Temuan Peternakan Telur Picu Sorotan, Komitmen Cage-Free Marriott Dipertanyakan Publik Global

Kesehatan, NASIONAL150 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info – Komitmen Marriott International untuk menggunakan 100 persen telur bebas kandang (cage-free) hingga 2025 menjadi sorotan setelah temuan lapangan mengungkap dugaan masalah kesejahteraan hewan dan kebersihan di salah satu peternakan pemasok.

Temuan tersebut diungkap dalam kunjungan lapangan yang dilakukan pada November 2025 oleh Indonesia Network for Compassionate Animal Farming (INCAF) bersama mitra internasional di sebuah peternakan yang mengklaim memasok telur ke properti Marriott.

Dalam laporan tersebut, tim menemukan sejumlah kondisi yang dinilai memprihatinkan, antara lain telur disimpan di lantai bercampur kotoran, infestasi lalat di sekitar pakan, penumpukan feses di kandang, serta adanya bangkai ayam yang dibuang di area peternakan. Selain itu, ditemukan pula ayam dengan luka serius pada mata, kondisi kandang sempit dan kotor, serta keterbatasan akses air bersih.

MENARIK DIBACA:  Menteri Nusron Kunjungi Papua, Sosialisasi Tanah Ulayat dan Serahkan Sertipikat Rumah Ibadah

Direktur INCAF, Frank Kembuan, menilai temuan tersebut menimbulkan pertanyaan serius terhadap implementasi komitmen perusahaan.

“Marriott memiliki nilai ‘Serve Our World’, namun temuan ini menimbulkan pertanyaan bagaimana komitmen tersebut dijalankan di lapangan,” ujarnya.

Sejak 2018, Marriott telah berkomitmen untuk beralih sepenuhnya ke telur cage-free di seluruh operasional globalnya pada akhir 2025. Namun hingga kini, perusahaan belum memberikan pembaruan resmi terkait pencapaian target tersebut meski telah dimintai konfirmasi.

MENARIK DIBACA:  Aice Group Bangun Ruang Kelas Serbaguna untuk Santri di Lombok

INCAF menyatakan investigasi ini merupakan bagian dari gerakan regional di Asia yang mendorong transparansi dan akuntabilitas rantai pasok industri makanan, termasuk di negara seperti China, India, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Pihak Marriott disebut telah dihubungi untuk memberikan klarifikasi terkait temuan tersebut, termasuk memastikan apakah peternakan yang dimaksud merupakan bagian dari rantai pasok mereka saat ini. Namun, hingga laporan ini dirilis, belum ada tanggapan resmi dari perusahaan.

Temuan ini memunculkan kembali perdebatan mengenai praktik kesejahteraan hewan dalam industri pangan, serta pentingnya pengawasan terhadap komitmen keberlanjutan perusahaan global.