Teknologi AI Selamatkan Lutung Langka, Populasi Naik Drastis dari Ambang Kepunahan

GLOBAL155 Dilihat

CHONGZUO, SINKAP.info – Upaya konservasi berbasis teknologi berhasil menyelamatkan populasi white-headed languryang sebelumnya berada di ambang kepunahan. Kini, jumlah primata langka tersebut meningkat signifikan berkat kolaborasi teknologi, penegakan hukum, dan restorasi ekologi.

Spesies yang hanya ditemukan di wilayah Chongzuo, Guangxi, China Selatan ini sebelumnya tercatat hanya berjumlah sekitar 300 ekor pada 1980-an. Namun, berdasarkan data terbaru, populasinya telah meningkat menjadi lebih dari 1.400 individu yang tersebar dalam 130 kelompok.

Lutung kepala putih masuk dalam kategori Critically Endangered menurut IUCN. Bahkan, spesies ini disebut lebih langka dibandingkan panda raksasa.

Pemulihan populasi ini tidak lepas dari penerapan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan di kawasan Guangxi Chongzuo White-headed Langur National Nature Reserve. Sistem tersebut mencakup lebih dari 20 stasiun pemantauan yang mampu merekam aktivitas satwa secara real-time.

MENARIK DIBACA:  Poly Menunjuk Eternal Asia sebagai Distributor untuk Asia Tenggara

Melalui perangkat video yang dipasang di tebing-tebing karst, sistem AI dapat mengumpulkan data terkait distribusi, lingkungan, dan pola aktivitas lutung. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 37.200 aktivitas lutung berhasil didokumentasikan, memberikan data penting bagi penelitian dan pengelolaan konservasi.

Pengembangan sistem ini merupakan hasil kerja sama antara Huawei dan China-ASEAN Artificial Intelligence Application Cooperation Center.

Selain teknologi, pendekatan hukum dan restorasi lingkungan juga menjadi faktor kunci. Pemerintah setempat menerapkan regulasi khusus perlindungan habitat lutung kepala putih, yang menjadi payung hukum bagi berbagai program konservasi.

Sejauh ini, sebanyak 77,6 hektare habitat telah direstorasi. Selain itu, dua sumber air dan 18 titik minum untuk satwa telah dibangun, serta dua koridor ekologis untuk mendukung pergerakan alami lutung di habitatnya.

Direktur Pusat Pengelolaan Cagar Alam Chongzuo, Nong Dengpan, menyatakan keberhasilan ini merupakan hasil sinergi berbagai pendekatan.

MENARIK DIBACA:  Paket Liburan Keluarga Fantastis di Dorsett: Diskon 35% dan Fasilitas Khusus Anak

“Pertumbuhan populasi lutung kepala putih merupakan kombinasi dari teknologi, regulasi, dan upaya restorasi ekologi. Teknologi digital memungkinkan pemantauan yang lebih akurat dan pengelolaan habitat yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Huawei Guangxi, Tian Yongsheng, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung konservasi berbasis teknologi.

“Proyek ini menunjukkan nilai besar AI dalam mengolah data geografis dan spesies dalam jumlah besar. Kami akan terus mengembangkan teknologi untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Keberhasilan konservasi ini juga berdampak pada pemulihan ekosistem lokal. Salah satunya ditandai dengan ditemukannya kembali tanaman langka yang dilindungi di kawasan tersebut, sebagai indikator membaiknya kondisi lingkungan.

Model konservasi terpadu ini dinilai dapat menjadi rujukan global dalam upaya penyelamatan spesies terancam punah, termasuk primata lain di kawasan Asia Tenggara.