Beranda KEILMUAN Islam Jawaban Ustadz Abdul Somad Terkait Propaganda Media Terhadap Ormas Besar NU

Jawaban Ustadz Abdul Somad Terkait Propaganda Media Terhadap Ormas Besar NU

13
0
Kajian Islam
Ustadz Abdul Somad, Lc, MA
Kajian Islam
Ustadz Abdul Somad, Lc, MA

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat ustadz tentang NU yang mengakui Ahok bagian dari NU? Ahok jelas sebagai Non-muslim, mereka yang mengakui ini tergolong golongan apa? Selanjutnya saya pernah membaca bahwa Imam Syafi’I pernah berkata: ikutilah Ulama yang dibenci oleh orang kafir dan munafik dan jangan ikuti ulama yang disukai orang kafir dan orang munafik.

Jawaban:

Ustadz Abdul Somad Lc. MA

Saya tidak mau menangkap berita dikoran karena pesan Raja Maroko mengatakan: Jika kamu membaca Koran yang perlu kamu percayai cuma dua hal yakni harga dan tanggal. Saat saya ke Jakarta setelah kajian subuh, semua tokoh yang hadir membahas terkait pemilihan pemimpin Muslim.

Pada saat tokoh ulama yang maju pertama yaitu Ketua MUI Jakarta, beliau menyampaikan: “Pilih pemimpin Muslim, jangan memilih pemimpin kafir”.

Kemudian maju ustadz Solmed juga mengatakan: “Pilih pemimpin Muslim, janga elu jual suara elu karena cuman mendapat sarung cap Gajah bengkak”. Dalam logat bahasa betawinya.

Selanjutnya maju Prof. Syaifuddin begitu juga dengan semangatnya mengatakan himbauan yang sama, dan kemudian saya sendiri Ustad Somad juga menyampaikan hal yang sama.

Selesai itu saya diundang oleh Ketua syuriah Nahdatul Ulama DKI Jakarta, yakni Kiai Mafuzh Asyroni. Saat bersama beliau saya bertanya dari hati ke hati:

Ust Somad: Mana NU sekarang?

Kiai MA: Ust. Somad, NU komitmen memilih pemimpin Islam.

 

MENARIK DIBACA:  Al-Qur’an dan Sains Menjawab Kekeliruan Manusia: “Bulan Bercahaya dengan Sendirinya”

Ketika saya masuk ke daerah-daerah kemudian masuk ke pos-pos di Jakarta menjumpai umat disana mengatakan: “Saya memilih Pemimpin Islam”. Berkaitan dengan pemberitaan di media sosial yang bertolak belakang, itu hanya permainan dari segelintir elit politik. Si Anu dan anu yang bermain namun secara pondasi hingga akar rumput sekalipun kita tetap solid. Itulah NU! Jadi ada yang ingin pembusukan, Kita ketahui NU adalah ormas terbesar. Saya tidak ingin kita membenci NU karena hanya nila setitik rusak susu sebelanga, bernilailah menyikapi yang adil dan saya juga dulu sempat keliru menilai namun NU dari dalam tak semuanya begitu.

Ada sebuah pertanyaan kepada saya: Ustadz, NU sekarang ini siapa yang kita ikuti? Jawaban saya, ikuti 3 ulama yakni: KH. Luthfi Bashori, KH. Idrus Rofli, dan Buya Yahya (NU yang zuhud). Secara ritual mereka ikuti mazhab Imam Syafi’I, kemudian dalam fiqh tetap Syafi’I, dalam Aqidah Asy’ari, dalam tasawuf Juned Al-Baghdadi, dan tidak terkena virus sekuler dan liberal.

Ambil yang jernih, buang yang keruh! Ini cara menyikapi dalam menghadapi Nahdatul Ulama, adapun persoalan-persoalan yang bermain saat ini! Seperti diatas betul, ikuti ulama yang dibenci oleh orang kafir dan munafik dan tinggalkan ulama yang disukai oleh orang kafir dan munafik.

Dalam penjelasan Ust. Abdul somad, saat ini ulama yang sangat dibenci oleh kaum kafir dan munafik adalah cucu dari pada Rasulullah SAW, yakni Habib Rizieq. Jika kalian punya senjata, senjata kalian bukanlah tombak, panah dan senapan. Tetapi senjatanya adalah Cyber army (tentara dalam alam ghaib-alam maya). Pandai anda membuat meme, video pendek dan lainnya, gunakan keahlian itu untuk menyelamatkan umat ini, Serang dengan makna yang positif untuk tujuan menyelamatkan orang banyak.

Terakhir sebagaimana disampaikan syaidina Ali ra. Berkata: aku tak khawatir dengan yang haq dan bathil, sedari dulu dunia ini isinya adalah haq dan bathil. Ada kabil-ada khabil, ada Ibrahim-ada Namrudz, ada Musa-ada Fir’aun, ada Isya-ada Herodes, ada Muhammad-ada Abu lahab. Aku khawatirkan adalah Orang baik yang diam, sehingga orang yang salah merasa benar.

“Diam orang baik adalah pembenaran bagi orang yang salah” -Ustadz Abdul Somad, Lc.MA-

MENARIK DIBACA:  Minum Air Putih Bisa Turunkan Berat Badan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here