Komdigi Ungkap Ancaman Digital Anak, Orang Tua Diminta Lebih Waspada

Medan99 Dilihat

MEDAN, SINKAP.info – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus memperkuat upaya peningkatan literasi digital masyarakat melalui program Fasilitasi Pandu Literasi Digital Masyarakat Umum dan Anak bertema Mengenal PP TUNAS untuk Orang Tua yang digelar secara daring, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Literasi Digital Badan Pengembangan SDM Komdigi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perlindungan anak di ruang digital sekaligus mendukung implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tunas Prestasi dan Potensi (PP TUNAS).

Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital, Rizki Amelia, menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan produktif bagi anak-anak Indonesia.

Menurutnya, penguatan literasi digital menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan anak di era digital yang terus berkembang.

Kegiatan yang dipandu moderator Rangga Adi Negara tersebut menghadirkan akademisi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Bakhrul Khair Amal, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya bertajuk Membangun Sekolah Ramah Anak: Membangun Kolaborasi Nyata Antara Masyarakat Umum dan Dunia Pendidikan demi Masa Depan Digital Anak yang Aman, Kreatif, dan Menyenangkan, Bakhrul menyoroti tantangan pendidikan di era digital yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi, tetapi juga pembentukan karakter dan budaya digital yang sehat.

MENARIK DIBACA:  Peringati Hari Bhayangkara ke 78, Kapolda Sumut Bangkitkan Ekonomi Demi Kemakmuran

Ia menilai tingginya penggunaan internet di kalangan anak-anak Indonesia harus diimbangi dengan penguatan literasi digital, pengawasan orang tua, serta kebijakan sekolah yang berorientasi pada perlindungan anak.

Menurut Bakhrul, tanpa pendampingan yang memadai, anak-anak berisiko menghadapi berbagai ancaman di dunia maya, mulai dari perundungan siber, eksploitasi digital, hingga penyebaran informasi yang menyesatkan.

“Anak-anak tidak hanya membutuhkan keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga karakter yang kuat untuk memahami nilai-nilai kemanusiaan di balik teknologi tersebut. Pendidikan harus mampu membentuk generasi yang cerdas secara digital sekaligus bijak dalam memanfaatkannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep Sekolah Ramah Anak harus diwujudkan melalui lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, bebas dari kekerasan, serta mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran.

Selain itu, sekolah juga perlu memperkuat penerapan etika digital, perlindungan data pribadi siswa, serta mekanisme pencegahan perundungan baik secara langsung maupun melalui media digital.

MENARIK DIBACA:  Polda Sumut Amankan Diduga 2 Pelaku Pembakaran Rumah Wartawan

Bakhrul turut mengapresiasi kehadiran PP TUNAS yang dinilai menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang unggul, berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan target Indonesia Layak Anak 2030 yang menempatkan anak sebagai subjek utama dalam pembangunan nasional.

Di akhir pemaparannya, Bakhrul mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan yang ramah anak serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Kita membutuhkan kolaborasi nyata agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang aman, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan digital. Literasi digital bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, Komdigi berharap semakin banyak orang tua, pendidik, dan masyarakat memahami pentingnya perlindungan anak di ruang digital serta berperan aktif dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang aman, nyaman, dan berkualitas bagi generasi penerus bangsa.