China Guncang Dunia! Strategi Canggih dan Misi Global Tumpas Epidemi Tuberkulosis

GLOBAL222 Dilihat

BEIJING, SINKAP.info – Upaya China dalam menanggulangi epidemi tuberkulosis (TB) dinilai semakin komprehensif melalui kombinasi inovasi teknologi, penguatan layanan kesehatan, serta kerja sama internasional. Pendekatan ini disebut menjadi model baru dalam penanganan kesehatan global.

Hal tersebut disampaikan dalam artikel yang dipublikasikan oleh China Global Television Network (CGTN), yang mengulas strategi terpadu China dalam mengakhiri TB, mulai dari penerapan kecerdasan buatan hingga misi kemanusiaan lintas negara.

Dalam pernyataan tertulis pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 yang diselenggarakan oleh World Health Organization, Peng Liyuan menyerukan dukungan global untuk memperkuat upaya pencegahan dan pengobatan TB.

Ia menekankan bahwa tema tahun ini, “Led by countries, powered by people”, memiliki arti penting dalam mendorong kolaborasi internasional menghadapi TB sebagai tantangan kesehatan masyarakat. Menurutnya, berbagai upaya yang dilakukan WHO telah berhasil menekan kembali tren kenaikan kasus TB secara global.

Peng Liyuan juga menyoroti keberhasilan China yang didukung pendekatan lintas sektor, inovasi teknologi, serta jaringan layanan kesehatan yang menjangkau lebih dari 1,4 miliar penduduk.

Selain itu, tahun ini menandai 15 tahun kampanye sukarelawan berskala besar di China dalam pengendalian TB, yang melibatkan lebih dari satu juta relawan dan lebih dari 80 ribu program di berbagai daerah.

MENARIK DIBACA:  EPIC 2025 Membuka Pendaftaran Global: Investasi US$100 Juta Siap Digarap oleh Startup

Inovasi Lokal Tekan Angka Kasus

Keberhasilan China salah satunya terlihat di Provinsi Jiangsu. Pada 2025, angka insiden TB di wilayah tersebut tercatat turun menjadi 21,17 per 100 ribu penduduk.

Penurunan ini didukung sistem skrining berbasis kecerdasan buatan (AI) yang meningkatkan efisiensi diagnosis di tingkat layanan kesehatan dasar. Teknologi ini kini telah diterapkan di lebih dari 100 fasilitas medis.

Selain itu, Jiangsu juga mengembangkan metode pengobatan jangka pendek untuk TB resisten obat, yang mampu memangkas masa pemulihan dari 18 bulan menjadi enam bulan.

Pemerintah setempat turut memperkuat kebijakan dengan menyediakan skrining gratis bagi kasus yang dicurigai serta obat lini kedua secara cuma-cuma bagi pasien yang membutuhkan.

Secara nasional, sejak 2012, angka insiden dan kematian akibat TB di China menurun sekitar 30 persen hampir dua kali lipat lebih cepat dibanding rata-rata global. Tingkat keberhasilan pengobatan juga tercatat stabil di atas 90 persen.

MENARIK DIBACA:  Lee Kum Kee Dukung Kejuaraan Kuliner Asia, Angkat Budaya Masakan Cina Global

Peran Global dan Misi Kemanusiaan

Tidak hanya di dalam negeri, China juga aktif berbagi pengalaman melalui bantuan medis internasional. Salah satunya dilakukan tim medis China di Zimbabwe yang berhasil menangani pasien TB dengan efusi pleura melalui kombinasi pengobatan standar dan pengobatan tradisional China.

Pada 2025, pemerintah China mengirimkan 1.061 tenaga medis ke 57 negara, melayani lebih dari 2,06 juta pasien. Sejak 1963, total lebih dari 31 ribu tenaga medis telah dikirim ke 77 negara dan wilayah, dengan jumlah pasien yang ditangani mencapai sekitar 300 juta orang.

Selain layanan medis, tim tersebut juga berkontribusi dalam peningkatan kapasitas kesehatan lokal, termasuk memperkenalkan teknik bedah modern di sejumlah negara berkembang.

Dalam praktiknya, tim medis China juga menjangkau wilayah terpencil dengan memberikan edukasi kesehatan, pemeriksaan gratis, hingga bantuan kemanusiaan seperti perlengkapan sekolah.

Pendekatan terpadu yang menggabungkan teknologi, relawan, dan kerja sama global ini dinilai memperkuat upaya internasional dalam mewujudkan dunia bebas tuberkulosis.