Berkah Mengagungkan al-Qur’an, 112 Tahun Sudah Usia Ponpes Al Munawwir Krapyak Yogyakarta

Islam243 Dilihat

Oleh : Adrean Hidayat, S. Sos. C. STMI (Musyrif Pondok Pesantren Darul Fikri Selatpanjang)
.
.
Pondok Pesantren Krapyak Al-Munawwir yang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren Krapyak ini didirikan oleh KH Muhammad Munawwir pada 15 November 1911, saat beliau kembali ke Tanah Air setelah menimba ilmu di Makkah dan Madinah selama 21 tahun lamanya.

KH M Munawwir dikenal sebagai alim Jawa pertama yang berhasil menguasai qiraat sab’ah. Namun yang menarik adalah bagaimana keadaan beliau ketika masih hidup.

Beliau sangat mengagungkan al-Qur’an, sebagai contoh beliau menekuni al-Quran dengan riyadhah, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun, dan terakhir adalah riyadhah membaca al-Quran selama 40 hari tanpa henti hingga mulut beliau berdarah.

Begitu besar pengagungan beliau terhadap al-Quran, sampai-sampai undangan Haflah Khatmil Quran hanya beliau sampaikan kepada mereka yang jika memegang Mushaf al-Quran selalu dalam keadaan suci dari hadats.

Tak terkecuali, beliau tekankan juga kepada santri-santrinya. Pernah terjadi seorang santri asal Kotagede dengan sengaja memegang Mushaf al-Quran dalam keadaan hadats. Setelah diusut oleh KH. M. Munawwir, akhirnya santri tersebut mengakuinya. Atas pengakuannya, si santri dita’zir, kemudian dikeluarkan dari Pesantren dalam keadaan sudah menghafalkan al-Quran 23,5 juz.

Selain itu, jiwa al-Qur’an seakan menyatu dengan gerak langkah kehidupan beliau. Setiap setengah bulan sekali beliau memotong rambut. Juga tak pernah diketahui membuka tutup kepala, selalu tertutup, baik itu dengan kopyah atau sorban maupun keduanya. Menggunting kuku selalu beliau lakukan tiap hari Jum’at Beliau mewiridkan al-Quran tiap ba’da Ashar dan ba’da Shubuh. Walau sudah hafal, seringkali beliau tetap menggunakan Mushaf. Bahkan kemanapun beliau bepergian, baik berjalan kaki maupun berkendara, wirid al-Quran tetap terjaga. Beliau mengkhatamkan al-Quran sekali tiap satu minggu, yakni pada hari Kamis sore. Demikianlah beliau mewiridkan al-Quran semenjak berusia 15 tahun.

Berkah al-Qur’an itu pula merambat ke Kampung dimana Pondok Pesantren itu didirikan. Daerah krapyak semula di kenal dengan daerah yang cukup rawan. Selain daerahnya yang penuh dengan semak semak dan belantara, masyarakatnya masih sedikit yang memeluk dan melaksanakan agama islam, kebanyakan mereka adalah kaum abangan. Namun demikian dengan berdirinya pesantren dan terdengarnya suara alunan ayat- ayat suci al qur’an setiap hari seakan mengajak orang orang disekitarnya untuk menuju ke arah jalan yang terang dan lurus ( agama islam ). Sehingga sekarang menjadi kampung yang terang benderang disinari oleh cahaya al-Qur’an.

Semoga kita semua, anak keturunan dan masyarakat serta kampung kita terberkahi dengan al-Qur’an, tentunya dengan belajar, membaca, menghafal, mengamalkannya, serta mendakwahkannya. Aaamiin

SINKAP.info | Rls