Pabrik Baja China Gunakan AI, NISCO Pangkas Biaya Tahunan hingga US$15 Juta

GLOBAL, TEKNOLOGI44 Dilihat

NANJING, SINKAP.info – Perusahaan baja asal China, Nanjing Iron & Steel Co., Ltd. (NISCO), menerapkan model kecerdasan buatan (AI) berbasis swarm intelligence atau kecerdasan kolektif untuk mengoptimalkan proses produksi dan operasional pabrik.

Teknologi yang dikembangkan bersama Huawei dan mitra ekosistem tersebut dikenal sebagai YuanYe Steel Large Model (YuanYe). Menurut perusahaan, YuanYe menjadi model baja berbasis kecerdasan kolektif pertama di dunia yang diterapkan secara komersial dalam skala besar di berbagai proses bisnis industri baja.

Penerapan teknologi ini ditujukan untuk mengubah operasional perusahaan yang sebelumnya banyak mengandalkan pengalaman tenaga ahli menjadi sistem berbasis data, analisis, dan kolaborasi kecerdasan buatan.

NISCO menyatakan telah menerapkan lebih dari 300 model AI di berbagai fasilitas produksinya. Perusahaan juga melaporkan penghematan biaya tahunan lebih dari 100 juta yuan China atau sekitar US$15 juta, serta pemangkasan waktu penelitian dan pengembangan produk baru hingga 50 persen.

Integrasikan AI ke Berbagai Tahap Produksi

Dalam transformasi digitalnya, NISCO memanfaatkan sejumlah teknologi Huawei, termasuk Ascend, Kunpeng, Huawei Cloud Stack, dan model Pangu. Teknologi tersebut diintegrasikan ke berbagai tahapan produksi, mulai dari pembuatan besi, pembuatan baja, proses pengerolan, hingga pemeriksaan kualitas.

Berbeda dengan model AI serbaguna yang menggunakan satu model utama, YuanYe menggabungkan sejumlah model AI dengan model mekanisme metalurgi yang dirancang berdasarkan karakteristik industri baja.

Arsitektur tersebut memadukan kemampuan komputasi probabilistik untuk menganalisis kemungkinan dengan pendekatan ilmiah yang mendukung pengambilan keputusan secara presisi.

Sistem ini menggunakan data dari jutaan titik operasional teknologi atau operational technology (OT) yang mencakup 26 bidang bisnis. Data tersebut diolah untuk mendukung pemetaan digital secara real-time melalui pusat operasional cerdas NISCO.

Perusahaan menyebut seluruh peralatan utama di fasilitasnya telah terhubung dan dikendalikan secara digital. Sistem tersebut juga mendukung pemantauan proses produksi, evaluasi operasional, serta pengambilan keputusan berbasis data.

Hingga Oktober 2026, NISCO telah meluncurkan 25 agen bisnis berbasis AI yang digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pemeriksaan kualitas visual, optimalisasi proses produksi, penjadwalan, dan pengelolaan operasional.

AI Tingkatkan Akurasi dan Efisiensi Produksi

NISCO melaporkan sejumlah hasil penerapan YuanYe dalam empat bidang utama, yakni pembuatan besi, pengerolan baja, pemeriksaan kualitas, serta pengendalian energi dan lingkungan.

MENARIK DIBACA:  Dulu Buah Tradisional, Kini Goji Berry Ningxia Jadi Tren Superfood Global

Pada tahap pembuatan besi, AI digunakan untuk menganalisis data sensor tanur tinggi dan mekanisme metalurgi guna menyimulasikan kondisi proses produksi secara dinamis.

Dengan dukungan model prediksi suhu dan diagnosis kondisi tanur, operator diklaim dapat memperkirakan perubahan suhu serta mendeteksi potensi masalah hingga dua jam sebelumnya dengan tingkat akurasi lebih dari 90 persen.

Perusahaan menyatakan penerapan tersebut meningkatkan hasil produksi besi cair dengan kualitas utama lebih dari 10 persen sekaligus membantu menekan konsumsi energi per unit produksi.

Pada tahap pengerolan, model prediksi gaya pengerolan YuanYe mampu memberikan respons dalam hitungan milidetik. Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan ketepatan dimensi dan konsistensi kualitas produk baja.

Menurut data perusahaan, toleransi ketebalan baja dapat dijaga pada kisaran ±0,2 milimeter, sedangkan deviasi ketebalan dilaporkan mencapai 1,9 persen. Tingkat keberhasilan prediksi gaya pengerolan juga meningkat dari 88 persen menjadi 98 persen.

Penerapan teknologi tersebut mendukung produksi pelat baja yang mencapai lebih dari 2,5 juta ton per tahun dan meningkatkan tingkat hasil produksi keseluruhan sebesar 0,5 persen.

Produk baja NISCO digunakan untuk beragam kebutuhan, mulai dari pembangunan stadion berskala besar dan jaringan pipa minyak hingga kapal pesiar berbobot 10.000 ton serta tangki penyimpanan gas alam cair atau LNG.

Pemeriksaan Kualitas Lebih Cepat dengan Robot dan AI

Dalam pemeriksaan kualitas, NISCO menggabungkan robot dan model AI melalui sistem inspeksi metalografi otomatis. Sistem ini mencakup tahapan penggerindaan dan pemolesan sampel, pengambilan gambar, hingga penilaian kualitas secara otomatis.

Perusahaan melaporkan tingkat akurasi inspeksi lebih dari 95 persen. Waktu pemeriksaan setiap sampel juga berkurang dari sekitar 10 menit menjadi 3–5 menit.

Dengan perubahan tersebut, NISCO menyatakan efisiensi keseluruhan proses inspeksi meningkat hingga 80 persen. Otomatisasi ini memungkinkan tenaga kerja lebih berfokus pada analisis ketidaksesuaian dan pengambilan keputusan yang membutuhkan keahlian manusia.

Selain produksi dan pengawasan mutu, AI juga digunakan untuk mengendalikan penggunaan energi serta emisi gas buang.

NISCO mengembangkan agen cerdas S-Link untuk pengendalian gas dan sulfur dalam gas buang. Sistem tersebut mengintegrasikan 602 parameter proses, analisis gambar, dan basis pengetahuan untuk mendukung prediksi risiko, optimalisasi proses, serta pemenuhan ketentuan emisi.

MENARIK DIBACA:  Hong Kong Melesat Jadi Nomor Dua Dunia, Kalahkan Banyak Ekonomi Besar

Menurut perusahaan, sistem mampu memberikan peringatan risiko sulfur hingga satu jam sebelumnya dengan akurasi prediksi lebih dari 95 persen. Algoritma optimalisasi kemudian menghitung skema pencampuran gas yang dinilai paling efisien.

NISCO juga menyebut penggunaan gas alam untuk proses pembakaran bersama berkurang hampir 50 persen. Sementara itu, waktu henti operasional akibat pelampauan batas emisi turun lebih dari 25 persen, dengan manfaat ekonomi tahunan yang dilaporkan mencapai lebih dari 600.000 yuan China atau sekitar US$90.000.

AI Didorong untuk Mendukung Tenaga Kerja

General Manager Departemen Pengembangan Terpadu Digital dan Cerdas sekaligus Direktur Institut Riset AI NISCO, Li Jinyan, mengatakan transformasi digital seharusnya meningkatkan kemampuan manusia, bukan sekadar menggantikan tenaga kerja.

“Tujuan transformasi digital dan cerdas bukanlah menggantikan manusia, melainkan membuka potensi mereka. Kami ingin membebaskan karyawan dari pekerjaan yang terus-menerus berkutat dengan data sehingga mereka dapat mencurahkan kreativitas untuk pekerjaan yang memiliki nilai lebih tinggi,” kata Li.

Selain menerapkan lebih dari 300 model AI, NISCO menyebut karyawannya telah mengembangkan secara mandiri lebih dari 1.000 agen berbasis low-code dan aplikasi ringan untuk mendukung pekerjaan di lapangan.

Sementara itu, Cheng Yongfu, pakar solusi industri senior pada unit bisnis baja dan logam nonferrous Huawei, menilai manfaat AI industri dapat lebih optimal ketika teknologi tersebut terintegrasi secara menyeluruh dengan proses produksi, operasional, dan manajemen, bukan hanya diterapkan pada satu bagian pekerjaan.

Bidik Pabrik Baja Berbasis AI

Ke depan, NISCO berencana bekerja sama dengan Huawei dan mitra lainnya untuk menjajaki pembangunan pusat data khusus bagi pabrik baja cerdas. Rencana tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan komputasi seiring meluasnya penerapan model AI.

Perusahaan juga mengembangkan konsep arsitektur tiga tingkat berbasis AI, meliputi sistem operasi, pabrik, dan perusahaan yang dirancang dengan pendekatan AI sebagai fondasi utama.

Melalui pengembangan YuanYe dan integrasi teknologi digital, NISCO menargetkan peningkatan kualitas produksi baja sekaligus membangun model transformasi industri yang dapat diterapkan dan dikembangkan di fasilitas manufaktur lainnya.

Perusahaan berharap pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu acuan bagi transformasi digital dan kecerdasan buatan di industri baja serta sektor manufaktur global.