ORDOS, SINKAP.info – Upaya pemulihan lahan salin-alkali di Juungar Banner, Kota Ordos, Mongolia Dalam, China, mulai menunjukkan hasil melalui pengembangan pertanian terpadu. Salah satunya dilakukan di Yellow River Rice-Fish Eco-Tourism Park yang berhasil membudidayakan lebih dari 20.000 jin atau sekitar 10 ton benih kepiting untuk mendukung produksi tahun berikutnya.
Benih kepiting hasil pembudidayaan tersebut baru-baru ini dipanen dari kolam pemeliharaan dan dipindahkan ke kolam khusus untuk melewati musim dingin. Persediaan ini akan digunakan kembali dalam sistem budidaya padi dan kepiting pada Mei tahun depan.
Juungar Banner berada di kawasan tikungan Sungai Kuning. Wilayah ini memiliki panjang aliran sungai sekitar 238 kilometer dan sejak lama menghadapi persoalan erosi tanah. Kondisi tersebut diperparah oleh lahan salin-alkali yang mendominasi kawasan sekitar Desa Xiaotanzi, Kota Dalu, dengan luas mencapai sekitar 80 persen dari total lahan.
Sebelum dilakukan perbaikan, lahan pertanian di kawasan tersebut memiliki produktivitas rendah. Hasil panen jagung tradisional bahkan kurang dari 300 jin per mu atau sekitar 2,25 ton per hektare.
Perubahan mulai dilakukan pada 2018 melalui program perbaikan tanah salin-alkali yang dipadukan dengan sistem pertanian terpadu padi dan perikanan. Upaya tersebut meliputi pembangunan saluran untuk mengurangi kadar garam tanah, pemberian pupuk organik, serta uji coba penanaman varietas padi yang tahan terhadap kadar garam tinggi.
Pada 2022, kawasan tersebut mulai mengembangkan sistem budidaya terpadu padi, kepiting, dan ikan dalam skala besar. Sistem ini memanfaatkan hubungan saling menguntungkan antara tanaman dan hewan air. Tanaman padi memberikan naungan, sementara kotoran hewan air membantu menyuburkan lahan.
Pada Mei tahun ini, pengelola mendatangkan 200 jin larva kepiting tahap megalopa dari Panjin, Provinsi Liaoning. Benih tersebut kemudian dibesarkan di area persawahan hingga menghasilkan lebih dari 20.000 jin kepiting berkualitas.
Kepala Produksi Pertanian taman tersebut, Qiao Sheng, mengatakan pembudidayaan benih secara mandiri membantu menekan biaya sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap kualitas dan tingkat kelangsungan hidup kepiting.
“Dengan membeli larva megalopa untuk dibesarkan sendiri, biaya benih dapat ditekan, kualitas lebih mudah dikendalikan, dan tingkat kelangsungan hidup meningkat. Hal ini membuat usaha budidaya padi dan kepiting lebih stabil serta mudah direncanakan,” kata Qiao.
Dari total produksi tahun ini, sekitar 10.000 jin benih kepiting akan digunakan untuk kebutuhan sawah milik taman tersebut. Sementara sisanya akan dijual untuk menambah pendapatan.
Pemindahan ke kolam khusus musim dingin menjadi tahapan penting untuk menjaga kelangsungan hidup benih. Kepiting yang berhasil melewati musim dingin akan dikembalikan ke sawah pada Mei mendatang untuk dibesarkan hingga siap dipasarkan pada musim gugur.
Pengembangan pertanian terpadu ini turut mendorong peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Pada 2025, pendapatan kolektif desa tercatat melampaui 500.000 yuan, sedangkan pendapatan per kapita mencapai 30.000 yuan.
Transformasi di Xiaotanzi menunjukkan bahwa lahan salin-alkali yang sebelumnya kurang produktif dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian bernilai ekonomi melalui perbaikan lingkungan dan penerapan sistem budidaya terpadu.







