Beranda KOLOM Sastra Mimpi Asrul Dalam Tetesan Air Wudhu

Mimpi Asrul Dalam Tetesan Air Wudhu

820
Cerpen Naratif ditulis oleh: Zaidan Akbar

SASTRA, Sinkap.info – “Asrul ..! ayah pulang nak!” ucap seorang ayah yang bernama Sabran menyeru anaknya pada suatu sore di saat itu.

“Hore …! Ayah pulang …!, ayah pulang …!” Asrul menyambut ayahnya dengan girang sambil bertepuk tangan.

Sabran tampak tersenyum senang ketika melihat kegembiraan anak istimewanya itu. Rasa lelah seusai dua hari melaut kini hilang sudah setelah Sabran bertemu dengan anaknya.

Bagi Sabran, anak semata wayangnya itu adalah anugerah terindah yang Sabran miliki saat ini walaupun kondisi Asrul ini sungguh berbeda dengan teman-temannya.

Asrul adalah seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental. Usianya sudah memasuki enam belas tahun namun perangai Asrul masih seperti anak kecil saja. Keterbelakangan mental seperti yang melekat pada diri Asrul ini sering disebut dengan istilah Down Syndrome.

Asrul masih duduk di kelas empat SD meski usianya sudah remaja. Akan tetapi semangat Asrul begitu tinggi untuk sekolah. Keadaan Asrul ini membuat ia sering dibully dan diejek di sekolahnya.

Sebetulanya tidak semua teman sekolah Asrul membully-nya. Asrul memiliki tiga orang sahabat yang selalu peduli padanya yaitu Sulan, Inal dan Alwi. Ketiga bocah laki-laki inilah yang sering mengisi hari-hari Asrul.

Sedangkan Sabran kerap cemas terhadap masa depan anaknya itu. Semenjak Ibu Asrul meninggal dunia tiga tahun yang lalu, rasa was-was Sabran kini semakin menghantui sanubarinya. Dalam lubuk hati Sabran yang paling dalam, Sabran selalu khawatir untuk meninggalkan anaknya sendirian di rumah saat Sabran harus pergi melaut. Namun apa boleh buat, Sabran memang pekerjaannya hanyalah seorang nelayan kecil, jadi setiap harinya mestilah melaut untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Selepas pulang sekolah, Asrul menghabiskan waktunya dengan bermain bersama ketiga sahabatnya, yaitu Sulan, Inal dan Alwi. Mereka selalu mengisi hari di sebuah musholla kecil di dekat rumah Asrul. Musholla itu diberi nama ‘Babul Hidayah’.

Kondisi musholla itu memang memprihatinkan. Musholla yang bertungkat kayu Nibung sebagai penopang. Lantainya hanya bilah-bilah papan kayu, atapnya cuma Rumbia dan sedangkan dindingnya terbuat dari kepingan papan kelapa saja. Di sanalah Asrul dan ketiga temannya melewati cerianya hari. Hampir setiap hari Asrul dan teman-teman sholat dan belajar mengaji di musholla itu. Mereka belajar dibawah bimbingan ustaz Hanif yang juga seorang Nazir musholla itu.

Sebenarnya Asrul tak pandai mengaji, namun setiap hari Asrul selalu ikut dengan teman-temannya belajar mengaji di musholla Babul Hidayah. Keterlambatan pikiran yang dimiliki oleh Asrul membuat ia kerap kesulitan dalam belajar apapun.

Musholla Babul Hidayah sudah dua tahun berdiri, akan tetapi Fasilitas musholla itu sangat minim sekali. Mushola yang jadi kebanggaan Asrul ini tak memiliki tempat untuk berwudhu. Adapun selama ini para jamaah Musholla mendapatkan persediaan wudhu dari genangan air hujan pada tanah yang sengaja digali berupa cekungan seperti perigi di belakang musholla itu.

Bukannya tak peduli, tapi warga sekitar di sebuah dusun terpencil itu hanya dihuni kurang lebih berjumlah lima puluh enam kepala keluarga saja. Semua warga dusun bekerja menjadi nelayan kecil tradisional yang berpenghasilan sangat rendah, sehingga untuk membuat tempat berwudhu bagi musholla itu secara swadaya tentu mereka memang tak mampu.

Asrul selalu ingin belajar berwudhu, Ketiga sahabatnya itu juga sering mengajarinya. Namun apa mau dikata, Asrul sering lupa urutan berwudhu itu, memang inilah kekurangan Asrul sebagai anak yang ber-IQ lemah.

“Asrul! kau mengambil whudunya terbalik-balik, seharusnya, sesudah membasuh wajah sebanyak tiga kali, maka dilanjutkan dengan membasuh tangan hingga siku bukan membasuh kaki,” ucap Inal mengajari Asrul.

“Ya Asrul, kau harus ingat-ingat itu,” kata Alwi turut menegaskan.

“Waduh, aku lupa,” sambut Asrul sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Sementara Sulan hanya tersenyum kecil melihat kelucuan Asrul, sahabatnya itu.

Kebiasaan Asrul memang selalu menimba air untuk teman-temanya. Karena tubuh Asrul lebih besar dari teman-temannya, maka Asrul bersedia membantu ketiga temannya menimba air dari perigi musholla agar ketiga sahabat karibnya itu dapat berwudhu.

Pada suatu ketika, di kampung itu sedang terjadi kemarau panjang. Matahari begitu panas menikam kepala. Bumi meronta karena kerontang. Sedangkan sumur-sumur kering. Kegersangan menyelimuti seluruh dusun itu.

Orang-orang merindukan air, karena air adalah sumber kehidupan. Begitulah sepenggal pepatah yang sering didengar. Beberapa wadah milik warga dusun terpencil itu sudah mulai kandas, artinya persediaan air bersih sudah mulai menipis. Kemarau ini benar-benar menyiksa warga di situ.

Namun Asrul selalu memikirkan teman-temanya, bagaimana agar mereka dapat berwudhu. Sementara di musholla Babul Hidayah sudah tak ada lagi air. Perigi yang biasa mereka gunakan untuk berwudhu telah habis bahkan sangat kering dan yang tersisa hanya lumpur hitam saja.

Kemudian Asrul tak kehabisan cara. Anak keterbelakangan mental itu mengambil dua buah timba dari rumahnya lalu mengangkut air dari sungai yang berjarak kurang lebih delapan ratus meter dari Musholla. Asrul tak ingin teman-temannya tidak mendapatkan air untuk berwudhu di musholla Babul Hidayah. Hal ini dilakukan Asrul setiap hari.

“Sulan …! Inal …!, Alwi …! , ayo berwudhu, ada air, ada air!” seru Asrul dengan riang.

“Aku mengangkut air dari sungai untuk kalian,” ujar Asrul dengan tawanya.

“Terimakasih Asrul, kami bangga padamu, kau memang teman yang baik,” kata Sulan pada Asrul.

Sedangkan Ustadz Hanif merasa kagum pada Asrul. Dalam hatinya bergumam.

“Meskipun Asrul ini tak sempurna, tapi ia tahu cara berbuat baik.” Begitulah benak Ustadz Hanif berbisik.

Tak lama berselang, masuklah waktu sholat ashar dan mereka pun sholat ashar berjamaah serta dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengaji membaca Alquran.

Seminggu kemudian Asrul sakit, mungkin terlalu letih karena telah mengangkut air setiap harinya. Ketiga sahabatnya dan ustadz Hanif datang menjenguk Asrul. Asrul merasa senang sekali. Asrul terlihat sedang bersenda gurau bersama ketiga sahabatnya itu.

MENARIK DIBACA:  Sarjana Tanpa Aksara

Sementara Ustadz Hanif nampak berbincang dengan Sabran, ayahnya Asrul.

“Asrul anak yang istimewa Pak,” cetus Ustadz Hanif pada Sabran.

“Terimakasih banyak, Ustadz telah membimbing anak saya dan saya juga bangga punya anak seperti Asrul”, ungkap Sabran.

“Asrul rela berbuat apa saja untuk membantu teman-temannya, Apalagi untuk soal menyediakan air Whudu di musholla, saya salut pada Asrul,” kata ustadz Hanif.

Sabran tersenyum luwes, ucapan Ustadz Hanif membuat batinnya merasa tersanjung karena pujian Ustadz Hanif terhadap anaknya, lalu Sabran pun berkata.

“Asrul sekarang menabung, Ustadz tahu buat apa? kata Asrul ia ingin sekali membangun sumber air dan tempat wudhu di musholla itu.”

Sementara Ustadz Hanif tertegun saja mendengar ucapan ayah Asrul itu. Ustadz Hanif baru tahu bahwa betapa mulianya hati Asrul ini, remaja enam belas tahun yang punya keterbelakangan mental itu.

“Oh ya, Ustadz! boleh saya minta tolong satu hal? tanya Sabran dengan pintanya pada Ustadz Hanif.

“Apa itu, Pak Sabran?” Ustadz Hanif bertanya balik.

Sabran sejenak menghela napas panjang dan berucap.

“Ustadz! saya minta tolong jaga anak saya, seandainya saya tidak punya waktu banyak untuk hidup bersama Asrul” jelas Sabran kepada Ustadz Hanif.

Ustadz Hanif sebenarnya tak mengerti apa maksud dari Sabran, artinya Sabran mau pergi kemana?. Ustadz Hanif hanya menganggap Sabran sedang bicara ngawur. Ustadz Hanif tersenyum kecil dan ia hanya terdiam saja.

Saat berpamitan, Asrul berucap.

“Pak Ustadz! Pak Ustadz! aku sudah sembuh, … sembuh pak ustadz, jadi besok aku boleh belajar ngaji lagi kan Pak ustadz?” tanya Asrul dengan kalimat yang berulang-ulang.

“Boleh,” jawab Ustadz Hanif dengan senyuman.

Senyuman yang sama juga dilemparkan oleh Sulan, Inal dan Alwi yang melihat sahabat istimewa mereka itu kondisinya sudah mulai membaik.

Pada malam harinya, Sabran tetap meneruskan niatnya untuk melaut, sebab ini cara untuk menghidupi dan membahagiakan anak tercintanya, Asrul.

Seperti biasa, Sabran ditemani seorang pemuda yang bernama Nurdin sebagai kawan melautnya selama ini. Sabran tampak mempersiapkan segala perbekalan dan keperluan untuk kepergian mereka. Sebelum pergi Sabran sempat memeluk erat dan mencium kening Asrul.

Kurun Waktu dua hari, terdengar kabar bahwa telah terjadi perampokan di laut muara selat Malaka. Ternyata korbannya adalah Sabran dan Nurdin. Para nelayan turut mencari keberadaan mereka berdua sampai akhirnya Nurdin ditemukan tak bernyawa. mayat Nurdin terpuruk di pantai di bawah sebatang pohon bakau. Tubuh Nurdin penuh dengan luka bacok dan sabetan senjata tajam. Hanya mayat Nurdin yang ditemukan. Sedangkan perahu dan mayat Sabran tak dapat ditemukan walau telah berhari-hari dicari oleh para nelayan di daerah itu.

Sampai kini, mayat Sabran tak jua diketemukan. Peristiwa ini menimbulkan asumsi yang berbeda pada warga setempat.

Bahkan masyarakat di situ beranggapan bahwa Nurdin dan Sabran bukanlah dirampok, akan tetapi Nurdin adalah korban pembunuhan yang dilakukan oleh Sabran sendiri. Warga berpendapat bahwa telah terjadi pertengkaran ditengah laut antara Sabran dan Nurdin, lalu Sabran membunuh Nurdin dan kemudian Sabran melarikan diri ke tempat yang jauh. begitulah pendapat dan pikiran warga karena mayat Sabran sampai saat ini tidak diketemukan.

Terlepas dari benar tidaknya pendapat dan kecurigaan warga itu, namun bagi Asrul, ia tetap kehilangan ayahnya, Ayah yang ia cintai.

Sejak peristiwa itu, Asrul semakin di-bully dan semakin diejek. Asrul sering dijuluki sebgai anak seorang pembunuh. Pernah satu ketika Asrul pulang dari sekolah sambil berteriak.

“Ayahku bukan pembunuh …!” Kalimat ini berulang kali Asrul pekikkan sambil menangis. Asrul berlari kencang dan pulang dari sekolah. Ia terus berlari serta mengucapkan kata-kata tadi hingga Asrul tiba di rumahnya yang pekat dalam kesepiannya itu.

Jiwa Asrul makin tertekan. Asrul mulai menangis saat ia dijuluki sebagai anak seorang pembunuh oleh anak-anak dusun itu.

Namun bagi Sulan, Inal dan Alwi tak ada yang berubah. Mereka tetap sayang pada Asrul, sahabat mereka itu. Begitu pula pada Ustadz Hanif.

“Pak Ustadz! Ayahku bukan pembunuh kan pak ustadz? ya kan pak ustadz? tanya Asrul berkali-kali.

“Ya, Asrul aku percaya padamu, teman-temanmu juga percaya padamu, jangan khawatir ayahmu adalah orang baik, ia tak mungkin melakukan itu.” Ustadz Hanif mencoba meyakinkan Asrul.

Kemudian ketiga sahabat baiknya itu memeluk Asrul dan mereka mengajak Asrul untuk sholat di mushola.

Kemarau masih saja terjadi, panas terus menghantam bumi. kesulitan akan air bersih sudah lama terasa. Kapan hujan akan turun? siapa yang tahu. Sementara Asrul mulai tak peduli kata orang. Ia tetap saja mengangkut air dari sungai untuk persediaan wudhu di musholla.

Pada hari yang lain, di sekolah Asrul sedang diadakan lomba lukis bagi siswa, termasuk Asrul. Lomba lukis ini langsung di hadiri oleh Kepala Dinas pendidikan Kabupaten. Terlihat anak-anak mulai melukis dangan berbagai kepiawaian mereka. Lukisan itu bermacam-macam dan tentunya dengan versi anak-anak.

Di akhir acara, di umumkan lah para pemenang dari lomba tersebut. Juara satu sampai juara tiga diumumkan namanya dan kuda terdapat satu lukisan terunik tanpa nama. Lukisan terunik itu pasti milik Asrul karena Asrul memang tak pandai menulis namanya sendiri.

Setiap siswa terpilih diharapkan dapat menceritakan maksud lukisannya. Juara satu sampai juara tiga telah selesai menceritakan maksud lukisan mereka dan tibalah pada Asrul bercerita.

Ternyata Lukisan Asrul hanya berupa coretan-coretan saja yang memenuhi selembar karton gambarnya dan itulah lukisan terunik. Asrul mulai bercerita.

“Air …! Air …! orang sholat perlu air, orang berwudhu butuh air, tapi di musholla sekarang tak ada air.

MENARIK DIBACA:  Menjaga Sumpah di Pundak Ihsan

“Tabunganku untuk tempat air, supaya sulan, Inal dan Alwi bisa mengajari aku berwudhu di musholla.

“Aku tidur, aku mimpi, aku melihat ayah diikat dan dilempar ke dalam air, ayah tenggelam, ayah hanyut, ayah sudah sampai di surga, ayah tidak membunuh …! mereka berbohong …!” teriak Asrul sembari menangis terisak-isak dan mengucek-ngucek mata dengan tangannya seperti seorang anak kecil yang merengek.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten tentu tak mengerti dengan ucapan anak cacat mental ini.

Bu guru memanggil Sulan untuk menerjemahkan apa maksud ucapan Asrul?. Kemudian Sulan menjelaskan bahwa mereka punya musholla yang tidak memiliki persediaan air untuk tempat berwudhu. Mereka belajar mengaji di sana, Asrul menabung uangnya untuk membangun tempat wudhu untuk musholla itu. Selain itu Asrul bermimpi bahwa ia melihat ayahnya dibunuh dan ditenggelamkan di laut. Ayahnya bukan membunuh Nurdin seperti orang-orang bicarakan selama ini. Karena bully yang diterima Asrul saat ini membuat jiwa Asrul makin tertekan.

Setelah Sulan selesai bicara, maka Asrul mengambil sebuah toples kecil dari tasnya dan mengeluarkan uang yang ada di dalamnya. Jumlah uang tersebut hanyalah tujuh puluh lima ribu rupiah. Lalu Asrul mendekati kepala Dinas dan memberikan uang itu Kepada Kelapa dinas seraya berkata.

“Bapak yang hebat! uang ini aku tabung untuk membeli tempat air wudhu, cukupkah? jika kurang tolong Bapak tambahi ya …!” ucap Asrul bermohon.

Kedua bola mata Kadis Pendidikan itu kini berkaca-kaca, air mata yang sebenarnya tak bisa ia tahan lagi, ternyata tumpah jua di pipinya. Laki-laki Pejabat itu memeluk Asrul. Pelukan itu begitu erat. Pelukan tanpa adanya sepatah katapun yang Pak Kadis utarakan.

Setelah itu Pak Kadis bersama rombongan meninjau musholla yang mereka maksud. Setelah sampai ke lokasi, Pak Kadis menyadari bahwa kondisi mushola itu memang sangat memperhatikan. Pak Kadis memutuskan untuk memperbaiki musholla Babul Hidayah itu beserta tempat wudhunya. Air akan bersumber pada sumur bor yang akan dibangun di musholla itu dan pembangunan direncanakan paling lama akan dimulai pada bulan depan.

Pada malam harinya, hujan turun menghapus kesombongan kemarau. Telah turun butir-butir air harapan itu. Hujan kali ini membawa petir dan Sinaran kilat yang menyilaukan langit.

Sementara Asrul yang sendirian saja di rumahnya. Asrul terbangun karena kuatnya dentuman petir. Asrul teringat akan Sulan, Inal dan Alwi. Lalu Asrul keluar dari rumahnya. Asrul sendirian berjalan ke arah musholla dan Asrul menampung air hujan sendirian. Asrul berniat untuk persediaan air wudhu untuk jamaah terutama teman-temannya.

Petir yang sahut-sahutan begitu kuat suaranya. Naas dan nestapa adalah rahasia Sang Maha Kuasa. Salah satu dentuman kuat petir itu ternyata menyambar ubun-ubun Asrul. Sambaran petir ini membuat Asrul meregang nyawa di tempat dan Asrul tersungkur dengan tubuh yang lembam di belakang musholla itu. Tiada yang tahu apa yang terjadi saat itu. Asrul tersungkur sepanjang malam di situ.

Keesokkan paginya, sudut-sudut dusun geger atas penemuan mayat Asrul yang tersungkur di belakang musholla itu. Asrul terbaring di samping wadah-wadah penampungan air yang telah terisi penuh. Petir tadi malam telah menyebabkan kematian Asrul.

Sulan, Inal dan Alwi berserta Ustadz Hanif merasa begitu terpukul sekali atas kepergian Asrul ini, karena mereka tahu bahwa tujuan Asrul ke Musholla tengah malam, hujan-hujanan hanya untuk menampung air demi persiapan wudhu di musholla tersebut.

Kini Asrul hanya tinggal kenangan. Ingatan bersama Asrul tak akan pernah lupa dari benak Sulan, Inal dan Alwi. Kelucuannya, periangnya canda dan tawanya begitu lekat dalam memori mereka. Namun semua telah terjadi, tiada yang lebih baik dilakukan selain megikhlaskan Asrul untuk pergi menghadap Tuhannya.

Asrul pun dimakamkan di sela tangis haru sahabat-sahabatnya itu. Pusara Asrul berada dekat musholla itu untuk mengenang Asrul dan juga mimpi-mimpinya.

Tepat sebulan kemudian, sesuai janji dari Pak Kadis beberapa waktu yang lalu, perbaikan musholla Babul Hidayah pun mulai dikerjakan. Tempat wudhu untuk para jamaah juga mulai dibangun. Sumur bor kini hampir selesai di pasang dan dalam waktu tiga bulan musholla Babul Hidayah itu kini sudah terlihat lebih baik dan lebih mewah.

Sementara di sisi lain, salah seorang penduduk Desa di seberang tanjung muara Selat Malaka berkunjung mencari Ustadz Hanif. Ia bercerita bahwa tujuh bulan yang lalu, mereka mendapatkan mayat laki-laki dengan tubuh terikat dan hanyut terbawa arus, karena kondusinya mulai busuk maka mereka langsung menguburkannya di pemakaman umum daerah itu. Mayat laki-laki itu memakan cincin putih logam yang bertuliskan ‘ASRUL’ .

Ustadz Hanif memegang cincin logam itu dan menerangkan bahwa Asrul yang dicari oleh orang itu sudah wafat tiga bulan yang lalu dan terungkaplah sudah tentang hilangnya jasad Sabran yaitu karena terbawa arus ke hulu seberang tanjung dan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa serta dimakamkan di sana sehingga dapat disimpulkan bahwa Sabran bukan membunuh Nurdin, tapi keduanya adalah korban pembunuhan dan perampokan di laut yang pelakunya tidak dikenal.

Sudah lima belas tahun kisah ini, sekarang Sulan sudah menjadi seorang Hakim Pengadilan Agama, Inal kini adalah seorang Dosen di sebuah Universitas ternama di pulau Jawa. Sedangkan Alwi merupakan manager BUMN di Sumatra Barat.

Kesuksesan ketiga sahabat Asrul ini tidak membuat mereka lupa kenangan masa lalu, apa lagi itu menyangkut Asrul sahabat mereka. Mereka giat dalam membantu perbaikan untuk musholla Babul Hidayah yang memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga buat mereka bertiga. Berbagai kegiatan sosial mereka ikut di daerah mereka masing-masing. Mereka menjadi begitu dermawan terhadap musholla dan masjid. Karena pelajaran masa lalu mereka sangat membekas.

#cerita_ini_hanya_fiktif_belaka
#setiap_orang_bisa_berbuat_baik_meski_dengan_keterbatasan
#jangan_buat_keptusan_sebelum_tahu_faktanya

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here