Survei Ungkap Perusahaan Asia Pasifik Kejar AI Meski Hasil Belum Jelas

Bisnis, GLOBAL60 Dilihat

SINGAPURA, SINKAP.info – Investasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kawasan Asia Pasifik terus meningkat pesat. Namun, sebuah survei terbaru mengungkap bahwa banyak perusahaan berinvestasi secara agresif bukan semata karena hasil yang telah terbukti, melainkan karena kekhawatiran tertinggal dari para pesaing.

Temuan tersebut tercantum dalam laporan IDC InfoBrief bertajuk Enterprise Horizons 2026: Where Innovation Meets Reality yang disusun atas permintaan perusahaan penyedia layanan jaringan global Expereo.

Survei yang melibatkan 800 pemimpin teknologi di Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Serikat itu menunjukkan sekitar 70 persen organisasi saat ini berinvestasi dalam teknologi AI. Sebagian besar didorong oleh potensi manfaat AI maupun rasa takut kehilangan daya saing di tengah percepatan transformasi digital.

Di kawasan Asia Pasifik, tren tersebut bahkan lebih menonjol. Sebanyak 37 persen organisasi mengaku melakukan investasi AI secara agresif dengan evaluasi yang minim, hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 20 persen. Angka tersebut juga jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat (10 persen) dan Eropa (13 persen).

Australia dan Vietnam menjadi negara dengan tingkat investasi berbasis kekhawatiran tertinggi, masing-masing mencapai 45 persen dan 44 persen. Sementara di Singapura, lebih dari sepertiga organisasi mengakui melakukan pendekatan serupa.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa AI kini menjadi salah satu prioritas utama investasi teknologi. Sebanyak 51 persen organisasi global berencana memprioritaskan investasi AI atau machine learning dalam 12 bulan ke depan. Di Asia Pasifik, angka tersebut meningkat menjadi 61 persen.

MENARIK DIBACA:  Kilau Berlian Alami Hiasi Karpet Merah Bertabur Bintang di Tahun 2025

Meski demikian, hasil yang diperoleh belum sepenuhnya sejalan dengan ekspektasi. Hanya 19 persen organisasi secara global yang menyatakan implementasi AI mereka melampaui harapan, sementara hanya 5 persen yang menyebut hasilnya jauh melebihi target.

Di Asia Pasifik, sekitar 40 persen organisasi mengaku implementasi AI telah memenuhi atau melampaui ekspektasi. Namun, mayoritas perusahaan masih menghadapi berbagai kendala dalam memperoleh manfaat maksimal dari investasi tersebut.

Kualitas data pelatihan yang kurang memadai menjadi salah satu hambatan utama. Selain itu, biaya implementasi yang lebih tinggi dari perkiraan serta kegagalan mencapai target pengembalian investasi (ROI) juga menjadi tantangan yang banyak dikeluhkan.

Di kawasan Asia Pasifik, sebanyak 54 persen responden menyebut biaya yang membengkak dan target ROI yang tidak tercapai sebagai penyebab utama kinerja AI yang belum optimal. Di Malaysia, angka tersebut bahkan mencapai 80 persen.

Meski menghadapi berbagai tantangan, banyak organisasi tetap merasakan dampak positif dari penerapan AI. Sebanyak 87 persen perusahaan di Asia Pasifik melaporkan peningkatan produktivitas pada unit bisnis yang paling banyak menggunakan AI, sementara 82 persen menyatakan kualitas pekerjaan mengalami peningkatan.

Namun, laporan tersebut juga mengungkap adanya kesenjangan kesiapan infrastruktur yang cukup signifikan. Hanya 9 persen organisasi di Asia Pasifik yang menilai infrastruktur jaringan mereka telah sepenuhnya siap mendukung pengembangan AI, komputasi awan, dan transformasi digital.

Sebaliknya, 37 persen organisasi menyatakan jaringan yang mereka miliki saat ini perlu ditingkatkan atau bahkan diganti dalam waktu dekat. Di Indonesia, hampir separuh organisasi atau sekitar 48 persen mengaku infrastruktur mereka membutuhkan pembaruan untuk mendukung implementasi AI secara optimal.

MENARIK DIBACA:  OPPO Umumkan Lamine Yamal Sebagai Duta Global Baru

Chief Executive Officer Expereo, Ben Elms, mengatakan kesenjangan antara ambisi dan hasil implementasi AI sering kali disebabkan oleh infrastruktur jaringan yang belum memadai.

“AI hanya dapat memberikan manfaat maksimal apabila didukung jaringan yang tangguh, fleksibel, dan dioptimalkan untuk kebutuhan komputasi modern. Tanpa fondasi tersebut, program AI yang besar sekalipun akan kesulitan menghasilkan ROI,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Expereo untuk kawasan Asia Pasifik, Eric Wong, menilai organisasi di kawasan ini mulai menyadari bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada aplikasi dan model teknologi yang digunakan.

Menurutnya, kesiapan jaringan, konektivitas cloud, tata kelola data, ketahanan sistem, serta visibilitas operasional memiliki peran yang sama pentingnya dalam menentukan keberhasilan transformasi AI.

Selain persoalan infrastruktur, para pemimpin teknologi juga mulai mengkhawatirkan risiko jangka panjang dari penggunaan AI yang tidak terkelola dengan baik. Sebanyak 54 persen responden global menyebut munculnya ancaman keamanan baru sebagai risiko utama, sementara 39 persen mengaku khawatir kehilangan kendali terhadap biaya dan pengembalian investasi AI seiring semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun adopsi AI terus meningkat di Asia Pasifik, keberhasilan implementasinya tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur, kualitas data, serta kemampuan organisasi dalam mengelola investasi teknologi secara terukur dan berkelanjutan.