Beranda KOLOM Opini Batasi Zona Perang Wabah Covid 19, Itu Kunci!

Batasi Zona Perang Wabah Covid 19, Itu Kunci!

296
Nurina P. Sari (Pengasuh MT Al-Husna Kota Depok, Pegiat Komunitas Ibu Peduli Generasi Kota Depok)

OPINI, Sinkap.infoMasih di masa tanggap darurat Corona yang ditetapkan oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan ini, nyatanya tidak membuat ribuan perantau Wonogiri  di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)  memilih mudik lebih cepat. Biasanya, penumpang bus asal Jabodetabek yang masuk Wonogiri sekitar 1.400- an orang, namun sejak 19 Maret 2020 jumlahnya melonjak menjadi di kisaran 2.000-an penumpang per hari. Total, perkiraaan ada 13.500 pemudik yang sudah pulang kampung.

Dilansir dari Tempo.co pada 24 Maret 2020,menurut Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri, Agus Hasto Purwanto, beliau mengatakan biasanya kedatangan bus AKAP hanya 90-95 bus setiap hari.Namun sejak masa darurat corona, jumlahnya melonjak mencapai 118-131 bus yang rata-rata penuh penumpang. Menurutnya, kaumperantau Wonogiri yang mudik didominasi oleh warga yang bekerja sebagai wiraswasta dan pedagang. “Saat ini di Jakarta sudah banyak yang stay at home akibat virus Covid-19. Sebagai dampaknya, mereka tidak mendapatkan penghasilan dan akhirnya balik ke kampung halaman,” tandasnya lagi.

Salahkah mereka? Tentu saja tidak. Sejauh ini memang pemerintah baru sekedar mengeluarkan himbauan untuk tidak mudik ke daerah masing-masing selama masa darurat Covid-19 berlangsung. Tidak ada larangan. Tidak ada hukuman. Hanya sekedar himbauan. Titik.

Namun kita sudah tahu sama tahu, mayoritas saudara-saudara kita di negeri ini memiliki anggapan bahwa ‘himbauan’ pada dasarnya tidak akan dipatuhi. Wong jelas-jelas yang berbentuk larangan saja pada dilanggar, kok. Itulah mungkin kearifan lokal kita yang tidak boleh dimaklumi, namun mesti diubah.

Contohlah China yang kabar terakhirnya kasus Covid-19 sudah turun disana. Bahkan per tanggal 18 Maret 2020, hanya ada satu kasus positif disana. Belajarlah pada China untuk hal inii. China menasbihkan Wuhan sebagai “Zona Perang”. Mereka pusatkan wilayah perang hanya ada di satu kota itu. Semua pasukan “tempur” kesehatan seantero negeri China dari para dokter sampai perawat dikirim Wuhan. Alhasil, China jadi lebih mudah mengontrol penyebaran Covid-19 di negaranya. Dan “Zona Perang” tidak meluas. Terukur hanya di wilayah itu saja.

MENARIK DIBACA:  Lebaran Pertama, Tim Gugus Covid Meranti Pantau Arus Masuk Penumpang

Bagaimana dengan Jakarta? Jakarta saat ini sudah “Red Zone”. Dengan jumlah kasus positif covid-19 terbanyak, artinya sudah seharusnya sedari awal pemerintah pusat memetakan sekaligus  menetapkan Jakarta sebagai “Zona Perang” nya Indonesia sebagaimana Wuhan. Inilah “Zona Perang” kita. Dan inilah “Koentji” agar Indonesia mampu memenangkan pertempuran melawan covid-19 ini.

Faktanya, pemudik Wonogiri saja ada 13.500 yang berhasil melenggang pulang ke kampung halaman. Belum lagi yang berasal dari daerah-daerah lain juga angkat kaki dari Jakarta. Ada Tasikmalaya, Surabaya, atau bahkan dari luar jawa sekalipun.

Kini pertanyaannya, sanggupkah kita , para tenaga kesehatan, bersama pemerintah dengan segenap upaya memenangi pertempuran ini mengingat “Zona Perang” kita akan meluas seantero Nusantara? Tengoklah Italia yang bisa separah itu karena warganya yang berjumlah 10.000 mudik dari Italia Utara ke Italia again selatan. Hingga akhirnya wabah meluas keseluruh negara Italia.

Andai saja mampu dipahami, dan ini mungkin tugas para kyai, ulama dan habaib bahkan pemuka agama lainnya untuk menghimbau kepada masyarakat kalau perlu menetapkan fatwa keharaman mudik. Memangnya bisa? Tentu saja bisa. Larangan keluar dari wilayah wabah sudah tertuang dalam sabda Rasulullah yang mulia 1400 tahun yang lampau.

MENARIK DIBACA:  Dibalik Ucapan Selamat, Hasil Rekruitmen Panwascam Dipertanyakan

عن عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه أنه قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ [يعني : الطاعون] بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه

Dari Abdurrahman bin Auf RA, dia berkata,”Rasulullah SAW bersabda,’Jika kalian telah mendengar terjadi wabah thaa’uun di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatangi negeri itu. Dan jika wabah itu terjadi di suatu negeri sedangkan kalian berada di negeri itu, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu untuk lari dari wabah itu.” (HR Bukhari, no. 5739; Muslim, no. 2219).

Menurut Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, jika seseorang keluar dari negeri terjadinya wabah penyakit motifnya semata-mata untuk lari atau menghindar dari wabah penyakit, hukumnya haram.

Kalau begitu berarti lebih mudah jika “Zona Perang” nya hanya di Jakarta? Tentu saja. Namun sayangnya, sepertinya sudah terlambat. Mau berharap ke Vaksin? Rapid Test? Rumah Sakit? Tenaga Kesehatan? Social Distancing? Physical Distancing? Ya silakan saja jika bisa.

Namun menurut hemat saya,saat ini kita tinggal menyiapkan hati yang lapang, banyak-banyak melangitkan doa, menguatkan jiwa, andaikata mendengar banyak berita sedih setiap hari nantinya. Jika Anda dan keluarga ingin selamat, usahakan semaksimal mungkin untuk tinggal #dirumahsaja. Apalagi bulan Ramadhan kian menghitung hari, maka dekatkan diri kepada Allah. Hanya Allah yang bisa menolong kita. Seperti kata Kyai Abdullah Gymnastiar, Allah dulu,Allah lagi,Allah terus.  []

Penulis: Nurina P. Sari
(Pengasuh MT Al-Husna Kota Depok, Pegiat Komunitas Ibu Peduli Generasi Kota Depok)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here