Banjir Bikin Trauma, Siswa SD di Langkat Kini Dilatih Jadi Pahlawan Cilik Peduli Lingkungan

SUMATERA UTARA62 Dilihat

LANGKAT, SINKAP.info — Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Utara pada November 2025 tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan trauma bagi sebagian anak-anak di Desa Paya Bengkuang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat.

Kondisi tersebut mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berskema Mitigasi Bencana untuk memberikan pendampingan kepada siswa SD Negeri No. 057225 Lorong Siku.

Melalui pendekatan ekopedagogi, siswa kelas IV hingga VI diajak memahami lingkungan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pembelajaran dirancang agar anak-anak tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mampu mengenali risiko dan mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi.

Program tersebut memadukan permainan edukatif, cerita pengalaman siswa, pendampingan guru, observasi lingkungan, penyusunan modul pembelajaran hingga praktik sederhana mitigasi bencana.

Menggali Pengalaman Siswa Lewat Permainan

Pada kunjungan pertama, tim pelaksana yang melibatkan mahasiswa mengawali kegiatan dengan permainan bersama siswa kelas IV dan VI.

Permainan dipilih sebagai sarana untuk menciptakan suasana belajar yang lebih santai. Melalui kegiatan tersebut, siswa diberi ruang untuk menceritakan pengalaman mereka ketika menghadapi banjir.

Dari interaksi itu, tim menemukan sejumlah persoalan. Sebagian siswa masih menganggap banjir sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk bermain. Namun, di sisi lain, terdapat siswa yang masih menyimpan trauma dan kecemasan akibat pengalaman menghadapi banjir.

Tim juga menemukan adanya kebiasaan kurang baik terhadap lingkungan yang ditiru anak-anak dari orang dewasa di sekitar mereka. Pengetahuan mengenai lingkungan yang diperoleh di sekolah belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, sebagian siswa belum memahami berbagai risiko ketika berada di lokasi banjir, mulai dari penyakit, benda berbahaya yang terbawa arus hingga ancaman terseret arus air.

“Anak-anak ini butuh lebih dari sekadar teori. Mereka perlu memahami bahwa banjir bukan hanya soal air yang menggenang, tapi menyimpan risiko yang seringkali tidak mereka sadari,” ujar Ketua Tim PkM, Dr. Ria Manurung, M.Si.

Temuan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi tim bersama guru untuk menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan pengalaman siswa.

Pengalaman Guru Jadi Dasar Penyusunan Modul

Selain menggali pengalaman siswa, Tim PkM berdialog dengan para guru untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai dampak banjir di lingkungan sekolah.

MENARIK DIBACA:  Bupati Labuhanbatu Bagikan BST Kepada 10.785 KK se Kelurahan Kecamatan Rantau Utara

Dalam dialog tersebut, para guru menyampaikan kronologi banjir, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan, hingga berbagai bantuan pascabencana yang telah maupun akan diterima.

Informasi dari guru dan siswa kemudian menjadi dasar penyusunan Modul Pembelajaran Ekopedagogi Adaptif bagi siswa kelas IV hingga VI.

Modul tersebut dirancang agar pembelajaran lingkungan tidak berhenti pada konsep dan teori. Materinya diarahkan untuk mendorong siswa berpikir kritis terhadap kondisi lingkungan, memahami hubungan antara perilaku manusia dan risiko bencana, serta terlibat dalam kegiatan nyata di lingkungan sekolah.

Salah satu media yang dikembangkan yakni buku saku bertajuk “Pahlawan Cilik Desa Paya Bengkuang”.

Melalui buku tersebut, siswa diarahkan mengenali potensi risiko di lingkungan sekitar sekaligus memahami peran sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

Siswa juga dilibatkan dalam observasi lapangan, membuat sketsa jalur evakuasi serta menyusun rekomendasi penguatan peran sekolah dalam menghadapi bencana.

Belajar Mitigasi Bencana dengan Cara Menyenangkan

Pada kunjungan kedua, pembelajaran dikembangkan dengan konsep fun education. Siswa kembali diajak mempelajari ekopedagogi dan mitigasi bencana melalui metode yang lebih interaktif.

Kegiatan diawali dengan pemutaran video mengenai penyebab dan dampak berbagai bencana, termasuk banjir dan longsor. Setelah itu, siswa mengikuti ice breaking bertema lingkungan, permainan interaktif hingga kuis untuk mengukur pemahaman.

Metode tersebut membuat proses pembelajaran berlangsung lebih komunikatif. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga didorong untuk berani menjawab pertanyaan dan menyampaikan pendapat.

Untuk meningkatkan motivasi, tim memberikan penghargaan sederhana kepada siswa yang berani dan percaya diri menjawab pertanyaan dalam kuis.

Apresiasi tidak hanya diberikan kepada siswa dengan jawaban yang benar. Siswa yang aktif mengikuti rangkaian kegiatan juga mendapatkan penghargaan sebagai bentuk dorongan agar seluruh peserta terlibat dalam proses pembelajaran.

Guru Didorong Integrasikan Mitigasi Bencana dalam Pembelajaran

Kunjungan kedua juga diisi dengan sosialisasi kepada tujuh guru SD Negeri Lorong Siku.

Para guru menyambut positif gagasan mengintegrasikan materi mitigasi bencana dan ekopedagogi ke dalam kegiatan kokurikuler maupun mata pelajaran yang memungkinkan siswa melakukan aktivitas secara langsung.

MENARIK DIBACA:  Diduga Ada Ketimpangan Hukum, Ayah dan Tiga Anak Ditahan di Tapanuli Selatan

Menurut para guru, pembelajaran yang disertai praktik lebih mudah diterapkan untuk membentuk kebiasaan dan kepedulian siswa terhadap lingkungan dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan teori.

Namun, pelaksanaan pendidikan lingkungan di sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan.

Para guru mengungkapkan, kesadaran sebagian masyarakat di sekitar sekolah terhadap pengelolaan lingkungan masih perlu ditingkatkan. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah kebiasaan membakar sampah karena belum tersedianya fasilitas pengelolaan dan pembuangan sampah yang memadai.

Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah, baik melalui sosialisasi maupun penyediaan sarana pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Membangun Kesadaran dari Lingkungan Sekolah

Dari diskusi antara Tim PkM dan guru, disepakati bahwa pembelajaran ekopedagogi perlu dilakukan melalui kombinasi teori dan praktik.

Materi ekopedagogi dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang menekankan pembentukan sikap, nilai dan tanggung jawab kewarganegaraan. Sementara aspek praktik dapat diterapkan melalui mata pelajaran yang memungkinkan siswa melakukan aktivitas fisik dan observasi langsung di lingkungan sekitar.

Pendekatan tersebut diharapkan menjadi jalan tengah yang realistis bagi sekolah.

Pembelajaran tidak hanya diarahkan agar siswa mengetahui apa itu banjir dan bagaimana cara menyelamatkan diri, tetapi juga memahami hubungan antara perilaku manusia, kondisi lingkungan dan munculnya risiko bencana.

Dengan cara tersebut, siswa diharapkan tumbuh sebagai generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekaligus kemampuan dasar menghadapi situasi darurat.

“Kami ingin anak-anak di sini tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya tahu cara menyelamatkan diri saat bencana datang, tapi juga paham bagaimana menjaga lingkungan agar risiko itu bisa diperkecil sejak awal,” kata Dr. Ria Manurung.

Program PkM tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat melalui pendidikan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kesadaran ekologis dan budaya kesiapsiagaan bencana sejak usia dini.

Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak lagi sekadar menjadi penerima informasi ketika bencana terjadi, tetapi mampu menjadi “pahlawan cilik” yang mengenali risiko, menjaga lingkungan dan memahami langkah keselamatan sejak dini.