Beranda RIAU Kepulauan Meranti

Kontroversi Renovasi Masjid Bersejarah Al Mujahidin Batang Malas Temukan Titik Terang

946

KUMANDANG azan Isya terdengar merdu di Masjid Al Mujahidin yang berada di Desa Batang Malas, Kecamatan Tebingtinggi Barat, terletak 16 Kilometer dari Kota Selatpanjang, ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti.

Puluhan jemaah yang semula bersantai di selasar masjid segera beranjak dan menyucikan diri dengan berwudu. Jemaah lain yang sedang mengaji segera menutup Alquran. Yang tengah berzikir meletakkan tasbih mereka. Begitu pula halnya mereka yang bersolawat, menghentikan sejenak aktivitas.

Mereka semua bersiap mengambil posisi salat berjemaah. Masjid yang berada di desa yang menjadi pusat syiar Islam pertama di Bumi Kepulauan Meranti dan sekitarnya selalu selalu dipenuhi jamaah, walaupun tidak selalu ramai. Selain letaknya yang strategis, Masjid Mujahidin salah satu masjid bersejarah peninggalan yang sudah puluhan tahun berdiri.

Bangunan tua itu masih utuh bediri. Masjid ini diawali sebelum tahun 1965. Design bangunannya sangat artistik. Memiliki dua menara yang unik dan kubah berbentuk Mahkota Raja. Atapnya diimpor dari Singapura. Berada di dalamnya sangat nyaman. Setidaknya demikian kesan para ulama dari luar begitu petinggi kepolisian di Riau yang pernah sholat di masjid antik ini termasuk Kapolda Riau pad tanggal 20 Maret 2018 silam.

Bangunan masjid yang terdiri dari bangunan kayu berbahan dasar kayu Punak yang memiliki ketahanan hampir ratusan tahun itu masih terlihat kokoh ditopang puluhan tiang. Ciri khas bangunan tersebut tidak pernah berubah kendati telah hampir setengah abad berfungsi sebagai masjid.

Belakangan dikabarkan, sebagian warga Desa Batang Malas merasa kecewa bahwa ada rencana masjid bersejarah itu akan dirobohkan dan akan direnovasi dengan menghilangkan ciri khas bangunan aslinya. Mereka pun bersikeras untuk menolak pembangunan tersebut.

Saat ini pembangunan sedang dimulai, tapak pondasi bangunan pun sudah mulai dikerjakan tepat di belakang masjid. Salah satu putra asli Batang Malas yang bersikeras menolak pembangunan itu adalah Abdul Halim Mahally, yang kini menjabat sebagai Korwil PKH Provinsi Riau di Ditjamsos, Kementerian Sosial.

Dikatakannya bangunan Masjid Al-Mujahidin yang masih berdiri kokoh, artistik dan futuristik terbuat dari kayu-kayu hutan pilihan secara perlahan pasti akan dirobohkan, jika kegiatan membangun masjid baru disebelahnya tak dihentikan. Dia mengatakan hal itu akan membuat punah dan menghilangkan warisan sejarah.

Menurutnya, adapun argumentasi yang digaungkan bahwa bangunan lama masjid tak dihancurkan adalah tipu muslihat sekelompok kecil untuk terus mengelabui masyarakat Dusun Batang Malas.

“Apabila bangunan baru diteruskan dan nama Masjid Al-Mujahidin dipindahkan ke bangunan baru, tidakkah lahan parkir, taman, dan lainnya harus dibuat, bukankah lahan wakaf lama yang sekarang berdiri gagah Masjid Al Mujahidin sudah dilubangi, kemanakah tempat imam sholat selanjutnya,” kata Abdul Mahally.

Secara prinsip, terang Mahally, tidak dipermasalahkan membangun masjid baru di lahan baru atau renovasi Masjid Al-Mujahidin bersejarah yang sudah ada. Sebab, keduanya juga bisa berjalan beriringan. Namun ada proses yang terkesan dipaksakan cepat dan terkesan terburu-buru.

“Untuk membangun masjid baru ini dari awal kenapa telah memunculkan analisa dan kekhawatiran, karena ada cara-cara kasar yang digunakan. Apalagi tanpa melibatkan musyawarah besar dan meminta saran dari putra- putri Batang Malas yang berada di luar.

Ini tidak bisa dibantah karena faktanya demikian, dimana semua tergesa-gesa dilakukan, tanah dipancang dan digali dan cerocok juga sudah ditancapkan. Sangat berbeda dengan pembangunan masjid lainnya. Selain itu masukan dari berbagai pihak agar dibicarakan lagi dan hasil Sholat Istikhoroh orang-orang suci seperti tidak digubris sama sekali.

“Bahkan, percepatan dilakukan agar para tokoh pemuda Desa Batang Malas tak sempat pulang kampung untuk menghentikan perilaku aneh dan ganjil tersebut,” ujarnya.

Ditambahkan, menurutnya ada yang lebih menggelikan, dimana motor penggerak pembangunan itu adalah sosok yang sudah resign dari kepengurusan masjid karena tidak dipedulikan masyarakat saat menjadi pengurus. Lalu ada penduduk diluar Dusun Batang Malas yang dikabarkan ikut dalam pembangunan masjid baru dan tak pernah sekalipun menginjakkan kaki dimasa kecilnya untuk memakmurkan masjid tersebut.

“Tiba-tiba ada yang mensetting pembangunan sebuah masjid serba baru. Jadi ya wajar kalau Masjid Al Mujahidin ingin dirobohkan karena memang segelintir kecil orang ini tak punya rekam jejak di masjid luar biasa ini. Dan tak ada pula kontribusi untuk masjid ini sebelumnya,” ungkapnya.

Dibeberkannya, perlu dibongkar arogansi dibalik kenekatan oknum yang sangat bersemangat untuk merenovasi masjid itu. Bahkan Camat Tebingtinggi Barat yang meminta pembangunan masjid baru itu dihentikan malah dimarahi oleh oknum anggota DPRD.

“Waktu itu camat menyampaikan kepada Pak Kyai Mashadi selaku imam masjid Batang Malas agar pembangunan masjid baru dihentikan sementara karena belum ada kata sepakat yang komprehensif dari warga maupun tokoh-tokoh kelahiran Dusun Batang Malas. Pak Camat menyampaikan ini sebagai pengayom masyarakat di wilayah kerjanya,” kata Abdul Mahally.

“Kalau saya melihat perilaku arogansi itu adalah bentuk kerdilnya manusia dan tampak jelas tak layak menjadi wakil rakyat. Bahkan tak punya rasa malu memaksakan diri dan kehendaknya. Justru memunculkan banyak pertanyaan, ada kepentingan ekonomi jenis apa dibalik ini semua dan benarkah nanti uang APBD Meranti akan dialokasikan?. Tidakkah lucu membangun masjid dengan menyusahkan APBD Kepulauan Meranti yang dalam kondisi sulit dimasa pandemi Covid-19,” ungkapnya lagi.

“Saya dan sejumlah rekan yang sejak kecil mengaji dan tidur di Masjid Al-Mujahidin terheran-heran melihat sejumlah orang yang sebelumnya tak punya sejarah memakmurkan masjid ini tiba-tiba bernafsu besar untuk membangun masjid baru. Inilah yang perlu diselidiki dan diwaspadai secara serius. Mungkin para malaikat akan geleng-geleng kepala melihat kontradiksi yang ada. Yaitu, gembar-gembor untuk membangun masjid baru, tapi masjid yang ada saja tak pernah penuh shaf sholatnya,” terangnya.

Diungkapkan, kepedulian untuk tidak merenovasi masjid bersejarah itu juga muncul dari Camat Kota Tembilahan, Drs Lukman Hakim selaku tokoh gerakan mahasiswa Batang Malas pertama kali dan juga tokoh muda pemekaran Desa Batang Malas yang merasakan adanya kejanggalan. Sehingga ia lebih cenderung ke renovasi terlebih dahulu, bukan bangun baru.

Dia pun berharap, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk melestarikan bangunan masjid ini. Menurutnya ini bukan soal tanggungjawab masyarakat Desa Batang Malas. Apalagi Desa Batang Malas adalah pusat syiar Islam kombinasi klasik dan semi modern puluhan tahun silam. Sejumlah Kyai yang memiliki pesantren atau majlis agama dulunya alumnus atau pengajar di madrasah agama di desa ini.

Ada hal yang menurutnya sangat aneh dalam proses pembangunan Masjid Al Mujahidin baru, semuanya digesa dengan tidak mempertimbangkan segala sesuatunya. Diantaranya adalah ketua panitia pelaksana bukan merupakan warga Dusun Batang Malas dan banyak saksi bercerita bahwa ada masalah dengan pemilihan struktur panitia.

“Kalau diantara panitia pelaksana berasal dari putra asli kelahiran Dusun Batang Malas yang tersirami air wudhu dan masa kecilnya mengaji di Masjid Al Mujahidin Batang Malas, sudah pasti tidak gegabah ingin meneruskan pembangunan ketika banyak usulan agar ditunda sampai ada rapat besar seluruh Masyarakat Dusun Batang Malas. Masjid Al-Mujahidin yang bersejarah akan tetap berdiri kokoh. Kami sudah antisipasi untuk merawatnya. Berapa ratus juta atau bahkan milyar dana yangg diperlukan, akan tersedia dengan baik. Sudah disiapkan juga design bentuk renovasi yang diperlukan sesuai dengan bentuk aslinya,” imbuhnya.

Ia menguraikan, tinggal konsultannya cek brapa dana yang diperlukan. Tidak perlu proposal atau pakai duit APBD sepeser pun agar tidak menyusahkan Pemkab Kepulauan Meranti. Insha Allah banyak putra-putri Dusun Batang Malas yang akan berdonasi dan menyumbang untuk merenovasi pembangunan Masjid Al-Mujahidin yang antik, futuristik, dan bernilai sejarah.

Hal sama juga diungkapkan Drs H Ahmad Rivai selaku putra Dusun Batang Malas yang pernah menjadi Kepala Sekolah SMA terbaik se-Riau di Pekanbaru dan tokoh-tokoh lainnya yang justru lebih ingin renovasi karena paham sejarah dan terlihat sering menelisik sejarah-sejarah serta warisan budaya atau masjid di berbagai tempat di Pulau Jawa.

“Dan masih banyak lagi komentar dari berbagai pihak yang menyayangi warisan bersejarah dan masih memiliki hati sangat bersih. Yaitu Masjid Al Mujahidin Batang Malas sangat lebih baik direnovasi dan dirawat dengan segala kesucian jiwa. Mereka ini adalah yang peduli dengan legasi monumental,” ungkap Abdul Mahally.

Selain itu, ada beberapa perspektif M. Nazir Bin H. Salim, putra kelahiran Batang Malas yang saat ini menjadi seorang dosen di sebuah universitas negeri di Jogjakarta. Dimana dirinya merasa sedih jika rencana pembangunan Masjid Mujahidin Batang Malas dengan gambar dan bentuk yang baru.

“Saya beberapa kali mendengar penolakan beberapa warga dan saya ikut senang kalau yang menolak dengan alasan menyelamatkan warisan nenek moyang kita, karena masjid itu dibangun dengan keringat nenek moyang kita yang berjuang tahap demi tahap sampai masjid itu berdiri megah dan kokoh. Intinya masjid itu adalah wakaf dari banyak nenek moyang kita yang terlibat langsung, baik tenaga, harta,” tuturnya.

Dia juga tidak menginginkan bangunan yang penuh historis dan memorial ini diganti dan dirobohkan.

“Bagi saya masjid ini harus dipertahankan bentuknya, minimal 70 persen dari bentuk asli harus dipertahankan. Saya tidak menemukan, atau tepatnya argumen merubah, merobohkan atau mengganti masjid tua ini, apakah alasan semata ingin tampil baru, megah, atau melihat masjid-masjid lain yang sudah berubah menjadi berbahan batu. Perlu banyak orang ketahui, bahan kayu yang ada di Masjid Al Mujahidin adalah cerminan semangat zaman, dakwah warga Batang Malas dalam beragama, cerminan para pejuang kebodohan pada zamannya, sehingga generasi baru perlu mempertimbangkan nilai yang ada di setiap bahan-bahan di Masjid Al Mujahidin,” ungkapnya.

Secara pribadi, kata Mahally, saya sangat menyayangkan jika membangun masjid baru dengan merobohkan masjid lama, karena tampak suatu yang boros dan tidak peduli dengan nenek moyang kita sebagai pihak yang bersusah payah membangunnya. Kecuali Masjid Mujahidin tidak lagi kuat manahan beban yang ada di atasnya. Membangun serba baru juga silahkan sepanjang tidak merusak bangunan masjid Al Mujahidin yg bersejarah dan dulunya dibangun atas dasar tirakat, riyadloh, dan keikhlasan Para Pendahulu.

Dan pada akhirnya telah didapatkan titik terang dari solusi nyata untuk Masjid Al Mujahidin yang bersejarah antik dan futuristik itu. Dimana pada Sabtu (3/7/2021) malam dilakukan rapat dan musyawarah yang dihadiri Camat Tebingtinggi Barat, Drs H Said Zamhur dan pihak kepolisian.

Dalam rapat tersebut, Abdul Mahally menegaskan langsung pembangunan masjid baru disebelah Masjid Al-Mujahidin terus dilanjutkan dan tidak masuk ke lahan Masjid Al-Mujahidin yang lahannya juga tersendiri ditandai dengan parit.

Selanjutnya Masjid Al Mujahidin direnovasi dengan mengganti bagian yang perlu diganti, membuatnya menjadi megah dengan tidak merubah bentuk aslinya, dan menjadikannya sebagai warisan bersejarah.

“Tidak ada yang dikecewakan. Tidak harus ada yang merasa malu dan dipermalukan. Dua hal diatas adalah untuk kebaikan bersama. Tidak juga diperkenankan saling menyalahkan atau membanggakan. Karena mengurus masjid bukan untuk soal popularitas atau kepentingan duniawi lainnya,” kata AH Mahally mengakhiri.

SINKAP.info | Rls
Facebook Comments