HANOI, SINKAP.info – Vietnam terus mendorong pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan produktivitas dan inovasi, sejalan dengan ambisi menjadi negara maju berpendapatan tinggi pada 2045.
Studi 2026 yang dipesan Amazon Web Services (AWS) menunjukkan, sebanyak 26 persen perusahaan Vietnam telah mengadopsi AI, meningkat dari 18 persen pada tahun sebelumnya. Namun, 61 persen perusahaan pengguna AI masih berada pada tahap eksperimen.
Pemerintah Vietnam juga menyetujui program pengembangan sumber daya manusia AI pada Agustus 2026, dengan target membekali sekitar 10 juta pekerja dengan keterampilan dasar AI pada 2030.
Dr. Tan Hong Ming, Asisten Dekan bidang Operasi Digital NUS Business School, menilai penguasaan teknologi saja tidak cukup. Perusahaan perlu menyesuaikan proses kerja dan kemampuan manajemen agar penggunaan AI benar-benar meningkatkan produktivitas.
Menurutnya, organisasi juga perlu memastikan pemanfaatan AI tidak menghambat proses pembelajaran, pengembangan keahlian, dan kemampuan karyawan mengambil keputusan secara mandiri.
Untuk mendukung hal tersebut, NUS Business School mengembangkan simulasi bisnis berbasis AI bagi mahasiswa MBA dan Executive MBA. Program ini memungkinkan mahasiswa berlatih mewawancarai eksekutif virtual sebelum menyusun rekomendasi bisnis.
Dekan NUS Business School, Profesor Teo Chung Piaw, mengatakan pendidikan bisnis perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan AI, termasuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan penilaian mandiri.
Vietnam berharap pengembangan keterampilan, pendidikan, dan pelatihan profesional dapat mengubah keunggulan demografi menjadi tenaga kerja yang mampu beradaptasi serta menciptakan nilai tambah di tengah perkembangan teknologi AI.







