HONG KONG, SINKAP.info – Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR) menuntaskan misi diplomasi dan bisnis selama lima hari ke Kazakhstan dan Uzbekistan dengan capaian signifikan berupa penguatan hubungan bilateral serta perluasan kerja sama ekonomi dengan kawasan Asia Tengah.
Misi yang dipimpin Kepala Eksekutif HKSAR, John Lee, tersebut melibatkan lebih dari 70 pemimpin bisnis dan institusi dari Hong Kong serta Tiongkok Daratan. Delegasi ini menjadi misi luar negeri terbesar dan paling beragam yang dipimpin Pemerintah HKSAR pada periode pemerintahan saat ini.
Dalam kunjungan yang berlangsung hingga 5 Juni 2026 itu, delegasi berhasil menjalin sebanyak 96 nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama, terdiri dari 61 kesepakatan dengan Kazakhstan dan 35 kesepakatan dengan Uzbekistan. Total nilai kerja sama yang dicapai diperkirakan melebihi US$1,65 miliar.
Saat berbicara kepada media di Uzbekistan pada 4 Juni 2026, John Lee menjelaskan bahwa kunjungan tersebut memiliki tiga tujuan utama, yakni menjajaki pasar-pasar baru sebagai fondasi pengembangan ekonomi dan perdagangan jangka panjang, memperkuat hubungan antarpemerintah, serta membangun model kerja sama “hub-to-hub” antara Hong Kong dan negara-negara Asia Tengah.
Menurutnya, kunjungan tersebut menghasilkan berbagai capaian strategis, mulai dari pembentukan hubungan tingkat tinggi antara pemerintah Hong Kong dengan Kazakhstan dan Uzbekistan, pendalaman kolaborasi di sektor keuangan, inovasi dan teknologi, hingga penerbangan.
Selain itu, misi tersebut juga memperkuat posisi Hong Kong sebagai pusat penghubung global yang membantu perusahaan Hong Kong dan Tiongkok Daratan memasuki pasar-pasar baru melalui sinergi bisnis yang lebih luas.
Selama berada di Tashkent pada 3 hingga 5 Juni 2026, John Lee melakukan serangkaian pertemuan dengan para pemimpin dan pejabat tinggi Uzbekistan guna membahas peluang kerja sama di bidang perdagangan, investasi, keuangan, teknologi, serta pertukaran masyarakat.
Ia bertemu dengan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, Penasihat Presiden untuk Pembangunan Strategis Sardor Umurzakov, Perdana Menteri Abdulla Aripov, serta Wakil Perdana Menteri Jamshid Khodjayev.
Dalam berbagai pertemuan tersebut, John Lee menegaskan bahwa Hong Kong memiliki keunggulan unik di bawah prinsip “Satu Negara, Dua Sistem”, yang memungkinkan wilayah tersebut memanfaatkan keunggulan Tiongkok sekaligus akses global.
Ia menilai Hong Kong dapat terus memainkan peran sebagai “super connector” dan “super value-adder” dalam mempererat hubungan ekonomi dan investasi dengan Uzbekistan maupun negara-negara Asia Tengah lainnya.
Salah satu hasil penting kunjungan tersebut adalah kesepakatan pengaturan bebas visa timbal balik antara Hong Kong dan Uzbekistan. Kesepakatan itu memungkinkan warga dari kedua wilayah melakukan kunjungan tanpa visa hingga 30 hari.
Selain itu, kedua pihak juga telah menyepakati inisialisasi Perjanjian Layanan Udara yang diharapkan dapat membuka penerbangan langsung penumpang antara Hong Kong dan Uzbekistan dalam waktu dekat.
Dalam jamuan makan malam bisnis tingkat tinggi di Tashkent, John Lee menyebut Hong Kong dan Uzbekistan memiliki posisi strategis sebagai gerbang perdagangan dan investasi bagi kawasan masing-masing, yakni Asia Pasifik dan Asia Tengah.
Menurutnya, kedua wilayah juga memiliki kesamaan visi dalam mendukung Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) yang menjadi kelanjutan semangat Jalur Sutra kuno melalui pembangunan konektivitas dan kerja sama ekonomi modern.
Ia menambahkan bahwa Tiongkok saat ini merupakan mitra dagang terbesar Uzbekistan dan kedua negara terus memperkuat kerja sama dalam berbagai proyek infrastruktur dan konektivitas yang mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan.
Selain agenda diplomasi dan bisnis, delegasi Hong Kong juga mengunjungi IT Park Uzbekistan dan Center for Islamic Civilization sebelum mengakhiri rangkaian kunjungan di Tashkent.
Pemerintah HKSAR berharap hasil kunjungan tersebut dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Hong Kong dan kawasan Asia Tengah, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi, perdagangan, investasi, pendidikan, serta pertukaran budaya di masa mendatang.







