Rupiah Tembus Rp17.700, Bank Indonesia Diprediksi Naikkan Suku Bunga Hari Ini

Ekonomi48 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diumumkan hari ini, Rabu (20/5/2026).

Saat ini, suku bunga acuan BI masih berada di level 4,75 persen.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai peluang kenaikan suku bunga kini lebih besar dibandingkan opsi mempertahankan level saat ini.

“Menurut saya, peluang paling besar untuk RDG BI sudah bergeser dari sekadar mempertahankan suku bunga menjadi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 5,00 persen,” ujar Josua, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang mendorong kemungkinan kenaikan suku bunga.

Ia menyebut rupiah saat ini telah menyentuh level sekitar Rp17.700 per dolar AS, sementara Bank Indonesia disebut telah menghabiskan lebih dari USD10 miliar cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk menjaga stabilitas mata uang domestik.

Selain pelemahan rupiah, faktor eksternal lain seperti tingginya harga minyak dunia, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang berada di kisaran 4,60 persen, serta tekanan di pasar saham dan obligasi domestik juga menjadi pertimbangan.

MENARIK DIBACA:  Wakil Bupati Labuhanbatu Hadiri Hari HAM 2025 Tegaskan Perlindungan Hak Masyarakat

“BI perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan stabilitas pasar keuangan,” jelas Josua.

Meski inflasi April 2026 tercatat turun menjadi 2,42 persen dan masih berada dalam target BI, Josua menilai risiko pelemahan rupiah jauh lebih mengkhawatirkan.

Menurutnya, depresiasi rupiah dapat memicu kenaikan harga barang impor, energi, bahan baku, hingga biaya produksi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap inflasi dan ekspektasi pasar.

“Jika BI hanya mengandalkan intervensi valas, SRBI, DNDF, dan operasi moneter tanpa menaikkan suku bunga, pasar bisa menilai respons kebijakan belum cukup kuat,” katanya.

Cadangan devisa Indonesia sendiri tercatat sebesar USD146,2 miliar, turun dari posisi Maret 2026 sebesar USD148,2 miliar akibat kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Josua menilai opsi mempertahankan suku bunga masih terbuka jika BI mempertimbangkan dampaknya terhadap kredit perbankan, konsumsi masyarakat, UMKM, serta biaya pembiayaan pemerintah.

“Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan suku bunga tanpa sinyal yang sangat kuat berisiko dianggap kurang meyakinkan oleh pasar,” ujarnya.

MENARIK DIBACA:  Konferensi Internasional NWI: Perempuan UMKM Kunci Pertumbuhan Ekonomi dan SDGs Berkelanjutan

Di sisi lain, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpandangan BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuan karena cadangan devisa dinilai masih cukup kuat untuk menopang intervensi pasar.

“Seharusnya BI rate naik itu tidak perlu. Karena BI rate naik, praktis suku bunga yang lainnya pun juga ikut naik. Itu semakin membebani sektor riil yang sekarang banyak terpukul akibat posisi valas dolar yang mahal,” kata Myrdal.

Ia menilai banyak pelaku usaha saat ini sudah menghadapi tekanan akibat tingginya nilai tukar dolar AS dan meningkatnya biaya ekspansi usaha.

Selain itu, Myrdal memperkirakan potensi arus keluar modal (capital outflow) harian masih berada di kisaran USD2 miliar hingga USD3 miliar dan dinilai masih dapat diantisipasi oleh BI.

“Kalaupun ada yang membuat pressure-nya besar sekarang, bisa jadi karena dividen,” ujarnya.

Sebelumnya, pada RDG April 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.