Beranda KOLOM Sastra Sejuta Rindu Buat Ayah

Sejuta Rindu Buat Ayah

219
Cerpen Naratif ditulis oleh Zaidan Akbar

SASTRA, Sinkap.info (2001), “Ibu! kapan ayah pulang?” tanya Riswan pada ibunya. Pertanyaan yang sama yang selalu Riswan lontarkan sebagai bukti bahwa betapa rindunya kini Riswan pada sang ayah.

Maysaroh hanya terdiam seraya menatap putranya yang sedang bertanya itu. Sesekali napasnya terhela panjang. Ia mengusap rambut anaknya. Sementara Bocah berusia empat belas tahun itu sepertinya sedang menanti jawaban yang mungkin keluar dari mulut ibunya.

Tampaknya Maysaroh sudah kadung tertutup kabut kesedihan seusai ia mendengar pertanyaan sang putra. Ini terbukti dari sepasang mata yang berkedip-kedip seperti orang yang kelilipan hingga air mata itu tergenang jua di kelopaknya. Hati Maysaroh teriris luka saat mengenang sang suami yang kini sedang mendekam di balik jeruji besi Malaysia sejak enam bulan yang lalu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Saidil adalah nama laki-laki yang selama ini menjadi tempat bagi Maysaroh mengantungkan hidup. Sosok Saidil yang periang membuat anak semata wayangnya yakni Riswan begitu dekat dengan ayahnya. Saidil memang seorang suami yang baik dan juga seorang ayah yang bertanggungjawab.

Saidil bekerja sebagai ABK pada sebuah Kapal kayu berukuran sedang yang digunakan untuk mengangkut ikan- ikan yang diekspor ke negeri Jiran Malaysia.

Kapal pengangkut itu biasanya membawa ikan hasil tangkapan nelayan daerah perkampungan pesisir di muara Selat Malaka yaitu suatu kawasan perairan dimana Saidil tinggal. Pekerjaan ini resmi dengan paspor dan visa yang difasilitasi oleh perusahaan tempat Saidil bekerja.

Dalam sebuah kapal terdapat empat orang, satu orang nakhoda dan tiga orang lainnya adalah ABK atau anak buah kapal. Bagi Saidil pekerjaan ini sudah bertahun-tahun ia lakoni bahkan jauh sebelum menikah dengan Maysaroh. Sebagai ABK penghasilan yang didapat hanya sekedar cukup untuk makan, namun dari situlah Saidil menghidupi anak dan istrinya.

Dua kali dalam seminggu. Itulah jadwal Saidil menjadi ABK dan berangkat mengangkut ikan ekspor itu dari kampungnya ke Port Klang Selangor Malaysia.

Butuh waktu sebelas jam lamanya untuk mencapai pelabuhan negeri Jiran ini dengan melewati perairan Selat Malaka.

Hidup di perbatasan negara membuat Saidil melakukan pekerjaan ini. Kapal kayu yang begitu akrab dengannya itu kerap membawa Saidil pulang dan pergi melintasi negeri tetangga hanya dengan waktu sehari semalam.

Sesekali Saidil dan kawan-kawan naik kepelabuhan sekedar mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Inilah sekedar gambaran dari pekerjaan yang menjadi profesi Saidil.

Pada suatu ketika tepatnya enam bulan yang lalu yakni dalam sebuah pemeriksaan resmi yang dilakukan oleh marine polis Diraja Malaysia distrik Selangor itu telah menemukan bahwa kapal pengangkut tempat Saidil bekerja membawa beberapa paket Narkoba jenis pil ekstasi yang di sembunyikan dalam peti di bagian bawahnya yang tertimbun ikan-ikan segar.

Tentu saja Saidil merasa terkejut dengan hal ini sebab sebelumnya Saidil tak tahu menahu tentang itu semua. Yang Saidil tahu mereka hanya membawa ikan seperti biasa, namun kali ini Saidil beserta rekan lainya ditangkap dan ditahan oleh polis Diraja Malaysia, maka sejak itulah Saidil tak pernah lagi kembali.

Meskipun hasil pemeriksaan polisi bahwa kejadian itu sepenuhnya adalah ulah dari Nakhoda sendiri yang ingin mendapatkan uang lebih dari pekerjaan ini.

Namun apapun itu, akibatnya di ujung perbatasan ada seorang anak yang selalu menanti ayahnya pulang dan juga ada seorang istri yang kerap berdoa selepas sholat. Doa itu terlantun di atas sajadahnya, doa yang penuh harap agar sang suami baik-baik saja meskipun tak ada yang tahu kapan Saidil akan kembali dan bagaimana kondisi Saidil saat ini, masih hidupkah atau sudah mati.

Peristiwa ini melibatkan antar negara sehingga semuanya menjadi rumit. Maysaroh juga tak pernah berkomunikasi dengan sang suami semenjak itu.

Sedangkan kehidupan dan ekonomi keluarga Saidil setelah itu semakin buruk bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Maysaroh terpaksa harus gali lobang tutup lobang walaupun ia juga bekerja sebagai buruh cuci dan beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya yang dibutuhkan para tetangga.

Di sisi lain Toke perusahan tempat Saidil bekerja sudah tidak peduli lagi karena Saidil dan rekan-rekannya dianggap telah merusak nama baik perusahaan.

Sementara hari demi hari sudah dilalui namun Riswan semakin rindu pada ayahnya. Riswan termasuk jarang berpisah dengan sang ayah dalam jangka waktu yang lama.

Semenjak ayahnya di penjara, Riswan berubah menjadi anak yang pendiam, suka menyendiri dan kerap terlihat murung.

Riswan sering menatap fhoto ayahnya yang terpajang di dinding rumah. Air mata Riswan selalu jatuh berderai saat melihat fhoto itu dan benaknya juga selalu bertanya Kapan ayah pulang? sebuah pertanyaan yang jawabannya masih tersimpan di langit.

Belum lagi teman-teman sekolah Riswan yang sering mem-bully-nya. Ia selalu diejek dengan ledekan ‘anak kurir narkoba’. Gendang telinga Riswan rasanya mau pecah mendengar ejekan-ejekan itu namun ia mencoba bersabar seperti pesan ibunya.

Namun pernah suatu ketika Riswan pulang sekolah dengan keadaan bibir yang pecah, bajunya kumal dan pakaiannya acak-acakan. Melihat keadaan Riswan begitu, sontak saja Maysaroh bertanya pada anaknya.

“Riswan! kau ini kenapa? apa yang terjadi padamu nak?” tanya ibunya dengan penasaran.

MENARIK DIBACA:  Di Pondok Cahaya Ilahi

Riswan hanya terdiam mendengar ibunya mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Apa kau berkelahi, Riswan? tolong jawab ibu dengan jujur, Apa kau berkelahi?” tanya ibunya

“Riswan! mengapa kau tak mendengarkan ibu? ibu bilang jangan pernah berkelahi di sekolah, kau mau sekolah atau mau jadi jagoan! ucap Maysaroh pada anaknya dengan nada marah.

“Tapi mereka mengejek ayah Bu!” kata Riswan.

“Aku tak mau ada orang yang mengejek ayahku, aku tak mau …!” lanjut Riswan lagi dengan tangisnya dan sambil berlari menuju kamar tidurnya serta menutup pintu dengan keras

“Riswan …! Riswan …! ” panggil Maysaroh namun Riswan tetap tak menyahut.

Pada malam harinya Maysaroh masuk ke dalam kamar Riswan dan ia dapati anak laki-lakinya itu sedang tertidur pulas sambil memeluk fhoto ayahnya yang berbingkai dan berukuran sepuluh inch itu.

Hati Maysaroh terasa perih melihat pemandangan itu. Maysaroh mengusap kepala anaknya dengan air mata yang masih berjatuhan di pipinya. Benak Maysaroh bergumam.

“Maafkan ibu nak! Ibu tak mampu menenangkan mu, Ibu tahu sedalam apa rindumu pada ayahmu karena sebenarnya ibu juga rindu padanya.”

“Bang Saidil kapan kau pulang, bang? aku dan anakmu sudah tak tahan lagi disiksa rasa rindu ini.”

Lalu Maysaroh meraih mukenanya. Ia sholat tahajud sebab hanya Tuhanlah tempat untuk mengadu segala keresahannya.

Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang, Saatnya bagi Maysaroh menunaikan kewajiban sholat sebagai bentuk ketaatannya pada sang khalik.

Pun begitu pula Riswan, bocah empat belas tahun itu bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat subuh seperti biasa. Riswan memang selalu sholat karena kedua orangtuanya telah mendidiknya sedemikan rupa sehingga Riswan menjadi anak yang rajin sholat.

Hari-hari yang dijalani Riswan penuh kepahitan dan diisi dengan cerita-cerita kelam. Riswan terkadang terasing dari teman-temannya. Bully terhadap dirinya tak berhenti sampai kini juga begitu dengan Maysaroh, ibu-ibu yang tak suka dengannya tetap mengejek dan meledek Maysaroh, namun Maysaroh tak pernah menghiraukan itu. Baginya hal yang biasa diterima olehnya.

Tapi tidak begitu untuk Riswan. Ia selalu bertengkar dan bahkan berkelahi dengan anak-anak yang suka mengejek keluarganya meskipun kadang ia merasa sangat kesepian. Banyak teman yang menjauhinya tidak seperti dulu saat keceriaan dirinya selalu tampak ketika bermain bersama teman-temannya. Bocah yang hobi bermain sepak bola ini selalu tak bisa menyalurkan bakatnya itu sebab tak ada yang ingin bermain sepak bola dengannya.

Hari berganti, bulan berubah dan tahun pun telah bertukar menjadi tahun 2002, namun rindu Riswan pada ayahnya semakin dalam. Tak terasa kini sudah setahun lebih ayah Riswan dalam penjara dan selama itu tak ada komunikasi yang pernah terjadi antara mereka.

Kesedihan kembali hadir pada diri Maysaroh dan Riswan sebab sebentar lagi bulan suci ramadhan akan datang menjelma. Ramadhan kali ini akan di lalui Riswan tanpa seorang ayah yang setiap tahun menjadi imam tarawih dalam keluarga mereka.

Bulan Ramadhan kali ini, Riswan selalu menghabiskan waktunya di musholla di ujung jalan di kampung itu. Riswan tadarrus sendirian hingga Nazir musholla memperhatikan tingkah laku anak yang satu ini.

Nazir Musholla memanggil Riswan dan menyuruhnya untuk gabung dengan anak lainnya namun Riswan tak mau dengan alasan teman-temannya kerap mengejeknya.

“Riswan! peliharalah rasa sabar itu di hatimu nak! sesungguhnya dengan begitu Allah akan semakin sayang padamu,” cetus Nazir Musholla itu menasehati Riswan.

“Apakah ayahku itu orang jahat, pak?” tanyanya dengan polos.

“Apa kata hatimu? Nazir musholla itu balik bertanya pada Riswan.

Riswan hanya terdiam saja mendengar pertanyaan sang Nazir.

“Nak Riswan! ada banyak hal yang belum bisa kau pahami, namun kau harus menerimanya dengan ikhlas karena itu sudah menjadi ketentuan yang Mahakuasa, suatu saat nanti kau pasti akan mengerti,” jelas sang Nazir.

“Sudahlah Riswan! sekarang pulanglah! sebentar lagi berbuka puasa, ibumu sudah pasti menunggumu di rumah,” lanjut Nazir itu lagi.

Maka Riswan pun pulang untuk berbuka puasa bersama ibunya, berbuka dengan seadanya.

Hari-hari Ramadhan kali ini membuat Riswan terus berharap agar ayahnya kembali. Sering Riswan membayangkan ayahnya pulang yang membuat ia dan ibunya bahagia seperti ramadhan tahun lalu hingga bayangan itu terbawa ke dalam mimpi Riswan.

Riswan yang dulu sering berlari menyambut ayahnya pulang, ayahnya yang kerap menghiburnya kala itu serta dengan sepeda yang ayahnya miliki Riswan selalu diajar keliling kampung menjelang berbuka puasa alangkah indahnya saat itu seperti dalam mimpi Riswan.

Tidur Riswan kadang gelisah, igaunya terdengar jelas memanggil ayahnya hingga dalam tidurnya itu mimpi Riswan bertemu ayahnya, ayahnya menggendong Riswan dan itu kerap terjadi. Mungkin hanya dalam mimpi lah riswan dapat meluapkan rasa rindunya pada sang ayah.

Melihat kerinduan Riswan ini yang semakin mendalam ini Maysaroh selalu dirundung sedih. Tangisnya selalu bercucuran apalagi hari demi hari dalam ramadhan ini menjadi ramadhan yang paling sepi yang pernah Maysaroh rasakan.

Hari tetap berjalan hingga kini sudah ramadhan ke-25, artinya sebentar lagi lebaran sedangkan Riswan sering sering termenung seorang diri. Lagi-lagi hati seorang ibu mana yang tidak sedih melihat anak semata wayangnya terus seperti ini dan hal itu pula lah yang kini sedang Maysaroh rasakan.

MENARIK DIBACA:  Azan yang Tergantikan

Sementara anak-anak seusia Riswan tampak riang gembira untuk menyambut lebaran yang sudah di ambang pintu. terapi tidak untuk Riswan yang tetap berwajah murung karena rindu pada sang ayah kian berkarat di batinnya.

Berbagai cara sudah Maysaroh coba untuk menghibur anaknya tapi apapun upaya itu nampaknya tetap tidak berhasil, Riswan hanya ingin ayahnya pulang segera.

Pada saat malam ke-27 ramadhan Riswan sedang mengalami demam tinggi. Tubuhnya panas bagaikan bara api. Saking panasnya tubuh Riswan itu Lidah Riswan pun terus saja ngawur bicara dan bertanya.

“Ibu! ayah dimana? apakah ayah sudah pulang? mengapa ayah tak datang menemuiku, ibu?”

kata-kata itu diucapkan Riswan berulang-ulang tak berhenti. Sedangkan Maysaroh terus menggenggam tangan anaknya itu.

Beberapa kali dokter Hanafi dari Puskesmas datang memeriksa kondisi Riswan. Dokter tersebut menerangkan diagnosanya bahwa apa yang dialami oleh Riswan itu adalah gelaja menengitis yaitu peradangan pada selaput otak, jadi harusnya secepatnya dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Maysaroh bingung sekali kemana ia akan mendapatkan pinjaman uang untuk biaya perobatan Riswan, namun ia mencoba mencari pinjaman ke beberapa orang yang Maysaroh kenal namun tetap tak membuahkan hasil.

Besok adalah hari lebaran, kumandang takbir terdengar bersahut-sahutan dari mesjid-mesjid yang ada di situ. Sementara Maysaroh tetap menjaga anaknya yang sedang sakit itu dengan penuh rasa was-was.

Pada waktu sebelum sholat subuh, Riswan memanggil ibunya dan Riswan membisikkan ke telinga ibunya.

“Ibu! aku sudah tak kuat lagi, aku mau tidur sekarang juga.”

Maysaroh terkejut mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh anaknya itu dan langsung menoleh anaknya hingga Maysaroh melihat satu hentakan napas panjang yang dihembuskan oleh Riswan sebagai ujung dari napasnya yang terakhir.

“Riswan …! Riswan, anak ibu! jangan pergi nak! jangan tinggalkan ibu sendirian, nak!” Airmata Maysaroh menderu dengan Isak tangisnya yang histeris.

Tangisan Maysaroh itu semakin nyata terdengar pada subuh lebaran ini. Tangisan Maysaroh yang keras itu terselip diantara gema suara takbir yang tak berhenti di subuh hari raya idul Fitri kali ini.

Di saat orang-orang dengan pakaian barunya tampak riang gembira di hari lebaran itu. Sementara Maysaroh hanya terpaku bagi patung yang menghadapi jasad Riswan yang semakin dingin dan kaku.

Setelah sholat ied selesai maka lakukan fardhu kifayah untuk Riswan yang telah pergi untuk selamanya dengan membawa rasa rindu yang begitu tebal buat ayahnya.

Saat prosesi pemakaman tiba-tiba terlihat seorang Laki-laki berlari dengan memanggil nama Riswan. Tangan kiri lelaki itu memengang sebuah baju Koko lengkap dengan peci seukuran Riswan. laki-laki itu tak lain adalah Saidil ayahnya Ridwan yang selama ini ia rindukan.

“Maafkan ayah Riswan! ayah baru bisa pulang sekarang, ayah bawakan Baju Koko dan peci untukmu, bukankah kau yang memesan ini sebelum ayah pergi,” ucap Saidil dengan Isak tangisnya tersedu-sedu.

Ternyata sebelum tertangkap Riswan sempat membelikan sesuatu untuk anaknya sebagai oleh-oleh yang ingin Saidil bawa pulang.

“Jangan pergi Riswan! Ayah rindu padamu, nak !” lanjut Saidil sambil menciumi anaknya itu berkali-kali sesaat sebelum di masukkan ke liang lahat.

Ternyata Saidil sudah bebas. Saidil diputuskan oleh Mahkamah distrik Selangor tidak bersalah walaupun untuk membuktikan itu membutuhkan waktu setahun lamanya, mungkin memang begitulah proses pengadilan di negara itu.

Sudah tiga hari Riswan dimakamkan rumah mereka kembali sepi. Saat Saidil memasuki kamar anaknya ia menemukan sebuah buku catatan milik Riswa. Dalam buku itu bertuliskan.

[“Ayah! di dunia ini aku tak ingin apa-apa lagi kecuali ayah pulang, Aku sangat rindu pada ayah, rindu sekali.

[“Ayah! jika ayah kembali, aku mohon jangan pergi lagi, kasihan ibu, Ayah! bila aku nanti tiada, jaga ibu ya ayah karena selama ayah tiada aku selalu menyusahkan ibu.

[“Ayah! ayah tahu tidak! bahwa setiap hari ibu berdoa untuk ayah, untuk keselamatan ayah dan untuk rizki-rizki ayah.

[“Aku ingin sekali bisa selalu berada dekat ayah selamanya agar ayah bisa menemaniku bermain, aku kesepian ayah! tak ada lagi teman-teman yang ingin bermain denganku, mereka hanya mengejek aku, meledek ibu dan juga menghina ayah.

[“Ayah! bila nanti ayah kembali aku akan katakan bahwa aku dan ibu sangat menyayangi ayah.

Hati Saidil terasa berat membaca tulisan tangan Riswan ini. Air matanya yang bening itu mulai tumpah sesaat setelah genangannya seperti berkaca-kaca pada kelopaknya.

Maysaroh juga menceritakan pada sang suami tentang apa yang telah terjadi pada Riswan semenjak Saidil di penjara.

Waktu terus saja cepat berlalu, namun kenangan Saidil pada almarhum putranya itu tak akan ia lupa sepanjang hidupnya.

Sedangkan kini Saidil tak ingin lagi kembali kepekerjaan lamanya itu. Sekarang Saidil beralih profesi sebagai penjual bakso keliling dan Saidil sering bersedekah bakso gratis bila melihat anak-anak seusia dengan Riswan dan inilah profesi Saidil kini untuk menghidupi keluarganya meski tak seberapa Saidul dan Maysaroh selalu bersyukur.

SINKAP.info | Laporan: Fs

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here