HEALTH, Sinkap.infoSaat ini kita digegerkan dengan penemuan yang cukup menyita perhatian masyarakat dunia, yaitu kemunculan Virus Corona baru yang terdeteksi pertama kali pada pedagang daging di sebuah pasar tradisional di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019.

Sejak saat itu, virus ini menyebar secara luas ke beberapa kota di China, bahkan secara masif merambah ke luar negeri seperti Jepang, Korea selatan, Taiwan, Amerika dan perancis, termasuk 3 negara di Asia Tenggara yaitu Thailand, Vietnam dan Singapura.

Melansir berita yang dilaporkan oleh media setempat, bahwa hingga saat ini (25/1) total penderita terinfeksi virus sebanyak 1.300 dan korban tewas mencapai 41 orang. Bangsal-bangsal rumah sakit di Wuhan kian dipenuhi oleh banyaknya pasien yang terindikasi terinfeksi virus korona dengan nama resmi 2019-nCoV ini.

Beberapa Rumah Sakit Darurat pun telah dibangun dengan cepat di lokasi sumber wabah sehingga seluruh petugas kesehatan dikerahkan bekerja secara ekstra, hal inilah yang menjadikan para petugas medis disana mengalami stress berat akibat bekerja terus menerus tanpa batas waktu, dikarenakan pasien kian membludak. Dampak kerugian ekonomi pun dilaporkan meningkat secara tajam yang menyebabkan masyarakat pedangan frustasi akibat sejumlah pasar disegel oleh pemerintah setempat.

Mengerikan bukan?

Jenis Coronavirus baru ini sedang spektakuler dikaji saat ini oleh Biosafety Laboratoratorium Keamanan Hayati Negara Cina untuk mempelajari lebih jauh tentang seluk beluk pathogen berbahaya sekelas Ebola dan SARS ini. Pasalnya penderita virus akan mengalami gangguan pernafasan dan pencernaaan yang berujung pada kegagalan multi organ pada tubuh penderitanya.

Prognosis penyakit memang sangat buruk karena daya virulensinya sangat kuat dan tidak merespon terhadap pengobatan antibiotik. Lebih berbahayanya lagi, virus ini menular melalui transimisi udara yang terinhalasi atau terhirup melalui hidung atau mulut sehingga memudahkannya secara massif progresif berpindah dari manusia satu ke manusia lainnya.

Hal yang perlu kita cermati adalah virus 2019-nCoV ini berasal pertama kali dari Cina, tentunya mengingatkan kita kembali pada epidemic virus SARS atau secure acute respiratory syndrome (sindrom pernapasan akut) pada  tahun 2003-2004 yang telah membunuh hampir 800 orang di 17 negara di dunia, yang juga pertama kali berasal dari Cina.

MENARIK DIBACA:  Khasiat Meletakkan Es Batu di Tengkuk Leher yang Tidak Banyak Orang Tahu

Ada apa dengan Cina ???? mengapa virus se ‘spektakuler’ Corona penyabab SARS dan Coronavirus 2019-nCoV yang berdampak besar pada kematian penderitanya sesaat setelah terinfeksi itu bersumber dari Cina.

Para ahli di Cina menemukan bahwa kemungkinan terbesar koronoa virus berasal dari Ular. Melalui uji eksperimental ditemukan virus corona pada ular jenis trait yang  banyak ditemukan di Cina bagian Selatan dan Asia Tenggara. Mereka telah menemukan kode genetic virusnya pada ular dengan nama latin Bungarus Multicinctus itu dan secara pathogen bertanggungjawab atas wabah yang terjadi di Wuhan Cina.

WHO kemudian menyebutkan bahwa jenis virus korona baru yang diberi nama 2019-nCoV atau Novel Coronavirus dan penyakitnya disebut Wuhan Coronavirus. Ini adalah jenis ke-7 dari virus corona yang menyerang sel RNA manusia. Virus corona berbahaya lain adalah penyebab penyakit SARS yang ditemukan pada kelelawar dan musang liar di Negara cina, awal infeksi virus corona tersebut juga terjadi pertama kali di Pasar Grosir Makanan Laut di Cina Selatan.

Menjawab virus penyebab kekacaun ini terjadi, ternyata erat kaitnya dengan faktor perilaku masyarakat dan keadaan sanitasi lingkungan. Vendor pasar makanan cina melaporkan bahwa Pasar Makanan Laut di Wuhan  menjual berbagai makanan unik, mulai dari anak serigala, rubah hidup, buaya, salamander raksasa, ular, tikus, kelelawar hingga musang. Beberapa binatang yang dijual di pasar itu merupakan spesies yang terkait dengan pandemic sebelumnya yaitu penyakit SARS.

Dalam video yang diviralkan melalui jaringan sosial media tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat di Cina bahkan gemar memakan binatang tersebut secara mentah, ditambah lagi memperlihatkan betapa joroknya keadaan sanitasi di pasar makanan yang becek dan bertebaran hewan liar tersebut.

Fenomena di Cina ini tentunya menjadi pelajaran penting bagi kita semua untuk terus memperhatikan health lifestyle dan juga bahaya mikrobiologis akibat sanitasi yang buruk. Masyarakat harus lebih mengedepankan tindakan preventif dari pada tidak berbuat banyak hingga bahaya terjadi. Jangan tunggu setelah badai datang, dan penyesalan tidak ada manfaatnya lagi.

MENARIK DIBACA:  Kalau Saya Jadi Sutradara Sinetron Pelecehan Sexual Perawat

Mengingat virus korona ini belum ditemukan vaksin pencegahannya, kita bisa melakukan tindakan prevensi dengan melakukan hal-hal yang bersifat imunitty support dengan memperhatikan kesehatan makanan kita serta berperilaku hidup bersih dan sehat dengan memperhatikan self hygiene dan sanitasi yang baik. Sanitasi yang baik diwujudkan dengan perilaku pembudayaan hidup bersih masyarakat untuk mencegah bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan kontaminan lainnya untuk menghindarkan kita dari pajanan mikrobakteria pathogen penyebab penyakit.

Saat ini pemerintah Cina telah menetapkan Level Darurat tertinggi Virus Korona. Puluhan juta masyarakat telah dikarantina dan para penderitanya diboxing menggunakan tabung plastik. Pemerintahnya telah menutup akses 12 kota besar di Cina dan pendudk Wuhan sendiri dilarang melakukan perjalanan karena dikhawatirkan akan menularkan virusnya lebih banyak lagi, penduduk Negara lain yang terinfeksi disinyalir akibat memiliki riwayat perjalanan ke Cina dalam beberapa waktu terdekat.

Hingga saat ini Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi telah mengkonfirmasi bahwa belum ada Warga Negara Indonesia terinfeksi virus Korona baru di Wuhan, namun tetap waspada mengingat periode inkubasi virus korona jenis ini 5 sampai dengan 14 hari.

Menteri Kesehatan Ri pun telah menetapkan siaga satu terhadap virus korona untuk mencegah virus dari  Cina itu masuk ke Indonesia. Saat ini pemerintah kita telah mengaktifkan 13 alat pemindai suhu tubuh atau thermo scanner di 135 pintu masuk Indonesia baik melalui akses darat, laut maupun udara.

Semoga kita tetap waspada dan terhindar dari penyakit mematikan ini, dan harapannya semoga pemerintah cina cepat mengambil langkah penanganan yang tepat untuk memerangi wabah ini dan masyarakat dunia bisa kembali hidup tenang, damai dan gembira.(*)

Sinkap.info |Penulis: Mirawati Tongko, S.Kep, Ns, M.MKes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here