Harga Batu Bara Dunia Ambruk, Kebijakan Ekspor Indonesia Picu Kekhawatiran Pasar Global Luas

Ekonomi149 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info – Harga batu bara dunia melemah setelah sempat menguat selama tiga hari berturut-turut. Kebijakan pemerintah Indonesia terkait sentralisasi ekspor komoditas menjadi perhatian utama pelaku pasar global.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara kontrak Juni pada perdagangan Rabu (20/5/2026) ditutup di level US$137,45 per ton atau turun 1,40 persen. Pelemahan tersebut memutus tren kenaikan harga batu bara yang sebelumnya menguat sekitar 4,4 persen dalam tiga hari terakhir.

Pasar global menyoroti rencana pemerintah Indonesia yang akan menerapkan sistem ekspor terpusat melalui perusahaan perdagangan yang ditunjuk pemerintah dan diawasi oleh Danantara Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tersebut akan melalui masa transisi selama tiga bulan dan pada tahap awal berlaku untuk komoditas batu bara, minyak sawit, dan ferroalloy.

Selain itu, mulai 1 Juni 2026 seluruh eksportir sumber daya alam diwajibkan menempatkan 100 persen devisa hasil ekspor di bank milik negara sebagai langkah memperkuat nilai tukar rupiah.

MENARIK DIBACA:  Kantor JMSI Daerah Jadi Tempat Pendaftaran Mahasiswa Baru Siber Muhammadiyah

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga mengumumkan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor yang akan menjadi pengekspor tunggal berbagai komoditas sumber daya alam Indonesia.

“Semua hasil sumber daya alam Indonesia mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, dan besi ferro alloy wajib dilakukan penjualannya melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah RI sebagai pengekspor tunggal,” ujar Prabowo dalam pidatonya di Gedung DPR, Rabu (20/5/2026).

Menurut Prabowo, kebijakan tersebut bertujuan memperkuat pengawasan terhadap praktik under invoicing, transfer pricing, hingga pelarian devisa hasil ekspor, sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara.

Kebijakan itu memicu kekhawatiran pelaku pasar internasional karena Indonesia merupakan eksportir batu bara termal terbesar di dunia. Pasar menilai sentralisasi ekspor berpotensi mengurangi fleksibilitas perdagangan, mengganggu kontrak ekspor, serta memperketat pasokan batu bara di pasar spot Asia.

Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah muncul rencana pemangkasan kuota produksi batu bara Indonesia pada 2026. Sejumlah perusahaan tambang dilaporkan mulai menghentikan penjualan spot akibat ketidakjelasan regulasi.

MENARIK DIBACA:  Jelang Ramadan, Pemerintah Gelontorkan Bansos Rp12 Triliun untuk Jaga Daya Beli

Negara-negara importir seperti Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam dinilai paling rentan terdampak apabila pasokan batu bara dari Indonesia terganggu.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga batu bara juga datang dari China. Curah hujan tinggi di wilayah selatan dan tengah China meningkatkan debit air Bendungan Three Gorges, pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia.

Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan produksi listrik tenaga air atau hydropower dan mengurangi kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik di negara tersebut.

Data industri menunjukkan produksi listrik tenaga air China sempat melonjak lebih dari 40 persen secara tahunan setelah musim hujan datang lebih awal dan meningkatkan kapasitas waduk utama.

Peningkatan produksi hydropower diperkirakan akan menekan permintaan batu bara termal sehingga berpotensi melemahkan harga batu bara di pasar domestik maupun global dalam beberapa waktu mendatang.