Beranda KOLOM Sastra Anak Desa Menuntut Janji

Anak Desa Menuntut Janji

305
Cerpen Naratif ditulis oleh Zaidan Akbar

SASTRA, Sinkap.info – Ngeeeng … ngeeeng …!’ Suarabising yang keluar dari knalpot sepeda motor Rizal memekakkan telinga seisi penduduk Desa saat Rizal dengan mabuknya melintasi perumahan warga pada malam itu.

Orang-orang di Desa itu, sudah lama menahan geram terhadap kelakuan Rizal, tapi mereka tak berdaya, soalnya masyarakat Desa itu masih lagi menghargai Ayahnya Rizal yaitu Darwis yang juga Kepala Desa mereka.

Sebagai anak Kepala Desa, Rizal terkesan berbuat semaunya saja di Desa itu. Ia sering mabuk-mabukan dan juga keluyuran bersama teman-teman geng motonya. Darwis sebagai seorang Ayah sekaligus Pemimpin Desa itu sering memperingatkan Rizal, namun Rizal selalu saja membantah nasehat ayahnya. Rizal cenderung tak peduli dengan ucapan-ucapan sang Ayah.

Rizal tiba di rumahnya dengan sempoyongan. Tenyata Darwis tengah berdiri di teras rumah dan sepertinya Darwis memang sengaja menunggu anak sulungnya itu pulang.

“Dari mana saja kau Rizal, larut malam begini baru pulang,” cetus Darwis bernada geram.

Rizal terdiam, ia berdiri saja di hadapan ayahnya dengan tubuh sedikit goyang karena mabuknya.

“Rizal, apa kau mabuk lagi? kau selalu saja begini, kau baru saja lulus SMA tahun ini, seharusnya kau harus mempersiapkan diri untuk kuliah,” lanjut Darwis pada Rizal, anaknya.

“Aku tak mau kuliah, ayah!” ucap Rizal.

“Kenapa …? kau tahu, banyak orang yang ingin kuliah namun orangtua mereka tak mampu, tapi kau ini …

“Untuk apa aku kuliah, ayah …!” Rizal memotong nasehat ayahnya dengan nada yang kasar.

“Kita sudah memiliki banyak harta, kebun sawit, tanah yang berhektar-hektar, gudang-gudang pengolahan ikan, gedung-gedung penakaran walet belum lagi rumah-rumah yang kita sewakan itu.

“Untuk apa lagi aku kuliah, ayah …! masa depanku sudah terjamin, nanti jika ayah mati, bukankah aku yang akan menjalankan usaha-usaha itu?” ujar Rizal setengah berteriak.

Ucapan Rizal mulai ngawur, mungkin karena Rizal kini berada di bawah pengaruh alkohol.

“Anak durhaka kau Rizal …!” bentak Darwis seraya mengayunkan tangannya yang hendak menampar Rizal. Namun belum sempat Darwis melakukan itu, tiba-tiba Masbah yang tak lain adalah isteri Darwis itu segara datang untuk menghalanginya. Masbah tentunya tak ingin suaminya menampar Rizal, anak sulungnya itu.

“Rizal! pergilah ke kamar mu tidur,” suruh Masbah pada Rizal anaknya.

“Inilah akibat kau selalu memanjakannya, Bu!” ujar Darwis pada isterinya sembari Darwis masuk ke rumah dan meninggalkan istrinya di teras itu.

Begitulah untuk hari-hari selanjutnya, Antara Ayah dan Anak ini, Darwis dan Rizal selalu berdebat dan bertengkar di rumah mereka. Rizal merupakan seorang anak yang tak pandai bersyukur. Rizal dari lahir hingga sekarang memang hidup serba berkecukupan. Sebagai anak orang kaya tentunya Rizal bisa dengan mudah mendapatkan apa yang ia mau.

Hingga pada suatu malam, terjadi musibah yang menimpa Darwis. Penyakit darah tinggi yang selama ini diderita Darwis ternyata kumat lagi setelah Darwis terpeleset di kamar mandi rumahnya saat mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Isya. Siapa yang menyangka?, akhirnya peristiwa ini telah membuat Darwis kehilangan nyawanya. Darwis meninggal sesaat sebelum Darwis sempat dibawa ke Puskesmas.

Tamatlah sudah riwayat hidup sang Kepala Desa itu. Orang-orang berduyun melayat ke rumahnya. Sekarang Darwis hanyalah seonggok jasad kaku yang terbujur tak berdaya. Tubuhnya tertutup selimut putih. Masbah beserta putri bungsunya, Ani yang masih kecil, terlihat sedang membacakan surah Yasin di hadapan raga tak bernyawa itu di sela tangis mereka.

Sementara itu, Rizal ‘Si Putra Sulung’ belum lagi nampak batang hidungnya, entah kemana ia pergi dan apakah mungkin ia tak tahu bahwa ayahnya telah dipanggil Tuhan.

Berselang tak berapa lama, Rizal kembali dengan mabuknya. Kondisinya antara sadar dan tidak. Rizal tampak seperti orang gila. Rizal merangkak mendekati mayat ayahnya. Rizal menangis tersedu-sedu dengan sebongkah penyesalan dalam hatinya. Rizal meratapi kematian ayahnya, namun semua itu sudah tak ada gunanya lagi. Sedangkan orang-orang di situ sepertinya mencemooh Rizal dalam hati mereka.

Keesokan harinya, mayat Darwis pun di makamkan. Terdengar ucapan Masbah menyerukan bahwa apabila almarhum suaminya ada tersangkut hutang-piutang, maka keluarganya akan bersedia mempertanggungjawabkan hutang-hutang itu.

Setelah tiga hari sejak pemakaman itu, maka datanglah Hasyim ke rumah Masbah. Hasyim ini adalah adik kandung satu-satunya dari Almarhum Darwis. Kali ini Hasyim membawa seorang pengacara.

Ternyata kekayaan yang dimiliki Darwis membutakan adiknya, Hasyim menjadi tersulut keserakahan untuk menguasai harta keluarga Darwis, maka dengan kelicikannya, ia selalu berpikir untuk meraih tujuan jahatnya itu.

“Kak Masbah! sehubungan dengan ucapan kakak kemarin bahwa segala hutang-hutang Almarhum akan ditanggung keluarga, maka aku datang ke sini untuk menyelesaikan masalah itu,” kata Hasyim memulai percakapan.

“Lalu …” ujar Masbah meminta Hasyim melanjutkan maksudnya.

“Almarhum Bang Darwis memiliki hutang padaku sebesar dua milyar, jadi aku ke sini bermaksud menagih itu, kak!” Hasyim menyampaikan tujuannya.

Masbah terperanjat kaget mendengar kata-kata Hasyim itu.

“Untuk apa suamiku berhutang sampai sebanyak itu Sim?” tanya Masbah.

“Mana aku tahu Kak! kalau Kak Masbah tak percaya, ini surat perjanjiannya dan ini notarisnya, makanya ku bawa Pak Sahar, pengacara yang membuat perjanjian kami,” terang Hasyim sambil menunjukkan beberapa lembar kertas sebagai bukti tertulis.

Masbah tak mengerti bagiamana perjanjian itu dibuat, ia tidak tahu apa-apa tentang ini semua, ia hanya mencoba mempercayai hal itu.

“Bagaimana aku membayar semua itu, Sim?” tanya Masbah.

“Aku juga berpikir begitu kak! makanya semua aset kekayaan dan harta Almarhum bang Darwis aku ku sita sebagai gantinya, termasuk rumah ini, jadi aku pinta agar Kak Masbah dan Keluarga bisa pergi dari rumah ini sekarang juga,” tegas Hasyim.

“Teganya kau, Hasyim! kau usir kami dari rumah ini sekarang juga,” kata Masbah dengan suara yang bergetar dan air mata yang berlinang.

Tiba-tiba Rizal muncul seketika mendengar pengusiran itu. Lalu Rizal pun berkata.

“Tidak …! Paman tak punya hati, Paman tak berhak mengusir kami,” sahut Rizal dengan marahnya.

“Apa …? tak berhak kau bilang? hei anak bodoh! kau itu anak yang tak berguna, kau pecundang! yang penting sekarang, kalian keluar dari rumah ini atau kalau tidak aku akan memaksa kalian dengan kasar.” Hasyim membentak Rizal, keponakannya itu.

MENARIK DIBACA:  Setiap Cahaya Menembus Dinding Malam, itulah AKU!

kata-kata Pamannya itu terasa tajam dan menyakitkan menikam lubuk hati Rizal. Sementara Masbah hanya menangis saja. Ia tak menyangka semua ini akan terjadi.

“Hasyim! aku bermohon padamu, kau boleh sita seluruh aset suamiku kecuali rumah ini, di sinilah tersimpan semua kenangan bersama suami dan anak-anakku, aku mohon.” Masbah terus menangis terbungkuk-bungkuk seperti berlutut memohon itu kepada Hasyim.

“Jangan mengemis padanya ibu,” ucap Rizal dengan air matanya sambil memeluk ibunya yang berlutut sambil menangis itu.

“Paman …! aku akan bayar hutang-hutang ayahku,” ucap Rizal pada Hasyim.

“Ha … ha .. ha …, Hasyim tertawa terbahak-bahak, kau …! kau akan bayar hutang-hutang dua milyar itu.” Hasyim tersenyum menyeringai.

“Andai kau jual seluruh organ tubuhmu pun, kau juga tak akan sanggup,” ujar Hasyim sambil melanjutkan tertawanya.

“Cuih …! Hasyim meludah ke tanah.
“Kau perhatikan ludahku itu, anak tolol! aku berjanji mengembalikan seluruh harta dan kekayaan ayahmu andai kau sanggup membayar hutang ayahmu padaku, itu janjiku, aku tak akan mengingkarinya dan aku tak akan menjilat kembali ludahku sendiri,” jelas Hasyim.

Semenjak peristiwa yang menyakitkan itu, keluarga Rizal tinggal di rumah kontrakan. Hidup Rizal dan keluarga telah berubah drastis. Sekarang Rizal mengalami kepahitan hidup. Hari-hari yang mereka jalani selalu dengan serba kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sangat kesusahan bahkan Masbah kini menjadi seorang buruh cuci di rumah beberapa warga.

Rizal sulit sekali mendapat pekerjaan. Orang-orang sering mencibir, mencela, mencaci dan menghina Rizal karena mengingat perlakukan buruk Rizal yang ia lakukan kepada sebagian besar warga ketika dulu.

Saat ini, Rizal tak punya teman-teman lagi seperti dulu, semua teman-teman yang mengaguminya dulu kini berbalik menjauhinya karena sekarang Rizal tak punya apa-apa lagi dan bukan seorang anak Kepala Desa lagi.

Rizal dan keluarganya telah beberapa kali diusir dari rumah kontrakan mereka sebab tak sanggup bayar uang sewa. Rizal beserta keluarga kerap sekali berpindah-pindah rumah kontrakan.

Suatu senja, Rizal meratapi nasibnya di tepian sebuah sungai yang mengalir di sepanjang Desa itu. Dalam benaknya, terbayang kepingan memori tentang dirinya bersama Ayah.

Rizal mengenang saat Ayah menggendong dirinya, waktu ia rebah di bahu ayahnya, ketika sang ayah membelikan pesawat mainan untuknya. Sampai-sampai Rizal mengingat pertengkarannya dengan ayahnya sendiri. Semua kenangan ini tampak jelas seperti sebuah film yang diputar ulang. Kenangan-kenangan ini mengundang tangis dan rasa penyesalan yang mendalam buat Rizal. Belum lagi Rizal mengingat kata-kata paman Hasyim yang selalu membuat batinnya terluka.

Sejenak Rizal berhenti dari tangisnya. Rizal langsung menghapus air mata yang sudah terlanjur curah membasahi pipi sampai dagunya itu. Kali ini Rizal akan terima perjanjian dari Paman Hasyim. bagaimanapun caranya, Rizal harus mengembalikan hutang sang ayah kepada Paman Hasyim agar ibu dan adiknya kembali ke rumah mereka dan ia harus memperjuangkan keluarganya.

Rizal merasa bahwa ia tak bisa hanya meratap saja, segala cacian dan hinaan yang ia dapatkan dari Pamannya itu telah menggoreskan luka di jiwanya. Oleh sebab itu satu-satunya jalan untuk semua ini, Rizal harus merantau. Ia harus meninggalkan Desa tanah pesisir kelahirannya ini.

Rizal berniat merantau ke Kota Medan. Rizal berjanji pada dirinya sendiri bahwa sebelum ia sanggup membayar hutang-hutang itu, maka ia belum ingin menginjakkan kakinya untuk kembali.

Sebelum Rizal pergi, ia meminta doa restu ibunya. Masbah hanya pasrah dan merelakan kepergian putra sulungnya itu. Masbah hanya berpesan pada Rizal untuk mencari pekerjaan yang halal-halal saja dan juga Masbah berharap supaya Rizal tidak meninggalkan sholatnya.

Tak ada yang bisa Masbah berikan kepada Rizal kecuali hanya sebuah sajadah untuk mengingatkan Rizal agar ia tidak meninggalkan sholanya.

Di perantauan, tepatnya di kota Medan, Rizal menjalani pahit dan getirnya hidup. Semua ini sungguh diluar apa yang ia bayangkan sebelumnya. Berbagai pekerjaan halal terus saja Rizal lakukan. Penderitaan demi penderitaan kerap ia rasakan bahkan saat Rizal bekerja sebagai tukang parkir, banyak para pengendara yang hanya melemparkan uang recehan dari mobil mereka dan baru pula Rizal mengambilnya dari jalanan itu.

Selain itu, Rizal juga pernah bekerja sebagai buruh bangunan dan saat itu Rizal dituduh mencuri bahan-bahan bangunan tersebut. Rizal difitnah dan akhirnya ditahan untuk beberapa minggu sampai terbukti bahwa Rizal tidak bersalah dan akhirnya Rizal dibebaskan.

Sekarang Rizal mengerti kerasnya hidup. Rizal selalu ingat pesan ibunya untuk tidak meninggalkan sholat. Dengan alasan ini pula Rizal selalu membawa sajadah yang diberikan ibunya itu walau ke manapun ia pergi.

Dua tahun lamanya Rizal di kota Medan hingga ada seorang teman yang mengajaknya untuk melanjutkan hidup ke Bandung. Selama di Bandung, banyak pekerjaan yang dilakoni oleh Rizal. Misalnya menjadi seorang pelayan restoran, penjaga toko dan pencuci mobil. Rizal juga pernah menjadi penjual Bakso keliling, tapi waktu itu nasibnya sial saat melewati jalan sepi, dagangannya dirampok, uangnya habis dirampas, untung saja Rizal tidak dibunuh oleh perampok-perampok itu.

Terkadang Rizal merasa lelah dan capek, tetapi ketika Rizal mengingat perlakuan dan janji yang diberikan oleh Paman Hasyim di Desa waktu itu serta ditambah dengan penghinaan, caci maki dan bebagai celaan yang Rizal terima bersama keluarga, maka Rizal tetap bangkit dan berdiri tegap karena semua itu sudah menjadi segumpal dendam yang bersarang di dadanya.

Siang malam Rizal bekerja untuk mengumpulkan rupiah-rupiah pembayar hutang ayahnya itu, meski kadang ia sadar bahwa semua itu terdengar mustahil untuk kondisinya yang seperti ini. Sesekali demi menghemat Rizal hanya makan satu kali dalam sehari.

Suatu hari Rizal tengah sholat Magrib di salah sebuah mesjid. Ia kebetulan berdampingan dengan seorang salesman. Mereka berdua berbincang-bincang dan dengan bantuan temanya itu Rizal mendapatkan pekerjaan sebagai salesman. Pastinya seorang salesman produk peralatan masak. Ia bekerja dengan gigih siang dan malam. Tak perduli panas dan hujan yang turun dengan lebatnya, tapi Rizal terus saja bekerja.

Ternyata langit tak selamanya mendung, hari tak selalu hujan dan kesedihan bukanlah sesuatu yang abadi. Sebab giatnya Rizal bekerja, ia mulai diangkat menjadi Leader tim unit salesman dan dalam kurun empat bulan saja, Rizal sudah menjadi Supervisor. Pada kedudukannya ini, Rizal mulai kuliah karena ia teringat mimpi-mimpi anaknya. Slama empat tahun Rizal kuliah, sampai akhirnya ia memperoleh gelar Sarjana. Setelah ia meraih gelas itu kemudian Rizal diangkat menjadi Kepala Cabang Perusahaan dan Rizal dipindahkan ke kota Batam.

MENARIK DIBACA:  Sarjana Tanpa Aksara

Selama di Batam, hatinya terpikat seorang gadis berparas putih, cantik dan solehah. Gadis berkerudung itu bernama Nita. Nita merupakan anak seorang konglomerat yaitu direktur perusahaan kapal kargo ekspor impor Indonesia – Singapura. Akhirnya dengan berat hati Rizal resign ( keluar ) dari perusahaan tempat ia bekerja dan membuka perusahan sendiri yang bergerak di bidang pengangkutan dan pelayaran di Kota Batam.

Suatu ketika, seusai sholat magrib, Rizal mengelus sajadah pemberian ibunya itu. Tak terasa sudah sebelas tahun Rizal berkelana di rantau orang, namun satu hal selalu ia ingat yakni sebuah janji yang akan Rizal tuntut pada Paman Hasyim yang menghina keluarganya.

Rindu Rizal pada ibu dan Ani, adiknya semakin kental, Rindu itu tak lagi bisa ditawar-tawar karena selama ia tentu Rizal tak pernah berhubungan dengan Ibunya itu., bahkan Rizal tak tahu apakah ibunya masih hidup atau sudah tiada lagi.

Akhirnya Rizal memutuskan untuk membawa istrinya pulang ke kampung halamannya yaitu sebuah desa kecil di suatu kawasan pesisir.

Kali ini Rizal pulang dengan segala kemewahan yang ia punya, Rizal ingin membayar penghinaan dan sekaligus mau menuntut janji Paman Hasyim itu. Tentu setelah nanti ia membayar hutang-hutang ayahnya dulu, maka rumah dan segala harta yang menjadi milik keluarganya dulu akan dikembalikan oleh Paman Hasyim, karena memang begitu perjanjiannya.

Rizal dan istrinya tiba di Desa itu, mereka hendak menemui Ibu dan adik Rizal. Rizal bertemu dengan seorang gadis SMA yang baru pulang dari sekolahnya. Rizal seperti mengenal Wajah gadis yang tak asing itu, ternyata itu adalah Ani, adik kandung Rizal sendiri. kini Ani sudah dewasa. Tahun ini Ani akan lulus SMA.

Dengan petunjuk Ani, Sampailah mereka ke sebuah gubuk reyot dan tua dan di situlah Ibu dan adiknya tinggal. Hati Rizal sungguh merasa perih. Bertemunya ibu dan anak itu menjadi momen yang mengharukan. Mereka saling peluk. Masbah, sang ibu mencium kening putra sulungnya itu yang sudah sebelas tahun tak bertemu.

“Akhirnya kau kembali juga anakku,” ucap Masbah pada anaknya.

“Seperti kata ibu, jika seekor merpati telah berani untuk terbang sendiri maka ia juga akan berani untuk pulang sendiri, ya kan Bu?” ujar Rizal mengingatkan ucapan ibunya saat melepas kepergiannya sewaktu dulu.

Masbah mengangguk dan tersenyum bercampur dengan air mata bahagianya setelah bertahun-tahun ia bergelut dengan rasa rindunya kepada Rizal.

Rizal tak lupa memperkenalkan Nita, sang istri kepada ibu yang sangat ia sayangi itu. Di sisi lain Rizal juga mengutarakan niatnya hendak membayar hutang-hutang sang ayah dulu agar Paman Hasyim seluruh harta yang pernah ia rampas dari keluarga Rizal.

Namun perjanjian itu tak mungkin lagi dituntut, Masbah menceritakan bahwa Hasyim telah meninggal setahun yang lalu. Usaha keluarga Hasyim telah bangkrut. Hasyim meninggal karena gagal ginjal yang dideritanya. Seluruh harta dan kekayaan yang ada telah musnah semua akibat biaya perobatan untuk Hasyim, bahkan setelah Hasyim meninggal pun, sampai kini Keluarga Hasyim masih menanggung beban hutang.

Sebulan setelah kematian Hasyim, maka istri Hasyim juga menyusul kematiannya. sekarang ketiga anak peninggalan mereka dalam kondisi yatim piatu, termasuk anak tertua Hasyim yaitu Buyung yang dulu ikut mengejek dan mencaci maki Rizal. Sekarang anak-anak Hasyim tak memiliki rumah.

Mendengar cerita ibunya itu, janji berbuah dendam itu apinya mulai padam. Dendam itu telah berubah menjadi rasa iba yang mendalam.
Sementara di dinding rumah itu terpajang fhoto Darwis, ayah Rizal.
Rizal bergumam dalam hatinya.

“Ayah! dulu kita sering sekali bertengkar. Kala itu, aku berpikir bahwa kau tak pernah menyayangiku sedikitpun, makanya setiap kata-katamu selalu aku bantah.

“Ayah! ternyata kau selalu benar tentang harta dan kekayaan yang tak akan selalu abadi, akulah yang salah yang tak peduli nasehat-nasehatmu.

“Ayah! kau selalu ingin melihatku sukses dan Ayah juga hendak aku ini kuliah serta jadi anak yang Soleh, bukan?, aku sudah sarjana, ayah! aku tak akan pernah meninggalkan sholat, tapi sayang hari ini ayah tak melihatku.”

Ucapan hati Rizal itu membuat ia larut dalam kesedihannya, matanya berkaca-kaca, air matanya yang berlinang itu sudah siap untuk jatuh mengalir di pipinya.

Tiba-tiba Rizal meminta kepada Ani adiknya itu agar Rizal diantar ketempat di mana Paman Hasyim di makamkan.

Sesampainya di pusara Paman Hasyim, Rizal pun berkata di situ.

“Paman Hasyim! terimakasih karena dulu telah menghinaku, mencela dan mencaciku, seandainya waktu itu paman tidak menghinaku serta keluargaku mungkin aku tak akan jadi seperti sekarang ini.

“Paman! banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari dendam dan janji yang pernah goreskan di hatiku. Aku mendapat pengalaman bahwa hidup itu bukan sekedar tentang materi tapi juga tentang sebuah keikhlasan hati.

“Maafkan aku Paman jika aku bersalah padamu, tapi aku datang bukan lagi untuk menuntut janjimu itu, tapi aku datang sebagai keponakanmu yang ingin saling berbagi rindu.

“Sekali lagi, terimakasih Paman atas semua pengalaman ini dan aku mohon pamit padamu, selamat tinggal, Paman.”

Setelah itu Rizal langsung menemui Buyung beserta kedua adiknya. Bagaimana pun juga mereka adalah sepupunya Rizal.

Rizal berkeinginan membeli kembali rumah mereka yang dulu dan menebus segala harta mereka yang sudah dijual keluarga Hasyim. Semua itu bukan untuk diri Rizal, akan tetapi Rizal menyerahkan semua harta itu kembali kepada Buyung secara hormat agar anak-anak dari Paman Hasyim dapat hidup lebih baik dan tidak lagi terlantar.

Masbah terharu melihat akhlak Rizal anaknya itu. Sedangkan Masbah dan Ani dibawa oleh Rizal beserta isteri ke Kota Batam untuk tinggal bersama mereka selamanya.

#cerita_ini_hanya_fiktif_belaka
#jadikan_hinaan_sebagai_motivasi
#kekayaan_harta_tak_selamanya_abadi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here