Beranda KOLOM Opini

Kapasitas Kepemimpinan Politik Ganjar di antara Prabowo dan Anies

670

OPINI, SINKAP.Info – (Doktor Sosiologi) Jannus TH Siahaan : Sejak tahun lalu,  nama Ganjar Pranowo tak pernah absen dalam hasil survei lembaga-lembaga survei kenamaan tanah air.  Namanya wara-wiri dalam lingkaran tiga besar,  bersanding dengan mantap bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.  Jadi tak diragukan lagi, Ganjar Pranowo adalah aset politik masa depan Indonesia yang berpotensi dan berkemampuan untuk mengisi kursi kepemimpinan nasional di masa mendatang,  terutama di tahun 2024.

Saya mengatakan “berpotensi” tentu berpatokan pada angka popularitas,  akseptabilitas,  dan elektabilitasnya di dalam survei-survei politik mutakhir.  Sementara saat saya mengatakan kata “berkemampuan, ” artinya mengacu kepada kapasitas dan kapabilitas beliau dalam mengemban dan menjalankan fungsi kepemimpinan nasional di masa mendatang,  baik kepemimpinan politik maupun kepemimpinan administratif. 

Kapasitas dan kapabilitas ini setidaknya bisa digambarkan oleh angka-angka penerimaan publik atas beliau dari hasil-hasil survei yang ada.  Dengan kata lain,  kata “berpotensi” yang saya lekatkan kepada nama Ganjar adalah salah satu sumber yang menjadi penopang kata “berkemampuan” yang mengikutinya. Begitu pula sebaliknya.  Kapasitas dan kapabilitas yang melekat pada dirinya dan telah dipertunjukan sepanjang masa karir politiknya juga memberi andil pada lahirnya angka-angka positif di dalam survei-survei terhadap dirinya. 

Sekarang mari telisik kapasitas kepemimpinan politik yang dibutuhkan oleh seorang (calon) pemimpin politik. Secara teoritik, menurut Stanley A Renson,  seorang pemimpin politik harus memiliki tiga kapasitas sekaligus, yakni mobilisasi, orkestrasi,  dan konsolidasi politik (Journal of Political Quarterly,  2008).  Artinya, pertama, seorang pemimpin harus mempunyai energi lebih untuk menggerakan (mobilisation) masyarakat pemilih menuju visi,  misi,  dan tujuan sang pemimpin alias bukan energi lebih untuk berurusan dengan kepribadiannya sendiri atau kepentingannya sendiri. 

Kedua,  seorang pemimpin politik kemudian harus mampu menyelaraskan serta mengharmoniskan semua perbedaan yang ada, kekuatan dan kelemahan yang ada di dalam masyarakat (orchestration), bukan malah mempertinggi sekat-sekat perbedaan di dalam masyarakat. Dengan kata lain,  seorang pemimpin politik harus mampu menemukan “common ground” dan berbagai persamaan di tengah kebinekaan yang ada untuk dijadikan perekat antar berbagai elemen yang ada di dalam masyarakat, tanpa harus mengorbankan perbedaan dan kebhinekaan itu sendiri.  

Dan yang terakhir, seorang pemimpin harus mampu menyatukan semua itu ke dalam satu kesepahaman yang kemudian ditransformasikan menjadi kekuatan yang padu demi tercapainya tujuan bersama (consolidation). Kemampuan konsolidatif ini memerlukan bauran strategi teknis dan manajerial yang baik yang ditopang penuh oleh nilai-nilai kearifan dan  kebijaksanaan yang tulus dari seorang pemimpin,  tidak dibuat-buat atau difabrifikasi hanya untuk kepentingan pencitraan semata. 

Berdasarkan pengamatan saya selama ini,  sejak pertama kali Ganjar Pranowo berkecimpung di Senayan sampai menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah,  Ganjar Pranowo berhasil mengasah kapasitas-kapasitas di atas menjadi kekuatan politik yang melejitkan namanya di pentas politik nasional.  Selama menjadi anggota DPR di era SBY,  beliau mampu menjadi oposisi yang secara substantif sangat tajam tapi secara teknis sangat santun dan bersahabat sekaligus disegani oleh lawan-lawan politiknya. 

Dan ketika menjadi Gubernur Jawa Tengah,  Ganjar juga berhasil menerapkan gaya yang sama dengan sangat baik, tapi di dalam kapasitasnya sebagai bagian dari pemerintah. Ganjar memadukan antara ketegasan otoritatif dan pendekatan humanis kepada semua bawahannya.  Ganjar bisa sidak mendadak lalu marah-marah seperti Bu Risma,  tapi juga bisa sidak prosedural sembari tetap menyebar spirit positif kepada bawahannya di satu sisi dan menebar ancaman halus agar bawahannya tidak semena-mena menjalankan wewenang di sisi lain.

Ganjar tentu bersaing ketat dengan tiga nama yang memang sudah langganan berada dalam lingkaran tiga besar survei-survei nasional,  yakni Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.  Ketiganya kini sama-sama berada dalam pemerintahan. Ketiganya memiliki kapasitas mobilisasi politik yang kuat.  Tapi dibanding Prabowo dan Anies,  Ganjar memiliki keunggulan dalam kapasitas orkestrasi karena cenderung memiliki basis massa yang beragam,  mulai dari kalangan nasional religius, religius nasionalis,  dan lokal kultural.  

Sementara Prabowo dan Anies sejak pertama debut mereka cenderung terkunci pada kalangan pemilih yang sama dan pada sisi-sisi tertentu sangat mengandalkan kekuatan kelompok fundamentalis religius yang kurang supportif terhadap kebhinekaan dan keberagaman.  Berlatar politik yang demikian,  Ganjar memang terbiasa dengan tantangan dalam meramu berbagai perbedaan layar belakang para pendukungnya  untuk direkat dan dijahit menjadi satu kesatuan kekuatan yang padu. 

Kemampuan Ganjar  Pranowo dalam memadukan kapasitas kepemimpinan politik dan kapasitas managerial administratif tersebut adalah modal yang sangat kuat untuk menopang kinerjanya nanti jika menjadi presiden,  tanpa perlu masa penyesuaian yang lama.  Dan saya cukup yakin,  kemampuan-kemampuan itu pula yang ikut mempengaruhi pilihan publik di dalam survei-survei yang telah menempatkan nama Ganjar Pranowo di dalam lingkaran tiga besar selama ini.  Pun saya sangat yakin,  dengan kapasitas kepemimpinan politik itu pula Ganjar akan menemukan jalannya sendiri ke istana, meski komplikasi  politik masih menghantui proyeksi perjalanan politiknya ke pentas kepemimpinan nasional.  

Pendeknya,  bukan hal yang aneh jika nama Ganjar selalu bertengger di jajaran tiga besar hasil-hasil survei politik selama ini. Ganjar hanya menuai apa yang telah ia bangun sebagai seorang politisi dan sebagai seorang abdi publik, tak lebih dan tak kurang.  Pun masyarakat juga bukan pemilih yang melulu irasional yang mudah diperdaya oleh teknik-teknik pencitraan kelas recehan.  Masyarakat mampu membedakan mana emas asli dan mana emas imitasi,  mana pencitraan dan mana ketulusan.  Dan pilihan rasional publik itu kini terbukti dengan jelas bahwa publik menempatkan Ganjar sesuai dengan kinerja dan perjuangan Ganjar selama ini. Itu pandangan sederhana saya.

SINKAP.Info |Redaksi

Facebook Comments