Sen. Agu 26th, 2019

SINKAP

Suara Anak Bangsa

Sejarah Perang Air (Cian cui) di Selatpanjang – Kepulauan Meranti

SINKAP – Perang air atau disebut dengan Cian cui berawal dari kebiasaan anak muda yang sebelumnya diawali dengan melakukan perang menggunakan senapan atau pistol yang berisikan peluru plastik warna warni namun bisa menimbulkan bahaya bagi pengguna dan korban yang diserang pada saat perayaan di hari besar perayaan agama di Kabupaten Kepulauan Meranti. Karena efek bahaya menggunakan senjata plastic banyak orang tua yang melarang anaknya untuk bermain peralatan tersebut pada saat perayaan idul fitri dan imlek. Akhirnya dengan inisiatif peralihan permainan anak muda untuk memeriahkan perayaan hari raya terutama saat imlek, perang senjata plastik digantikan dengan perang air yang menggunakan pistol air.

Dengan alasan sudah dilarang dan takut dimarahi oleh orang tua, akhirnya perang-perangan menggunakan pistol pelastik pun terhenti dengan sendirinya. Pada bermulanya kebiasaan yang sudah menjadi tradisi di kota Selatpanjang, anak anak muda tetap memeriahkan hari perayaan terutama pada tahun baru imlek menggunakan semprot air salju. Mereka membentuk group group yang menyewa kendaraan roda tiga seperti bentor (becak motor) ataupun kendaraan roda tiga kaisar. Seiring waktu pada pergantian tahun baru imlek kemeriahan perang semprot salju saling serang menyerang kepada group yang mengikuti kemeriahan ini berganti menggunakan air dikarenakan harga semprot botol salju bisa dikatakan menguras biaya. Akhirnya amunisi air menjadi bahan untuk perlengkapan  memerangi teman teman dan setiap orang yang ikut memeriahkan tahun baru imlek.

MENARIK DIBACA:  Muhammadiyah Segera Dirikan Lembaga Pendidikan Islam di Australia

Saling serang menyerang menggunakan air dengan menggunakan pistol air, gayung, modifikasi pipa air dan perlengkapan lainnya, anak anak muda dan orang tua yang membentuk group berkeliling sepanjang rute ruas jalan di kota Selatpanjang menggunakan bentor dan kaisar, mereka saling serang menyemprotkan air-tidak ada yang boleh marah saat disemprotkan air, mereka saling meluahkan kegembiraan dengan canda dan tawa. Prosesi Festival cian cui ini berlangsung selama 6 hari dimulai dari jam 16.00 sampai jam 17.30 dengan tertib dan tetap berada digaris keamanan ditandai dengan adanya petugas Dishub dan kepolisian yang ikut serta untuk menertibkan jalannya lalu lintas.

Saat ini perayaan festival perang air sudah berkembang dan bervariasi guna mengundang daya tarik wisatawan, festival ini bukan hanya diikuti oleh kauman muda namun juga turut serta oleh orang tua dan didukung serta oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Pada hari ketiga selaku Kepala Daerah melakukan pelepasan kemeriahan Festival perang air (cian cui) dan diikuti oleh Organiasi dari berbagai Perangkat Daerah (OPD) dan Swasta. Melihat daya tarik wisatawan dari manca Negara dan sebagai kearifan local yang berawal dari kebiasan negative menjadi kebiasaan yang positif dalam kemeriahan tahun baru imlek sebagai bukti toleransi dan solidaritas antar umat beragama, festival perang air ini sebagai bukti keramahtamah dan terjalinnya hubungan kondusif penuh pesona antara etnis melayu, tionghua, minang, batak, jawa di Kabupaten Kepulauan Meranti. (adm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »