Senny Marbun Menang Telak, Siap Ubah Peta Olahraga Disabilitas ASEAN

NASIONAL, Sosial199 Dilihat

SOLO, SINKAP.info – Tokoh olahraga disabilitas Indonesia, Senny Marbun, resmi terpilih sebagai Presiden ASEAN Para Sports Federation (APSF) periode 2026–2030. Keputusan tersebut ditetapkan melalui pemungutan suara dalam Sidang Umum APSF yang berlangsung di Grand Ballroom Hotel Alila Solo, Sabtu (6/6/2026).

Dalam proses pemilihan yang melibatkan perwakilan dari 11 negara anggota APSF, Senny Marbun meraih tujuh suara dan unggul atas kandidat asal Thailand, Maitree Kongruang, yang memperoleh empat suara.

Terpilihnya Senny menandai dimulainya kepemimpinan baru APSF setelah federasi olahraga disabilitas Asia Tenggara tersebut dipimpin oleh Osoth Bhavilai dari Thailand selama satu dekade terakhir.

Senny akan memimpin APSF bersama jajaran Komite Eksekutif periode 2026–2030 yang terdiri dari Dr. Teo-Koh Sock Miang (Singapura), H.E. Yi Veasna (Kamboja), Michael Barredo (Filipina), dan Dr. Than Than Htay (Myanmar) sebagai wakil presiden di berbagai bidang. Sementara posisi Sekretaris Jenderal diemban Sukanti Rahardjo Bintoro dari Indonesia dan bendahara dipercayakan kepada Ali Yusri Abdul Ghafor dari Brunei Darussalam.

Bagi dunia olahraga disabilitas Asia Tenggara, nama Senny Marbun bukan sosok baru. Pria kelahiran Siborongborong, Sumatera Utara, itu sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden APSF Bidang Media and Communications Committee periode 2022–2026.

Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik sukses penyelenggaraan ASEAN Para Games Solo 2022 serta memiliki pengalaman panjang dalam membangun dan mengembangkan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Dalam pernyataannya usai terpilih, Senny menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pembinaan olahraga disabilitas di kawasan Asia Tenggara agar mampu bersaing di tingkat internasional.

MENARIK DIBACA:  Unimus Latih Mahasiswa Keperawatan Siap Tangani Kegawatdaruratan Lewat BTCLS 2025

“Saya ingin prestasi negara-negara di Asia Tenggara lebih maju lagi ke depannya. Kalau melihat perkembangan Indonesia, pencapaiannya sudah sangat baik. Kita pernah menjadi juara umum tiga kali berturut-turut di ASEAN Para Games dan juga meraih hasil membanggakan di Paralimpiade. Sekarang saya ingin negara-negara Asia Tenggara mengikuti jejak tersebut agar bisa terus melangkah lebih jauh,” ujarnya.

Menurut Senny, salah satu tantangan yang masih dihadapi sejumlah negara anggota APSF adalah belum meratanya perhatian terhadap masyarakat difabel dan pengembangan olahraga disabilitas.

Karena itu, APSF akan mengambil peran lebih aktif dalam mendorong dukungan pemerintah terhadap atlet dan komunitas difabel di kawasan. Ia menilai pengalaman Indonesia dalam mengembangkan olahraga disabilitas dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain di Asia Tenggara.

“Masih ada negara-negara yang memarjinalkan masyarakat difabel. Kita perlu membangkitkan semangat negara-negara tersebut agar mampu berkembang seperti Indonesia. Dahulu kita juga menghadapi tantangan yang sama, tetapi sekarang Indonesia mampu menunjukkan kemajuan luar biasa,” katanya.

Senny menambahkan, dalam waktu dekat APSF akan melakukan pendekatan langsung kepada negara-negara yang masih membutuhkan dukungan dalam pengembangan olahraga disabilitas. Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan harkat dan martabat penyandang disabilitas sekaligus memperluas peluang prestasi di tingkat internasional.

Selain itu, kepengurusan baru juga akan fokus menyelesaikan proses administrasi organisasi dan memindahkan kantor sekretariat APSF dari Thailand ke Indonesia sebagai bagian dari masa transisi kepemimpinan.

MENARIK DIBACA:  PKH Efektif Tingkatkan Indeks Pembangunan Manusia

Di bawah kepemimpinan baru, APSF juga akan mendampingi negara-negara anggota menghadapi Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang, serta mempersiapkan ASEAN Para Games 2027 di Malaysia.

Sementara itu, Wakil Presiden APSF Bidang Sports and Technical Committee, Dr. Teo-Koh Sock Miang, mengatakan kepengurusan baru telah menyiapkan sejumlah program jangka pendek maupun jangka panjang untuk memperkuat pengembangan olahraga disabilitas di kawasan.

Menurutnya, salah satu fokus utama APSF adalah membantu negara-negara yang masih berada pada tahap awal pengembangan olahraga disabilitas melalui penyelenggaraan kompetisi dan program pelatihan yang berkelanjutan.

“Kita harus mengakui bahwa masih ada negara yang belum siap menyelenggarakan multievent dengan banyak cabang olahraga. Karena itu, kita akan mendorong penyelenggaraan single event agar aspek lain juga berkembang, mulai dari klasifikasi atlet, tenaga teknis lapangan, hingga kepemimpinan organisasi melalui berbagai program pelatihan,” ujarnya.

Selain penguatan kompetisi, APSF juga tengah mengkaji penyelenggaraan ajang olahraga khusus generasi muda atau youth games guna memperkuat regenerasi atlet penyandang disabilitas di Asia Tenggara.

Program tersebut diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet muda sekaligus menciptakan sistem pengembangan olahraga disabilitas yang berkelanjutan di seluruh negara anggota APSF.

Dengan kepemimpinan baru ini, APSF menargetkan peningkatan kualitas pembinaan atlet, penguatan organisasi olahraga disabilitas, serta pemerataan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berprestasi di tingkat regional maupun internasional.