Allianz Ungkap US$125 Miliar Kargo Tertahan Akibat Krisis Selat Hormuz

GLOBAL52 Dilihat

SINGAPURA, SINKAP.info – Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah memberikan dampak signifikan terhadap industri pelayaran global. Laporan terbaru Allianz Commercial bertajuk Safety and Shipping Review 2026mengungkapkan bahwa kapal dan kargo senilai sekitar US$125 miliar saat ini masih menunggu kepastian untuk melintasi kawasan Teluk Persia setelah terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Menurut Allianz Research, sekitar 1.150 kapal pengangkut barang dengan kapasitas lebih dari 100 gross ton (GT), membawa muatan dengan nilai mencapai US$125 miliar dan total volume sekitar 29 juta GT, terdampak akibat penutupan jalur strategis tersebut. Selain itu, sekitar 20.000 pelaut juga masih berada di kawasan Teluk Persia menunggu aktivitas pelayaran kembali normal pasca perkembangan diplomatik terbaru.

Chief Executive Officer Allianz Commercial, Thomas Lillelund, mengatakan industri pelayaran global saat ini tengah menghadapi perubahan besar yang membuat operasional semakin kompleks dan tidak menentu.

“Industri pelayaran telah mencatat kemajuan signifikan dalam aspek keselamatan maritim selama beberapa tahun terakhir. Namun, konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu gangguan terbesar yang memengaruhi pemilik kapal dan operator kargo. Ketahanan operasional, geopolitik, dan efisiensi kini harus berjalan seimbang di tengah dunia yang semakin sulit diprediksi,” ujarnya.

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, khususnya untuk perdagangan minyak global. Allianz menilai gangguan yang terjadi menunjukkan pentingnya jalur-jalur maritim strategis atau maritime chokepoints terhadap kelancaran perdagangan internasional.

MENARIK DIBACA:  Bangkok Pusat Imlek 2026, Wisata Budaya Kuliner dan Belanja Asia Premium Regional

Meski perlindungan asuransi pelayaran tetap tersedia selama konflik berlangsung, Allianz mencatat premi asuransi kapal dan kargo mengalami peningkatan. Namun, risiko terbesar yang dihadapi pelaku industri bukan hanya persoalan biaya asuransi, melainkan keselamatan awak kapal dan keamanan armada yang harus melintasi wilayah konflik.

Global Head of Marine Risk Consulting Allianz Commercial, Kapten Rahul Khanna, menilai peristiwa di Timur Tengah menjadi peringatan bagi industri logistik global untuk lebih mengutamakan ketahanan rantai pasok dibanding sekadar efisiensi biaya.

“Setiap konflik, pandemi, atau gangguan pada jalur pelayaran utama dapat memicu disrupsi besar terhadap rantai pasok dunia. Saat ini perusahaan harus mulai beralih dari konsep just-in-time menuju just-in-case dengan menempatkan ketahanan operasional sebagai prioritas utama,” katanya.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, laporan Allianz juga mencatat tren positif dalam aspek keselamatan pelayaran global. Jumlah insiden pelayaran sepanjang 2025 turun sekitar 16 persen menjadi 2.818 kasus dibandingkan 3.353 kasus pada 2024.

Selama satu dekade terakhir, total kehilangan kapal (total loss) juga terus menurun. Allianz mencatat sebanyak 43 kasus kehilangan kapal terjadi pada 2025, jauh lebih rendah dibanding rata-rata tahunan pada periode sebelumnya.

MENARIK DIBACA:  Ketum PBNU Terpilih sebagai Wakil Presiden Religion for Peace

Meski demikian, risiko kebakaran masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi industri pelayaran. Sepanjang 2025 tercatat lebih dari 200 insiden kebakaran pada kapal-kapal besar, termasuk kapal kontainer dan kapal pengangkut kendaraan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi kedua dalam kurun 10 tahun terakhir.

Selain itu, usia armada kapal global yang terus meningkat turut menjadi perhatian. Rata-rata usia kapal dunia mencapai 23 tahun pada 2025, naik dari sekitar 20 tahun sebelum pandemi Covid-19. Allianz mencatat kapal berusia lebih dari 20 tahun menyumbang lebih dari separuh insiden keselamatan yang terjadi di laut.

Senior Marine Risk Consultant Allianz Commercial, Kapten Nitin Chopra, mengatakan kondisi geopolitik global dan tingginya permintaan pelayaran membuat banyak operator mempertahankan kapal-kapal lama lebih lama dari yang direncanakan.

“Pemilik kapal menghadapi tekanan untuk mengganti armada lama dengan kapal yang lebih efisien dan aman. Namun kapasitas galangan kapal yang penuh serta berbagai tantangan transisi menuju target emisi nol bersih membuat usia rata-rata armada diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

Laporan Allianz menegaskan bahwa industri pelayaran global kini memasuki era baru yang ditandai meningkatnya risiko geopolitik, perubahan jalur perdagangan, dan kebutuhan akan ketahanan operasional yang lebih kuat guna menjaga kelancaran perdagangan internasional yang sebagian besar masih bergantung pada transportasi laut.