BATANGAS CITY, SINKAP.info – Pelabuhan Terintegrasi Batangas (Batangas Integrated Port/BIP) di Filipina resmi menjadi pelabuhan pertama di dunia yang memperoleh status READY Port (Resilience, Emergency Action, and Disaster-ready), sebuah pengakuan internasional yang menetapkan standar baru dalam kesiapsiagaan bencana dan logistik kemanusiaan.
Pengakuan tersebut diumumkan oleh perusahaan logistik global DP World pada Senin (15/6/2026), sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan infrastruktur pelabuhan dalam menghadapi meningkatnya risiko bencana alam dan gangguan rantai pasok global.
Program READY Port merupakan inisiatif penguatan kapasitas yang didorong oleh Klaster Logistik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesiapan pelabuhan dalam mendukung respons kemanusiaan saat terjadi keadaan darurat.
Filipina dipilih sebagai lokasi percontohan program ini mengingat tingginya kerentanan negara tersebut terhadap bencana alam dan dampak perubahan iklim. Melalui pendekatan kolaboratif, program READY Port melibatkan pemerintah, operator pelabuhan, penyedia layanan logistik, organisasi kemanusiaan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Status READY Port diberikan setelah Pelabuhan Batangas menyelesaikan lokakarya intensif selama tiga hari yang diselenggarakan bersama Program Pangan Dunia PBB (World Food Programme/WFP) Filipina. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai lembaga pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan sektor swasta dalam menilai kemampuan respons darurat, mengevaluasi prosedur operasional, serta melakukan simulasi penanganan krisis.
Pelabuhan Batangas yang dikelola oleh mitra lokal DP World, Asian Terminals Inc. (ATI), memiliki peran strategis sebagai gerbang utama perdagangan dan transportasi Filipina. Pelabuhan ini melayani pengangkutan barang domestik dan internasional, kendaraan, penumpang, serta menjadi penghubung penting menuju berbagai wilayah di Visayas dan Mindanao.
Hasil evaluasi dan pembelajaran dari program tersebut telah dirangkum dalam dokumen Port Readiness Action Plan yang akan menjadi acuan dalam pengembangan kapasitas pelabuhan lainnya di Filipina maupun berbagai negara di dunia.
Chief Executive Officer dan Managing Director Asia Pacific DP World, Glen Hilton, mengatakan pengakuan tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat peran pelabuhan tidak hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai jalur vital bagi masyarakat saat terjadi bencana.
“Kami bangga Pelabuhan Batangas menjadi READY Port pertama di dunia. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama untuk membangun infrastruktur pelabuhan yang tangguh sehingga dapat mendukung distribusi bantuan kemanusiaan secara cepat dan efisien ketika terjadi krisis,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Sekretaris Departemen Perhubungan Filipina untuk Urusan Khusus, Manuel Cabochan III, menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan program READY Port menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan keberlangsungan operasional pelabuhan dan sistem logistik selama situasi darurat.
Kepala Rantai Pasok WFP Filipina, Joao Dos Santos Merencio, menambahkan bahwa inisiatif tersebut memperkuat koordinasi antara otoritas pelabuhan, pemerintah, sektor swasta, dan komunitas kemanusiaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
“Kerangka READY Port membantu memastikan pelabuhan tetap beroperasi secara efektif saat krisis serta mampu memprioritaskan distribusi bantuan kemanusiaan ketika dibutuhkan,” katanya.
Dengan status READY Port pertama di dunia, Pelabuhan Batangas diharapkan menjadi model global bagi pengembangan pelabuhan tangguh yang mampu mendukung perdagangan sekaligus memperkuat respons kemanusiaan dan ketahanan masyarakat terhadap bencana di berbagai wilayah pesisir dunia.







