Beranda BERITA Keunikan Warisan Budaya Manusia Buaya di Tanah Papua Nugini

Keunikan Warisan Budaya Manusia Buaya di Tanah Papua Nugini

398

Sinkap – Di Papua Nugini ada Suku Chambri yang unik dan dijuluki sebagai Manusia Buaya. Kulit mereka disayat membentuk sisik buaya, untuk menandakan kedewasaan dan penghormatan pada buaya sebagai leluhurnya.  Sama seperti suku-suku di Papua (karena masih satu daratan), Papua Nugini memiliki banyak suku dengan tradisi yang aneh dan unik. Beberapa tradisinya mungkin terlihat menyakitkan, tapi tidak bagi mereka yang melakukannya turun temurun.

Salah satu suku di Papua Nugini yang punya tradisi khas adalah Suku Chambri. Mereka mendiami daratan di sekitar Danau Chambri, Provinsi Sepik. Dilihat dari peta posisinya ada di utara Papua Nugini yang bisa ditempuh naik pesawat selama 2 jam dari ibukota negara Papua Nugini, Port Moresby.

Suku Chambri hidup sehari-hari sebagai pemburu binatang seperti babi dan juga memancing ikan bagi yang pria, serta berkebun bagi yang wanita. Kehidupan mereka masih sangat sederhana, listrik saja belum masuk ke pemukimannya. Lalu, apa tradisi khas Suku Chambri? Tradisi khas sukunya dilakukan hanya oleh para pria. Tradisi berupa menyayat badan dan membentuk kulit di badannya menjadi mirip sisik buaya.

MENARIK DIBACA:  Berita Berduka, KH Hasyim Muzadi Tutup Usia. Berikut Pesan Beliau Kepada Khofifah Indar Parawansa, Mensos RI.

Ceritanya begini, di sekitar tempat tinggal Suku Chambri di Danau Chambri dan Sungai Sepik masih banyak buaya yang hidup. Ada dua jenisnya, buaya Papua Nugini dan buaya muara. Ukurannya besar-besar, dari 4 sampai 7 meter! Bagi Suku Chambri, buaya merupakan hewan yang sangat diagungkan. Sebab mereka percaya, leluhur mereka dulunya adalah buaya yang semacam berevolusi ke daratan dan berubah menjadi manusia. Mereka juga menjaga kehidupan buaya dan tidak memburunya.

Tradisi menyayat badan dan membentuk kulit di badan menjadi mirip sisik buaya, sudah dilakukan sejak zaman dulu. Tradisi ini merupakan suatu tanda seorang pria menjadi dewasa. Biasanya dilakukan dari mulai 11 tahun hingga 25 tahun. Yang menyayatnya, adalah kepala suku. Mereka yang disayat pun harus menahan rasa sakit, kala pisau mencabik-cabik kulit mereka. Kabarnya, tak sedikit juga ada yang meninggal karena kehabisan darah dan tidak tahan dengan rasa sakitnya. Menyayatnya juga tidak sembarangan menyayat. Ada ritual tarian dan doa-doa sebelum kepala suku mengambil pisau dan melakukan tugasnya. Sebab tradisi ini pun masih dianggap luhur.

MENARIK DIBACA:  Riau Menjadi Kandidat Pemindahan Ibu Kota Negara yang Diperhitungkan

Arti dari tradisi ini ada tiga. Pertama, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Suku Chambri yang dipercaya adalah buaya. Kedua, tradisi ini menandakan kedewasaan seorang pria. Ketiga, tradisi ini dipercaya akan membuat para pria menjadi orang yang kuat karena mampu melewati rasa sakitnya.

Seluruh pria Suku Chambri memiliki bekas sayatan dan terlihat seperti sisik buaya. Mereka juga dengan bangga, memamerkan bekas sayatannya. Asyiknya, Suku Chambri sudah terbuka dan terbiasa dengan kedatangan turis. Wah, ternyata unik – unik ya kebudayaan yang ada di Indonesia, salah satunya suku Chambri ini. Btw, kamu berani gak kulitnya disayat agar menyerupai buaya??

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here