Artificial Intelligence (AI) dan Masa Depan Generasi Muda Indonesia

KOLOM, Opini241 Dilihat

Oleh: Assoc. Prof. Dr. Chandra Lukita, S,E.,M.M. (Rektor Universitas Catur Insan Cendekia Cirebon Jawa Barat)

SINKAP. info Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan bentuk kecerdasan yang dimiliki manusia yang dibuat dan diprogram agar dapat berpikir seperti manusia. Dengan kata lain, AI adalah sistem dari komputer yang dapat menjalankan perintah seperti yang dilakukan oleh manusia. Gambaran penting dalam teknologi AI adalah learning, reasoning dan self correction. Seperti manusia, AI juga perlu belajar dalam menambah pengetahuannya. Proses belajar dari AI tidak hanya berdasarkan perintah dari manusia, akan tetapi AI dapat belajar dengan sendirinya sesuai dengan pengalaman. Kelebihan dari AI adalah ia mampu melakukan self correction atau mengoreksi diri sendiri.

Pelaku-pelaku perdagangan elektronik mengambil manfaat besar dari pemanfaatan teknologi AI dalam sektor bisnis. AI memudahkan kita mendapatkan tingkat personalisasi yang lebih baik selama berbelanja secara online. AI dapat menyediakan situs web yang sudah dipersonalisasi dan dilengkapi dengan rekomendasi produk berdasarkan hasil pencarian kita, sejalan dengan layanan pelanggan instan yang menggunakan chatbots. Dengan demikian, AI meningkatkan kemungkinan bagi kita untuk membeli barang dan jasa. Beberapa perusahaan pengecer besar seperti Target dan Amazon bahkan merencanakan untuk bertindak lebih jauh. Para teknisi komputer mereka mencoba menebak kebutuhan pelanggan. Amazon, contohnya, berharap dapat mengirimkan barang-barang sebelum pelanggan membutuhkannya.

Artificial Intelligence (Ai)
Meskipun teknologi macam itu belum ada sekarang, para pengecer menggunakan gagasan serupa dengan menggunakan kupon; mereka akan memberikan kupon yang diperhitungkan melalui algoritma analitis yang dapat diprediksi sebelumnya. Layanan ini juga dapat digunakan untuk mempromosikan diskon dan penawaran terbaik untuk target pelanggan atau gudang persediaan yang dekat tempat tinggal mereka dengan jenis produk yang pelanggan cenderung membelinya.

Artificial Intelligence (AI) dan Masa Depan Generasi Muda Indonesia

Selain itu, AI dapat juga di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti, E-Tilang. E-tilang ini menggunakan salah satu teknologi AI yaitu face recognition. Cara kerja E-tilang adalah dengan menggunakan CCTV untuk mendapatkan gambar lalu AI langsung mengecheck informasi berdasarkan nomor polisi dan pelanggaran akan disimpan ke database. Face Recognition pada Kunci Smartphone, sebuah teknologi yang digunakan untuk mengidentifikasi wajah seseorang. Teknologi ini menggunakan bantuan AI untuk mengenali fitur wajah seseorang lalu secara otomatis dapat membuka kunci smartphone orang tersebut. Contoh lain yakni warung kopi modern, teknologi AI dipakai untuk berbagai kepentingan bisnis tersebut sampai dengan proses produksi. Saat ini ada robot kopi untuk membuat kopi, melayani customer, melakukan analisa habit customer.

Jadi apakah sebenarnya AI? AI pertama kali diciptakan pada tahun 1965, AI terus mengalami perubahan dan kian mendunia. AI adalah suatu kemampuan mesin komputer untuk mengerjakan tugas yang biasa dilakukan manusia dengan menggunakan kecerdasannya. Definisi AI pertama kali dikemukakan oleh para pakar pada tahun 1978 bahwa AI adalah a system that can think humanly, yaitu AI dianggap sebagai system yang dapat berfikir sebagaimana manusia. Namun di tahun 1990an definisi tersebut dirasa kurang relevan, karena AI dianggap tidak hanya bisa berfikir tapi AI seharusnya bisa melakukan sesuatu, dan akhirnya diperbarui menjadi a system that can act humanly, misalnya manusia bisa melihat, bisa membedakan objek, mendengar, menarik kesimpulan, bisa berfikir dst. Selanjutnya, di tahun 1992 definisi tersebut diperbarui Kembali menjadi a system that can think rationally. Pembaharuan tersebut dimaksudkan agar jika kita definisikan AI sebagai manusia dirasa kurang tepat karena AI tidak punya rasa dan hati. Maka, di tahun 1992 AI didefinisikan menjadi thinking rationally, berfikir rasional, sistematis, logis dan benar karena semua by programming. Kemudian, di tahun 1998 definisi AI kembali diperbarui menjadi a system that can act rationally yang artinya menjadi lebih relevan yaitu teknologi yang dapat bertindak rasional, systematis, logis dan benar karena semua by programming.

Algoritma machine learning yang saat ini merupakan teknologi utama pada AI sangat bergantung pada ketersediaan data. Jika data yang digunakan untuk membangun model AI merupakan data yang tidak dapat mewakili semua kasus yang ada. Misalnya dalam manufaktur, AI ini dapat membantu perusahaan manufaktur dalam memprediksi masalah-masalah peralatan atau mesinnya sebelum benar-benar rusak. AI di bidang manufaktur juga membantu produsen untuk memberikan produk yang sempurna ke pasaran dengan tepat waktu dan memberikan hasil analisa produk mana yang paling diminati pasar dan memberikan perintah ke mesin sesuai dengan prioritas permintaan pasar. Selain itu, dalam bidang kesehatan kontribusi raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, Apple, dan IBM di sektor perawatan kesehatan sangat penting bagi industri ini. Microsoft menciptakan AI for Health, memberdayakan peneliti dan organisasi dengan AI untuk memajukan kesehatan orang dan komunitas di seluruh dunia.

Plant Automation Technology menyebutkan bahwa pada tahun 2035, teknologi AI akan segera meningkat produksinya sebesar 40% atau lebih. Saat ini perkembangan AI semakin pesat, beberapa platform popular yang sedang digunakan antara lain Chatgpt OpenAI, Dall-E 2, Copy.AI, Murf.AI, Wave, dan lain-lain. Hal tersebut menggambarkan bahwa cepatnya perkembangan teknologi AI dari waktu ke waktu.

Lalu, benarkah AI adalah ancaman? Sejak pertama kali diciptakan pada tahun 1956, AI terus mengalami perubahan dan kian mendunia. Berdasarkan penelitian pada laman Science Alert, dapat diketahui bahwa AI bukanlah sebuah ancaman. Maka dari itu, stigma yang ada tidak sepenuhnya benar. Hal ini juga dikarenakan sistem AI tidak dapat mengontrol dirinya sendiri dan tidak mengambil alih kendali melainkan masih diatur oleh manusia. Fenomena ini sama halnya dengan revolusi industri 3.0 di akhir abad ke – 20, ketika komputer untuk pertama kalinya hadir nyatanya tidak benar – benar menghilangkan pekerjaan manusia namun justru memberikan kemudahan karena ‘mengurangi’ kegiatan yang dilakukan secara manual dan mampu menciptakan peluang kerja baru.

Adapun demikian, AI tetap memiliki dampak buruk. Salah satu dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh AI yaitu penggunaan teknologi deteksi wajah atau pengenalan suara, AI dapat menimbulkan kesalahan identifikasi jika model data yang digunakan tidak mencakup data dari kelompok minoritas. Hal ini dapat menyebabkan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tertentu, misalnya diskriminasi terhadap orang berkulit hitam atau perempuan. Selain itu, jika algoritma AI digunakan dalam proses perekrutan karyawan, namun data yang digunakan hanya mencakup data dari kelompok mayoritas, potensi untuk diskriminasi terhadap kelompok minoritas sangat mungkin terjadi. Hal ini karena algoritma AI hanya didasarkan pada data yang tersedia serta tidak mampu memahami konteks sosial yang lebih luas. Teknologi AI dapat mengganggu privasi seseorang karena teknologi ini mampu mengumpulkan, menganalisis, serta memproses data secara masif dan cepat. Dalam hal ini, penggunaan teknologi AI dapat mengumpulkan data pribadi seperti nama, alamat, nomor telepon, dan informasi keuangan dari pengguna. Teknologi AI juga dapat memperoleh data sensitif seperti riwayat medis, kebiasaan pembelian, preferensi politik, serta informasi pribadi lainnya yang dapat digunakan untuk membuat profil pengguna.

Oleh karena itu, etika terkait pengembangan dan penerapan teknologi AI sangat dibutuhkan. Pengembangan dan penerapan teknologi AI yang tidak diatur dengan etika dapat mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. Image generation dan speech synthesis merupakan salah satu contoh teknologi AI yang berpotensi merugikan masyarakat dimana sebuah video dapat dibuat dengan mudah menggunakan teknologi AI sehingga menghasilkan sebuah rekaman video yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Teknologi yang disebut dengan deep fake ini dapat digunakan untuk membuat sebuah film tontonan dengan biaya yang lebih rendah dibanding produksi film seperti biasanya, dan dapat juga digunakan sebagai bahan informasi hoaks yang bertujuan untuk menghasut masyarakat. Selain itu, Munculnya AI bisa menjadi ancaman tersendiri bagi manusia. Untuk itu, perlu adanya regulasi dan kontrol dengan memperhatikan etika dan keamanan data untuk menjaga agar teknologi dalam penggunaan AI itu sendiri. Pengembang dan pengguna teknologi AI juga perlu mengimplementasikan kebijakan dan prosedur yang ketat untuk melindungi privasi pengguna. Misalnya, pengguna teknologi AI harus memberikan izin kepada pengguna untuk mengumpulkan, mengolah, dan menggunakan data pribadi. Selain itu, pengguna teknologi AI juga harus memastikan keamanan data pengguna dengan menerapkan protokol keamanan yang ketat seperti enkripsi data dan akses terbatas ke data sensitif. Dan yang terpenting ialah kita harus memahami bagaimana cara kerja, manfaat, dan resiko menggunakan AI dengan benar dan bertanggungjawab.

Prof Dr Eko Indrajit mengatakan bahwa teknologi tidak akan bisa menggantikan peran guru/dosen, tetapi guru/dosen yang tidak menggunakan teknologi pasti akan tergantikan. Hal tersebut dikarenakan guru/dosen memiliki banyak peran yakni menjadi motivator dan inspirator dalam pembelajaran baik terstruktur dalam jaringan maupun luar jaringan. Guru/dosen harus mampu beradaptasi dalam revolusi teknologi dengan meningkatkan inovatif dan kreatif dalam membuat desain pembelajaran yang lebih efektif.

Ke depan, generasi muda bangsa ini tak boleh menjadi sekadar objek dari perkembangan inovasi AI, tapi harus sebagai pelaku utama. Oleh karena itu, generasi muda di Tanah Air harus senantiasa mampu menyelesaikan tantangan terlebih terkait dengan inovasi AI. Berbagai kompetisi terkait AI innovation challenge harus digencarkan dengan tujuan untuk memfasilitasi anak-anak muda dalam mengembangkan solusi inovatif dan kreatif menggunakan teknologi AI yang bisa diaplikasikan di berbagai sektor. Selain itu, tantangan-tantangan seperti ini juga diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara inovator, pemerintah, dan pelaku industri serta ekosistem terkait untuk menciptakan solusi yang lebih baik dan berdampak luas. Generasi muda di Indonesia harus senantiasa memiliki inspirasi dan semangat untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam memajukan teknologi di Indonesia