Pernah Dilanda Banjir, FISIP USU Ajarkan Siswa SD Kesiapsiagaan Lewat Little Ranger

SUMATERA UTARA42 Dilihat

LANGKAT, SINKAP.info – Pengalaman menghadapi banjir menjadi pijakan Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) untuk memperkuat kesadaran lingkungan dan kesiapsiagaan bencana sejak usia sekolah dasar.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Literasi Ekologi Pasca Bencana” di SD Negeri 050770 Paya Bengkuang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Program ini memberikan edukasi kepada siswa mengenai kondisi lingkungan, risiko banjir, mitigasi bencana, serta berbagai tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk menghadapi kemungkinan bencana.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi pengalaman Kabupaten Langkat menghadapi banjir pada November 2025. Bencana itu tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman langsung bagi lingkungan pendidikan dan anak-anak di wilayah terdampak.

Tim pengabdian FISIP USU dipimpin Rahman Malik, S.Sos., M.Sos., bersama Rahma Hayati Harahap, S.Sos., M.Sos., dan Prof. Rizabuana, M.Phil., Ph.D. Sejumlah mahasiswa FISIP USU juga dilibatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus implementasi pengabdian kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, siswa tidak ditempatkan hanya sebagai penerima materi. Dosen, mahasiswa, guru, dan siswa terlibat dalam proses pembelajaran bersama dengan menjadikan pengalaman lingkungan sekitar sebagai sumber pengetahuan.

Guru Diperkuat sebagai Penggerak Edukasi Kebencanaan

Rangkaian kegiatan diawali pada Senin (20/7/2026) melalui sosialisasi dan diskusi bersama guru serta tenaga pendidik SD Negeri 050770 Paya Bengkuang.

Tim FISIP USU memperkenalkan konsep Literasi Ekologi Pasca Bencana sekaligus berdialog mengenai kondisi lingkungan sekolah dan pengalaman menghadapi banjir.

Guru didorong untuk melihat pendidikan kebencanaan bukan sekadar materi tambahan, tetapi pengetahuan yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran dan kebiasaan sehari-hari di sekolah.

Penguatan terhadap guru dinilai penting karena keberlanjutan program bergantung pada kemampuan sekolah dalam meneruskan edukasi mengenai lingkungan dan kesiapsiagaan setelah kegiatan pengabdian selesai.

Pengalaman guru dalam memahami karakteristik lingkungan sekitar sekolah juga menjadi masukan bagi tim pengabdian untuk menyusun materi yang lebih sesuai dengan kondisi yang dihadapi siswa.

Siswa Belajar Mitigasi dari Pengalaman Banjir

Pada tahap berikutnya, siswa mendapatkan edukasi mengenai banjir, faktor yang meningkatkan risiko, pentingnya menjaga lingkungan, serta langkah sederhana untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

MENARIK DIBACA:  HPN 2023 Sumut Sukses, Perputaran Uang Capai Rp50 Miliar

Materi disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia anak melalui bahasa sederhana, diskusi, permainan, dan berbagi pengalaman.

Siswa diberi kesempatan menceritakan apa yang mereka lihat dan alami ketika banjir terjadi. Cerita mengenai genangan, kondisi lingkungan, kebersihan, hingga situasi di sekitar tempat tinggal kemudian dikaitkan dengan konsep mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.

Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut berperan dalam proses pembelajaran. Pengalaman anak-anak digunakan sebagai bagian dari pengetahuan mengenai lingkungan dan risiko bencana.

Pemahaman siswa kemudian diperkuat melalui permainan edukatif berbentuk tanya jawab. Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan banjir, lingkungan, kesiapsiagaan, serta perilaku yang dapat membantu mengurangi risiko bencana.

Selain menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, kegiatan tersebut menjadi evaluasi sederhana untuk melihat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.

Buku “Aku Siaga Banjir” Dibawa Pulang

Edukasi kesiapsiagaan juga diperkuat melalui pembagian buku saku mitigasi bencana berjudul “Aku Siaga Banjir”kepada para siswa.

Buku tersebut menjadi media pembelajaran yang dapat digunakan kembali setelah kegiatan pengabdian selesai. Materi mengenai tindakan sebelum, saat, dan setelah banjir disajikan menggunakan bahasa sederhana serta dukungan visual yang disesuaikan dengan usia siswa sekolah dasar.

Buku saku diharapkan membuat pesan kesiapsiagaan tidak berhenti di ruang kelas. Siswa dapat membaca kembali materi dan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.

Dengan demikian, media tersebut diharapkan menjadi sarana untuk memperluas edukasi kebencanaan dari sekolah menuju rumah dan masyarakat.

Program Little Ranger Ajak Siswa Bersihkan Lingkungan

Pengetahuan mengenai lingkungan dan kesiapsiagaan kemudian diterapkan melalui program “Little Ranger”.

Dalam kegiatan ini, siswa diajak melakukan berbagai aktivitas sederhana untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Mereka terlibat dalam menyapu, merapikan ruang belajar, mengumpulkan sampah, serta membersihkan halaman dan area sekitar sekolah.

Aktivitas tersebut dirancang untuk menanamkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan salah satu bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan terhadap bencana.

Kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, dan perhatian terhadap saluran air menjadi contoh perilaku sederhana yang dapat membantu mencegah kondisi lingkungan yang berpotensi memperparah genangan.

MENARIK DIBACA:  Pelantikan (KPPS) Pemilu 2024 Dilaksanakan se Tanjungbalai Berjalan Sukses

Melalui Little Ranger, siswa diperkenalkan pada pentingnya mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan. Nilai tanggung jawab, kepedulian, kedisiplinan, dan kerja sama juga ditanamkan melalui kegiatan tersebut.

Bangun Ketangguhan dari Lingkungan Sekolah

Program Literasi Ekologi Pasca Bencana menggabungkan pembelajaran partisipatif, pengalaman langsung, dan kegiatan berbasis proyek.

Model tersebut memberikan ruang kepada siswa untuk memahami hubungan antara kondisi lingkungan dan risiko bencana sekaligus mempraktikkan tindakan sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelibatan guru dan penyediaan media pembelajaran juga menjadi upaya agar program tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Sekolah diharapkan dapat melanjutkan edukasi mengenai lingkungan dan kebencanaan dalam aktivitas pendidikan.

Bagi perguruan tinggi, kegiatan pengabdian pascabencana tidak hanya dapat diwujudkan melalui bantuan fisik. Penguatan kapasitas masyarakat untuk mengenali risiko, beradaptasi, dan mempersiapkan diri menghadapi bencana juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

Sekolah dinilai menjadi ruang strategis untuk membangun ketangguhan tersebut. Anak-anak yang memperoleh pengetahuan mengenai lingkungan dan kebencanaan berpotensi membawa informasi tersebut ke lingkungan keluarga.

Sejalan dengan Agenda SDGs

Program Literasi Ekologi Pasca Bencana juga berkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

Pendidikan lingkungan dan kebencanaan sejak sekolah dasar dinilai dapat menjadi investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang lebih peduli terhadap perubahan lingkungan sekaligus memiliki kemampuan menghadapi risiko bencana.

Kolaborasi antara FISIP USU, dosen, mahasiswa, guru, dan siswa menunjukkan bahwa ketangguhan bencana dapat dibangun melalui kerja bersama dengan mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman masyarakat, dan praktik sederhana.

Dari SD Negeri 050770 Paya Bengkuang, pesan yang dibangun bukan hanya bagaimana menghadapi banjir ketika air datang, tetapi juga bagaimana mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi.

Ketika anak-anak belajar menjaga kebersihan, mengenali lingkungan, memahami risiko, dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat banjir, mereka tengah dibekali kemampuan untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana.