Beranda RIAU Dumai

April, Dumai Inflasi Sebesar 0,74 Persen

227

DUMAI, SINKAP.info   – Pada April 2022, Dumai mengalami inflasi sebesar 0,74 persen. Pada bulan yang sama, Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,54.

Inflasi Tahun Kalender (April 2022-Desember 2021) sebesar 1,71 persen dan Inflasi tahun ke tahun (April 2022 terhadap April 2021) sebesar 3,16 persen.

Komoditas penyumbang inflasi terbesar yaitu ikan serai sebesar 0,10 persen dan rokok kretek 0,08 persen. Kemudian semen, telur dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,06 persen.

Komoditas penyumbang deflasi, masing-masing cabe merah -0,34 persen, tomat dan ikan tongkok masing-masing -0,09 persen, daging ayam -0,06 persen dan ikan kembung -0,02 persen.

“Inflasi di Dumai terjadi karena adanya peningkatan indeks harga di 10 kelompok pengeluaran,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Dumai, Morhan Tambunan, Rabu (11/05).

Pertama, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya dan kelompok pendidikan sebesar 4,43 persen. Kemudian kelompok kesehatan sebesar 2,84 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,23 persen.

Selanjutnya kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,16 persen. Kelompok penyediaan makanan, minuman dan restoran sebesar 0,78 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,67 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,61persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menyumbang sebesar 0,57 persen. Kelompok transportasi sebesar 0,34 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,30 persen.

“Sementara ada 1 kelompok yang mengalami deflasi. Yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen,” kata Morhan

Komoditas yang memberikan andil terjadinya inflasi di Dumai antara lain ikan serai, rokok kretek filter, semen, telur ayam ras, minyak goreng, mainan anak, obat dengan resep, rokok putih, keramik, ikan asin teri, baju muslim wanita, botol minuman plastik, air kemasan, daging sapi, bakso siap santap, tahu mentah, kangkung dan mie kering instant.

Selanjutnya bayam, mie, bahan bakar rumah tangga, udang basah, rokok kretek, pengharum cucian/pelembut, kerang, sawi hijau, pemeliharaan/ service, ikan nila, bensin, es, sepeda motor daun seledri, sabun mandi cair, ayam hidup, cumi-cumi, sabun cair/cuci piring, ketimun, kentang, petai, bawang merah, pembersih lantai, bawang merah, pembersih lantai, seragam sekolah anak, seragam sekolah pria dan lain-lain.

Dari 24 kota di Sumatera yang menghitung IHK, semua kota mengalami inflasi. Tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 2,58 persen.

Dikuti kemudian, Pangkal Pinang sebesar 1,82 persen, Jambi sebesar 1,53 persen, Bengkulu sebesar 1,45 persen dan Bungo dan Lhokseumawe masing-masing sebesar 1,25 persen.

Selanjutnya Banda Aceh dan Metro masing-masing sebesar 1,23 persen, Meulaboh sebesar 1,22 persen, Batam sebesar 1,12 persen, Bukit Tinggi sebesar 1,10 persenz Palembang sebesar 0,96 persen dan Lubuk Linggau sebesar 0,88 persen. Inflasi trendah terjadi Gunung Sitoli sebesar 0,22 persen.

Dari 10 ibukota provinsi di pulau Sumatera, semua ibukota provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 1,82 persen.

Selanjutnya diikuti Jambi sebesar 1,53 persen, Bengkulu sebesar 1,45 persen, Banda Aceh sebesar 1,23 persen, Palembang sebesar 0,96 persen, Tanjung Pinang sebesar 0,84 persen dan terendah di Medan sebesar 0,43 persen.

SINKAP.info | Sumber : DUMAIPOSNEWS
Facebook Comments