Beranda TITIK TERANG

Mengapa Aku Tidak Bahagia?

105

Mengapa Aku Tidak Bahagia?

Saudaraku, adakah manusia yang tidak menginginkan kebahagian dunia?

Bahkan orang-orang beriman dengan naluri kemanusiaannya pun tidak dapat mengelak dengan keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut. Pemahaman tentang kebahagiaan akhirat yang menjadi tujuan kiranya tidak serta merta mengubur hasrat manusiawi yang menginginkan kecukupan baik dari sisi harta, tahta, istri salehah, keturunan dan segala pernak-pernik duniawi lainnya.

Sebab kita tahu bahwa dengan harta, sedekah, dan zakat dalam jumlah banyak dengan mudah kita keluarkan. Maka ampunan Allah pun mudah untuk diperoleh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

“Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api” (HR. Tirmidzi no. 614).

Melalui tahta atau jabatan yang strategis, celah untuk dapat berlaku adil dan memberikan kemanfaatan bagi manusia lainnya dengan leluasa bisa kita lakukan sehingga kelak di akhirat mendapatkan naungan Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi Shallahualaihi wasallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ …

“Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya: (1) Seorang imam (pemimpin) yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bersama istri salehah yang setia mendampingi kita dalam suka dan duka, maka menjalani kehidupan dengan satu tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat mudah kita peroleh, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ

“Ada empat diantara kebahagiaan: (1) istri yang salehah (baik), (2) tempat tinggal yang luas, (3) tetangga yang saleh (baik), dan (4) kendaraan yang nyaman [1].”

Begitu pula dengan memiliki keturunan yang banyak, kita dapat membentuk generasi saleh/salehah yang dapat melanjutkan estafet dakwah guna memberikan kemanfaatan yang luas bagi agama dan bangsa sehingga menjadi kebanggaan Nabi Shallallhu ‘alaihi wasallam di akhirat kelak sebagaimana sabdanya,

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat [2].”

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana jika semua hasrat duniawi tersebut belum kita peroleh bahkan hingga saat ini?

Sikap orang beriman memandang kebahagiaan

Tidak pula dapat dipungkiri bahwa banyak manusia yang beriman belum mendapatkan kebahagiaan dunia tersebut. Jangankan untuk memperoleh tahta, hidup pun masih dengan keadaan serba kekurangan. Jangankan untuk mendapatkan keturunan, jodoh pun tak kunjung bertemu. Padahal, segala daya dan upaya telah dikerahkan untuk mewujudkan mimpi menggapai kebahagiaan duniawi tersebut. Kualitas iman dan takwa selalu di-upgrade guna mendapatkan secercah karunia dari Allah Ta’ala berupa jawaban dari doa-doa yang senantiasa dipanjatkan.

Lantas, bagaimana cara orang beriman menyikapi kenyataan ini?

Jawabannya adalah dengan kembali memperbaharui niat (tujuan) kita dalam menjalani kehidupan fana ini, yaitu menjadikan negeri akhirat sebagai priotitas tujuan utama. Merealisasikan niat dengan istikamah menjaga diri dari batasan-batasan syariat dalam menapaki setiap jejak langkah mewujudkan mimpi duniawi kita.

Mari kita perhatikan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina [3].”

Sejatinya, apabila kita memahami hakikat kehidupan dunia ini, maka dengan tenang kita dapat mengarungi segala rintangan dan tantangan kehidupan ini. Karena hakikat kehidupan dunia adalah senda gurau dan permainan belaka. Allâh Ta’ala berfirman,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabût: 64).

Kebahagiaan bagi pembangkang syariat

Adapun kenikmatan yang diberikan kepada mereka bahkan yang tidak beriman kepada Allah, janganlah membuat kita merasa sedih sebab tidaklah kenikmatan itu semua melainkan bunga kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah :

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Rabbmu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thâhâ: 131).

Apabila dibandingkan dengan kenikmatan kehidupan akhirat, kehidupan dunia ini tidaklah ada apa-apa nya. Allah berfirman,

فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit” (QS. at-Taubah: 38).

Lebih rinci Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan kepada kita tentang hakikat dunia apabila dibandingkan dengan akhirat seperti air yang tersisa dalam jari telunjuk apabila dicelupkan dalam air. Beliau bersabda,

وَاللهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِـعُ

“Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadis ini yaitu -pent.) Yahya memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu?” (HR. Muslim, no. 2957).

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan dunia sebagaimana makanan yang terkesan nikmat setelah dibumbui dengan beraneka rempah untuk dimakan. Namun pada akhirnya akan menjadi kotoran yang kita pun enggan untuk kembali menyentuhnya. Beliau bersabda,

إِنَّ مَطْعَمَ ابْنِ آدَمَ جُعِلَ مَثَلًا لِلدُّنْيَا وَإِنْ قَزَّحَهُ وَمَلَّحَهُ فَانْظُرُوْا إِلَى مَا يَصِيْرُ

“Sesungguhnya makanan anak Adam (makanan yang dimakannya) dijadikan perumpamaan terhadap dunia. Walaupun ia sudah memberinya bumbu dan garam, lihatlah menjadi apa makanan tersebut akhirnya [4].”

Dunia bagi Allah dan Rasul-Nya

Betapa rendahnya hakikat dunia bagi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka semestinya kita tidak bersedih atas apa yang sedang kita hadapi dari cobaan demi cobaan khususnya dalam mendapatkan impian duniawi yang belum terwujud.

Karena apabila dunia ini bermakna bagi Allah, maka para pembangkang syariat tidak akan mendapatkan kebahagiaan meskipun dengan seteguk air. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Andai dunia ini di sisi Allah senilai selembar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum seteguk airpun kepada orang kafir [5].”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah memperingatkan kepada kita untuk tidak sedikit pun merasa iri kepada manusia yang mengangkangi syariat Allah tapi tetap mendapatkan kenikmatan dunia, sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Umar Radhiyallahu’anhu,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟

“Tidakkah engkau rida untuk mereka (orang-orang kafir) dunia sementara bagi kita akhirat? [6]”

Hikmah dari kebahagiaan yang belum datang

Sekali lagi, kehidupan dunia ini dari sudut pandang manusia yang lemah memang sangat menggiurkan dan penuh dengan godaan yang berisi tipudaya. Namun, orang beriman yang senantiasa menyadari akan hakikat dunia sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahualaihi wasallam dengan izin Allah akan selalu terjaga hati dan niatnya dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Mereka akan selalu ingat akan firman Allah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Wahai manusia! Sungguh, janji Allâh itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allâh” (QS. Fâthir/35:5).

Impian terhadap harta dan tahta yang hingga saat ini belum dianugerahkan kepada kita, semestinya menyadarkan kita bahwa saat ini Allah sedang menyelamatkan kita dari kerusakan agama yang dapat disebabkan oleh dua hal tersebut.

Kenapa demikian? Bisa jadi karena kita masih lemah dalam mengelola harta yang apabila kita peroleh justru akan menjadi jembatan untuk melakukan pembangkangan terhadap batasan syariat yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Kita belum dikaruniai tahta atau jabatan, bisa jadi karena masih belum mampu untuk mengemban amanah yang apabila saat ini Allah berikan, bisa saja akan mencelakai diri kita sendiri yang belum bisa mengendalikan diri ketika godaan penyelewengan kewenangan jabatan dan sebagainya menghampiri. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَاذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

“Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya [7].”

Catatan Kaki:
[1] HR. Ibnu Hibban dalam sahihnya (no. 4032), Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (9556), Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy dalam Al-Mukhtaroh (no. 1048). Hadis ini dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 1445).

[2] HR. Ibnu Hibban 9/338, Irwa’ no 1784.

[3] HR. Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu.

[4] HR. At-Tirmidzi, no. 2320 dan Ibnu Mâjah, no. 4110 dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu. Lafaz ini milik at-Tirmidzi.

[5] HR. Ahmad, V/136; Ibnu Hibbân, no. 2489-Mawâriduzh Zham`ân), dan lainnya dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 382).

[6] HR. Al-Bukhâri, no. 4913 dan Muslim, no. 1479 [31]), dari Ibnu‘Abbâs Radhiyallahu anhu.

[7] HR. at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad, III/456, 460; ad-Darimi, II/304; Ibnu Hibbân, no. 3218–At-Ta’lîqâtul Hisân), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr, XIX/96, no. 189; dan lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan lainnya.

Penulis : Fauzan Hidayat 
Facebook Comments