Thailand Punya Modal Rahasia Hadapi Krisis Global, Kata Dekan NUS

Bisnis, GLOBAL34 Dilihat

BANGKOK, SINKAP.info – Reputasi Thailand sebagai mitra regional yang dipercaya dan netral dinilai dapat menjadi salah satu keunggulan kompetitif terbesar negara tersebut di tengah perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik global.

Hal itu disampaikan Dekan NUS Business School, Profesor Andrew K. Rose, saat berbicara kepada media dalam kunjungannya ke Bangkok, Thailand, baru-baru ini.

Menurut Profesor Rose, meningkatnya ketegangan geopolitik dunia telah mengubah pola perdagangan internasional, rantai pasok global, hingga arus investasi. Dalam situasi tersebut, negara yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi serta hubungan regional yang stabil akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menarik investasi dan aktivitas bisnis.

“Dalam dunia yang sedang mengalami pergeseran aliansi global dan perubahan rantai pasok, kepercayaan menjadi aset strategis. Thailand telah membangun hubungan yang kuat dengan negara-negara di Asia dan kawasan lainnya selama puluhan tahun. Fondasi tersebut menjadi semakin bernilai pada masa ketidakpastian,” ujar Rose.

Meski demikian, ia mengakui bahwa Thailand saat ini menghadapi sejumlah tantangan ekonomi. Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook edisi April 2026, pertumbuhan ekonomi Thailand diperkirakan berada pada level 1,5 persen pada tahun ini.

Rose menilai kenaikan biaya energi, melambatnya permintaan wisatawan jarak jauh, serta pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor ekonomi Thailand dalam jangka pendek.

MENARIK DIBACA:  amfori Summit 2025 Mantapkan Arah Ketahanan dan Keberlanjutan Rantai Pasok Asia

Namun demikian, ia menegaskan bahwa masa-masa disrupsi sering kali menjadi momentum penting bagi suatu negara untuk melakukan transformasi dan memperkuat daya saing jangka panjang.

“Ekonomi yang mampu keluar lebih kuat biasanya adalah yang paling cepat beradaptasi. Kapabilitas kepemimpinan, kelincahan organisasi, dan kemampuan menghadapi perubahan akan menentukan siapa yang mampu meraih pertumbuhan pada dekade mendatang,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya investasi perusahaan-perusahaan Asia Tenggara dalam bidang kecerdasan buatan, transformasi digital, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Sebuah studi Milieu Insight tahun 2026 yang melibatkan 3.000 pekerja di enam negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, menunjukkan bahwa 53 persen responden menilai ketergantungan berlebihan terhadap AI sebagai kekhawatiran utama. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kekhawatiran terhadap risiko privasi maupun potensi hilangnya lapangan pekerjaan.

Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Senior NUS Business School, Usa Skulkerewathana, menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia dan kesiapan teknologi secara seimbang.

Menurutnya, perusahaan di Thailand perlu lebih fokus membangun kepemimpinan, meningkatkan kemampuan digital, dan memperkuat ketahanan tenaga kerja dibandingkan hanya mengandalkan teknologi sebagai solusi tunggal.

MENARIK DIBACA:  ONESIAM Global Visitor Card: Kartu Andalan Wisatawan Internasional Jelajahi Bangkok Lebih Mudah

“Ini bukan saatnya menunggu dan melihat. Perusahaan yang lebih awal berinvestasi pada kepemimpinan, kemampuan digital, dan ketahanan tenaga kerja akan memiliki posisi yang lebih kuat untuk bersaing di tingkat regional maupun global,” ujarnya.

Rose menambahkan, posisi Thailand dalam kawasan ASEAN tetap strategis di tengah perubahan ekonomi global yang sedang berlangsung. Ia menilai modal kepercayaan (trust capital) yang dimiliki Thailand masih sangat kuat dan dapat menjadi faktor pembeda dibandingkan negara lain.

Menurutnya, institusi dan pelaku bisnis Thailand yang mampu memanfaatkan kepercayaan tersebut sebagai aset strategis, sekaligus memperkuat kualitas kepemimpinan dan sumber daya manusia, akan menjadi penentu arah pertumbuhan ekonomi negara itu pada masa mendatang.

NUS Business School sendiri merupakan salah satu sekolah bisnis terkemuka di Asia yang berada di bawah naungan National University of Singapore (NUS). Dengan jaringan lebih dari 50 ribu alumni dan 60 cabang global, institusi tersebut dikenal sebagai pusat pendidikan bisnis yang menggabungkan wawasan global dengan perspektif Asia.

Dalam berbagai pemeringkatan internasional, NUS Business School secara konsisten menempati posisi teratas di Asia dan memperoleh akreditasi internasional bergengsi dari AACSB International serta EQUIS.