Surplus Besi Baja US$18,44 Miliar, Indonesia Tembus Lima Besar Eksportir Dunia

Ekonomi, NASIONAL61 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info — Indonesia kian menunjukkan keseriusannya untuk menjadi salah satu kekuatan utama dalam industri besi dan baja global. Hal ini tercermin dari kinerja neraca perdagangan besi dan baja nasional yang mencatatkan surplus signifikan sepanjang 2025.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, hingga November 2025 neraca perdagangan besi dan baja Indonesia dengan kode HS 72 terus menunjukkan kinerja positif dan konsisten.

“Hingga bulan November 2025, neraca perdagangan besi dan baja Indonesia, HS 72, telah mencatatkan surplus yang konsisten dan signifikan,” ujar Budi dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).

Pada 2025, surplus neraca perdagangan besi dan baja Indonesia tercatat meningkat menjadi US$18,44 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh nilai ekspor sebesar US$27,97 miliar, sementara impor tercatat US$9,53 miliar.

Budi menyebutkan, capaian surplus yang berkelanjutan tersebut sejalan dengan meningkatnya posisi Indonesia dalam peta perdagangan besi dan baja dunia. Pada 2019, Indonesia masih berada di peringkat ke-17 sebagai eksportir besi dan baja terbesar dunia.

“Melalui upaya hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri, Indonesia kini melompat ke peringkat kelima sebagai negara eksportir besi dan baja terbesar di dunia,” katanya.

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan bahwa penguatan industri besi dan baja tidak terlepas dari perhatian besar Presiden terhadap kemandirian ekonomi nasional.

MENARIK DIBACA:  BUMA Luncurkan Sukuk Perdana untuk Perluas Akses ke Pasar Keuangan Syariah

“Bapak Presiden sangat concern menjaga kemandirian ekonomi agar sumber daya bangsa dikelola dengan baik dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945,” ujar Faisol.

Faisol memaparkan, industri pengolahan non-migas pada 2025 tumbuh 5,58 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,04 persen. Dari seluruh subsektor industri, industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan tertinggi.

“Subsektor industri dengan pertumbuhan tertinggi adalah industri logam dasar dengan pertumbuhan mencapai 18,62 persen,” ujarnya.

Dari sisi investasi, sektor industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan perlengkapannya juga menunjukkan kinerja solid. Sepanjang Januari–Desember 2025, sektor ini mencatatkan realisasi investasi sebesar US$14,6 miliar, atau sekitar 26 persen dari total investasi penanaman modal asing.

Mengacu pada data World Steel Association, produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton, dengan China sebagai produsen terbesar. Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dengan produksi baja kasar sebesar 19 juta ton, meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 18,6 juta ton.

MENARIK DIBACA:  28 Perusahaan Kehilangan Izin, 1 Juta Hektare Lahan Diambil Negara

Dari sisi perdagangan, industri baja nasional juga menunjukkan perbaikan struktural. Ekspor baja meningkat secara konsisten sejak 2020, sementara impor cenderung menurun sejak 2022. Kondisi tersebut mendorong pergeseran neraca perdagangan dari defisit menjadi surplus.

“Perkembangan ini menyebabkan pergeseran neraca perdagangan dari kondisi defisit menuju surplus,” jelas Faisol.

Lebih lanjut, Faisol mengungkapkan struktur konsumsi baja domestik masih didominasi sektor konstruksi. Berdasarkan data The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) dan World Steel Association (WSA), sektor konstruksi menyerap 77,1 persen dari total konsumsi baja nasional, diikuti sektor otomotif 11,6 persen, dan peralatan rumah tangga 3,3 persen.

“Ini menunjukkan industri baja nasional sangat bergantung pada pembangunan infrastruktur dan properti sebagai penggerak utama permintaan,” ujarnya.

Meski demikian, peluang ekspansi industri baja nasional dinilai masih sangat besar. Konsumsi baja per kapita Indonesia pada 2025 baru sekitar 60 kilogram per kapita, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 217 kilogram per kapita. Selain itu, tingkat utilisasi industri baja nasional rata-rata masih berada di angka 52,7 persen.

“Ini mengindikasikan ruang ekspansi dan peningkatan yang masih sangat besar bagi industri baja nasional,” pungkas Faisol.