MEDAN, SINKAP.info – Kekerasan seksual tidak hanya berkaitan dengan tindakan individu, tetapi juga dipengaruhi persoalan ketimpangan gender, stereotip, budaya, serta relasi kuasa yang berkembang di tengah masyarakat.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Workshop Online Kelas Feminis Dasar bertajuk “Membaca Gender, Patriarki, dan Ketimpangan di Sekitar Kita” yang digelar pada Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif SEKOCI (Solidaritas, Edukasi, Feminis Kritis, Advokasi, dan Inklusi) yang mengusung semangat “Membongkar Ketimpangan, Merawat Kesetaraan”.
SEKOCI dikembangkan oleh Sry Lestari Samosir, S.Pd., M.Sos., dosen Universitas Negeri Medan, sebagai tindak lanjut setelah dirinya mengikuti pelatihan pencegahan kekerasan berbasis gender dengan perspektif gender transformatif di Jakarta pada April 2026.
Inisiatif tersebut turut mendapat dukungan dari Institut KAPAL Perempuan yang memberikan inspirasi dalam pengembangan pendidikan feminis sebagai proses untuk membangun kesadaran kritis sekaligus kemampuan advokasi.
Perwakilan Institut KAPAL Perempuan, Ulfa Kasim, turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi inisiatif SEKOCI dan berharap kegiatan ini dapat melahirkan agen-agen baru serta memperkuat jejaring dalam upaya pencegahan kekerasan seksual.
Dalam workshop tersebut, pegiat perempuan Desy Debora V. R. Sianturi hadir sebagai pemateri pertama. Materi kemudian dilanjutkan oleh Sry Lestari Samosir sebagai pemateri kedua. Diskusi dipandu Jesika Febrianty Manalu, mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan.
Para peserta diajak memahami bahwa kekerasan berbasis gender tidak muncul secara tiba-tiba. Pandangan yang menempatkan perempuan harus selalu berperilaku tertentu, laki-laki harus dominan, maupun anggapan bahwa korban bertanggung jawab atas kekerasan yang dialaminya dinilai dapat memperkuat ketimpangan.
Karena itu, literasi dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan. Pemahaman mengenai gender membantu masyarakat melihat bagaimana peran dan ekspektasi terhadap seseorang dibentuk oleh lingkungan sosial.
Sementara itu, pemahaman mengenai patriarki diperlukan untuk melihat bagaimana struktur dan relasi kuasa dapat menghasilkan ketidaksetaraan. Peserta juga diajak mengenali berbagai bentuk kekerasan berbasis gender serta kondisi sosial yang dapat memungkinkan kekerasan tersebut terjadi.
Pembahasan berlangsung secara interaktif. Peserta mengikuti sesi tanya jawab dan menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai persoalan gender yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan juga diisi dengan kuis dan pemberian hadiah bagi peserta. Metode tersebut menjadi bagian dari pembelajaran interaktif sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta untuk menguji pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan.
Peserta workshop berasal dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Keterlibatan berbagai kelompok dinilai penting karena upaya pencegahan kekerasan berbasis gender tidak dapat hanya dibebankan kepada institusi tertentu, melainkan membutuhkan kesadaran bersama serta jejaring yang saling mendukung.
Melalui SEKOCI, rangkaian kegiatan tersebut direncanakan berlanjut melalui kegiatan offline pada September 2026. Kegiatan lanjutan tersebut diarahkan untuk memperkuat komunitas, ruang diskusi, solidaritas, dan jejaring advokasi.
Informasi mengenai kegiatan dan perkembangan komunitas SEKOCI dapat diikuti melalui akun Instagram @sekoci.feminis.
Dengan menggabungkan pendidikan feminis, kesadaran kritis, solidaritas, dan advokasi, SEKOCI diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun budaya pencegahan kekerasan berbasis gender sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak agen perubahan di lingkungan kampus dan masyarakat.







