

Guru mata pelajaran PPKn dan Sosiologi sekaligus Guru BK itu, sukses mendidik anak-anak pulau terluar. Kini perjuangannya tak sia-sia. Dua bulan bertugas di pulau terluar Norma mampu menorehkan prestasi. Ia berhasil meraih Juara I Apresiasi Dediktif tingkat SMA, SMK dan SLB di Riau.

Normayanti masuk dalam 43 guru peraih penghargaan dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Guru dan Tenaga Kependidikan. Penghargaan diterima di Hotel Pangeran Pekanbaru, Selasa (31/10) malam kemarin.

“Malam kemarin saya dapat penghargaan setelah dihubungi mendadak untuk berangkat ke Pekanbaru. Alhamdulillah bisa mendapatkan Juara I Apresiasi Dedikatif sesuai penempatan saya di pulau terluar, Pulau Rangsang,” ucap guru yang pernah KKN di SMK Taruna Satria Pekanbaru itu.

Komentar