HONG KONG, SINKAP.info – Hongkong Land bersama Gammon Construction menghadirkan inovasi beton rendah karbon berbasis teknologi CarbonCure untuk pertama kalinya di Hong Kong.
Teknologi tersebut diterapkan dalam proyek Tomorrow’s CENTRAL, menandai langkah penting dalam upaya dekarbonisasi sektor konstruksi di kawasan tersebut.
CarbonCure bekerja dengan menyuntikkan karbon dioksida (CO₂) yang telah ditangkap ke dalam campuran beton segar. Melalui proses mineralisasi, CO₂ tersebut berubah menjadi mineral padat dan terperangkap permanen di dalam beton. Metode ini memungkinkan pengurangan penggunaan semen hingga 4–7 persen tanpa mengurangi kualitas material.
Langkah ini dinilai signifikan mengingat produksi semen menyumbang sekitar 7 persen emisi CO₂ global. Dengan kombinasi teknologi tersebut dan penggunaan bahan tambahan ramah lingkungan seperti Ground Granulated Blast-Furnace Slag (GGBS), emisi karbon dapat ditekan hingga 34 persen dibandingkan beton konvensional.
Penerapan teknologi ini juga mendukung target Hongkong Land dalam menurunkan intensitas emisi karbon Scope 3 sebesar 22 persen pada 2030. Selain itu, proyek Tomorrow’s CENTRAL mengusung prinsip keberlanjutan dengan penggunaan 100 persen beton rendah karbon, baja ramah lingkungan, serta kayu berkelanjutan, dan menargetkan pengurangan limbah konstruksi hingga 75 persen.
Proyek Tomorrow’s CENTRAL sendiri merupakan bagian dari rencana transformasi portofolio ritel LANDMARK selama tiga tahun, yang mencakup renovasi besar-besaran pada area komersial dan perkantoran.
Teknologi campuran beton CarbonCure mulai diterapkan sejak November 2025 setelah mendapatkan persetujuan dari otoritas bangunan setempat, usai melalui proses pengujian dan persiapan selama 18 bulan.
Chief Executive Hongkong Land, Michael T. Smith, menyatakan bahwa inovasi ini menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan perusahaan.
“Sustainability merupakan prioritas utama kami. Penggunaan beton rendah karbon dalam proyek ini mempercepat pencapaian target keberlanjutan sekaligus mendorong adopsi teknologi serupa di industri,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Gammon Construction, Eddie Tse, menilai kolaborasi ini sebagai langkah maju dalam mengurangi jejak karbon sektor konstruksi.
Menurutnya, keberhasilan implementasi teknologi ini membuka peluang lebih luas untuk penerapan solusi konstruksi rendah karbon di masa depan.
Langkah kolaboratif ini diharapkan menjadi contoh bagi industri properti dan konstruksi dalam mengadopsi inovasi ramah lingkungan, sekaligus mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia.







