Beijing Sulap Ajang Olahraga Jadi Mesin Ekonomi, Kuliner dan Pariwisata Ikut Kebanjiran Manfaat Besar

Sports, Wisata128 Dilihat

BEIJING, SINKAP.info – Kota Beijing, China, memanfaatkan berbagai ajang olahraga internasional untuk menggerakkan perekonomian sekaligus memperkuat sektor pariwisata. Status Beijing sebagai “Dual Olympic City” menjadi modal dalam mengembangkan ekosistem ekonomi berbasis olahraga.

Momentum tersebut terlihat selama libur Hari Nasional China atau Golden Week. Sejumlah kompetisi olahraga internasional tidak hanya menghadirkan pertandingan, tetapi juga mendorong aktivitas konsumsi melalui perdagangan, kuliner, akomodasi, hingga wisata.

Salah satunya China Open yang berlangsung di National Tennis Center Beijing. Antusiasme penonton tidak hanya terpusat di arena pertandingan, tetapi meluas ke kawasan sekitar melalui area nonton bersama, toko merchandise resmi, serta berbagai gerai makanan dan minuman.

Yin Xufei, kepala toko merchandise resmi China Open, mengatakan dua toko resmi yang berada di pintu masuk utara dan selatan National Tennis Center masing-masing dikunjungi lebih dari 10.000 orang per hari selama libur Hari Nasional.

“Terdapat hampir 1.000 produk yang membuat kenangan setiap orang terhadap turnamen memiliki bentuk yang nyata,” ujar Yin.

Pada final tunggal putra China Open, Novak Djokovic meraih gelar ketujuh setelah lawannya, Alex de Minaur, mengundurkan diri karena cedera setelah Djokovic memenangi set pertama pada 6 Oktober.

Namun, daya tarik turnamen tidak berhenti di lapangan. Konsep “venue kedua” yang menghadirkan layar besar, merchandise, serta pilihan kuliner membuat pengalaman menonton pertandingan terhubung dengan aktivitas rekreasi masyarakat.

Shougang Park Jadi Destinasi Olahraga dan Wisata

Aktivitas ekonomi berbasis olahraga juga terlihat di Shougang Park, kawasan industri yang telah dikembangkan menjadi salah satu destinasi di Beijing.

MENARIK DIBACA:  Alibaba Luncurkan Pengalaman AI Imersif Wonder on Ice di Olimpiade Milano Cortina

Selama libur Hari Nasional, World Table Tennis (WTT) China Grand Smash kembali digelar di kawasan tersebut untuk tahun ketiga berturut-turut. Kehadiran ajang tenis meja internasional itu turut menciptakan suasana olahraga yang berpadu dengan aktivitas wisata dan konsumsi.

Gao Yize, penggemar asal Xinjiang, mengatakan pengunjung dapat menghabiskan waktu seharian di Shougang Park dengan menikmati kuliner, pasar, dan berbagai produk suvenir selain menyaksikan pertandingan.

“Selain masuk ke venue untuk menyaksikan pertandingan dan memberikan dukungan kepada atlet, pengunjung juga dapat merasakan suasana perayaan tenis meja yang berpadu dengan liburan Hari Nasional di Grand Smash Park,” katanya.

Konsep serupa juga diterapkan melalui merchandise resmi WTT China Grand Smash. Salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung ialah kaus bertema “Explore Shijingshan in One T-Shirt”.

Kaus tersebut menjadi bagian dari konsep “walking ticket stub” atau tiket berjalan. Selama periode turnamen, pemakainya dapat memperoleh berbagai penawaran khusus untuk kuliner, akomodasi, dan wisata di ratusan merchant mitra yang tersebar di Shougang Park, Yongdingheji, Moshikou Historical and Cultural Street, serta sejumlah lokasi lainnya.

Ajang Olahraga Dorong Konsumsi Masyarakat

Pengembangan ekonomi berbasis olahraga juga diperluas melalui berbagai kompetisi di sejumlah wilayah Beijing.

Selama Golden Week, Beijing Yizhuang GT World Challenge tercatat menarik lebih dari 26.000 penonton. Ajang otomotif tersebut menggabungkan balapan, budaya otomotif, interaksi teknologi, serta aktivitas rekreasi dan konsumsi.

MENARIK DIBACA:  STT GDC dan SuperX Luncurkan Pusat AI Singapura, Inovasi Cepat Tanpa Hambatan Infrastruktur

Di kawasan Tongming Lake, suara mesin balap berpadu dengan pemandangan danau serta lanskap perkotaan. Konsep tersebut mendorong peningkatan aktivitas konsumsi di sekitar lokasi, termasuk sektor kuliner, ritel, dan akomodasi.

Sementara itu, di Miyun, wilayah pinggiran Beijing, China Men’s 3×3 Basketball League Championship menghubungkan pertandingan olahraga dengan potensi budaya dan pariwisata lokal.

Penyelenggara menghadirkan “Chao San” Market yang mempertemukan lebih dari 30 pelaku usaha. Berbagai produk lokal ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari kuliner khas Miyun, makanan tradisional hingga produk warisan budaya takbenda.

Dengan demikian, penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan pertandingan, tetapi juga memiliki kesempatan menikmati kuliner dan membeli produk lokal.

Olahraga Jadi Penggerak Ekonomi Kota

Berbagai penyelenggaraan tersebut menunjukkan bagaimana Beijing mengembangkan konsep wisata olahraga dengan menjadikan aktivitas pertandingan sebagai bagian dari pengalaman wisata yang lebih luas.

Ajang olahraga tingkat internasional menjadi penggerak utama, sementara kompetisi olahraga masyarakat dan kelompok usia muda turut memperluas jangkauan aktivitas tersebut hingga berbagai kawasan kota.

Beijing yang dikenal sebagai “Dual Olympic City” kemudian mengembangkan skenario wisata budaya sebagai bagian dari penyelenggaraan berbagai event olahraga.

Pendekatan itu memperluas ruang konsumsi masyarakat sekaligus meningkatkan pengalaman penonton. Olahraga tidak lagi hanya menjadi tontonan di dalam arena, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang menghubungkan olahraga, pariwisata, kuliner, perdagangan, dan hiburan.

Model tersebut memperlihatkan besarnya potensi ekonomi olahraga ketika ajang pertandingan mampu diintegrasikan dengan karakter dan potensi kawasan tempat penyelenggaraannya.