Beranda KOLOM Sastra Di Pondok Cahaya Ilahi

Di Pondok Cahaya Ilahi

213
Cerpen Naratif ditulis oleh: Zaidan Akbar

SASTRA, Sinkap.infoLangkah kecil para remaja di desa pesisir yang terpencil itu menghiasi hari di sore ini. Derap langkah mereka berpadu dengan senda gurau yang ada. Mereka saling melontarkan canda dengan penuh kegembiraan.

Para remaja itu berjalan beriring dengan pakaian muslim seadanya, yang laki-laki memakai baju koko dengan motif yang beragam dan yang perempuan mengenakan mukena, mereka ayu dan rupawan sambil memeluk Al-Qur’an.

Gerak kaki para remaja itu terlihat lincah. Sepasang sandal jepit di kaki mereka kadang terlepas saat mereka berlari.

Begitu kentaranya rasa suka cita yang tergambar dalam ayunan kaki yang seragam itu. Langkah-langkah mereka tampaknya menderu menuju sebuah gubuk tua yang setiap sore kerap mereka kunjungi.

Di Gubuk tua berdinding tepas itu selalu terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Suara para remaja di situ terus memanjat langit dan terlihat giat mengumandangkan kalam-kalam Tuhan yang Maha Agung.

Di gubuk itu pula setiap sorenya, para remaja Desa tadi memang belajar mengaji dan membaca Al-Qur’an. Para remaja itu dididik oleh seorang wanita paruh baya.
Entah siapa nama sebenarnya dari wanita itu, namun murid-muridnya sering memanggil ia dengan sebutan Nek Ifah.

Nek Ifah tinggal sendirian di gubuk itu karena memang ia adalah perempuan tua yang sebatang kara. Menurut cerita, dulu suami Nek Ifah bekerja sebagai petugas jaga malam atau orang sering menyebutnya dengan sebutan Hansip.

Hingga suatu saat sang suami ditemukan tewas berlumur darah dan diduga suami Nek Ifah mati karena dibantai oleh sekawanan perampok ketika sang suami sedang bertugas. Peristiwa itu terjadi sudah lama sekali.

Dahulu, Nek Ifah juga punya seorang putri yang cantik, Nek Ifah begitu menyayangi putrinya itu, namun begitulah terkadang nasib, sang putri juga meninggal karena sakit yang dideritanya ketika usia sang putri masih belia menjelang remaja.

Itulah sepenggal kisah kelam hidup Nek Ifah yang diketahui oleh orang-orang di kampung itu. Kini usia Nek Ifah sudah lima puluh enam tahun. Kesendiriannya memang kerap berbuah sunyi, tetapi sekarang hanya murid-murid mengajinya lah yang selalu menjadi penawar bagi kesepiannya itu.

Menjadi seorang guru ngaji memang kehendak Nek Ifah sendiri. Perempuan yang dulunya hidup dengan segudang prestasi dalam bidang baca Al-Qur’an ini ingin mengajarkan Apa yang ia tahu kepada Anak-anak di kampung itu.

Nek Ifah mendidik anak-anak dengan ikhlas, tanpa pamrih dan Nek Ifah tak pernah memungut bayaran atas apa yang sudah ia ajarkan.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nek Ifah menjual sayuran kangkung yang ia hantar ke pedagang di pasar dengan mengayuh sepeda ontel miliknya. Semua ini Nek Ifah lakoni pada setiap paginya.

Pada suatu ketika, Nek Ifah bercerita di hadapan murid-muridnya bahwa ia ingin sekali menginjakkan kakinya ke tanah suci Makkah. Seandainya tak mungkin ia menunaikan ibadah haji paling tidak Nek Ifah rindu untuk melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci.

Murid-murid Nek Ifah tertegun dengan besarnya cita-cita guru mengaji mereka itu, namun apa boleh buat kehidupan Nek Ifah sangat serba kekurangan. Nek Ifah selalu berpikir bahwa yang ada di benaknya itu bukanlah cita-cita namun hanya sekedar khayalan belaka. Nek Ifah mengumpamakan dirinya bagaikan pungguk yang merindukan bulan.

Sementara diantara sekian banyak murid Nek Ifah, terdapat tiga orang murid yang selalu perhatian pada Nek Ifah. Mereka adalah Rozi, Husni dan Mila. ketiganya adalah remaja tanggung yang kira-kira berumur enam belas tahunan.

“Husni! Kasihan Nek Ifah, lihatlah betapa rindunya Nek Ifah untuk pergi ke tanah suci.” Rozi mengungkapkan perasaannya.

“Ya! Kau benar, Zi!” ujar Husni yang sepemikiran dengan Rozi.

“Kita harus menolong Nek Ifah, setidaknya kita mesti bantu agar Nek Ifah dapat melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci,” ucap Husni lagi.

“Emangnya berapa biaya yang dibutuhkan untuk pergi umroh itu? ” tanya Mila.

“Aku tidak tahu Mil!, yang pasti biayanya memang tidak sedikit,” kata Rozi menegaskan.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Mila pula kepada keduanya.

Ketiganya terdiam bersama-sama seusai mendengar pertanyaan Mila itu. Sepertinya mereka berfikir untuk mencari cara membantu Nek Ifah namun para remaja itu tak juga menemukan solusinya sampai akhirnya mereka pulang tanpa adanya sebuah jalan keluar yang mereka dapatkan.

Keesokan harinya, mereka bertiga berjumpa kembali untuk membicarakan ini.

“Apa kalian sudah mendapatkan ide,” cetus Rozi

Lalu Husni dan Mila menggelengkan kepala mereka sebagai pertanda belum ada solusi yang mereka temukan hingga saat ini.

Suasana pun hening, namun tiba-tiba Rozi mengungkapkan sesuatu dan seraya berkata.

“Aku rasa kita perlu menabung.”

Mendengar ucapan Rozi, maka Husni dan Mila mengerutkan alis mereka sambil menatap tajam pada Rozi.

“Ya … kita sisihkan sisa uang jajan dan hasil kita bekerja untuk disimpan dan jika itu sudah cukup, baru Nek Ifah kita berangkatkan umroh,” papar Rozi menjelaskan.

Husni tersenyum menyeringai di sela ucapan Rozi itu.

“Rozi! Kau tahu kan siapa kita ini?, Kita bertiga ini adalah seorang yatim piatu, aku hanya menumpang tinggal bersama pamanku dan kau juga diasuh oleh kakakmu, sedangkan Mila tak punya ayah dan ibu lagi, ia hanya punya seorang ibu tiri, maksudku seberapa banyak uang yang bisa kita sisihkan dan sampai kapan itu bisa terkumpul?” Husni bertanya sambil menguraikan kekhawatirannya pada rencana Rozi itu.

“Setidaknya kita lakukan itu dulu sebisa kita dan sambil kita pikirkan juga jalan lain untuk mewujudkan impian Nek Ifah,” kata Rozi.

“Aku setuju, lagian tak ada salahnya kalau kita menabung,” sahut Mila pula.

“Baiklah! aku juga setuju,” sambut Husni

“Kalau begitu, mulai besok kita menabung dan ingat ini menjadi rahasia kita bertiga, dan juga sisihkan masing-masing uang kita, uang yang kita sisihkan itu selanjutnya kita tabung di kantor pos, kita bisa menabung di situ,” ujar Rozi memperjelas.

“Sekarang, ayo kita belajar mengaji” tambah Rozi lagi.

Kemudian mereka bertiga seperti biasa mendatangi gubuk Nek Milah untuk belajar mengaji di sana.

Gubuk reyot itu adalah saksi bisu bagaimana Nek Ifah mendidik murid-muridnya dengan baik. Setelah selesai belajar mengaji, Nek Ifah selalu menceritakan kisah-kisah mulia Nabi dan juga sering menanamkan akhlak dan budi pekerti yang terpuji kepada murid-muridnya.

Selama ini Rozi, Husni dan Mila memang begitu dekat dengan sosok wanita tu yang menjadi guru mengaji mereka itu.

Mila sering membantu Nek Ifah dalam hal memasak, begitu pula Rozi dan Husni yang kerap mencari kayu bakar dan juga mengangkut air untuk keperluan wudhu Nek Ifah. Bagi mereka bertiga gubuk tua Nek Ifah sudah menjadi rumah kedua bagi mereka.

Sejak Rozi, Husni dan Mila memutuskan menabung untuk mengumpulkan biaya umroh Nek Ifah, sejak itu pula ketiganya mulai hidup berhemat.

Namun semuanya ini malah membuat mereka dijauhi oleh teman-teman di sekolah. Teman-teman mereka menganggap ketiganya tidak asyik untuk di jadikan teman lagi. Mereka bertiga terkesan pelit di mata teman-teman mereka.

Hari demi hari ketiga sahabat itu selalu menyisihkan uang jajan mereka dan selain itu mereka bertiga juga bekerja paruh waktu.

Rozi sepulang sekolah berkerja di tempat pencucian sepeda motor milik salah satu orang di kampung itu. Husni juga begitu, Husni bekerja di toko kelontong, sedangkan Mila juga bekerja sebagai pencuci piring di warung makan milik Bu Risma.

MENARIK DIBACA:  Menjaga Sumpah di Pundak Ihsan

Remaja bersahabat itu terus saja menabung tanpa henti. Selain Rozi, Husni dan Mila tiada satupun yang tahu tujuan mereka, untuk apa mereka menabung dan termasuk Nek Ifah sendiri yang juga tak mengetahui semua itu.

Memang pandai sekali mereka menahan selera dan keinginan mereka sendiri. Mila contohnya, saat tas sekolahnya rusak, ia ingin sekali menggantinya dengan tas yang baru, namun Mila mengurungkan niatnya itu. Pun begitu yang di rasakan oleh Rozi dan Husni.

Ketiga sahabat ini selalu di buly di sekolah. Setiap jam istirahat, jika teman-teman mereka sedang asyik makan-makan di kantin maka mereka bertiga menghabiskan waktu itu di perpustakaan. Mereka di juluki trio pelit oleh teman-teman mereka di sekolah, namun mereka tak pernah peduli.

Sampai suatu ketika persahabatan mereka diuji. Saat itu ternyata diam-diam Husni menarik sejumlah uang tabungan dari kantor pos tanpa sepengetahuan yang lainnya. Apa yang dilakukan oleh Husni ini di beritahu oleh pegawai kantor pos. Tentu saja ia merasa kesal pada Husni. Saat mereka bertemu bertiga Rozi mengungkapkan kekesalannya pada Husni.

“Husni! Apa kau menarik uang tabungan itu dari kantor pos?” tanya Rozi dengan nada tinggi.

Husni hanya terdiam dan tertunduk mendengar ucapan Rozi ini.

“Jawab Husni!” sergah Rozi

“Rozi! aku minta maaf, uang yang kutarik hanya untuk membeli kostum dan sepatu bola, kau kan tahu aku suka sekali sepakbola, kalau aku tak melengkapinya maka aku di keluarkan dari tim ku.” Husni berupaya menjelaskan.

“Kau kelewatan, Husni!, seharusnya kau bilang dulu padaku,” ujar Rozi dengan marahnya.

“Hei Rozi! sejak kapan kau diangkat menjadi pimpinan dari persahabatan kita bertiga?” tanya Husni yang membalas kemarahan Rozi.

Sementara Mila merasa sedih menyaksikan kedua sahabatnya itu sedang bertengkar. Mila berkata.

“Sudahlah! jangan bertengkar lagi, kalian itu sahabat,” ucap Mila melerai.

‘Aku kecewa padamu Husni,” pungkas Rozi seraya meninggalkan tempat itu.

Hari selanjutnya Rozi mulai memahami kondisi kedua sahabatnya itu. Rozi dan Husni ternyata sudah berdamai karena pertengkaran antara sahabat adalah proses mereka untuk menjadi lebih dewasa.

Seperti biasa, mereka juga tetap menyisihkan sedikit uang yang mereka punya untuk ditabung.

Namun lagi-lagi masalah kembali muncul, kini giliran Mila yang membutuhkan uang dimana adiknya hendak ujian dan jika adiknya tak membayar semua keperluan sekolah termasuk uang ujian, maka adik Mila tak bisa ikut ujian untuk semester ini.

Sebagai mana yang mereka tahu bahwa gadis tak berayah itu hanya punya seorang Ibu tiri yang tak peduli lagi kepada kehidupan Mila dan adiknya itu semenjak ibu tirinya menikah lagi dengan suami barunya. Mila dan adiknya diperlakukan buruk bahkan mereka diterlantarkan.

Mila bermohon dengan tangisnya kepada kedua sahabatnya itu supaya sedikit uang ia pakai dari tabungan mereka untuk menutupi keperluan sekolah adiknya.

Akhirnya Rozi dan Husni memahami kondisi Mila dan mereka menyetujuinya.

Setelah itu mereka kembali menabung seperti biasa, terutama Mila yang makin giat bekerja sebagai pencuci piring di warung Bu Risma.

Di sisi lain, kondisi Nek Ifah juga kini sering sakit-sakitan. Mila pernah membawa Nek Ifah ke Puskesmas dan dokter menyarankan agar ginjal Nek Ifah lebih baik segera dioperasi.

Ketiga sahabat ini setuju memakai uang yang mereka tabung yang sudah puluhan juta jumlahnya untuk biaya operasi Nek Ifah yang harus dibawa ke rumah sakit di kabupaten meskipun untuk ini sebenarnya Nek Ifah menolaknya.

Mereka bertiga terus menjaga Nek Ifah selama terbaring di rumah sakit. Selama sakit Mila kerap terlihat menyuapi Nek Ifah dan begitu juga yang dilakukan oleh Rozi dan Husni.

Suatu malam, Nek Ifah dalam posisi terbaringnya, Ia menatap ketiga murid mengajinya yang tertidur dan tak jauh dari ranjang pesakitannya.

Dalam lubuk hati Nek Ifah ia bergumam.

“Tuhan! aku memang pernah kehilangan seorang anak, tapi kini KAU telah memberi aku tiga orang anak yang hatinya sungguh mulia, untuk itu aku bermohon berilah kebahagiaan dalam hidup mereka agar anak-anak ini selalu tersenyum di setiap langkah mereka.. Aminn.”

Sudah sepuluh hari Nek Ifah di rumah sakit, saatnya ia pulang karena Dokter telah menyatakan bahwa Nek Ifah sudah sembuh dari sakitnya.

Sekarang tabungan yang selama ini telah mereka kumpulkan sudah terkuras habis untuk pengobatan dan operasi Nek Ifah.

Selain perasaan bahagia ada dalam diri mereka sebab Nek Ifah telah sembuh dari penyakitnya namun juga ketiga Sabahat itu gusar karena belum menemukan cara lain agar guru mengaji mereka dapat melaksanakan umroh ke tanah suci.

Namun mereka tersentak mengingat pesan Nek Ifah, jika hati kita tak tenang, gusar dan khawatir, maka sholatlah kemudian bacalah Al-Qur’an, insyaallah selalu ada jalan yang Tuhan berikan. Pesan Nek Ifah itu terdengar jelas di sepasang telinga mereka.

Kemudian tanpa jeda lagi ketiganya sholat dan langsung mengumandangkan ayat suci Al-Qur’an. Itulah yang mereka lakukan saat ini mengharap jalan dari sang Maha kuasa.

Keesokan harinya, Rozi dan Husni termenung di tempat yang biasa mereka berkumpul yang mereka namakan ‘Pondok Cahaya Ilahi’ yaitu gubuk tua bagian dapur rumah Nek Ifah.

Sambil menunggu kedatangan Mila, maka Husni dan Rozi berpikir keras mencari cara bagaimana untuk mewujudkan impian guru mengaji yang mereka sayangi itu agar dapat berangkat ke tanah suci. Harapan itu mulai pupus karena tabungan mereka sudah habis kandas.

Tiba-tiba Mila muncul dan terlihat ia tersenyum sambil memegang brosur di tanggannya dan Mila berkata.

“Rozi, Husni! lihat ini! Mungkin Tuhan telah memberi kita jalan,” kata Mila sambil menunjukkan selembar brosur pertandingan lomba baca Al-Qur’an dan Tahfiz Qur’an Piala Gubernur yang akan diadakan di Ibukota Provinsi.

Rozi dan Husni membaca apa yang tertulis di lembaran brosur itu. Mereka terkejut karena hadiah untuk juara pertama dalam setiap item yang diperlombakan adalah tiket gratis berangkat umroh.

mereka bertiga senang sekali melihat ini. Walaupun persiapannya begitu singkat yakni hanya seminggu namun mereka yang tak berkecil hati.

Sejak itu tiga sahabat ini berupaya keras, mungkin Inilah jalan yang mereka cari. Mereka bertiga mengikuti pertandingan dengan dibagi dalam tiga kategori.

Mila mengikuti lomba baca Al-Qur’an untuk putri, Rozi juga mengikuti lomba baca Al-Qur’an bagian putra dan sedangkan Husni mengikuti lomba hafiz quran.

Perlombaan akan diselenggarakan pada Minggu depan. Kini saatnya tiga bersahabat itu harus mempersiapkan diri agar dapat meraih juara pada hari pelaksanaan Lomba nanti.

Hari-hari menjelang pertandingan, Rozi, Husni dan Mila sibuk sekali. Di sela-sela pekerjaan sehari-hari, mereka juga menyempatkan diri membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Terlihat jelas keseriusan remaja- remaja yang saling bersahabat ini dalam mempersiapkan diri mereka. Semuanya itu demi Nek Ifah yang merindukan tanah suci.

Tiga hari lagi menjelang hari – H, maka mereka pun berangkat ke Ibukota Provinsi untuk mengikuti lomba itu. Ketiganya pamit pada Nek Ifah seraya meminta restunya.

Nek Ifah pun merasa senang sekali ketika mendengar ketiga muridnya itu hendak mengikuti lomba meskipun Nek Ifah tak tahu bahwa sebenarnya tujuan mereka bukan hanya sekedar mendapatkan juara tapi juga niat tulus untuk mewujudkan mimpi Nek Ifah umroh ke tanah suci.

Mereka telah sampai di Ibukota Provinsi, setelah beristirahat sejenak di tempat yang sudah di siapkan oleh panitia, maka besok adalah waktunya untuk membuktikan perjuangan Rozi, Husni dan Mila.

MENARIK DIBACA:  Hanya Pemuda Biasa

Akhirnya sampai saat dimana mereka mengikuti lomba, Rozi mulai mengumandangkan ayat suci Al-Quran dengan segenap kemampuannya, begitu pula Mila. Sedangkan Husni tak lekang dari hafalannya hingga sampai gilirannya untuk diuji para juri.

Pertandingan tersebut telah mereka jalani, kini tinggal menunggu pengumuman dewan juri dan pengumuman itu baru besok dapat diumumkan sebagai hasil dari perlombaan itu.

Malam harinya saat selesai sholat isya, Rozi yang menjadi imam dan memimpin doa bersama, doa itu terdengar.

“Ya Allah! Dengan ijin Mu, kami berharap wujudkanlah mimpi Nek Ifah berangkat ke tanah suci.

“Tuhanku yang Maha Bijaksana, kami hanya hamba yang lemah tak berdaya, oleh karena itu kami bermohon, berilah kami hasil yang baik besok hari, semua ini demi cita-cita mulia guru kami ya Allah!

“Ya Allah, kami hanya ingin melihat sepotong senyuman yang terindah di wajah Nek Ifah, wanita yang selalu mendidik kami untuk melantunkan kesempurnaan kalam-kalam Mu

“Ya Allah! ampuni dosa dan kekhilafan kami serta perkenankanlah doa-doa kami.

“Amin …!

Sementara malam terus berjalan dengan segala keheningannya, hingga subuh menjelang dan pagi pun menjelma sebagai pengganti hari yang baru. Pengumuman itu pun dibacakan, ketiga sahabat ini mulai was-was. Jantung mereka berdegup kencang menunggu hasil pertandingan yang kemarin.

Satu-persatu nama pemenang pertandingan lomba baca dan menghafal Al-Qur’an piala Gubernur untuk tahun ini mulai diumumkan.

Ketiga sahabat itu dengan tekun mendengar hingga selesai dan hasilnya adalah Rozi hanya mampu menggaet juara kedua, lalu Mila hanya meraih peringkat ketiga, sedangkan Husni hanya berhasil di peringkat harapan dua.

Ketiganya murung, harapan yang selama ini untuk meraih juara pertama pupus sudah dan hadiah umroh yang akan mereka persembahkan untuk Nek Ifah tampaknya juga ikut sirna.

Mila tampak meneteskan air mata, pun begitu buat Rozi dan Husni namun apa boleh buat, memang ini sudah keputusan dari hasil perlombaan itu. Walaupun Ketiganya juga mendapatkan hadiah, namun wajah mereka terlihat muram dan seperti tak berharap lagi.

Kemudian ketiga sahabat ini, berbisik-bisik kecil. Mereka berniat untuk menjumpai panitia. Mereka hendak mengganti ketiga hadiah yang mereka dapatkan baik hadiah berupa uang santunan beasiswa maupun hadiah lainnya dan mereka ingin mengganti hadiah mereka dengan satu lembar tiket Umroh.

Panitia tertawa menyeringai mendengar permintaan aneh ketiga remaja ini dan tentu saja permohonan mereka ditolak mentah-mentah atau tidak diterima oleh panitia.

Ketiganya keluar dari ruangan panitia dengan wajah yang lesu, tampak Mila sekali lagi menyeka air matanya.

Mereka pun pulang ke kampung halaman dengan rasa yang putus asa. Sesampainya di kampung, Mila langsung menghambur Nek Ifah sambil memeluknya erat, tangis Mila dalam pelukan itu sangat terasa.

Nek ifah kebingungan atas semua ini dan kemudian mereka dengan sejujurnya bercerita tentang apa yang menjadi tujuan mereka dalam mengikuti lomba piala Gubernur itu.

Mendengar cerita tiga sahabat itu lalu tanpa sadar setetes bulir kecil yang bening jatuh dari kelopak mata Nek Ifah secara beriring hingga lekukan keriput di wajah wanita tua itu basah digenangi air mata.

Sementara berita permohonan untuk mengganti hadiah dengan selembar tiket Umroh, akhirnya sampai ke telinga Gubernur melalui ajudannya beberapa hari kemudian. Lalu Pak gubernur penasaran tentang apa motif dari ketiga remaja itu. Gubernur berinisiatif untuk memanggil mereka bertiga.

Setelah ketiganya bertemu Gubernur , maka mereka menceritakan apa yang terjadi dengan jujur dan apa adanya. Mereka bercerita tentang perjuangan mereka mulai dari menabung hingga mengikuti pertandingan demi mewujudkan harapan dan mimpi guru mengaji mereka yang tercinta.

Dalam hati Gubernur, ia menaruh bangga atas perjuangan ketiga remaja ini yang sangat menghormati guru mereka. Lalu tanpa dipinta dan dimohonkan, Gubernur bersedia memberangkatkan Nek Ifah untuk menunaikan ibadah umroh ke tanah suci.

Rozi, Husni dan Mila sontak merasa bahagia mendengar ucapan Orang nomor satu di Provinsi itu. Hati mereka begitu riang dan gembira hingga mereka tak bisa berkata Apa-apa lagi saking senangnya.

Menjelang hari keberangkatan Nek Ifah umroh ke tanah suci, tampak murid-muridnya dan beberapa orang kampung sibuk mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa oleh Nek Ifah ke sana.

Besok pagi Nek Ifah akan berangkat menunaikan ibadah umroh ke tanah suci Makkah. Malam ini Nek Ifah meminta Rozi, Husni dan Mila untuk menginap di gubuk tuanya itu.

Mereka dan Nek Ifah berbincang-bincang.

“Rozi, Mila dan Husni! kalian jangan pernah putus asa dalam menggapai cita-cita. Apapun yang kalian mau, selama itu baik, maka berjuanglah, sesunguhnya kalian tak pernah sendiri, selalu ada Tuhan yang akan memberi jalan diatas perjuangan kalian.

“Jaga persahabatan kalian dan jadikan Al-Qur’an sebagai teman yang setia, baca ia, pahami maknanya dan kalian akan mengerti sebuah jalan menuju kebahagiaan yang sesungguhnya, kalian tak akan pernah tersesat.

“Dan nenek ingin berpesan pada kalian bahwa apapun yang nanti terjadi, terimalah dengan ikhlas, sekalipun itu buruk, pahit dan menyakitkan karena apapun itu Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita, kalian pahamkan?” Nek Ifah memberikan nasehat-nasehatnya.

“Sekarang malam sudah larut, tidurlah! ujar Nek Ifah lagi

Sementara di kamarnya, Nek Ifah memandangi Poster Ka’bah yang terpajang di dinding kamarnya dan kemudian Nek Ifah mengambil poster itu lalu ia memeluknya dan dekapannya pad poster itu membawa ia pada tidur yang lelap.

Subuh telah datang, adzan dari surau sudah berkumandang, Mila bangun dari tidurnya lalu berwudhu dan sholat subuh, begitu pula Husni juga Rozi mereka juga sholat subuh.

Mila mencoba membangunkan Nek Ifah, namun Nek Ifah tetap pada posisi tidurnya hingga berkali-kali Mila mencobanya namun Nek Ifah tetap diam dengan poster Ka’bah dalam pelukannya, tubuh Nek Ifah semakin dingin dan kaku.

Dari luar kamar terdengar jeritan tangis histeris dari suara Mila yang melengking, Lalu Rozi dan Husni memasuki kamar Nek Ifah itu dan ternyata Nek Ifah sudah tak bernyawa lagi.

Nek Ifah wafat dengan wajah yang tersenyum lalu ketiganya tenggelam dalam tangisan dan duka yang mendalam. Bagaimana tidak! Hari ini seharusnya Nek Ifah berangkat ke tanah suci, ya …! Ke tanah yang betul-betul suci yakni surganya Allah yang selalu diidam-idamkan setiap hamba yang beriman.

Kini Nek Ifah sudah tiada lagi di dunia namun gubuk yang ia tinggalkan sudah berubah menjadi sebuah sekolah Tahfiz Qur’an gratis buat siapa saja yang ingin belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an. Sekolah Tahfiz Qur’an itu diberi nama ‘Pondok Cahaya Ilahi’.

Gubernur yang membangun itu semua setelah Gubernur terlebih dahulu mendengar kematian Nek Ifah yang membuat hatinya tersentuh itu.

Pemerintah Provinsi yang mengelola sekolah Pondok Cahaya Ilahi tersebut. Banyak lulusan dari situ yang menjadi Qari dan Qariah yang hebat dan para hafiz dengan berbagai prestasi yang gemilang hingga bertaraf internasional.

Kini waktu terasa berjalan begitu cepat. Cerita lima belas tahun yang lalu itu masih lekat dalam ingatan Rozi, Husni dan Mila yang masih menjaga silaturahmi meski mereka menjadi orang sukses di tempat yang berbeda di luar daerah.

Sewaktu-waktu mereka bertiga bertemu kembali saat ziarah ke makam Nek Ifah yang tak jauh dari lokasi Sekolah Tahfiz Qur’an yaitu Pondok Cahaya Ilahi.

#cerita_ini_hanya_fiktif_belaka
#guru_mungkin_bukan_orang_tua_kita_namun_tanpanya_kita_juga_bagai_orang_buta_yang_berjalan_tanpa_tongkat

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here