Beranda KOLOM Sastra Sarjana Tanpa Aksara

Sarjana Tanpa Aksara

394

SASTRA, Sinkap.infoMungkin ini cukup berat buat Rusdi dan Rahman. Tangisan Kedua bocah laki-laki kakak beradik itu jelas terdengar saat mereka melihat langsung jasad sang Ibu dimasukkan ke liang lahat.

Rusdi yang berumur sembilan tahunan itu memeluk erat adik satu-satunya yakni Rahman yang masih belia. Rahman bocah yang berusia lima tahun. Rahman tampak belum terlalu mengerti apa arti semua ini.

Rusdi terlihat sangat sedih sekali. Bagaimana tidak, baru saja mereka ditinggal sang ayah pada tahun lalu dan duka itu masih terasa, kini menyusul pula sang Ibu yang pergi meninggalkan mereka berdua.

Mata Rusdi yang sembab karena menangis terus saja menatap pusara kedua orang tuanya yang dimakamkan berdampingan. Luka batin seorang bocah ini sungguh tak terbendung.

Ini terlihat ketika semua orang beranjak pulang maka Rusdi berlari menghambur makam ibunya dengan tangisan yang keras. Sedangkan adiknya Rahman hanya menangis tersedu-sedu kecil sambil mengkucek-kucek matanya yang berair itu karena Rahman memang belum mengerti banyak hal.

Rusdi kini masih duduk di bangku kelas dua SD. Sedangkan teman-teman seusianya sudah berada di kelas empat. Rusdi memiliki kekurangan. Ia tak pandai baca tulis. Rusdi mengalami kesulitan mengenal huruf. Dalam istilah, ganguan kesulitan membaca semacam ini sering disebut disleksia dan mungkin inilah alasan mengapa Rusdi tinggal kelas selama dua tahun berturut-turut.

Hari-hari selanjutnya Rusdi sering terlambat datang ke sekolah dan bahkan ia jarang sekali masuk. Semua ini disebabkan karena Rusdi harus mengurus Rahman adiknya yang masih berusia lima tahun. Mereka hanya tinggal berdua saja di gubuk warisan orang tuanya.

Rusdi dan Rahman tinggal di desa kecil pada sebuah kawasan pesisir. Oleh karena itu sebagain besar mata pencarian masyarakat di situ adalah nelayan.

Rusdi mulai kehilangan masa-masa bermain. Masa kecil yang indah itu tak lagi Rusdi nikmati. Rusdi harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya bersama sang adik tercinta. Rusdi menggantikan peran Ayah dan Ibunya yang telah tiada.

Sebenarnya ada beberapa orang di luar daerah itu ingin mengadopsi Rahman, namun Rusdi tak pernah setuju karena ia tak ingin berpisah dengan adiknya itu.

Rusdi hampir tak punya waktu untuk bersekolah karena beratnya beban yang Rusdi pikul sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga. Memang mengharukan sekali nasib bocah yang buta huruf ini.

Pada hasil Rapor semester ini setelah ujian kenaikan kelas, Rusdi lagi-lagi tetap tinggal kelas. Rusdi sangat kecewa pada dirinya sendiri. Rusdi mengingat ibunya yang pernah bercita-cita agar Rusdi dan Rahmah menjadi seorang sarjana kelak. Air mata Rusdi tercurah mengenang itu. Air matanya jatuh menetes membasahi rapor yang ditatapnya.

Rusdi berpikir untuk berhenti sekolah saja. Ia telah mempertimbangkan baik dan buruknya. Walaupun dengan berat hati, Rusdi sudah bulat dengan keputusan itu. Apalagi tahun ini Rahman mulai masuk sekolah, tentunya diperlukan biaya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Kini Rusdi mulai berjuang lebih keras. Bocah yang tak mengenal aksara ini bekerja siang dan malam sehingga ia mampu membelikan seragam, sepatu dan peralatan sekolah lainnya untuk sang adik.

Hari pertama masuk sekolah, para orangtua mengantar anak-anak mereka. Terlihat sebagian anak diantar dengan sepeda motor dan ada pula yang naik angkutan umum.
Sedangkan Rahman datang ke sekolah dengan digendong oleh abangnya, Rusdi.

“Abang jangan pergi, Aman takut,” rengek Rahman sambil memegang tangan Rusdi

“Rahman, Rahman sekolah dulu, nanti kalau sudah pulang, baru abang jemput,” ucap Rusdi menegarkan adiknya.

Kemudian Rusdi mencium kening adiknya dan memeluk Rahman dengan erat agar hilang rasa takut sang adik. Setelah itu barulah Rusdi pergi meninggalkan sekolah adiknya.

Rusdi tampak berlari mengejar tempat kerjanya. Rusdi tak mau terlambat karena jika terlambat berarti ia tak akan masuk kerja dan jika tak bekerja itu berarti tak akan ada penghasilan hari ini.

Rusdi bekerja paruh waktu untuk gudang pengasinan ikan dan sampai waktu pulang sekolah, Rusdi kembali berlari menjemput adiknya di sekolah. Terkadang napas Rusdi terengah-engah sampai di sekolah karena berlari. Kemudian segera Rusdi menggendong adiknya untuk pulang.

Begitulah yang dilakukan Rusdi mengantar jemput Rahman sekolah dengan menggendong adiknya. Bahkan pernah suatu ketika yaitu saat hari sedang hujan lebat dan Rusdi tengah menggendong adiknya pulang sekolah. Di tengah jalan Rusdi terpaksa membuka bajunya untuk membungkus tas sekolah sang adik karena Rusdi takut buku-buku di dalam tas itu akan basah terkena hujan

Dari hari ke hari Rusdi terus saja menggendong adiknya setiap pergi dan pulang sekolah. Itu Rusdi lakukan bertahun-tahun hingga akhirnya Rahman lulus SD.

Rusdi yang buta huruf itu betul-betul berjuang untuk menyekolahkan adiknya. Rusdi kini sudah remaja sementara Rahman masih mau masuk SMP. Rusdi selalu berpikir keras agar adiknya bisa bersekolah tinggi dan jadi seorang sarjana seperti impian ibunya.

Selain mencari napkah, Rusdi juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang layaknya dilakukan oleh seorang Ibu rumah tangga. Rusdi memasak di rumahnya dan setiap hari minggu, Rusdi mencuci seragam sekolah adiknya serta beberapa pakaian yang dibutukan oleh Rahman.

Darah persaudaraan itu memang kental. Ini terbukti seperti perilaku Rusdi yang menyayangi adiknya. Setiap makanan yang Rusdi beli dari luar, tak pernah ia cicipi sendirian. Rusdi selalu membawanya pulang ke rumah. Setelah adiknya makan terlebih dahulu barulah Rusdi makan sisa-sisa adiknya.

Rusdi selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sekolah Rahman. Rusdi berusaha mencukupinya karena Rusdi tak mau adiknya dibully di sekolah hanya karena kemiskinan. Bahkan Rusdi dengan gigih mengumpulkan uang untuk membelikan Rahman sebuah sepeda supaya Rahman tak terlalu capek pulang pergi ke sekolah.

Perjalanan waktu membuat Rusdi menjadi sosok yang kuat. Sedangkan Rahman tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Hal ini dibuktikan dengan nilai-nilai sekolah yang tertulis dalam rapor Rahman. Sudah selama tiga tahun di SMP Rahman selalu memperoleh rangking satu di sekolahnya.

Rusdi adalah sebuah energi bagi Rahman untuk selalu rajin belajar, pun begitu sebaliknya, Rahman menjadi penyemangat buat Rusdi untuk terus bekerja keras.

Terkadang Rahman kerap sedih melihat pengorbanan abangnya itu. Pada waktu-waktu libur sekolah, Rahman pernah mencoba ikut bekerja untuk sekedar membantu Rusdi. Namun Rusdi marah besar pada Rahman. Rusdi ingin adiknya hanya fokus belajar saja.

MENARIK DIBACA:  Di Pondok Cahaya Ilahi

Rusdi sudah berusia sembilan belas tahun dan Rahman pula berumur lima belas tahun. Sekarang saatnya Rahman menduduki bangku SMA. Rusdi seperti biasa, hanya menjadi seorang nelayan layaknya kebanyakan profesi orang-orang di daerahnya.

Rusdi memang buta huruf. Ia tak mengenal aksara, tak ada satu tulisan pun yang mampu Rusdi baca, tapi Rusdi dapat mengerti bahasa hati. Rusdi paham bahwa sesama saudara haruslah saling menyayangi.

Di setiap kesempatan, Rusdi selalu memperhatikan Rahman yang rajin membaca buku. Salah satu buku favorit yang Rahman baca berjudul # PASTI ADA AIR DI TENGAH GURUN PASIR #. Rahman suka sekali membaca buku itu. Buku yang ia dapatkan di gudang bekas perpustakaan di sekolahnya.

Buku favorit Rahman itu berisi tentang cerita sukses para tokoh-tokoh terkenal. Rahman memahami maksud buku itu bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang instan dan sukses itu tidak tercipta dalam satu malam melainkan dalam prosesnya terdapat kisah derai duka dan air mata, ada perjuangan, pengorbanan, kerja keras, ada keringat yang bercucuran untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Buku ini sangat menginspirasi Rahman.

Rusdi tak mengerti buku apa yang dibaca Rahman namun paling tidak Rusdi mengerti bahwa buku itu sangat penting bagi Rahman. Buku itu terlihat sudah tua dan loak, separuh dari bagian buku itu nampak telah dimakan rayap, koyak dan banyak juga halaman yang sudah hilang.

Setiap membaca buku ini Rahman nampak menyusun kembali halaman-halamannya yang sudah terpisah. Ini bertujuan agar Rahman gampang membacanya.

Pada suatu saat, Rusdi memanggil Firdaus, sahabat dan juga tetangganya serta menanyakan sesuatu.

“Daus, Aku mau nanya, kira-kira buku seperti ini, belinya di mana?”

Rusdi menunjukkan buku yang sering dibaca adiknya itu.

“Kalau buku begini, kurasa ngak ada lagi terbitan barunya Rus,” jawab Firdaus memastikan.

“Jadi, bagaimana kalau kita mau beli buku yang begini, Daus?” tanya Rusdi lagi

“Bentar ya Rus!, kita lihat di situs jual beli buku bekas, mana tahu ada,” ucap Firdaus sambil mengusap benda pipih di genggamannya.

“Nah, ini dia Rus!” teriak Firdaus dengan gembira

“Harga bukunya cukup mahal nih Rus, seratus tujuh puluh lima ribu, itu sudah termasuk ongkos kirim, mahal juga kalau sekedar buku loak begini” kata Firdaus

“Kalau pesan sekarang, tiga hari lagi baru nyampe,” lanjut Firdaus menerangkan

“Udah, ngak apa-apa, Daus! kaulah yang mengaturnya, bentar ku ambil uangnya dulu ya!” ujar Rusdi.

Kemudian Rusdi mengambil sejumlah uang yang telah di simpannya dan menyerahkannya pada Firdaus.

Setelah buku itu Rusdi terima maka ia memberikannya pada Rahman. Tentu saja Rahman merasa terkejut dan terharu.

“Terima kasih Bang Rusdi.” Rahman memeluk Rusdi

“Sama-sama adikku,” ucap Rusdi sambil mengusap rambut adiknya.

“Adikku! aku memang tidak tahu apa isi buku itu karena aku buta aksara, tapi mata dan hatiku tidaklah buta, aku bisa lihat buku ini sangat berharga bagimu,” kata Rusdi pada adiknya.

“Rajinlah belajar, Rahman! tahun depan kau kan sudah mau masuk perguruan tinggi.” Rusdi menyampaikan keinginannya.

“Perguruan tinggi, apa mungkin Bang?” tanya Rahman

“Kenapa tidak!”
“Selagi aku masih bernapas, aku akan terus berjuang mewujudkan cita-citamu, adikku!” Tegas Rusdi.

Rahman terharu mendengar kata-kata abangnya yang selalu bersemangat dan jika itu adalah keputusan abangnya maka Rahman akan berusaha untuk tidak membuat abangnya kecewa. Begitu yang terlintas dalam pikiran Rahman.

Setelah lulus SMA, maka kini saatnya Rahman memasuki perguruan tinggi. Beberapa orang mendapat tawaran masuk ke perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa termasuk Rahman. Rahman memilih untuk kuliah di Jogjakarta.

Waktunya telah tiba bagi Rusdi dan Rahman untuk berpisah. Sebenarnya Rusdi sangat berat hati dengan perpisahan ini. Hari-hari ke depan akan terasa lebih sunyi buat Rusdi.
Tapi apa boleh buat, semuanya demi cita-cita Rahman.

Hari-hari Rusdi kini selalu dicekam rasa rindu yang mendalam pada adiknya. Sesekali Rusdi menggunakan jasa Firdaus untuk menghubungi Rahman dan akhirnya mereka saling melepas rindu via handphone.

Sementara di tempat tinggal mereka, banyak orang yang meremehkan Rusdi. Orang-orang berpendapat mana mungkin Rusdi sanggup membiayai kuliah Rahman, sedangkan biaya kuliah itu sangatlah mahal.

Rusdi tak peduli apa kata orang. Ia tetap bekerja siang dan malam serta ketika waktunya luang karena tidak melaut, Rusdi mencari kerja tambahan sebagai buruh pengangkut di pelabuhan.

Untuk memenuhi segala kebutuhan biaya kuliah Rahman, semua pekerjaan halal, Rusdi lakoni asalkan ia dapat mengumpulkan uang.

Kadang Rusdi tak peduli lagi pada penampilannya. Pakaian yang dikenakannya cuma itu-itu saja hingga kemeja yang dipakainya tak tampak jelas warnanya, apakah berwarna biru atau hitam. Semua itu karena terlihat kumal.

Rusdi nampak lusuh sekali. Boro-boro beli baju baru, untuk makan saja Rusdi menghematnya. Setiap hari Rusdi cuma makan satu atau dua kali saja sehari dan penghasilannya bekerja selalu ia kirim untuk kebutuhan kuliah adiknya, Rahman.

Rusdi terkadang juga sering sakit-sakitan karena terlalu lelah, capek dan terus-terusan bekerja, tapi Rusdi tetap tak pernah menghiraukannya.

Sedangkan Rahman selama ini belum pernah kembali sekalipun, mengingat jauhnya jarak tempuh antara Jogja dan kampung halamannya sehingga ongkos yang dibutuhkan sangat mahal. Rahman memilih tidak pulang kampung meski pada hari-hari libur.

Dalam pikiran Rahman, setelah nanti ia sarjana dan sudah bekerja, Rahman berniat membawa abangnya yang sangat ia cintai itu ke Jogja ini. Rahman ingin sekali membalas Budi abangnya serta ingin membahagiakannya.

Hari berganti, bulan bertukar dan tahun demi tahun terlewati. Tak terasa sudah empat tahun lamanya Rahman kuliah di Jogja. Tahun ini adalah tahun terakhir Rahman menyelesaikan pendidikannya dan sedikit lagi Rahman akan menjadi seorang sarjana.

Di suatu hari, pinggul Rusdi terasa sakit sekali. Kali ini Rusdi tak bisa lagi menahannya, tidak seperti biasanya. Rusdi memutuskan untuk tidak melaut karena rasa sakit ini sungguh memang luar biasa. Untuk bekerja kali ini tak bisa ia paksakan.

Oleh karena itu, Firdaus membawa Rusdi ke puskesmas dan setelah diperiksa oleh dokter di sana, hasilnya menerangkan bahwa terdapat pembengkakan yang sudah akut pada ginjal kiri Rusdi. Mungkin ini akibat terlalu porsir dalam bekerja.

MENARIK DIBACA:  Setiap Cahaya Menembus Dinding Malam, itulah AKU!

Kondisi ini harus segera dioperasi kalau tidak dikhawatirkan akan berakibat fatal. Jika Rusdi mau, Rusdi dapat dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten untuk melaksanakan operasi ginjalnya. Namun Rusdi menolak untuk dioperasi dengan alasan tak ada biaya.

Sebetulnya dana untuk operasi Rusdi itu ada, namun pada saat ini Rusdi lebih mementingkan biaya untuk wisuda adiknya, Rahman yang sebentar lagi akan mendapat gelar sarjana.

Pada suatu hari, Firdaus mendapatkan pesan via seluler dari Rahman yang ditujukan pada Rusdi abangnya. Firdaus memanggil Rusdi sebagaimana biasa. Firdaus membacakan pesan via handphone itu pada Rusdi yang isinya tertulis.

[ Abang Rusdi, aku rindu sekali, aku ingin bertemu Abang, tanggal 20 September ini adalah hari wisudaku, aku akan jadi sarjana bang … ! ]

[ Pada hari wisuda nanti, seluruh orangtua akan hadir mendampingi anaknya, aku tahu bahwa aku tak punya orangtua lagi, tapi aku punya seorang Abang yang telah menjadi Ayah dan Ibu bagiku ]

[ Abang Rusdi, jika Abang punya uang berlebih, maka datanglah dan dampingi aku , kalaupun Abang tak punya uang, itu tak mengapa, kumohon Abang jangan terlalu memaksakannya ]

Setiap kalimat yang Rusdi dengar sebagai pesan dari Rahman setelah Firdaus membacakannya, maka air mata Rusdi pun mengalir di permukaan pipinya.

Rusdi berpikir bahwa kali ini Rusdi harus berangkat mendampingi wisuda adiknya. Rusdi lakukan ini agar Rahman tidak minder saat diwisuda nanti karena tak ada wali yang mendampingi Rahman.

Rupanya tanggal wisuda Rahman itu adalah minggu depan. Sedangkan uang Rusdi yang tersisa mungkin tidak cukup untuk ongkos, maka dari itu mulai besok Rusdi akan kembali bekerja untuk mengumpulkan uang, meskipun rasa sakit Rusdi belum lagi hilang.

Setiap hari Rusdi bekerja dengan rutin. Jika Rusdi tidak berangkat malaut, maka Rusdi bekerja sebagai buruh di pelabuhan sampai Rusdi merasa uangnya telah cukup.

Tibalah waktunya Rusdi akan pergi pada besok hari, Rusdi menyempatkan berziarah ke makam Ayah dan Ibunya serta berucap dalam hatinya.

“Ayah, Ibu, aku datang ke sini untuk mengatakan bahwa Rahman kecilmu yang dulu sebentar lagi akan jadi sarjana, ia akan diwisuda”

“Sedangkan aku sekarang adalah pria buta huruf berumur dua puluh enam tahun, tapi aku bangga Ayah, Ibu bahwa sebentar lagi aku akan mewujudkan mimpi kalian untuk melihat Rahman jadi sarjana”

“Ayah, Ibu, aku pamit, karena besok aku akan pergi bertemu Rahman, aku sangat menyayanginya, doakan aku ya Ayah, Ibu”

“Aku selalu rindu kalian.”

Hati Rusdi yang berkata-kata ini diiringi dengan tumpahan air mata yang bercucuran. Setelah beberapa saat di situ, Rusdi pun berjalan pulang menuju rumahnya.

Sampai di rumah, tubuh Rusdi menggigil, pinggulnya terasa sakit, ginjalnya seperti berdenyut, badannya berkeringat menahan nyeri. Rusdi mengerang kesakitan. Cukup lama Rusdi bergeliat dalam erangan itu.

Tak lama kemudian, Firdaus tiba-tiba datang dengan rasa bingung dan cemas. Firdaus ingin membawa Rusdi ke puskesmas tapi Rusdi menggelengkan kepala sambil menarik tangan sahabatnya itu dan berkata.

“Firdaus sahabatku, terima kasih selama ini telah membacakan pesan-pesan dan surat adikku, terima kasih atas semuanya”

“Firdaus, aku merasa waktuku tak banyak lagi, Ayah dan Ibuku sudah melambai dan memanggilku, jika nanti aku pergi, tolong jangan kabarkan kepergianku ini pada adikku, biarkan ia wisuda tanpa rasa was-was,”

“Selamat tinggal sahabatku.” kata-kata ini di ucapkan Rusdi dengan napas yang tersesak-sesak.

Setelah itu, seketika dada Rusdi bergelombang, lidahnya kelu menyentuh langit-langit mulutnya, napasnya mulai menderu dan akhirnya terlihat tarikan napas yang begitu panjang serta sontak tubuhnya melemas pada regangan nyawa terakhirnya.

Firdaus terdiam seribu bahasa, matanya mengeluarkan air yang tak bisa ia tahan dan suaranya terdengar terisak-isak karena ia paham bahwa Rusdi sudah tak ada lagi di dunia ini.

“Ayah! Ayah! abang Ayah, abang nakal, abang merampas mainanku,” ucap Ridho sambil merengek-rengek dengan tangisnya. Bocah itu menarik tangan Rahman

Rahman langsung terlepas dari lamunannya. Rupanya sejak tadi Rahman tenggelam mengenang peristiwa masa lalunya bersama Rusdi sang abang tercinta.

Rahman yang masih pilu dengan tangisnya, maka dengan segera menyeka air mata yang dari tadi telah bercucuran. Rahman mengingat masa lalu yang pedih itu sambil melihat foto dirinya bersama Rusdi.

“Ayo Ayah, lihat! abang nakal” ujar Ridho lagi. Anak kecil itu merayu ayahnya serta mengadukan sang abang yang mengganggunya itu pada Rahman, Ayahnya

“Ya, ya adek,” ucap Rahman menenangkan anak bungsunya itu. Rahman keluar dari sebuah kamar yang mewah. Rumah yang sangat besar dan megah ini milik Rahman. Rahman sekarang adalah seorang direktur sebuah perusahaan besar di Jakarta.

“Mereka bertengkar yah,” ucap Lina, istri Rahman menerangkan peristiwa yang terjadi pada anak-anaknya.

“Sudah satu jam kau di dalam kamar yah! aku kira ayah sedang tidur.” Lina melanjutkan ucapannya pada Rahman, suaminya.

“Tidak, Lin! aku hanya mengenang masa laluku bersama Bang Rusdi, aku ingat semua pengorbanannya hingga aku bisa jadi seperti ini sekarang”

“Walaupun Bang Rusdi sudah pergi sebelas tahun yang lalu, aku tak akan pernah lupa jasanya, aku pikir tahun ini kita pulang ya Lin! aku ingin ziarah ke makam Ayah, Ibu dan Bang Rusdi, aku rindu mereka.” Rahman menyampaikan niatnya pada Lina.

Sedangkan Lina hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala sebagai tanda ia setuju dengan kemauan suaminya.

Sementara Ridho Si Bungsu tetap tersedu-sedu. Lalu Rahman memanggil putra sulungnya yang bernama Zainal.

Rahman berkata kepada kedua putranya.

“Zainal, Ridho, kalian ini kakak beradik. Kalian harus saling menyayangi. Zainal, sebagai anak tertua kau harus mampu menjaga Ridho adikmu, lindungi ia dengan segenap jiwamu, jangan kau menggangu adikmu lagi ya nak”

“Sekarang kalian bersalaman, saling meminta maaf dan jangan berantem lagi, besok kita akan pergi ke kampung ayah” pungkas Rahman mengakhiri ucapannya.

Keduanya pun saling bersalaman dan saling memaafkan serta kemudian Rahman memeluk erat kedua putranya itu.

SINKAP.info | oleh: Zaidan Akbar
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here