Sidang Lanjutan Dugaan Pencemaran Lingkungan PKS PT SIPP di PN Bengkalis

Bengkalis115 Dilihat

BENGKALIS, SINKAP.info – Sidang kedua kasus dugaan pencemaran lingkungan oleh PKS PT SIPP di Duri dengan terdakwa Erick Kurniawan (Direktur) dan Agus Nugroho (General Manajer) dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi yang dihadirkan oleh JPU di Pengadilan Nengeri (PN) Bengkalis, Selasa (28/3).

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Bayu Soho Rahardjo SH, dua hakim anggota Ulwan Maluf SH dan Ignas Ridlo Anarki SH dengan dua Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Bengkalis,James Naibaho, S.H dan Iwan Chartiawan, S.H dan pengacara kedua terdakwa Surya Trumen Singarimbin SH dan Hamonangan Situmeang SE SH.

Dalam persidangan kedua, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi yang dihadirkan JPU Kejari Bengkalis, yakni saksi dari pemilik lahan yang terdampak pencemaran lingkungan, Roslin Sianturi istri Joni Siahaan dan saksi dari PKS PT SIPP, Zainul yang menjabat sebagai humas.

Dalam pemeriksaan saksi-saksi oleh Ketua Majelis Hakim Bayu Soho mendengarkan keterangan saksi terkait dampak pencemaran limbah PKS PT SIPP yang sempat jembol sebanyak 2 kali ditahun 2021 dan 2022.

Dalam keterangan ketiga saksi yang saling berargumentasi, setelah majelis hakim secara bergantian menghadirkan dalam persidangan yang digelar mulai pukul 16.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB berlangsung lancar.

Di mana Ketua Majelis Hakim yang dominan menanyakan kepada masing-masing saksi dan dilanjutkan oleh dua JPU dan dua kuasa hukum terdakwa. Keterangan kedua saksi yang berlawanan ini saling mempertahankan argumen sesuai keterangan yang tertulis dalam BAP perkara

Penekanan dalam pemeriksaan saksi ini, saksi dari pemilik lahan yang bersebelahan langsung dengan kolam limbah PKS PT SIPP dan sekaligus korban pencemaran limbah yang berdampak pada lahan perkebunan kelapa sawit lebih kurang 3 hektar menjadi rusak berat.

MENARIK DIBACA:  Ketua DPRD H. Khairul Umam Hadiri Pengukuhan Ketua dan Pengurus IKROHIL Duri

“Yang Mulia, kami sudah dua kali terdampak jebolnya kolam limbah PT SIPP, namun keluhan kami tidak didengar dengan baik oleh perusahaan,” ujar Roslin Sianturi.

Dalam menjelaskan kronologis yang menimpa ladang kebun sawitnya, Roslin sempat menangis di hadapan majelis. Karena menurutnya waktu itu dalam situasi pandemi Covid-19 dan tidak ada sumber penghasilan lain selain produksi sawit yang ditunggu selama ini.

“Kami hanya mengharapkan hasil kebun yang kami garap. Tapi setelah kebun kami terkena dampak limbah cair PT SIPP sebanyak dua kali, tuntutan kami meminta ganti rugi tidak diindahkan,” ucapnya sambil menangis dan ditenangkan oleh Ketua Majelis Hakim.

Menurutnya, dari dampak jebolnya kolam limbahnya ke kebun sawitnya, dirinya hanya dijanji-janjikan untuk diganti rugi. Namun kejadian jebol kolamnya yang kedua kali, barulah dirinya tebas dan sempat memberikan batas waktu kepada perusahaan jika tidak diperbaiki kebunya, maka akan ditempuh jalur hukum.

“Makanya kami tak mau dibohongi lagi dan kami bersama kuasa hukum melaporkan kasus pencemaran lingkungan ini di Gakkum KLHK Pusat, KPK, Polda Riau, DLH Bengkalis dan DLHK Riau. Tentu kami minta keadilan yang seadil-adilnya,” ucap Roslin yang saat itu didampingi kuasa hukumnya.

Sedangkan pemeriksaan saksi yang kedua, JPU menghadirkan saksi dari PKS PT SIPP Zainul. Begitu duduk dikursi pesakitan, saksi langsung disuguhi pertanyaan oleh Ketua Majelis Hakim. Bahkan dalam pemeriksaan saksi ini seolah mengkonfrontir keterangan saksi yang pertama.

“Apakah saksi tau dihadirkan dalam persidangan ini. Apakah saksi berada di lokasi sewaktu kejadian jebolnya kolam limbah PT SIPP,” tanya Ketua Majelis Hakim Bayu Soho.

MENARIK DIBACA:  Pelepasan Jabatan Kades Palkon: Suasana Haru dan Tangisan Dimasa Akhir Jabatan

Bayu juga mempertanyakan, proses pengelolaan limbah sampai dengan proses penangannya serta dampak dari.jebolnya kolam limbah PT SIPP tersebut.

Di hadapan majelis hakim PN Bengkalis, Zainul menjelaskan, sejak dirinya bergabung di PT SIPP tahun 2019, yang menjabat sebagai humas, selalu mendapat tugas ekternal layaknya keinerja kehumasan yang bersentuhan dengan masyarakat maupun urusan eksternal perusahaan.

“Saya memang jarang berada di kantor dan selalu di Pekanbaru. Karena tugas kehumasan selalu berhubungan dengan masyatakat dan juga media,” ucapnya.

Zainul juga menjelaskan, terkait jebolnya kolam limbah dan berdampak pada lingkungan, selain melakukan upaya persuasif yakni memperbaiki kolam limbah, juga sudah melaporkan kondisinya ke instansi terkait.

“Sudah kami laporkan yang mulia ke DLH atas jebolnya kolam limbah. Kami juga sejak awal juga kooperatif dalam mencurus perizinan pengelolaan limbah dengan menyewa konsultan,” ujarnya.

Setelah dengan panjang lebar menjelaskan, Ketua Majelis Hakim juga memberikan kesempatan kepada kedua terdakwa menyampaikan pendapatnya melalui saluran daring. Yang saat itu kedua terdakwa hanya mengikuti persiidangan melalui online yang saat itu berada di tahanan Polres Bengkalis.

Setelah pemeriksaan saksi berakhir Ketua Majelis Hakim Bayu Soho Rahardjo SH juga memberikan jawaban atas permintaan penasehat hukum terdakwa terkait tahanan luar terhadap terakwa.

“Ya, sebelum ditanya dan mempersingkat persidangan terkait permohon penasehat hukum kedua terwaktu, maka dalam sidang ini majelis hakim masih mempertimbangkan permohonan penangguhan atau pengalihan penahanan kedua terdakwa,” ucap Bayu.

Sampai Bayu menyampaikan, bahwa sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda yang sama, yakni JPU menghadirkan saksi-saksi.

SINKAP.info | Laporan: Jamil