Laporan Baru Ungkap 250 Solusi Adaptasi Iklim Asia, Investor Mulai Berebut Peluang

Bisnis, GLOBAL87 Dilihat

SINGAPURA, SINKAP.info – Sebuah laporan terbaru mengungkap lebih dari 250 solusi prioritas untuk adaptasi dan ketahanan iklim di Asia di tengah meningkatnya minat investor terhadap sektor tersebut.

Laporan bertajuk “Climate Adaptation and Resilience in Asia: Pricing Risk, Sizing Opportunities, Financing Solutions” diluncurkan oleh Centre for Impact Investing and Practices (CIIP) bersama Temasek, Invesco, dan ImpactSF dengan dukungan Dalberg.

Studi tersebut mengidentifikasi lebih dari 250 solusi adaptasi dan ketahanan iklim berdasarkan analisis aliran pendanaan lebih dari US$100 miliar sepanjang 2021 hingga 2025.

Peluncuran laporan dilakukan dalam rangkaian Ecosperity Week’s Impact Investing Roundtable 2026 yang digelar pada 19 Mei 2026.

Laporan tersebut menyoroti meningkatnya risiko iklim di Asia, kesenjangan pendanaan, hingga hambatan investasi yang menghambat pengembangan solusi adaptasi dan ketahanan iklim di kawasan.

CEO CIIP, Dawn Chan, mengatakan pendanaan adaptasi iklim di Asia masih terkendala minimnya data, pendekatan yang terfragmentasi, serta ketidakjelasan arah investasi yang paling efektif.

“Kami berharap laporan ini dapat memberikan kejelasan lebih besar mengenai peluang dan peran yang dapat dimainkan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong solusi di kawasan,” ujar Dawn Chan.

Menurut laporan tersebut, Asia saat ini mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Sejak tahun 2000, sebanyak 3,7 miliar penduduk Asia terdampak bencana terkait iklim atau lebih dari tiga kali lipat dibanding kawasan lain di dunia.

MENARIK DIBACA:  Festival Taman Chaoyang Beijing Tampilkan Keindahan Sakura dan Romantisme Musim Semi

Pada 2030, Asia diperkirakan menyumbang sekitar 75 persen dari kesenjangan pendanaan adaptasi dan ketahanan iklim global. Sementara perusahaan-perusahaan di Asia diproyeksikan menanggung biaya iklim hingga US$336 miliar per tahun.

Meski demikian, aliran pendanaan tahunan untuk adaptasi iklim di Asia masih jauh dari kebutuhan.

Laporan mencatat kebutuhan pendanaan kawasan mencapai lebih dari US$200 miliar per tahun, sedangkan realisasi pendanaan saat ini baru sekitar US$19 miliar.

Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang paling terdampak perubahan iklim.

Di Asia Tenggara, sektor tersebut menyumbang sekitar 9,8 persen terhadap produk domestik bruto regional. Namun, pertumbuhan produksi pangan pokok seperti beras, jagung dan kedelai dalam satu dekade terakhir tercatat di bawah 1,3 persen per tahun.

Laporan juga memperingatkan tekanan iklim berpotensi menurunkan hasil panen hingga 41 persen, yang akan berdampak besar terhadap sekitar 100 juta petani kecil di Asia Tenggara.

Co-Lead CGIAR Hub for Sustainable Finance (ImpactSF), Godefroy Grosjean, mengatakan risiko iklim yang tidak dikelola dapat memengaruhi keberlanjutan bisnis sektor pertanian dan pangan.

“Jika risiko diabaikan, maka pada akhirnya akan berdampak pada kondisi keuangan bisnis di sektor pertanian dan pangan,” katanya.

Selain mengidentifikasi tantangan, laporan tersebut juga memetakan solusi adaptasi iklim dalam tiga kategori berdasarkan tingkat kelayakan komersial.

MENARIK DIBACA:  Legenda Chelsea Hasselbaink Sambangi Hanoi, Ratusan Fans Antusias Ikuti The Famous CFC

Sebanyak 94 solusi dinilai memiliki tingkat kelayakan komersial rendah namun penting untuk membangun ketahanan kawasan, 93 solusi tergolong berkembang dan membutuhkan pendanaan katalitik, sementara 65 solusi lainnya telah terbukti layak secara komersial.

Laporan itu juga disertai dashboard pemetaan aliran pendanaan publik, swasta dan filantropi di China, India dan Asia Tenggara, serta pustaka studi kasus yang memuat 50 contoh penerapan solusi adaptasi iklim oleh perusahaan, lembaga keuangan dan organisasi filantropi.

Head of Fixed Income Portfolio Management APAC Invesco, Norbert Ling, mengatakan identifikasi hambatan dan peluang investasi adaptasi iklim menjadi langkah penting untuk mendorong investor masuk ke sektor tersebut.

“Analisis ini membantu menghadirkan transparansi lebih besar mengenai kebutuhan pendanaan dan peluang investasi yang mulai berkembang di Asia,” ujarnya.

Studi tersebut juga menemukan meningkatnya minat lembaga pendanaan terhadap sektor adaptasi iklim.

Dari 165 lembaga pendanaan yang disurvei dengan total aset kelolaan lebih dari US$1 triliun, sebanyak 49 persen telah aktif berinvestasi di sektor adaptasi dan ketahanan iklim, sementara 28 persen lainnya sedang menjajaki peluang masuk ke sektor tersebut.

CIIP menilai dibutuhkan kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, sektor swasta dan lembaga filantropi untuk mempercepat pengembangan solusi adaptasi iklim di Asia.