Thailand Setujui Investasi Rp477 Triliun, TikTok Bangun Infrastruktur Data Center Raksasa

Bisnis, GLOBAL107 Dilihat

BANGKOK, SINKAP.info – Pemerintah Thailand menyetujui gelombang investasi baru senilai 958 miliar baht atau sekitar US$29 miliar (Rp477 triliun) yang didominasi sektor pusat data dan infrastruktur digital. Persetujuan itu menegaskan posisi Thailand sebagai salah satu pusat pertumbuhan data center dan layanan cloud di kawasan Asia Tenggara.

Persetujuan investasi tersebut diberikan oleh Board of Investment (BOI) Thailand dalam rapat yang dipimpin Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Thailand, Ekniti Nitithanprapas.

Dari enam proyek yang disetujui, tiga di antaranya bergerak di sektor data center dan layanan data hosting dengan total investasi mencapai 913 miliar baht atau sekitar US$27 miliar.

Proyek terbesar berasal dari TikTok System (Thailand) Co., Ltd. dengan nilai investasi 842 miliar baht atau sekitar US$25 miliar. Investasi tersebut akan digunakan untuk penambahan server serta pengembangan infrastruktur penyimpanan dan pemrosesan data di Bangkok, Samut Prakan, dan Chachoengsao.

Ekspansi ini dilakukan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan layanan digital sekaligus memperkuat peran Thailand sebagai pusat infrastruktur digital regional.

Selain pembangunan infrastruktur, TikTok juga berkomitmen mengembangkan program literasi digital dan kurikulum e-commerce guna menciptakan peluang bisnis baru bagi pelaku usaha Thailand serta meningkatkan kualitas tenaga kerja digital.

Sekretaris Jenderal BOI Thailand, Narit Therdsteerasukdi, mengatakan pertumbuhan investasi digital menunjukkan tingginya kepercayaan investor global terhadap Thailand di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

MENARIK DIBACA:  FiinRatings Naikkan Outlook Peringkat Kredit F88 ke 'Positif'

“Investasi di sektor digital dan teknologi canggih Thailand terus tumbuh, mencerminkan keyakinan investor terhadap potensi negara ini sebagai pusat teknologi regional,” ujarnya.

Menurut Narit, Thailand harus memastikan kesiapan pasokan listrik, energi bersih, tenaga kerja terampil, rantai pasok, hingga sistem perizinan yang cepat agar mampu bersaing menarik investasi global.

Selain TikTok, BOI juga menyetujui investasi data center milik Skyline Data Center and Cloud Services Co., Ltd. yang merupakan bagian dari DAMAC Group asal Uni Emirat Arab. Proyek senilai 46 miliar baht atau sekitar US$1,4 miliar itu berlokasi di Chachoengsao dengan kapasitas beban IT mencapai 200 megawatt.

Perusahaan asal Singapura, Bridge Data Centres IIO (Thailand) Co., Ltd., juga memperoleh persetujuan investasi sebesar 24,6 miliar baht atau sekitar US$746 juta untuk proyek data center di Chonburi dengan kapasitas 134 megawatt.

Sementara itu, proyek lain yang disetujui mencakup sektor energi terbarukan, ekonomi sirkular, dan industri berbasis sumber daya alam.

PureCycle (Thailand) Co., Ltd. akan menginvestasikan 8,18 miliar baht untuk produksi pelet plastik daur ulang di Rayong menggunakan teknologi berlisensi dari P&G.

Dan Khun Thot Wind One Co., Ltd. mendapat persetujuan proyek pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 89 megawatt di Nakhon Ratchasima dengan nilai investasi 4,7 miliar baht.

MENARIK DIBACA:  MICHELIN Guide Perdana Filipina Ungkap Restoran Berbintang dan Bib Gourmand Terbaik 2026

Adapun ASEAN Potash Chaiyaphum Plc. akan menanamkan investasi 31,4 miliar baht untuk produksi kalium klorida di Chaiyaphum yang menjadi bahan baku utama pupuk potash.

Untuk mempercepat realisasi investasi, BOI juga memasukkan sembilan proyek tambahan senilai 52 miliar baht ke dalam program Thailand FastPass. Program ini dirancang untuk mempercepat proses perizinan dan koordinasi lintas lembaga agar proyek strategis dapat segera beroperasi.

Secara total, Thailand FastPass kini mencakup 25 proyek dengan nilai investasi gabungan mencapai 223 miliar baht atau sekitar US$6,8 miliar.

Dalam rapat yang sama, BOI bersama Kementerian Energi Thailand juga membahas langkah memperkuat kesiapan pasokan listrik, terutama untuk mendukung pertumbuhan investasi di kawasan timur Thailand yang menjadi pusat industri dan teknologi baru.

Pemerintah Thailand turut mempercepat pengembangan skema energi bersih, termasuk Direct Renewable Power Purchase Agreement (Direct PPA) yang memungkinkan perusahaan membeli listrik energi terbarukan secara langsung.

Selain itu, Thailand juga mulai menjalankan Utility Green Tariff 2 (UGT2), tarif listrik hijau khusus yang memberi pilihan lebih luas bagi perusahaan untuk menggunakan energi bersih.

BOI menilai kombinasi investasi digital berskala besar, kesiapan energi, akses energi hijau, tenaga kerja terampil, dan percepatan layanan investasi akan menjadi faktor utama daya saing Thailand pada fase baru investasi global.