Beranda KOLOM Sastra Hanya Pemuda Biasa

Hanya Pemuda Biasa

279

SASTRA, Sinkap.infoNamanya Musdar. Pemuda yang berusia kira-kira dua puluh tiga tahun ini hanya lulus SMA beberapa tahun yang lalu. Pria ini begitu sederhana. Hari-harinya kerap ia habiskan menjadi staff pembantu mengajar di perguruan ibtidaiyah setingkat SD pada salah satu madrasah di kampungnya.

Musdar adalah seorang yatim jauh sebelum ia dewasa bahkan dalam memorinya tak pernah ada kenangan tentang seorang ayah. Hal ini bisa dimaklumi karena memang Musdar sudah kehilangan ayahnya saat ia masih berumur dua tahun.

Musdar hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Jari- jari lembut ibunya lah yang mengasuh Musdar hingga dewasa. Saat ini Musdar tumbuh menjadi pemuda yang baik perangainya. Musdar hanya tinggal berdua saja dengan ibunya. Sang ibu yaitu Darpinah, begitu nama yang dikenal orang-orang untuk memanggil ibunya Musdar.

Darpinah sekarang hanyalah ibu tua yang sering sakit-sakitan. Wanita paruh baya ini telah berumur lima puluh delapan tahun. Musdar selalu hormat pada Ibunya. Musdar merawat dan menjaga ibu yang ia cintai itu. Semuanya Musdar lakukan sebagai bentuk baktinya kepada wanita yang melahirkannya ke dunia ini.

Musdar sering merasa khawatir akan keadaan ibunya saat Musdar berada di luar rumah. Bagaimana tidak, di satu sisi Musdar harus mencari nafkah di luar seperti mengumpulkan kayu bakar untuk dijual dan juga menjadi guru honor di madrasah sedangkan di sisi lain Musdar juga mesti mengurus ibunya yang sedang sakit-sakitan di rumah.

Setiap hari Musdar mengedarai sepeda nya saat pergi dan pulang dari sekolah ibtidaiyah yang selama ini menjadi tempat pengabdiannya. Begitulah adanya Musdar, seorang pemuda biasa yang memilih jalan hidup sebagai seorang pendidik.

Suatu saat, Desa kecil dimana Musdar tinggal telah beralih status menjadi kelurahan. Pemerintah menempatkan seorang pegawai untuk menjadi lurah di situ. Lurah baru ini bernama Rustam Majid yang semula menjabat sebagai kepala staf di kantor Gubernur.

Bapak Rustam membawa keluarganya untuk menetap di tempat itu tak terkecuali putri sulung nya, Purnama, begitulah nama gadis cantik yang berpendidikan ini. Gadis kota yang baru saja lulus kuliah dan menjadi sarjana pada tahun lalu.

Sebenarnya Purnama tidak ingin tinggal berlama-lama di kampung ini. Ia sering menegaskan bahwa dirinya tak betah tinggal disini, maklumlah Purnama sudah terbiasa hidup dengan gemerlapnya suasana kota.

Purnama adalah tipe gadis keras kepala. Antara dirinya dan Rustam sang ayah selalu berbeda prinsip. Oleh sebab itu anak dan ayah ini sering tampak berdebat bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun dan itu sudah biasa terjadi di antara mereka.

Pada suatu hari Purnama dan ayahnya berbincang-bincang.

“Purnama! kau kan sekarang sudah jadi Sarjana , Ayah berharap sikapmu bisa lebih dewasa lagi,” Cetus Rustam dalam sebuah percakapan.

“Maksud ayah?” tanya Purnama dengan alis yang mengerut.

“Coba lihat penapilanmu, ini kampung Purnama! ya …! paling tidak selama di sini kau harus bisa merubah itu, kau harus jaga nama baik Ayah, Ayah Lurah di sini,” ucap Rustam menjelaskan.

Sejenak Purnama memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Celana jeans ketat dan kaos terbuka ala you can see.

“Apa yang salah ayah! ini gayaku dan aku tak ingin ada orang yang mengatur cara berpakaianku, kuharap ayah mengerti,” tegas Purnama.

Rustam hanya bisa menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa ia tak ingin lagi berdebat dengan putrinya dan Rustam terus beranjak dari hadapan Purnama untuk mengakhiri pertengkaran kecil mereka.

Pada suatu malam, Rustam sebagai lurah diundang pada acara musyawarah remaja dan tokoh masyarakat terkait rencana pembentukan perwiritan remaja mesjid di kelurahan itu.

Rustam pun berangkat bersama keluarganya ke mesjid termasuk juga Purnama, walaupun pada awalnya Purnama dengan berat hati untuk ikut ke mesjid, namun karena desakan sang ibu akhirnya Purnama tetap melangkahkan kakinya untuk turut serta.

Warga di sana melaksanakan sholat isya berjamaah terlebih Dahulu dan setelah itu barulah musyawarah dimulai.

Sebenarnya pembentukan perwiritan remaja mesjid ini adalah inisiatif Musdar sendiri yang berharap adanya suatu wadah perkumpulan pemuda-pemudi saling bertukar pikiran untuk bersatu memajukan kampung.

Musyawarah pun berlangsung alot.

“Aku tidak setuju, jika mesjid ini dijadikan tempat berkumpulnya pemuda-pemudi yang bukan muhrim,” bantah Pak Zamran yang juga seorang juragan tanah di kampung itu. Hal ini Pak Zamran sampaikan setelah Musdar memaparkan keinginannya dan teman-temannya.

“Tunggu dulu Pak Zamran! mari kita lihat sisi positif dari niat baik anak-anak muda ini,” sahut Ustadz Ali mengomentari pendapat Pak Zamran.

“Baik apanya tad!” Pak Zamran langsung mendikte opini ustadz Ali.

“Siapa yang bisa menjamin tidak akan terjadi apa-apa bila remaja putra dan putri bergabung dalam satu tempat, apalagi ini di mesjid, tempat ibadah, seharusnya mesjid ini hanya untuk urusan sholat, bukan yang lain.” Pak Zamran melanjutkan pendapatnya.

“Jangan-jangan ini hanya modusmu kan Musdar, sebab selama ini tak ada satu orang gadis pun yang ingin mendekatimu, nah …! mungkin ini caranya agar kau dapat memikat gadis di kampung ini, ya kan?” tandas Pak Zamran memvonis Musdar.

“Astaghfirullah Pak! Aku …” Belum sempat Musdar menyelesaikan kalimatnya langsung Pak Zamran memotong perkataan Musdar dan berucap.

“Kau munafik Musdar! sama seperti ayah mu, seorang penipu!” maki Zamran pada Musdar.

Hati Musdar begitu tergores dengan ucapan Pak Zamran. Ia hanya tertunduk. Begitu sakitnya perasaan Musdar mendengar semua penghinaan ini, Namun musdar paham akan kebencian pak Zamran itu padanya.

Musdar sadar bahwa dendam pak Zamran terhadap ayah Musdar belum hilang sampai kini. Hal itu akibat pertikaian jual beli sebidang tanah yang terjadi antara Pak Zamran dan ayahnya beberapa puluh tahun yang lalu.

Walaupun kini Ayah musdar sudah tiada lagi, tapi dendam Pak Zamran masih membara dan selama ini Pak Zamran memang selalu menghambat apapun yang ingin dilakukan Musdar untuk membangun kampung ini.

Sementara di sudut shaff perempuan tampak Darpinah, ibu Musdar itu meneteskan air mata. Wanita tua itu hanya tunduk ,terdiam dan tak bicara. Di kelopak mata Darpinah tergenang air yang tercurah dari luka harinya. Satu persatu air mata Darpinah terkucur saat menyaksikan anaknya dicaci maki dan dihina.

Sedangkan Purnama yang turut hadir di tempat itu ikut tercengang melihat keteguhan hati seorang pemuda biasa yang tak ia kenal itu.

Tentu sebagai seorang sarjana yang berfikir logis Purnama tahu bahwa sesungguhnya niat pemuda ini begitu mulia, tapi ia tak mengerti mengapa ada orang yang menghalangi niat baik pemuda itu.

Di sela ucapan Pak Zamran yang makin tak karuan, Pemandu musyawarah meminta pendapat dari Pak Lurah Rustam untuk menenangkan situasi dan Pak Rustam pun angkat bicara.

“Sebagai Lurah, saya tetap mendukung apapun itu selama tujuannya adalah baik, saya juga tidak bisa memutuskan tentang hal ini. namun jika saya boleh usul, bagaimana bila perwiritan remaja ini dilakukan dari rumah ke rumah, karena masalahnya dari yang saya dengar tadi, Pak Zamran tidak setuju bila perwiritan ini dilakukan di mesjid.” Rustam mencoba memberi saran.

“Musdar! apa pendapatmu tentang saran Pak Lurah itu?” tanya Ustadz Ali pada Musdar.

“Sebelumnya saya mohon maaf pak Lurah! Perwiritan remaja mesjid hendaknya kegiatan yang berbasis mesjid, andai perwiritan ini dilakukan dari rumah ke rumah tentunya nanti akan ada hidangan, makanan dan minuman sedangkan ekonomi kita tidaklah semua sama, artinya bagi yang tidak mampu hal ini bisa menjadi beban dan juga saya khawatir akan timbul fitnah bila masakan dan hidangan tidak sesuai dengan lidah dan selera,” ujar Musdar menjelaskan alasannya.

“Masuk akal juga alasan pemuda ini.” Benak Rustam berguman sambil tertegun dan menatap musdar.

Pun begitu juga Purnama. Gadis molek ini mulai menaruh kagum atas perilaku pemuda sederhana yang ia saksikan itu.

Akhirnya musyawarah pun selesai tanpa ada keputusan apa-apa sebab malam semakin larut. Musyawarah untuk sementara ditunda dan nanti pembahasan akan dilanjutkan di kantor urusan agama untuk mendapatkan ijin kegiatan.

Para warga mulai beranjak pulang. Begitu juga halnya dengan keluarga Rustam, namun Purnama masih tinggal di situ untuk sekedar bertutur sapa dengan remaja putri yang masih ada di mesjid itu.

Saat hendak pulang Purnama baru sadar bahwa sandalnya sudah tidak ada di emperan mesjid. Sandal itu hilang entah ke mana. Pastinya Purnama merasa kebingungan sekali.

Musdar melihat gadis itu sepertinya sedang mencari sesuatu. Lalu Musdar datang menghampirinya, kemudian Purnama mengatakan bahwa ia kehilangan sandalnya, langsung saja Musdar melepaskan sepasang sandalnya dan memberikan sandal jepit itu pada Purnama dengan senyumnya seraya berkata.

“Pakai ini dulu, nanti kau terlambat pulang.”
“Lalu kau bagaimana?” tanya Purnama pada Musdar.
“Tak apa-apa, rumahku dekat sini,” ujar Musdar meyakinkan.

Kemudian Musdar pamit tanpa perlu lagi bertanya siapa nama gadis yang ia tolong ini dan setelah itu Musdar masuk ke mesjid lalu ia keluar dengan menggendong ibunya. Musdar melakukan ini sebab rematik pada sepasang kaki Darpinah kambuh lagi baru-baru ini.

Sementara Purnama melihat pemuda itu menggendong ibunya yang tua untuk pulang berjalan tanpa alas kaki.

Malam ini suasana kampung begitu sunyi hanya sungutan jangkrik yang terdengar bagai sebuah irama yang terabaikan oleh telinga sedangkan di sebuah kamar tidur Purnama mencoba memejamkan mata, namun senyum dan keteguhan hati pemuda tadi seakan kerap menggangu pikirannya hingga Purnama tak bisa tidur lelap.

Belum lagi tentang apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pemuda itu begitu berbakti kepada orangtuanya.

“Ada apa ini?” tanya Purnama dalam hati
“Mengapa aku terus memikirkan dirinya?” Pertanyaan ini seperti berbisik di benak Purnama.

Malam ini Purnama tak bisa tidur nyenyak. Wajah pemuda yang tersenyum itu tak bisa ia hapus dalam pikirannya. Sebentar-sebentar Purnama bangkit dan duduk termenung kemudian ia berbaring lagi. Begitu terus menerus sampai akhirnya ia tidur juga dan hingga purnama tak sadar bahwa hari sudah terlalu siang bahkan mataharilah yang membangunkan Purnama dengan sinarnya yang menyelinap melalui rongga jendela.

Hari ini Purnama kedatangan tamu, yaitu seorang gadis seusianya yang ia kenal tadi malam, namanya Lena.

Mereka berbincang dan bercengkrama di depan teras rumah Purnama. Walaupun baru kenal tapi nampak terlihat akrab.

Purnama mencoba bertanya tentang Musdar pada Lena, Sebab Purnama ingin mengembalikan Sandal yang ia pinjam dari Musdar seusai pulang dari mesjid tadi malam.

Lena mengatakan bahwa Musdar itu adalah seorang pengajar honor di madrasah ibtidaiyah. Pemuda itu memang miskin tapi kaya batinnya. Saat-saat Musdar gajian Musdar kerap membelikan sepatu dan baju seragam untuk murid-muridnya yang kurang mampu.

“Kau tahu Purnama! Musdar itu adalah pemuda yang berbakti kepada ibunya. berbagai cara ia lakukan untuk membahagiakan ibunya,” tutur Lena menerangkan sosok Musdar.

“Musdar itu adalah pemuda dengan sejuta mimpi,” tambah Lena lagi.

Mendengar itu Purnama ingin sekali bertemu Musdar dan sekaligus ingin mengembalikan Sandal yang ia pinjam waktu itu.

MENARIK DIBACA:  Cahaya Bulan Bersembunyi Dibalik Hati

Lena bersedia menemani Purnama untuk bertemu Musdar di tempat Musdar mengajar saat ini dan mereka pun berangkat ke sana.

Purnama tetap bergaya ala gadis kota. Rambut panjangnya yang tak terurai, celana jeans-nya yang sobek-sobek dan bajunya dengan kaos yang tak berlengan.

Tak lama sampailah Purnama dan Lena ke tempat yang mereka tuju yakni Madrasah Ibtidaiyah dimana Musdar mengajar. Purnama dan Lena menunggu Musdar yang belum jua datang.

Tak berapa lama Musdar terlihat tiba, seperti biasa Musdar tampak penuh semangat dengan menunggangi sepeda ontel yang selalu mengantarnya setiap hari.

Hati Purnama lagi-lagi tersentuh melihat pemuda ini mengayuh sepeda tanpa alas kaki.

Purnama bertemu dengan Musdar. Purnama langsung mengembalikan sandal yang ia pinjam itu beserta ucapan terimakasihnya pada Musdar.

Musdar tersenyum kecil pada Purnama. Senyuman yang sama yang pernah Musdar lemparkan pada malam pertemuan pertama mereka.

Gadis itu memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda yang sedang mendidik bocah-bocah polos yang penuh harapan itu.

Purnama merasa terdorong untuk membantu Musdar agar turut mengajar di madrasah itu dalam beberapa waktu selama Purnama berada di kampung itu. Musdar senang sekali dengan tawaran Purnama tapi Musdar menyarankan agar Purnama merubah penampilannya dan akhirnya Purnama pun menyetujui saran Musdar itu.

Ternyata mulai besok Penampilan Purnama berubah. Hijab putih dan pakaian tertutup ala gadis muslimah yang di kenakan Purnama menambah aura kecantikannya. Purnama terlihat begitu ayu dan manis di pandang. Kini Purnama menjadi staf pengajar di madrasah itu.

Hari berganti hari hingga mingu bertukar bulan, maka Musdar dan Purnama pun semakin dekat. Perasaan mereka tak bisa terelakkan lagi. Hati mereka memendam rasa cinta antara satu dan yang lainnya.

Suatu ketika Purnama diajak oleh Musdar ke rumahnya. Rumah itu memang begitu kecil dan sempit, namun di situ terdapat beribu kenangan buat Musdar dan keluarganya.

Musdar mempertemukan Purnama dan Ibunya dan terlihat antara Purnama dan Darpinah sang ibunya Musdar begitu cepat akrab. Di sela-sela keakraban mereka, Darpinah bertanya pada Purnama.

“Purnama! Aku lihat kau begitu dekat dengan Musdar, Apakah orang tua mu tak pernah melarang kedekatanmu ini?”

“Aku tidak tahu, Bu! yang aku tahu bahwa selama ini orang tuaku telah mengizinkan aku menjadi guru sementara di madrasah dan untuk itu mereka tidak melarang ku,” jawab Purnama.

“Purnama! kau tahu, dulu ayah Musdar selalu bermimpi untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu di kampung ini, sebidang tanah yang kami miliki tak pernah dipakai untuk menanam apapun, ayah Musdar mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai-sampai keluarga kami juga harus berhemat untuk mewujudkan mimpi itu, dua tahun lamanya maka berdirilah bangunan sederhana dengan dinding bambu dan atap rumbia, tiba-tiba Zamran datang ingin membeli tanah itu. Zamran berencana untuk mendirikan penakaran burung walet di sana, tapi ayah Musdar tak pernah mau menjualnya walau dengan harga berapapun,” jelas Darpinah menceritakan masa lalu ayah Musdar.

Kemudian Darpinah menghela napas panjang sebab dadanya terasa berguncang mengingat semua itu, namun Darpinah terus melanjutkan ceritanya.

“Ayah Musdar bertengkar hebat dengan Zamran yang mengatakan bahwa tanah tersebut adalah milik zamaran dengan bukti adanya surat jual beli tanah yang di pegang Zamran, tentu saja ayah Musdar tak terima sebab ayah Musdar merasa ia tak pernah menandatangani surat apapun atas jual beli tanah itu,” ujar Darpinah.

“Lalu ibu tidak tahu, entah ada hubungannya dengan semua itu atau tidak, namun yang pasti ketika ayah Musdar ingin melaporkan hal itu pada polisi di Kecamatan, tiba-tiba peristiwa naas pun terjadi di tengah perjalanan, Ayah Musdar tewas karena korban tabrak lari oleh orang yang tak di kenal dan sampai saat ini masalah itu tak pernah terungkap, kini tanah harapan ayah Musdar tersebut sudah menjadi milik Zamran berdasarkan surat-surat yang ia miliki.” Darpinah memaparkan kisah kelam keluarganya Itu dengan genangan air di kelopak matanya.

“Waktu itu hati ibu hancur, hancur sekali! sebab kepergian ayah Musdar secepat itu, dunia ini rasanya tak ada artinya lagi, tapi ketika tangan Musdar kecil meraih jari-jari ibu, maka saat itu pula ibu sadar bahwa ibu harus bertahan, ibu harus bangkit dan kuat untuk membesarkan Musdar dengan penuh kasih sayang walaupun hanya seorang diri tanpa suami,” ungkap Darpinah melanjutkan ceritanya.

Hati Purnama tersentuh mendengar cerita ibunya Musdar dan juga sekarang Purnama tahu mengapa Pak Zamran tak suka melihat keluarga Musdar hingga sekarang.

Sementara dari kejauhan, Musdar melihat Purnama dan ibunya tampak begitu akrab dan serasi, batinnya tersenyum melihat itu.

Sudah beberapa jam Purnama berada di rumah Musdar dan kini saatnya Purnama pamit dari rumah Musdar namun sebelum pamit ibu Musdar memberikan sebuah kitab Al-Qur’an berukuran kecil. Darpinah memberikan itu seraya berkata.

“Purnama! bawalah Al-Qur’an ini, jika hatimu gundah dan resah, mengajilah dan baca ayat- ayatnya, sebab di dalamnya kau akan menemukan semua jawaban dari keresahanmu,” ujar Darpinah pada Purnama.

Purnama dengan senang hati menerima pemberian ibu Musdar tersebut, Lalu kedua perempuan itu saling berpelukan dan begitu hangat hubungan keduanya.

Namun setelah Purnama pulang, Darpinah bercakap-cakap pada anaknya, Musdar.

“Mus! ibu mau bertanya satu hal padamu,” kata Darpinah
“Ya Bu!” sahut Musdar pada ibunya.
“Apakah benar kau mencintai Purnama? ibu minta kau berkata jujur, Mus!” tanya Darpinah.

Lalu Musdar mengangguk perlahan sembari tertunduk di hadapan ibunya.

“Mus! Perasaanmu pada Purnama tidaklah ibu salahkan, namun kita ini orang yang tak berada, sedangkan Purnama bukan perempuan seperti kita, dia dari kalangan keluarga terhormat, Purnama itu seorang sarjana,” ucap ibunya.

“Mus! bukannya ibu memintamu menjauhi Purnama, tapi ibu ingin kau jangan terlalu berharap pada Perasaanmu itu, ibu takut nanti kau akan kecewa dan ibu juga khawatir yang kau dapatkan hanya penghinaan-penghinaan saja,”

“Tak akan pernah sebanding antara sepotong berlian dengan sebutir pasir laut,”

“Ibu berharap kau mengerti apa yang ibu maksud, Mus!” tutur Darpinah menasehati Musdar.

“Musdar paham Bu!” jawab Musdar untuk meyakinkan ibunya.

Namun berselang seminggu kemudian, tepatnya pada suatu senja selepas sholat maghrib, asma Darpinah kambuh kembali dan kali ini sesak napas yang selama ini Darpinah idap sepertinya kian bertambah parah hingga Darpinah terlihat sulit untuk bernapas.

Musdar tak tega melihat ibunya seperti itu, maka Musdar berkeinginan untuk membawa ibunya ke Puskesmas di Kecamatan.

Letak Puskesmas tersebut cukup jauh dari tempat tinggal Musdar ditambah lagi kondisi jalan yang becek akibat seringnya turun hujan sehingga angkutan seperti beca dan ojek susah beroperasi di lokasi itu.

Sebab kendala itu maka Musdar menggendong ibunya dan membawanya sendiri ke Puskesmas. Sepanjang perjalanan dengan menggendong ibunya itu, Musdar terus menitikkan air mata.

Sedangkan gerimis tebal mulai berjatuhan dari langit yang semula mendung, tetapi Musdar tak peduli. Musdar tetap menggendong ibunya berjalan menuju Puskesmas dengan harapan agar nyawa ibunya dapat segera tertolong.

Kantung mata Musdar memerah karena dari tadi air matanya mengucur tiada henti. Dada Darpinah bergelombang akibat napasnya yang turun naik tak beraturan hingga pada ujung napas itu terdengar kalimat syahadat dari lidah yang mulai kelu dan suara yang tak jelas lagi didengar. Itu artinya ajal sudah menjemput Darpinah untuk pergi selamanya.

Baju Musdar basah bermandi keringat. Musdar mendekap dan memeluk ibunya dengan erat. Tangisan Musdar terdengar pilu. Meski suara tangisan Musdar telah berhenti tapi tidak dengan air matanya yang terus mengalir menganak sungai.

Kini Musdar telah kehilangan orang yang paling ia cintai yaitu ibunya, Sosok yang sangat ia sayangi di dunia ini.

Setelah orang-orang pulang dari pemakaman, Musdar masih saja menggenangkan air matanya di depan pusara sang ibu. Tangan kanannya memegang nisan ibunya dengan wajah yang tertunduk, Musdar diam tapi tangisnya tersedu, butir-butir air matanya jatuh satu-persatu.

Purnama menyaksikan kepedihan hati dari seorang pemuda yang selama ini ia kagumi. Purnama mencoba menghampiri Musdar dan mencoba untuk menguatkan.

“Ikhlaskan kepergian ibumu Musdar! ia sudah berada di tempat terbaik, biarkan ia tenang di sisi Allah.”

Musdar menoleh Purnama dan berkata.

“Di dunia ini hanya ibu yang ku punya, aku tak pernah berpisah dari ibu, tapi kini ibu meninggalkan ku sebatang kara,” ujar Musdar.

“Berdoalah selalu untuknya, insyaallah Tuhan akan mendengar doa-doa mu,” kata Purnama

Kaki sang waktu terus melangkah, hari demi hari kian berganti meski kenangan atas kepergian ibunya menyisakan kesedihan di dalam hati Musdar namun Musdar terus berusaha untuk bangkit dari kesedihan yang ada.

Hari-hari berikutnya Musdar dan Purnama terlihat bertambah dekat dan akrab. Kini Purnama menjadi sosok gadis yang taat ibadahnya, penampilannya sopan dan kata-katanya begitu lembut. Musdar memang membawa pengaruh yang baik bagi purnama dengan memperkenalkan Islam lebih dalam lagi pada Purnama.

Sementara Rustam sang ayah tak menyangka akan perubahan perangai anak perempuannya itu. ia senang sekali melihat Purnama yang kini tak pernah lagi meninggalkan sholatnya dan juga tak ada lagi perdebatan seperti biasanya. Purnama sekarang menjadi gadis yang penurut pada orang tua. Rustam sadar betul bahwa putri sulungnya itu saat ini telah berubah jauh lebih baik.

Zamran tak pernah berhati senang melihat Musdar. Dendam Zamran terus berkobar hingga Musdar selalu jadi sasaran sifat tercelanya itu.

Pada suatu ketika di waktu malam, Zamran menyuruh orang-orang bayaran untuk membakar sekolah madrasah dimana Musdar mengajar.

Musdar terkejut setelah seseorang memberitahunya akan hal itu. Namun apa hendak dikata ternyata si jago merah sudah terlanjur besar dan dengan rakusnya melahap bangunan sederhana yang terbuat dari kayu itu.

Duka Musdar bertambah dalam saat ia menatap sisa-sisa bangunan kayu itu yang kini hanya tinggal puing arang dan tumpukan abu di atas tanah.

Murid-murid Musdar menangis terisak-isak. Mereka sedih karena telah kehilangan tempat belajar.

Tentu Musdar tak ingin murid-muridnya kecewa. Musdar tetap berkeinginan untuk mengajar murid-muridnya walaupun mereka belajar di bawah pohon dekat sisa sekolah madrasah yang telah habis terbakar itu.

Setiap hari Musdar mengajar murid-muridnya seperti itu tentunya selalu ditemani Purnama yang terus berada di samping Musdar hingga membuat keduanya semakin akrab dan benih-benih cinta diantara mereka tak terbendung lagi. Rasa cinta itu seperti air yang terus mengalir begitu saja.

Lagi-lagi Zamaran tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Musdar. Lelaki paruh baya itu mulai melancarkan fitnahnya. Zamran membuat isu di tengah-tengah masyarakat bahwa Musdar sengaja mendekati Purnama dan ingin memanfaatkan Purnama. Semua itu Musdar lakukan hanya untuk mengincar harta keluarga Purnama andai mereka nanti menikah.

Terlepas dari benar atau tidaknya isu yang menjadi buah mulut warga itu namun yang pasti isu ini juga menyentuh telinga keluarga Purnama.

MENARIK DIBACA:  Azan yang Tergantikan

Kali ini Rustam murka terhadap Musdar. Rasa kagum Rustam pada Musdar selama ini telah luntur dan berubah menjadi sebuah kebencian.

Kebencian itu disebabkan karena besarnya rasa khawatir Rustam akan masa depan putrinya. Rustam telah lama berencana ingin menjodohkan Purnama dengan rekannya sesama lurah yang ada di ibukota kabupaten.

Perubahan sikap Pak Lurah yang juga ayahnya Purnama kepada Musdar ini semakin mempersulit Musdar mewujudkan impiannya hendak mendirikan perwiritan remaja mesjid seperti apa yang idamkan sebab selama ini hanya Rustam sang lurah dan ustadz Ali yang mendukung keinginannya itu.

Selain itu Rustam beranggapan bahwa selama ini Musdar dan Purnama hanya sekedar berteman biasa dan semua itu ia biarkan karena Musdar memang mampu merubah Purnama menjadi lebih taat ibadahnya.

Tapi kini setelah Rustam tahu apa sebenarnya hubungan mereka maka Rustam dengan keras melarang Purnama.Sekarang cinta antara Musdar dan Purnama tak dapat meraih restu keluarga Purnama.

Pernah suatu ketika Musdar mengantarkan Purnama pulang dan di teras rumah itu Rustam berdiri dengan geramnya.

“Dari mana saja kau Purnama?” tanya Rustam sang ayah
“Kami baru pulang mengajar Pak!” sahut Musdar langsung.
“Hey Musdar, pemuda yang tak tahu diuntung, aku bicara pada putriku bukan denganmu,” sergah Rustam sambil menunjuk Musdar

Musdar terdiam dan menundukkan wajahnya

“Musdar! sebaiknya kau tahu diri sedikit, kau ini siapa? apa kau pikir aku akan senang melihat purnama bersama dengan mu,” hardik Rustam dengan kasar.

Sementara di teras itu Purnama yang terus bungkam menahan tangis saat Musdar di marahi oleh ayahnya.

Musdar masih terdiam terpaku.

“Musdar! jangan pernah kau bermimpi akan masuk kedalam keluargaku sebagai menantu, itu tidak akan pernah terjadi walau dunia kiamat sekalipun,” ujar Rustam dengan nada tinggi.

“Asal kau tahu ya Mus! Kau tak sepadan dengan putriku.”
“Jangankan untuk itu, harga dirimu dan keluargamu pun tak sebanding dengan telapak kakiku.”

“Jika seandainya orangtuamu masih hidup, maka aku akan berkata pada mereka bahwa anak mereka adalah pemuda hina yang tak punya rasa malu,” papar Rustam membentak.

Dalam diamnya Musdar merasa sedih jika disangkutpautkan dengan kedua orangtuanya yang telah lama meninggal.

“Pergi kau dari sini, aku muak melihat mukamu !” ujar Rustam mengusir Musdar.

Lalu dengan tanpa sepatah katapun Musdar terus beranjak meninggalkan rumah Purnama.

Sementara dari depan pintu rumah ibunya Purnama memperhatikan ketabahan Musdar saat di caci maki oleh suaminya yang tak pernah ia rasa semarah itu.

Di dalam rumah Istri Rustam berkata.
“Pak, mengapa kau menghina Musdar sampai sebegitunya?”

“Biarkan saja! agar ia tahu akan kadar dirinya, biar anak itu sadar bahwa ia tak pantas untuk Purnama anak kita,” jawab Rustam.

Istri Rustam hanya bisa terdiam dan tak banyak bertanya lagi walaupun ia tahu bahwa apa yang diperbuat oleh suaminya itu tidaklah benar.

Rustam kini sangat keras melarang Purnama untuk bertemu Musdar.

Sedangkan Purnama menangis sendiri di dalam kamar tidurnya. Ia bukan purnama yang dulu lagi yang dengan mudah selalu membantah ayahnya sebab Musdar selalu berkata bahwa orangtua adalah sosok mulia yang wajib untuk dipatuhi. Begitulah yang selalu dikatakan Musdar padanya

Di sela rasa gelisahnya. Purnama teringat pesan Almarhum ibunya Musdar yang telah memberinya sebuah kitab Al-Qur’an. Purnama mulai sholat dan membaca ayat Alquran hingga sepanjang malam sampai subuh.

Sejak itu Rustam selalu menghina Musdar saat kapan dan dimana ia berjumpa dengan Musdar dan itu sering sekali Rustam lakukan bahkan sempat suatu ketika Musdar meludah saat Musdar melintas di hadapan Rustam.

Ternyata apa yang di lakukan rustam terhadap Musdar ini menjadi buah bibir masyarakat yang mereka nilai tak sepantasnya seorang Lurah bersikap arogan seperti itu.

Di sisi lain antara Musdar dan Purnama hampir tak ada Waktu untuk saling bertemu. Keduanya saling memendam rasa rindu, rindu yang sangat berat sekali.

Sampai suatu ketika Rustam di pindah tugaskan ke Ibukota Kabupaten, maka keluargapun ikut pindah ke sana. Namun bagi Purnama hal ini sangatlah berat sebab mereka pastinya akan berpisah dengan Musdar.

Purnama ingin sekali bertemu Musdar tapi nampaknya semua itu sudah tak mungkin lagi, maka oleh sebab itu Purnama mengirim surat pada Musdar dan diantara melalui tangan Lena yang juga sahabatnya Purnama.

Musdar membuka surat yang Purnama layangkan itu.

[“Musdar! Hari ini mungkin aku akan pergi kebtempat tugas ayahku yang baru, namun aku tak ingin berhenti mengingatmu, sebab dirimu telah banyak mengajarkan aku arti kesabaran dan ketabahan hidup, darimu aku tahu bagaimana cara menghormati orangtua.

[“Musdar! maafkan aku yang tak bisa membela cinta kita, ayah tak sudi padamu, ia lebih memilih seseorang yang ia anggap lebih pantas untukku, untuk masa depanku, jadi seperti yang pernah kau katakan padaku bahwa seharusnya cinta bukanlah bunga berduri yang akan bisa menyakiti orang-orang yang ingin memetiknya.
Seharusnya cinta tak membuat seorang anak jadi durhaka pada orangtunya, bukankan begitu Mus!

[“Maafkan aku Mus! bila cinta kita berpisah seperti ini, andai Allah mengijinkan kita berjodoh, insyaallah kita pasti bertemu lagi.

[“Selamat tinggal buat pemuda biasa yang selalu ku kagumi.

[“Purnama.

Sesaat selembar kertas itu basah, rupanya beberapa butir air bening telah keluar dari kelopak mata Musdar saat ia membaca surat purnama itu.

Begitu cepat waktu berlalu, sudah tujuh bulan Musdar dan Purnama berpisah. Musdar masih berada di kelurahan kecil itu dan perannya masih mengajar honor pada bocah-bocah yang tak punya tempat belajar itu.

Di sisi lain Polisi yang telah lama menyelidiki kasus pembakaran sekolah Madrasah milik Musdar dan akhirnya dapat menangkap pelaku hingga Zamran pun ikut terseret ke penjara dan ditambah lagi adanya bukti-bukti kejahatan Zamran yang membuat Zamran di hukum dalam waktu yang cukup lama.

Zamran menyesal karena dendam tak akan pernah berubah hasil yang baik. Zamran mendekam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Usaha Zamran ikut bangkut hingga anak dan istri Zamran pindah ke kota lain karena tak tahan menanggung malu.

Suatu saat, Musdar berkeinginan mengajukan masalahnya untuk mendirikan remaja mesjid di kampungnya, hal ini membuat Musdar harus berangkat ke Ibukota Kabupaten.

Ternyata dunia memang selebar daun kelor. Saat Musdar di Ibukota Kabupaten, tanpa sengaja Musdar Musdar bertemu Purnama. pertemuan itu membuat keduanya terkejut. Akhirnya mereka berbincang-bincang di sebuah warung yang tak jauh dari tempat mereka berjumpa.

Mereka berdua saling bercerita dan tentunya saling melepas rindu. Purnama yang masih Istiqomah dengan hijabnya menceritakan bahwa dirinya sudah bertunangan dengan anak sahabat ayahnya namanya Ruslan dan Ruslan adalah seorang Dokter.

Purnama mengatakan bahwa bulan depan dirinya dan Ruslan akan menikah. Musdar terkejut mendengar itu.

Hal ini sesuai dengan permintaan ayahnya yang kini menderita penyakit gagal ginjal akut hingga sang ayah keluar masuk rumah sakit. Ayah sudah lama ingin dioperasi namun belum ada pendonor ginjal untuk ayahnya.

Purnama nampak terburu-buru. Ia hendak pergi ke rumah sakit. ia ingin menjenguk ayahnya yang sejak kemarin kesehatannya semakin memburuk dan sang ayah kerap mengerang kesakitan karena penyakit yang diidapnya. Lalu keduanya pun berpisah.

Keesokan harinya, Dokter Ruslan menyampaikan kabar gembira bahwa telah ditemukan pendonor yang secara sukarela dan setelah diperiksa maka ginjal itu cocok buat Rustam, ayahnya Purnama, maka dilakukan operasi secepatnya.

Operasi semula berjalan tegang selama beberapa jam. Raut gundah dan gelisah terlukis di wajah purnama dan ibunya namun pada akhirnya tranplantasi ginjal itu telah berjalan lancar.

Sipendonor ruangannya di pindahkan ke ruang instalasi gawat darurat sebab detak jantungnya tampak tak stabil setelah operasi itu.

Sementara Rustam merasa cukup baikan seusai operasi meskipun tubuhnya masih lemah hingga untuk sementara Rustam hanya duduk di kursi roda saja.

Keesokan harinya terdengar kabar di rumah sakit itu bahwa Sipendonor ginjal untuk Rustam itu telah meninggal dunia. Mayatnya terbaring kaku dan akan di pindahkan ke ruang jenazah. Mayat itu tertutup kain putih.

Dokter Ruslan menyampaikan kabar itu pada Rustam dan keluarganya. Kemudian Rustam dengan kursi roda yang didorong oleh istrinya serta bersama Purnama ingin sekali melihat jenazah orang yang telah mendonorkan ginjalnya itu buat kesembuhan Rustam.

Saat jenazah melintas untuk dipindahkan Purnama menahan suster yang membawanya.

Purnama mencoba membuka penutup wajah jenazah yang terbaring itu dan setelah Purnama membuka kain penutup itu, maka Purnama menangis histeris sambil meraung karena wajah itu sangat ia kenal, kenal sekali karena itu adalah Musdar sang pemuda biasa yang selama ini Purnama kagumi.

“Musdar …! Bu, ini Musdar!” ucap Purnama berkali-kali pada ibunya dengan terjejutnya.

Sang ibu bergegas untuk melihat dan ternyata benar itu adalah Musdar yang mereka kenal

“Purnama! jadi Musdar yang kau ceritakan padaku itu, inilah orangnya?” Dokter Ruslan bertanya penasaran karena Purnama pernah bercerita tentang Musdar padanya.

Purnama hanya mengangguk dengan air mata yang bercucuran.

“Pemuda ini berkata bahwa dia ikhlas mendonorkan ginjalnya buat Pak Rustam yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri,” ucap Dokter Ruslan.

“Sebelum dioperasi pemuda ini sholat dua rakaat dan ketika saya bertanya mengapa ia mau melakukan ini semua, ia menjawab bahwa ia sangat rindu pada ibunya,” tambah Dokter Ruslan lagi menjelaskan.

Sementara Istri Rustam berkata.
“Pak! orang yang mengorbankan hidupnya untukmu adalah pemuda yang dulu selalu kau hina dan caci maki, sekarang ia telah buktikan bahwa dirinya tak serendah apa yang kau kira.”

Sementara Rustam hanya diam dan tak berkutik, batinnya menangis dengan seribu penyesalan ketika Rustam mengingat betapa buruknya perlakuannya pada Rustam sewaktu dulu.

Tak lama, mayat Musdar segera dibawa ke kampung halamannya, ia si makamkan dekat sisa sekolah madrasahnya yang pernah ludes terbakar.

Orang-orang juga ikut bersedih akan nasib Musdar itu, begitu pula murid-muridnya yang sangat merasa kehilangan.

Dua hari kemudian setelah itu terbitlah surat izin dari kantor urusan agama bahwa pemuda-pemudi di situ diperbolehkan mendirikan perwiritan remaja mesjid dan melaksanakan kegiatan berbasis mesjid seperti apa yang dicita-citakan oleh Almarhum Musdar selama ini. Para pemuda begitu senang mengetahui ini.

Minggu ini Purnama dan Dokter Ruslan pun telah resmi menikah. Dokter Ruslan tak masalah jika Purnama selalu mengenang Musdar dan bahkan purnama dan dokter Ruslan membangun sekolah madrasah di atas tanah yang Musdar tinggalkan untuk anak-anak di kampung itu agar punya tempat belajar dan sekolah madrasah semua ini di kelola oleh Pemerintahan kelurahan.

Memang Musdar sang pemuda biasa itu telah tiada untuk selama lamanya, namun bagi keluarga Purnama Musdar selalu hidup di sanubari mereka, apalagi Purnama ingatan bersama Musdar tak akan pernah lekang dari memori masa lalunya.*

SINKAP.info | Penulis: Zaidan Akbar
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here