Semen Merah Putih Guncang Industri Global, Ekspansi Besar Berbasis Inovasi Hijau

Ekonomi61 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info – Di tengah tekanan industri semen nasional dan global akibat kondisi overcapacity dan melemahnya permintaan, Cemindo Gemilang melalui brand Semen Merah Putih mengambil langkah berbeda dengan memperkuat strategi bisnis terintegrasi berbasis keberlanjutan (sustainability) dan efisiensi operasional.

Pendekatan tersebut menjadi sorotan dalam partisipasi perusahaan pada ajang INTERCEM Asia 2026 yang digelar di Jakarta hingga Kamis (16/4/2026). Forum ini mempertemukan pelaku industri semen global, mulai dari produsen, trader, hingga investor.

Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, Surindro Kalbu Adi, mengatakan bahwa keberlanjutan kini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi fondasi daya saing industri.

“Di tengah kondisi industri yang penuh tekanan, kunci daya saing bukan hanya skala, tetapi efisiensi sistem. Sustainability kami jadikan fondasi untuk memperkuat operasional dan daya saing bisnis,” ujarnya.

Ekspansi Global di Tengah Tekanan Industri

Di tingkat global, Semen Merah Putih terus memperluas jangkauan pasar melalui jaringan ekspor yang mencakup Asia Pasifik, Oseania, Afrika, hingga Amerika. Ekspansi tersebut diperkuat melalui unit bisnis trading Aastar Trading yang menangani distribusi semen dan klinker dalam bentuk curah maupun kemasan.

MENARIK DIBACA:  ATR/BPN Perketat Pengawasan HGU, Perusahaan Diingatkan Cegah Karhutla Lebih Maksimal

Saat ini, industri semen menghadapi tekanan struktural, termasuk tingkat utilisasi produksi nasional yang hanya sekitar 51 persen serta penurunan permintaan sekitar 2–2,5 persen pada 2025 akibat perlambatan proyek infrastruktur dan pemulihan ekonomi yang belum optimal.

Namun, di tengah kondisi tersebut, Semen Merah Putih mencatat pertumbuhan positif sebesar 4,2 persen di wilayah operasional utamanya pada 2025.

Efisiensi dan Inovasi Jadi Kunci

Perusahaan menegaskan bahwa strategi keberlanjutan dijalankan secara terintegrasi di seluruh rantai nilai bisnis. Sejumlah inisiatif telah diterapkan, termasuk penggunaan Waste Heat Recovery System (WHRS) yang mampu menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan energi produksi serta menurunkan emisi hingga 100.000 ton CO₂.

Selain itu, efisiensi energi juga berhasil menurunkan konsumsi listrik hingga sekitar 3 KWh per ton klinker, serta pengurangan emisi logistik hingga 8.500 ton CO₂ per tahun melalui penggunaan kendaraan listrik dan optimalisasi distribusi.

Dari sisi produk, sekitar 81 persen portofolio Semen Merah Putih telah berbasis non-Ordinary Portland Cement (OPC), lebih tinggi dari rata-rata industri. Produk hydraulic cement bahkan mencatat pertumbuhan hingga 636,5 persen pada 2025.

MENARIK DIBACA:  Adira Finance Wujudkan Impian Ratusan Pelanggan Jalankan Ibadah Umrah ke Tanah Suci

“Pasar kini tidak hanya melihat harga, tetapi juga keberlanjutan dan keandalan pasokan. Ini membuka peluang ekspor yang lebih luas,” ujar Samar Gurung, Head of Trading Aastar Trading.

Kapasitas dan Penguatan Pasar Ekspor

Secara kapasitas, Semen Merah Putih memiliki produksi sekitar 11,4 juta ton semen dan 7 juta ton klinker per tahun di Indonesia, serta tambahan kapasitas di Vietnam sebesar 5 juta ton semen dan 3,2 juta ton klinker.

Perusahaan juga telah memperoleh berbagai sertifikasi lingkungan, termasuk Green Label dari Green Product Council Indonesia, serta pengakuan internasional atas komitmen aksi iklim.

Ke depan, Semen Merah Putih menargetkan pertumbuhan dua kali lipat dari pertumbuhan pasar pada 2026 dengan memperkuat inovasi berbasis sustainability serta memperluas peran di pasar global.

Partisipasi di INTERCEM Asia 2026 menjadi momentum perusahaan untuk menegaskan bahwa keberlanjutan kini telah menjadi bagian inti dari strategi bisnis industri semen modern, bukan lagi sekadar diferensiasi produk.