Beranda TITIK TERANG

Menumbuhkembangkan Mahabbah dengan Trasendental Intelegence

87

ERA modernisasi ini pembahasan tentang Kecerdasan, apakah yang namanya Intelligence Quetiont (IQ), Emotional Intelegence (EQ), dan terakhir Spiritual Intelegence (SQ) sangat menjadi perhatian baik dari kalangan Ilmiah maupun masyarakat umum. Dan justru banyak tulisan-tulisan tersebut dipelopori oleh para penulis Barat yang tentunya bersifat sekuler dan ditulis dengan pendekatan Rasional. Pada umumnya penulis Barat berpendapat bahwa penjelasan ilmiah sudah lebih dari cukup sehingga hal yang bersifat transendental, pemikiran keagamaan, keyakinan akan adanya surga dan neraka atau kehidupan akhirat, dianggap sebagai sesuatu yang tidak empiris, di luar otoritas pemikiran ilmiah, dan karenanya hanya sebuah ilusi belaka. Bahkan, dengan lantang berkata religion is a poison “agama itu racun”.

Demikian halnya dengan pemahaman tentang arti kecerdasan (intelegence). Bagi mereka (kaum Barat), mental intelektual dan spiritual merupakan sebuah realitas dari aktivitas otak dan tidak ada kaitannya dengan kerja Tuhan. Penelitian yang berkaitan dengan nilai spiritual lebih menekankan pada bidang empiris atau melalui pendekatan rasional ilmiah. Nilai-nilai mental spiritual bukan kekuatan yang berasal dari kekuatan Tuhan, tetapi merupakan realitas atau aktivitas kerja otak semata, tidak lebih dan tidak kurang. Itulah sebabnya, Howard Gardner, seorang Profesor Harvard University, dalam penelitian ilmiahnya tidak mencantumkan kecerdasan spiritual di dalam penemuan ilmiahnya yang ia sebut sebagai multi intelligence.

Selama ini, kita telah terpesona dengan penemuan Barat tentang Intelligence Quotient, bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang memiliki intelektual tinggi yang dapat diukur secara kuantitatif melalui berbagai test. Studi tentang IQ pertama sekali dipelopori oleh Sir Francis Galton seorang pengarang Heredity Genius (1869) dan kemudian disempurnakan oleh Alfred Binet dan Simon, yang pada umumnya mengukur kemampuan berkaitan dengan pengetahuan praktis, daya ingat, daya nalar, perbendaharaan kata dan pemecahan masalah. IQ telah menjadi mitos sebagai satu-satunya alat ukur atau parameter kecerdasan manusia, sampai akhirnya Daniel Goleman memperkenalkan apa yang disebut dengan EQ (Emotional Intelligence) dengan menunjukkan bukti empiris dari penelitiannya bahwa orang-orang yang IQ tinggi tidak menjamin untuk sukses. Sebaliknya, orang yang memiliki EQ, banyak yang menempati posisi kunci di dunia eksekutif.

Belum selesai penemuan Goleman dikaji secara mendalam, muncul lagi SQ (Spiritual Quetionet/Intelligence) yang dipelopori oleh Dannah Zohar. Meskipun demikian, pemahaman tentang aspek kecerdasan, apakah intelektual (IQ), emosional (EQ), dan Spritual Quetiont (SQ) tidak serta merta berangkat dari nilai-nilai keagamaan. Pendekatan ini lebih banyak dan berorientasi pada rasional natural dan sekuler. Jikapun ada garis singgung dengan keagamaan, hal tersebut tetap dikaji dalam perspektif humanisme, sebuah kenyataan yang melekat pada diri manusia.

Telaah mengenai kecerdasan spiritual merupakan potensi yang dimiliki manusia sebagai spiritual being yang bersifat universal, dan tetap menolak ada kaitannya dengan agama atau dengan soal ketuhanan, meskipun telah ditemukan informasi baru tentang God Spot atau God Module (tempat tertentu di dalam otak yang secara spesifik merespons segala sesuatu yang berhubungan dengan nilai-nilai yang bersifat spiritual). Kajian tentang Spiritual Intelligence semakin diminati oleh para cendekiawan, eksekutif, dan masyarakat yang selama ini hidup serba rasional dengan budayanya yang materialistik. Masyarakat ini disebut juga dengan the affluent society “bagaikan sekelompok manusia kardus yang kekar secara jasmaniah, tetapi hampa dan rapuh secara ruhaniah”. Mereka mengalami suasana kehampaan (emptiness), bahkan menurut Erich Fromm sebagai orang yang merasakan kesepian di tengah keramaian (lonely in crowd). Orang-orang yang miskin di tengah limpahan kekayaan.

Rasa dahaga dan kemiskinan spiritual mereka inilah perlu adanya sesuatu yang membuat kehampaan dan ‘kemiskinan’ spiritual mereka dengan merujuk kepada nilai-nilai transcendental Intelligence (kecerdasan ruhaniah). Kecerdasan ruhaniah adalah kecerdasan yang berpusatkan pada rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan Allah Rabbul ‘Alamin dan seluruh ciptaan-Nya. Sebuah keyakinan yang mampu mengatasi seluruh perasaan yang bersifat jasadi, bersifat sementara dan fana. Kecerdasan ruhaniah justru merupakan esensi dari seluruh kecerdasan yang ada, atau dapat dikatakan sebagai kecerdasan spiritual plus yang berada pada nilai-nilai keimanan Ilahi. Pesan-pesan ke-Ilahian itu telah melekat secara fitrah pada saat manusia masih dalam alam ruhani sebagaimana Firman-Nya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’, mereka menjawab ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. (Q.S. Al-A’raf: 172)

Menurut hemat penulis, transcendent bukanlah suatu halusinasi atau khayalan-khayalan sebagaimana V.S. Ramachandran, kecerdasan ruhaniah merupakan bentuk kesadaran tertinggi yang berangkat dari keimanan kepada Allah SWT. Atau setidaknya, dapat dikatakan bahwa dengan kecerdasan ruhaniah ini berarti memberikan muatan yang bersifat ke-Ilahian ke dalam god spot yang merupakan fitrah manusia. Kecerdasan ruhaniah memberikan banyak kesempatan kepada manusia untuk berbuat, hanya saja kebebasannya harus disertai dengan rasa cinta yang melahirkan rasa tanggung jawab dengan menempatkan mahabbah Lillahi ‘rasa cinta kepada Allah sebagai kebenaran yang tertinggi.

Dalam wacana Islam, manusia bebas tetapi terikat, bebas mengembara, bebas bertafakkur, menyelam sejauh mereka mampu untuk mereguk rasa ingin tahu (curiosity). Tetapi, mereka harus tetap muncul kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang mengilahi. Bila secara ilmiah telah ditetapkan bahwa kecerdasan spiritual yang berada pada god spot merupakan fitrah fisikal yang melekat pada manusia. Kecerdasan ruhaniah merupakan muatan yang ada di dalamnya Kesaksian dan pengakuan keilahian. Tanpa adanya muatan keilahian, seluruh kecerdasan dengan segala derivasinya nilai kemanusiaan, cinta dan kreativitasnya hanya amalan-amalan yang mendebu, tidak mempunyai makna secara sempurna. Kecerdasan spiritual masih berada pada potensi imaninasi kreatif, sedangkan kecerdasan ruhaniah memberikan arah yang jelas.

Pencarian akan makna hidup dan nilai-nilai kebenaran hanya mengandalkan pada potensi kekuatan spiritual semata-mata dikhawatirkan akan tetap mengalami jalan buntu bahkan penyimpangan, selama tidak ada kerangka (frame of reference) yang memberikan batasan-batasan tertentu. *Nilai spiritual yang tidak dibimbing oleh kebenaran Ilahiah akan menyebabkan tumbuhnya khayalan serta bid’ah yang dapat menghancurkan*

Oleh karenanya Kecerdasan ruhaniah bertumpu pada ajaran cinta (mahabbah), dan cinta yang kita maksudkan adalah keinginan untuk memberi dan tidak memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan, cinta bukan komoditas, tetapi sebuah kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan. Cinta berarti kemampuan untuk membuka pintu kemaafan serta jauh dari sikap dendam dan benci. Orang yang cerdas secara ruhaniah adalah tipikal jiwa yang tenang (nafsul muthma’innah), karena mereka sadar bahwa hidup hanyalah kedipan mata, bergerak, kemudian diam, gemuruh lantas senyap, hidup untuk mengabdi yang lalu kemudian akan mati abadi. Dengan demikian semakin tinggi kecerdasan ruhaniah seseorang, maka semakin tinggi mahabbah nya kepada Tuhan sang Kuasa.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Q.S. Qaaf;16) Allahu A’lam.

Facebook Comments