Surat Perintah 13 Maret Koreksi dari Supersemar Hilang tak Berjejak

Peristiwa318 Dilihat

SEJARAH, SINKAP.info – Peralihan kekuasaan berawal dari Soeharto dianggap menerima kekuasaan dari kepemimpinan Soekarno yakni melalui Surat Perintah Presiden Sukarno tanggal 11 Maret 1966 dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.

Menelisik sejarah dikutip dari detikx, Supersemar merupakan perintah Presiden Sukarno menginstruksikan Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu guna mengembalikan kondisi keamanan dan ketenangan serta menjamin keselamatan Presiden.

Namun, Bung Karno menilai tindakan Soeharto sudah melampaui kewenangan yang diberikannya. Dua hari setelah turun Supersemar dibantu ketiga Wakil Perdana Menteri, Presiden Sukarno menyusun Surat Perintah 13 Maret 1966 sebagai ‘koreksi’ atas pelaksanaan Supersemar.

Apa saja isi Surat Perintah 13 Maret 1966 yang dicetak sebanyak lima ribu lembar?

Ternyata, Surat Perintah 13 Maret, Presiden mengingatkan Jenderal Soeharto bahwa Supersemar adalah surat perintah bukan penyerahan kekuasaan. Setiap pelaksanaannya harus dikonsultasikan dengan Presiden. Presiden juga meminta Jenderal Soeharto menghadap untuk memberikan pertanggungjawaban.

Surat perintah yang berisikan hal diatas akan disebarkan ke pelbagai tempat dan surat kabar. Menteri Penerangan Mayor Jenderal Achmadi ditunjuk sebagai penanggungjawab penyebaran surat tersebut.

Sungguh disayangkan, dua dokumen sejarah yang amat penting itu, Supersemar maupun Surat Perintah 13 Maret hilang tak berjejak. Sampai saat ini Arsip Nasional RI yang menyimpan tiga versi Supersemar.

Enam tahun lalu, Arsip Nasional bekerja sama dengan Pusat Laboratorium Forensik Badan Reserse Kriminal Polri telah menguji tiga versi Supersemar. Kesimpulannya, tak ada satu pun yang orisinal. Sementara, arsip Surat Perintah 13 Maret 1966 tak ada sama sekali.

SINKAP.info | Redaksi