Luruskan Stereotipe Belajar, Pendidikan Bisa Didapat Dimana Saja

JAWA TENGAH, SINKAP.INFO – Belajar merupakan hal yang lazim dilakukan oleh setiap individu dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu objek pendidikan. Tak hanya karena tugas, melainkan juga kebutuhan manusia akan pentingnya pendidikan. Dalam hal ini proses belajar sangat berpengaruh besar terhadap tingkat keberhasilan pendidikan seorang manusia. Pendapat ini tidak mutlak untuk dijadikan sebagai landasan teori, mengingat masih banyaknya faktor lain yang mempengaruhi perkembangan manusia dalam mencapai cita-cita mereka. Namun tak ada salahnya bagi saya anda dan kita semua untuk memahami salah satu factor yang mempengaruhi keberhasilan atas pendidikan itu sendiri.

Lalu bagaimana hubungan proses perkembangan manusia dengan proses belajar mereka? Bukankah perkembangan merupakan hal yang mutlak dilalui oleh setiap individu? Lalu apakah mungkin proses belajar manusia bisa mutlak mendapatkan hak pendidikan? Nah, pertanyaan-pertanyaan ini yang akan manjadi acuan permasalah yang sering muncul dikalangan masyarakat yang nantinya akan saya bahas ditulisan saya kali ini.

            Memang benar bahwasanya perkembangan merupakan hal mutlak yang pasti dilalui oleh setiap individu. Sama halnya dengan pertumbuhan, keduanya berjalan beriringan mengantarkan manusia melewati usianya. Muhibbin Syah dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan mengartikan perkembangan sebagai rentetan perubahan jasmani dan rohani manusia menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna atau perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah.

Kata mutlak di sini bukan berarti perkembangan antara individu satu dengan yang lainnya sama, karena perkembangan juga memiliki beberapa factor yang mempengaruhinya. Diantaranya adalah factor lingkungan dan pengalaman. Lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat telah terbukti mempengaruhi mutu perilaku dan masa depan seseorang. Kawasan yang kumuh dan terbatas dari fasilitas umum seperti masjid, taman belajar, dan tempat olah raga misalnya, menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya anak-anak nakal. Dari hal tersebut dapat kita tarik benang merah bahwa proses belajar adalah sesuatu hal yang terjadi karena adanya sebuah interaksi seseorang atau individu dengan lingkungannya. Maka dari itu belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Interaksi inilah yang membentuk pengalaman belajar seseorang yang nantinya akan berpengaruh terhadap pembentukan kemampuan. Disini penulis tidak akan menyinggung banyak hal mengenai proses perkembangan pembelajaran anatar individu tetapi lebih menekankan ke pendidikan itu sendiri.

Berkenaan dengan pendidikan, berarti kita tidak akan lepas dari tujuan pendidikan itu sendiri, seperti materi ajar, metode, media, lingkungan dan evaluasi pembelajaran  disamping juga hal itu tidak akan lepas dari sumber daya manusia (SDM), administrasi, maupun keuangan yang mana segala hal tersebut harus mencapai proses pendekontruksian maupun pengkonstruksiannya. Sehingga elem satu dengan elemen yang lain mampu bersinergi serta dapat menjangkau tujuan pendidikan yang ideal.

Apakah orang yang berpendidikan tinggi adalah orang yang sekolah?

Menurut ikhwan al-shawa salah satu ahli filsafat islam berpendapat bahwa aktifitas pendidikan sudah ada sejak sebelum kelahiran, sebab keadaan seorang anak pasti terpengaruhi oleh keadaan sang ibu sejak dalam kandungan. Sebagai seorang ibu harus benar-benar memperhatikan gizi anaknya agar terlahir dalam keadaaan sehat. Ketika seorang ibu berusaha menjaga fisik anaknya, sama saja sang ibu sedang membentuk kepribadian atau kesiapan jiwa seorang anak dalam menerima ilmu.

Ilmu bukan sekedar sesuatu yang mengandung tujuan dalam dirinya sendiri tetapi mampu membangkitkan jiwa sosial yang ada dalam jiwa peserta didik. Dimana dengan jiwa sosial tersebut, peserta didik diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini berarti sekolah merupakan suatu wadah dimana anatara Individu satu dengan individu yang lain dapat berinteraksi sehingga dapat meciptakan suatu hubungan sosial, dimana yang sudah penulis paparkan diatas bahwa proses perkembangan pembelajaran seseorang salah satunya membutuhkan pengalaman, pengalaman disinilah yang membutuhkan banyaknya hubungajn interaksi sosial antara manusia satu dengan manusia lain. Dimana dengan jiwa sosial tersebut seeorang mampu memberikan kontribusi terhadap lingkungan sekitarnya.

Berbicara mengenai sekolah tidak semetinya pendidikan itu akan didapatkan, pendidikan bisa didapatkan dimanapun dan kapanpun. Seperti yang dikatakan ki hajar dewantara: semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Pendidikan bisa didapatkan dilembaga lain seperti pondok pesantren, taman pendidikan qur’an, dan lembaga lembaga lainnya yang dimana didalam lembaga tersebuat ada sebuah interaksi anatra pendidik dan anak didik, antara ornag yang memberikan ilmu dan orang yang menimpa ilmu. Hanya saja pandangan masyarakat sekarang banyak yang beranggapan bahwa orang yang berpendidikan tinggi adalah orang yang sekolah padahal anggapan tersebuat merupakan suatu kesalahan cara pandang, karna pendidikan bisa kita dapat dimanapun dan kapanpun.

Maka dari itu Pendidikan tinggi dipandang sebagai hal yang sangat penting bagi manusia untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Namun jangan salah, lebih dari itu terkadang pendidikan juga bisa sebagai alat kepentingan kekuasaan yang salah. Bila hal ini terjadi, pendidikan bukan sebagai proses bagi manusia untuk berubah menjadi lebih baik, melainkan hanya menjadi alat kekuasaan untuk melanggengkan kepentingan penguasa.

Oleh: Dea Puji Saputri (Mahasiswa Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung)

Redaksi | SINKAP.INFO